Tanggapan atas artikel “Falsafah Jawa yang Adiluhung”

Mas FBK ysh, di bawah ini komentar saya menanggapi tulisan “Falsafah Jawa yang Adiluhung

Saya gembira kalau tak ada lagi orang Jawa yang mengikuti falsafah ini, sebab falsafah ini hanya memberi penghiburan semu untuk orang-orang yang serba kalah, keok dan terpuruk. Bila orang Jawa/Indonesia sekarang mengikuti falsafah ini dijamin akan menjadi bangsa keok dan terpuruk selama-lamanya seperti yang dialami pemimpin-pemimpin Jawa (terutama di Keraton Surakarta) pada masa penjajahan Belanda.

Sebagai karya sastra saya tidak mengingkari bahwa serat ini sangat indah dan menyentuh batin sebab dibuat oleh pujangga keraton Surakarta Rangga Warsita (1802-1873). Namun kalau diteliti lebih lanjut ini adalah usaha penghiburan batin yang semu terhadap pemimpin-pemimpin Jawa (terutama keraton Surakarta) yang senantiasa keok dan terpuruk dalam melawan Kumpeni VOC maupun pemerintah Hindia Belanda.

Salah satu kisah yang menyedihkan adalah ketika PB VI diadili Belanda karena dituduh membantu P Diponegoro. Belanda menyeret ayah Rangga Warsita, Pajangswara, yang menjabat sebagai juru tulis keraton Surakarta sebagai saksi. Pajangswara menolak memberi kesaksian meskipun disiksa sampai mati, namun Belanda tetap mencopot tahta PB VI dan membuangnya ke Ambon. Penjajahan Belanda di Jawa/Indonesia terus berjaya sampai diusir oleh tentara Dai Nipon seratus tahun kemudian.

Tulisan Pujangga Rangga Warsita ini adalah adiluhung dalam prespektif sastra namun inferior and useless dalam prespektif strategi menyikapi adversity (misal terhadap penjajahan Belanda di masa lampau, dominasi USA sekarang atau China di masa mendatang). Tulisan Rangga Warsita ini bahkan sama sekali tidak mewakili mentalitas dan budaya Jawa keseluruhan. Rangga Warsita adalah Pujangga Keraton dari PB VII. Ia hanya mewakili alam pikiran Jawa pada masa itu di Surakarta. Sama-sama Jawa, Pangeran Diponegoro tidak memiliki cita-cita mental seperti yang digambarkan oleh Rangga Warsita.

Keraton Mataram khususnya Surakarta merupakan keraton yang keok. Keraton yang melakukan FLIGHT REACTION dalam menghadapi reality dan adversity yang muncul dari dunia Barat (Eropa). Tidak saja secara fisik kerajaan itu pindah dari pantai Demak ke pedalaman Surakarta/Yogyakarta melainkan juga merubah pandangan keduniaan dengan yang penuh klenik, tahayul dan mitos kosong. Ini berbeda dengan mentalitas pemimpin Jawa pada masa kerajaan Demak, seperti yang ditunjukkan oleh Adipati Unus dalam menghadapi adversity dengan Portugis.

Karya-karya sastra Jawa misal dari Rangga Warsita yang banyak dijadikan sebagai ajaran kebatinan, opini saya, ikut membentuk Indonesia menjadi bangsa yang superstitious, klenik, tahayul, irasional yang hanya mementingkan status, simbol, titel atau bungkus yang mentereng namun KOSONG isinya.

Salam,
Eko Raharjo’78

Iklan

7 Replies to “Tanggapan atas artikel “Falsafah Jawa yang Adiluhung””

  1. Mas Eko ysk,

    Kalau mas Eko mengatakan akan gembira apabila tidak ada orang Jawa yang mengikuti falsafah Jawa lagi, maka silahkan sekarang ini bergembira ria. Saat inilah adalah waktunya anda bisa bergembira.

