Bernardino Realino

Bernardino Realino lahir dari kalangan keluarga yang terpandang di Capri, Italia tahun 1530. Ibunya memberi dasar pendidikan kristiani yang sangat baik semasa masa kecilnya. Bernardus kemudian melanjutkan studi kedokteran dan hukum di Universitas Bologna dan meraih gelar doktor bidang hukum pada tahun 1556.

Bernardino dikenal sebagai seorang muda yang sangat pandai dan cemerlang. Di usianya yang ke 26, dia dipilih sebagai walikota dan sekaligus hakim kota Felizzano. Kemudian ia menjadi Kepala Kantor Pajar di Alessandria, walikota Cassine, dan kemudian menjadi walikota di Casstellone. Ketekunan, dedikasi, ketenaran  dan prestasinya di bidang hukum menjadi buah bibir di seluruh negeri Italia, sampai kemudian dia diangkat sebagai superintendent di Naples.

Semasa di Naples, Bernardus – yang waktu itu berusia 34 tahun, berjumpa dengan beberapa orang pastor dari Serikat Yesus. Serikat Yesus yang didirikan oleh Ignasius dari Loyola, waktu itu juga masih relatif baru. Perkenalannya dengan para pastor Jesuit ini kemudian menarik Bernardino untuk mengikuti retret selama 8 hari. Dari pergumulan rohaninya selama retret inilah, Bernardino merasakan bahwa Tuhan memanggilnya untuk lebih menekuni olah rohani dan mengabdikan diri sepenuhnya di jalur religius. Kemudian ia melamar sebagai anggota Serikat Yesus, diterima, menjalani masa pendidikan sebagai Jesuit dan akhirnya ditahbiskan sebagai Imam di tahun 1567.

Sejak saat itu, Bernardino mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk melayani orang miskin dan sakit, untuk mewartakan kabar gembira bagi para kawula muda dan untuk membela hak-hak kaum budak belian. Dia kemudian juga ditunjuk sebagai Pimpinan para novis Jesuit di kota Naples selama sepuluh tahun, sampai kemudian dia dipindah tugaskan ke bagian selatan Itali, ke sebuah kota kecil bernama Lecci. Tugas yang diberikan kepadanya adalah untuk mendirikan suatu sekolah di kota itu.

Bernardus menghabiskan sisa hidupnya di kota Lecci, dimana kemudian dia diangkat sebagai pelindung kota itu – tidak saja karena keteladanan hidupnya sebagai seorang pengkotbah, pengaku iman dan guru, tetapi juga karena beberapa mukjijat yang dilakukannya atas kuasa Tuhan. Salah satu dari mukjijat yang dilakukan oleh Bernardino adalah yang dikenal dengan ‘pitcher miracle’. Suatu poci kecil – tempat mengisi anggur untuk minum, yang tidak kunjung habis isinya sampai semua gelas orang yang hadir terisikan anggur dan mereka puas meminumnya.

Enam tahun sebelum meninggal dunia pada usianya yang ke 86, Bernardino terjatuh dan meninggalkan dua bekas luka di kakinya yang tidak pernah sembuh terobati. Di saat saat akhir hidupnya, darah diambil dari salah satu kakinya yang terluka dan disimpan dalam sebuah tabung kaca. Sepeninggal Bernardino, darah itu tampak mendidih dan berbusa, namun tetap dalam berbentuk cairan (darah) segar sampai dengan pertengahan abad ke XIX.

Sebagai wujud kecintaan penduduk kota Lecci, para tokoh masyarakat memberikan penghargaan kepada Bernardino Realino dengan memintanya untuk berkenan diangkat sebagai santo pelindung kota Lecci, pada saat detik-detik terakhir hidupnya. Bernardino tidak sempat menjawab permintaan mereka, kecuali berbisik lirih “Yesus dan Maria”, sesaat sebelum menutup mata untuk selamnya.

Bernardino Realino diangkat sebagai santo oleh Paus Pius XII pada tahun 1947 dan sampai saat ini dikenal sebagai Santo Pelindung kota Lecci.

