Kesederhanaan Sang Duta Besar Indonesia di Rusia

mbalmbilmbul wordpressBeberapa waktu lalu, Tribun diberi kesempatan untuk berkunjung ke Rusia. Selain terkesan dengan bangunan bersejarah nan megah, panjangnya siang di musim panas, juga dengan sosok sang Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarusia, Djauhari Oratmangun.

Betapa tidak, perwakilan tanah air di Rusia ini mau meluangkan waktunya untuk menemui Tribun dan rombongan lainnya. Sama sekali tidak ada kesan kalau dirinya adalah pejabat perwakilan RI di Negeri Beruang Merah.

Sore itu, Jumat (15/6), Tribun dan rombongan menikmati suasana Moskow di Jalan Lama. Menurut Penganggungjawab Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI, M Aji Surya, Jalan Arbat di Moskow sama dengan Malioboro di Yogyakarta.Sekitar pukul 20.00, matahari masih bersinar terik. Aji tampak menerima telepon. Dia menyebutkan posisi terakhir kami. “Pak Dubes mau ke sini,” kata Aji setelah menutup teleponnya.

Meskipun tahu kalau Pak Djo, demikian Djauhari biasa disapa, hendak menemui kami, namun kami tetap berjalan-jalan di Jalan Arbat. Pasalnya, Pak Djo begitu mendadak hendak menemui kami.

Tidak berapa lama kemudian, Pak Djo tiba di Jalan Arbat. Mengenakan setelan jas gelap, dia berjalan kaki sendirian. Begitu bertemu kami, dia pun memperkenalkan dirinya.

Lulusan Fakultas Ekonomi UGM tahun 1981 ini pun mengajak kami untuk sekadar minum teh di sebuah kafe. Tidak ada kesan ekslusif dari seorang Djauhari.

“Teh dengan campuran daun mint di sini enak,” kata dia.

Sambil menunggu pesanan datang, mantan Direktur Jenderal Kerja sama ASEAN ini lantas mengemukakan pandangannya tentang Rusia. Menurut dia, Rusia memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas politik di kawasan Asia Pasifik dan global. Sebagai negara pemegang hak veto di PBB, Rusia dapat memainkan peranan politik di dunia internasional.

Secara ekonomi Rusia juga merupakan pemimpin G8 dan G20 yang menjadi penentu arsitektur ekonomi dunia. Untuk itu, kata dia, Indonesia perlu menjalin alisansi strategis dengan Rusia agar berperan besar dalam percaturan ekonomi regional.

Di sisi lain, Suami dari Sih Elsiwi Handayani Oratmangun mengakui pandangan masyarakat Indonesia tentang Rusia masih sangat terbatas. Padahal, Rusia menyimpan potensi yang sangat besar.

“Sudah saatnya memberi perhatian serius dalam hubungan dengan Rusia,” katanya.

Ia mencontohkan kerjasama bidang pendidikan. Mahasiswa Indonesia di Rusia, terbilang masih sangat minim jika dibandingkan dengan mahasiswa dari negara lain di Asia.

Jumlah mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negara terluas di dunia ini hanya berjumlah 132 orang. Padahal negara-negara lain misalnya Myanmar dan Malaysia jumlah warganya yang belajar di Rusia mencapai 3.000 orang. Sedangkan Vietnam dan China mencapai lebih dari 20.000 orang.

“Pada masa Sukarno, pelajar Indonesia yang belajar di sini berjumlah sekitar 20.000-an,” sambungnya.

Puas bercerita, tak terasa hari sudah gelap. Waktu telah menunjukan pukul 23.30. Sebelum berpisah, Pak Djo menyampaikan undangannya agar kami berkunjung ke Wisma Dubes untuk makan malam keesokan harinya.

Di Wisma Dubes, Pak Djo tetap sederhana. Dia berbaur tanpa ada sekat yang membedakan antara pejabat ataupun lainnya.

“Pejabat itu artinya “perlu jabat erat”. Semuanya perlu dirangkul. Tidak ada yang membedakan,” kata pria yang akan merayakan ulang tahun ke 55 pada 22 Juli ini.

Kami pun sempat menerima kejutan ketika sedang berkunjung ke Lapangan Merah, Kremlin, Moskow. Tiba-tiba, Pak Djo beserta istri kembali menjumpai kami.

Tidak ada kemewahan yang ditonjolkannya. Hanya setelan kaus oblong dan celana serba putih tanpa ada kesan kalau dirinya adalah seorang duta besar.

Bahkan, saat cuaca tiba-tiba berubah menjadi gerimis, keduanya memilih berteduh bersama kami. Padahal, waktu itu sang sopir telah menawarkan payung kepada sang istri agar dirinya terlindungi dari hujan.

Saat Tribun berada di St Petersburg, Pak Djo, di sela-sela kesibukannya menghadiri St Petersburg International Economic Forum, juga menyempatkan dirinya untuk bertemu. Sama seperti ketika di Moskow, obrolan kami bersama Pak Djo, layaknya bersama teman lama.

“Jabatan itu sifatnya hanya sementara. Hubungan baik antar sesama itu yang akan kekal. Bekerja keras dan benar pasti akan membuahkan hasil yang dihargai,” pesan Pak Djo sebelum kami berpisah.

Sumber: www.tribunpekanbaru.com | Jumat, 13 Juli 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s