    Karena sebagaimana saya uraikan ketika saya mengangkat tulisan tentang falsafah jawa tersebut, saya mengatakan bahwa menurut pengamatan saya, falsafah itu tinggal nerupakan dokumen semata. Tinggal suatu hiasan saja.
    Atau kalau kenyataan yang saya amati itu tidak benar, maka sudah sirnalah orang yang dinamakan orang Jawa. Sudah tidak ada lagi orang Jawa.

    Karena, isi dan makna dalam butir2 falsafah tersebut sudah tidak lagi dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Pertanyaannya: apakah sekarang ini, anda sudah puas dengan peri kehidupan dan perilaku orang yang “dulu” atau sebelumnya, dinamakan orang Jawa?

    Salam,
    Fbk/1960.

  2. Dear Mas FBK,

    Hahahaha…. mohon jangan salah mengerti.

    Saya sama sekali tidak memaksudkan gembira karena orang Jawa sudah lenyap. Orang Jawa tetap ada buanyaaak sekali, di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Jakarta dan mungkin seluruh penjuru dunia. Yang saya maksudkan adalah menjadi Jawa tidak harus mengikuti serat dari Rangga Warsita pujangga keraton Surakarta pada masa PB VII dimana banyak berisi kontradiksi dan tidak sesuai dengan kenyataan.

    Sikap dari raja-raja Jawa yang cuma mengurus kepentingan sendiri-sendiri itulah yang menyebabkan suatu kompani dagang kecil, VOC, bisa menguasai dan menjajah seleruh Jawa dan bahkan Indonesia. Mengapa orang Jawa sekarang harus mengadopsi mentalitas Jawa pada abad ke 19 yang nota bene berada dibawah penjajahan Belanda? Orang Jawa sekarangpun tidak perlu mempraktekkan bahasa Jawa yang feodalistik dan non-egaliter.

    Setiap generasi punya kesempatan untuk melakukan pembaharuan terhadap lingkungan bangsa atau suku bangsanya. Orang-orang jawa sekarang hendaknya mengenal benar sejarah dari nenek moyangnya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Merupakan salah kaprah bila seolah-olah kejawaan itu cuma dibatasi hanya pada wilayah kesunanan Surakarta dan pada lingkup masa PB VII.

    Seorang dosen Satra Indonesia dari FK UGM pernah membuat pernyataan yang ignorant (keblinger) dimana mengatakan bahwa Jawa asli adalah yang di Yogya dan Solo. Kerajaan Mataram (Islam) yang menempati wilayah Surakarta dan Yogyakarta baru muncul pada abad ke 17. Seratus dua ratus tahun sebelumnya kesultanan Jawa berada di pesisir Demak, Jepara, Kudus, Pati dan sebelumnya Kerajaan Majapahit berada di Tuban, Mojokerto, Kediri, dst.

    Saya dari garis ayah adalah etnis Cina/Tionghoa tapi dari garis ibu adalah suku Jawa. Kejawaan saya adalah kejawaan Kudus/Demak, bukan kejawaan Surakarta atau Yogyakarta. Demikian pula ada kejawaan Banyumas tidak identik dengan kejawaan Yogya atau Solo. Hemat saya orang Jawa sekarang hendaknya menolak untuk terperangkap dalam falsafah kebatinan yang kedaluwarsa yang terbukti hanya melanggengkan penjajahan Belanda. Orang Jawa sekarang hendaknya mau belajar dari kesalahan-kesalahan dari nenek moyangnya raja-raja Jawa yang sangat selfish dan cupet dalam ilmu pengetahuan, yang tidak punya visi ke depan dan tidak menghiraukan kesejahteraan dari rakyat sendiri.

    Orang Jawa sekarang hendaknya melihat diri sendiri sebagai bagian dari warga Indonesia dan dunia yang kaya akan warisan budaya dan peradaban selama ratusan bahkan ribuan tahun dan yang akan terus menyumbang kekayaan budaya dan peradaban Indonesia dan dunia. Orang Jawa sekarang hendaknya punya visi ke depan yang jelas mengenai kebangsaan Indonesia dan perkembangan umat manusia dan dunia keseluruhannya. Untuk itu orang Jawa dituntut untuk terbuka pikirannya terhadap kemajuan dunia, terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan terhadap usaha-usaha saling pengertian dan kerja sama antar bangsa.

