Refleksi Reuni Akbar Forsino 2015

Oleh Bambang Ismawan

Pada 7 – 9 Agustus 2015 di Solo telah diselenggarakan reuni akbar FORSINO (Forum Komunikasi Realino), suatu Paguyuban yang anggotanya terdiri dari para alumni Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Didirikan (1952) dan dikelola para Rohaniwan Yesuit, Asrama Realino dimaksudkan untuk melengkapi pendidikan kepribadian dan kebersamaaan, utamanya bagi mahasiswa Universitas Gajah Mada. Asrama ini terletak di jalan Mrican Yogyakarta, suatu tempat tinggal nyaman, terdiri dari 2 gedung utama masing-masing bertingkat 2 yang menampung 120 mahasiswa; dilengkapi dengan berbagai fasilitas olah raga, musik dan perpustakaan, menjadikan Asrama Realino sebagai tempat tinggal idaman bagi para mahasiswa waktu itu.

Walau dikelola oleh Rohaniwan Katolik, jumlah mahasiswa Katolik dibatasi tidak lebih dari 50%. Penghuni asrama ini diupayakan bhineka, baik latar bidang studi, etnis maupun agama. Hal ini antara lain dicerminkan dalam susunan penghuni di masing-masing kamar tidur yang terdiri dari 3 orang. Suasana hidup bersama di Asrama Realino terasa sangat bineka. Sewaktu masuk asrama ini (1957), saya merasakan suasana ke-Indonesia-an yang majemuk. Sebelumnya saya bersekolah SMA di Kediri yang Jawa banget, kini cakrawala pergaulan terbentang luas. Pada tahap awal, saya menikmati persahabatan dengan teman-teman dari Flores dan Batak Karo, mengagumi serta belajar dari kelebihan- kelebihan mereka; kemudian berkenalan dengan para sahabat dari berbagai daerah, latar keyakinan dan disiplin ilmu.

Kehidupan bersama di asrama, secara dinamik dirangsang dengan berbagai acara diskusi, olah raga, kesenian dan  berbagai acara lain untuk menghayati kebersamaan, kerukunan dan gotongroyong. Lebih dari itu, semua penghuni didorong meresapi spiritualitas “Sapientia et Virtus”. “Sapientia” dimaknai sebagai “Kebijakan” yang digali dari sumber nurani beriman; sedang “Virtus” berarti “Kebajikan”, yaitu tekad kuat untuk mengutamakan pengabdian kepada Tuhan dan sesama diatas kepentingan sendiri.

Suasana hidup bersama di asrama yang pernah dinikmati para alumni ingin selalu diulang kembali, dan ironisnya justru kesempatan itu muncul pada saat Asrama Realino dibubarkan (1991). Sikap penolakan terhadap pembubaran Asrama nampak dalam bentuk kerinduan untuk berkumpul kembali. Kerinduan itu terpenuhi dengan diadakan nya pertemuan bulanan pada 1990-an di gedung Bina Swadaya setiap hari Selasa kedua, yang terkenal dengan sebutan “Temu Sloso Kapindo”. Dalam pertemuan-pertemuan itu kemudian dibentuk FORSINO (Forum Komunikasi Realino), Yayasan Forsino serta berbagai program aksi bersama. Untuk menyatukan Realinowan dari luar Jakarta kemudian dibentuk kepengurusan Forsino Nasional dan Daerah, serta diselenggarakan reuni akbar secara periodik.

“Sapientia et Virtus” merupakan kata-kata magis yang kini ditulis dalam surat-surat pribadi diantara para Realinowan, di media sosial dan dalam teks lagu Mars Realino (karya FX Suhardjo, alm). Kalau para Realinowan bertemu seperti di Solo kemarin, Mars itu di nyanyikan dengan penuh semangat dan gegap gempita sambil mengepalkan tangan kiri, kanan dan keduanya, tidak kalah gempitanya dengan memekikkan MERDEKA!

Memang para Realinowan sangat berkesan mengalami hidup bersama di Asrama. Hal itu mereka ungkapkan dengan bangga dan penuh haru di berbagai kesempatan. Dalam reuni di Solo, penghayatan “Sapientia et Virtus” diungkapkan berupa pengalaman pribadi dan bersama. Bahwa hidup secara bijak, dengan kejujuran, disiplin, rajin, bersahabat dengan sesama dan lingkungan telah bermuara pada kehidupan sukses. Banyak contoh kehidupan sukses diantara Realinowan di berbagai bidang profesi sebagai Dokter, Guru Besar, Hakim, Pengacara, Konsultan, Pebisnis maupun Pegiat Sosial. Di bidang politik, pada saat ini ada Realinowan menjadi Duta Besar, Menteri maupun anggota DPR.

Pertanyaan menggelitik muncul, seberapa jauh hidup bijak itu diaplikasikan secara kontekstual dan relevan dengan masalah hidup kekinian.  Saat ini bangsa dan negara kita masih dirundung kemiskinan, kesenjangan sosial-ekonomi, korupsi yang membahana, serta munculnya konflik horisontal, kerusakan lingkungan dan lain-lain. Apakah para Realinowan ikut gelisah dan terdorong terlibat untuk mengatasinya? Atau cukup puas dengan sukses pribadi dan menikmati “zona kenyamanan”? Mungkin secara pribadi, sebagian Realinowan telah melakukannya dalam suatu keterlibatan tertentu, dan itu semua baik adanya. Namun, yang ingin diwujudkan selanjutnya adalah mengaktualkan potensi kebersamaan Warga Forsino menjadi kekuatan besar yang tertuju untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Memang menyatukan Warga Forsino dalam suatu aksi bersama tidak mudah, karena keberadaan mereka terpencar di berbagai tempat di dalam dan luar negeri, serta tersebar di berbagai profesi dan bidang kehidupan. Namun teknologi informasi telah menyatukan warga Forsino dalam semangat kebersamaan yang mengagumkan. Dari banyak Group WA yang saya ikuti, tidak ada yang seaktif-kreatif dan semesra “Group WA Realino Gaul”. Disamping itu, sukses perjalanan hidup dari kebanyakan Realinowan juga menjadi modal besar bagi Pengurus Forsino menggerakkan kepedulian bersama dalam mengaplikasikan semangat “Sapientia et Virtus”. Kalau hal ini bisa diwujudkan, akan memberikan kontribusi positif dan besar kepada perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga.

Bambang Ismawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s