Keteladanan yang dapat diambil dari hidup santo Bernardino Realino :

Di usianya yang baru 20 tahun, Bernardino Realino sudah dikenal sebagai orang muda yang sangat berprestasi di jamannya. Masa depannya begitu cemerlang. Sekalipun demikian, dia rela meninggalkan itu semua pada saat dia mendengar panggilan Tuhan untuk mengabdi hanya kepada Dia semata, dengan menjadi seorang pastor. Ini adalah contoh bagaimana kegemerlapan duniawi tidak menyilaukan mata hati Bernardus untuk mengambil keputusan hidup yang tepat : mengikuti Yesus dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan raga. Dan oleh karenanya dia kemudian beroleh harta abadi yang tak kunjung lapuk karena usia ataupun jaman : kebahagiaan surgawi.

Semoga kita yang pernah tinggal di asrama yang juga memakai nama pelindung “Bernardino Realino”, juga bisa mewarisi keteladan hidupnya.

“Sapientia et Virtus”.

Disarikan dan ditulis kembali oleh Setiawan Tjahjono, dari sumber :
–    Katherine Rabenstein, “For All the Saint”
–    Celine Mc Coy, “Saint Bernardino Realino”

Iklan

Pedoman Dasar Forsino

FORSINO
(Forum Komunikasi Realino)
PEDOMAN DASAR

PENDAHULUAN

Asrama Mahasiswa Realino didirikan oleh Serikat Yesus pada tahun 1952 di Yogyakarta dengan tujuan untuk menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa dan sekaligus sebagai tempat pendidikan watak yang bersemboyankan “Sapientia et Virtus” (Kebijaksanaan dan Kebajikan), guna mempersiapkan mereka sebagai calon pemimpin di masa mendatang.

Penyelenggaraan Asrama Mahasiswa Realino, dirancang sebagai masyarakat dan bangsa Indonesia mini dengan ke-“Bhinneka”-annya dalam hal: asal daerah, etnis, agama, dan disiplin ilmu (mikrokosmos); serta dikelola sebagai wadah kebersamaan (keluarga) yang berlandaskan persatuan dengan mengefektifkan interaksi dinamis dari seluruh warganya.

Dengan demikian, Asrama Mahasiswa Realino adalah suatu Convictus Studentium yang berfungsi sebagai Mikrokosmos, Keluarga, dan Tempat Pendidikan para calon pemimpin bangsa.

Pengalaman hidup bersama selama di Asrama Mahasiswa Realino yang dilandasi oleh semboyan Sapientia et Virtus telah membentuk watak dan tata nilai yang sangat membekas, dijunjung tinggi, dan dibanggakan oleh para alumninya sampai saat ini. Oleh karena itu para alumni Asrama Mahasiswa Realino bertekad untuk melestarikan semangat dan jiwa Sapientia et Virtus dalam kerangka hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kesadaran dan dorongan tersebut di atas semakin dirasakan perlu oleh para alumni Asrama Mahasiswa Realino, terutama setelah terpaan krisis multi dimensional yang telah menjadikan Bangsa Indonesia semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam tatanan dunia tanpa batas (globalisasi). Para alumni Asrama Mahasiswa Realino – apapun latar belakangnya (daerah asal, suku, agama, disiplin ilmu) dan di manapun sekarang mereka mengabdi, baik di penjuru tanah air ataupun di luar negeri – bertekat bulat untuk turut serta secara aktif mengangkat derajad dan martabat bangsa Indonesia dengan mengisi kehidupan “Indonesia Baru” yang bhinneka, bersatu, dan bertanggungjawab.

Asrama Mahasiswa Realino sebagai “Convictus Studentium” telah dialihfungsikan oleh Serikat Yesus pada tahun 1991 dalam rangka menjawab tantangan jaman dan dunia pendidikan yang berbeda. Sekalipun demikian, jiwa dan semangat “Sapientia et Virtus”  harus dan akan tetap abadi dalam diri setiap insan alumni Asrama Mahasiswa Realino. Oleh karena itu, maka diperlukan adanya suatu wadah atau bentuk baru. Dalam acara Reuni Akbar Asrama Mahasiswa Realino yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 14-16 Juli 2000 telah disepakati wadah atau bentuk baru tersebut yang merupakan kelanjutan dan peleburan dari wadah-wadah kebersamaan yang pernah dan sudah ada di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain. Wadah ini kemudian disebut dengan Forum Komunikasi Realino (FORSINO).

Lanjutkan membaca “Pedoman Dasar Forsino”