    Dengan keyakinan penuh kami sekeluarga (istri saya punya titel feodal dari kesunanan Surakarta) mencampakkan ajaran kedaluwarsa dari kebatinan Jawa. Namun, kami sekeluarga tetap orang-orang Jawa.

    Salam,
    Eko Raharjo’78

  3. Bung Eko Raharjo ytk, membaca tulisan anda yg sangat menarik, saya tergelitik utk ingin segera mengetahui kelanjutannya. Dari atas KA Lodaya dlm perjalanan dari Bandung ke Yogya saya menjadi penasaran. Jika anda mengatakan sekeluarga tetap orang Jawa, lalu apa yg menandai kejawaan anda sekeluarga selain aspek fisik tentunya. Nilai2 kejawaan semacam apa yg anda pegang dan kembangkan?
    Salam hangat dari Stasiun Kroya.

    Anto 75

  4. Mas mas dan adik adik Forsino,

    Bicara masalah orang Jawa, saya jadi sangat ingin nimbrung.Mengapa? Saya orang jawa, tetapi Jawa mana? jawabannya saya Jawa asli. Untuk itu saya akhir akhir ini banyak membaca sejarah Kerajaan Jawa. Sejarah Kerajaan di Jawa itu menarik untuk disimak. Termasuk saya sendiri.

    Saya ini aslinya mana? Bapak saya dari garis Pakualaman Yogyakarta, ibuku dari Djuwana, Bangsri, Pati, yang kalau diurut urut diperkirakan ada hubungan dengan Kalingga. Kalingga ini berjaya abad 10 walau dijajah dan dibawah Kerajaan Sriwijaya. Pusatnya Kalingga di Bangsri dekat Juwana. Kalingga cukup lama berhubungan dagang dengan pedagang China dan Portugis. Daerah pesisir dari Jepara – bangsri – Tayu – Djuwana dapat ditemui orang yang berkulit putih, bermata biru coklta dan rambutnya hitam. Contoh cewek/manusia dari daerah dimana ibu saya lahir adalah Soimah. Lihatlah wajah Soimah, kulitnya putih, mata biru, rambut hitam, daerah kelahiran Soimah yaitu Banyutowo berjarak beberapa km dari desa dimana ibu saya lahir. Soimah diperkirakan ada darah China dan Portugis. Apakah ibu saya juga? Mungkin juga, belum ada yang bisa memastikan. Ibu saya berkulit putih dan berwajah ‘cantik’. Banyak orang2 di Bangsri-Djuwana-Tayu yang seperti ini.

    Bagaimana dengan bapak saya?
    Bapak saya dari Yogya asli. Ada hubungan dengan Pakualaman. Salah satu dari dua ‘mazhab Jawa’ di Yogya. yang satu disebut Kasultanan.

    Sesudah mencapai puncaknya pada abad 14, kekuasaan Majapahit yang Budha/Hindu berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Terakhir pangeran Wirakrawardhana berperang melawan Wirabumi, perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang. Menurut catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Budha/Hindu ke tangan Kerajaan Islam Demak.

    Demak memastikan posisinya sebagai kekuatan regional dan menjadi kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Kerajaan Islam demak pun tidak lama bertahan, karena terus menerus berperang satu sama lain, rebutan kekuasaan. Yang ingin menjadi Raja banyak. Mereka minta tolong dan kolaborasi dengan Belanda yang punya teknologi senjata.

    Hal ini dimanfaatkan Belanda. Yang punya teknologi senjata dan ingin membeli komoditi dari jawa dan indonesia lain dengan harga murah untuk dijual ke Eropa dengan harga tinggi. Bayangkan 350 tahun lamanya Belanda bercokol di bumi Indonesia, dengan mengandalkan teknologi senjata. Kerajaan Islam di jawa tidak bisa berkembang dan saling cakar cakaran rebutan tahta. Yang kelihatan sekarang adalah :
    Solo punya dua pusat kerajaan : Kasunanan dan Mangkunegaran.
    Yogya punya dua pusat kerajaan : Kasultanan dan Pakualaman.

    Sampai sekarang keempat empat tidak pernah akur 100% terutama dalam kebudayaannya. saya heran, mengapa tidak pernh bersatu. Budaya nya tinggi, tarian2 nya bagus, batik2nya bagus, tetapi tidak pernah bersatu. Ribut melulu, lihatlah Kasunanan Solo sekarang punya dua Raja.

    bagaimana dengan buku buku kasusasteraannya? Indah dan bagus bagus, tetapi kurang dimanfaatkan. Orang jawa mendasarkan hidupnya sebagian dari wejangan buku Jawa, sebagian dari Islam yang relatip baru masuk Jawa di abad 15-16, lalu sebagian beragama Kristen dan katholik yang mulai masuk di abad 19. Ayah saya adalah orang katholik generasi pertama di pulau jawa, bersama-sama IJ Kasimo, bapak ayahnya WS Rendra, dan semua alumni sekolah guru Normalschool dari Muntilan asuhan romo van Lith.

    lalu saya ini Jawa yang mana? Kami dari 12 bersaudara kandung saya, tiga beragama Islam dan yang 9 Katholik. Budaya Jawa di keluarga masih kami lakukan sebatas upacara pernikahan, termasuk nginjak telur, saweran, pakaian penganten dll dll. Sopan santun dan karakter Jawa pun masih kami ikuti, a.l. menghormati orang tua, dll dll. makanya membaca pitutur yang di keluarkan mas FBK saya manggut manggut, artinya saya kenal, saya tahu, saya paham.. tetapi tidak semuanya dapat saya lakukan dalam tindakan sehari hari.

    Apalagi ya?
    sebenarnya masih banyak, tulisan ini belum sempurna, sebatas spontanitas, impian saya akan membuat serial baru.

    Salam
    gufron (63)

  5. Teman-teman Forsinowan

    Mas Eko Raharjo:
    Saya gembira kalau tak ada lagi orang Jawa yang mengikuti falsafah ini, sebab falsafah ini hanya memberi penghiburan semu untuk orang-orang yang serba kalah, keok dan terpuruk.

    Mas Bambang FBK:
    Kalau mas Eko mengatakan akan gembira apabila tidak ada orang Jawa yang mengikuti falsafah Jawa lagi, maka silahkan sekarang ini bergembira ria. Saat inilah adalah waktunya anda bisa bergembira.

    Mas Eko Rahardjo:
    Saya sama sekali tidak memaksudkan gembira karena orang Jawa sudah lenyap. Orang Jawa tetap ada buanyaaak sekali, di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Jakarta dan mungkin seluruh penjuru dunia. Yang saya maksudkan adalah menjadi Jawa tidak harus mengikuti serat dari Rangga Warsita pujangga keraton Surakarta pada masa PB VII dimana banyak berisi kontradiksi dan tidak sesuai dengan kenyataan.

    Paragraf I dan II di atas match, komunikatif. Paragraf III, sudah tidak klop lagi, sudah ganti suasana.
    Untuk paragraph III komentar saya sbb.:
    Raja-raja Jawa tidak mengikuti petuah Ronggowarsito, mengapa kita kalah melawan VOC karena sesuai dengan pendapat mas Eko Raharjo yang ini: Sikap dari raja-raja Jawa yang cuma mengurus kepentingan sendiri-sendiri itulah yang menyebabkan suatu kompani dagang kecil, VOC, bisa menguasai dan menjajah seleruh Jawa dan bahkan Indonesia. Apakah ini mengikuti petuah Ronggowarsito?

    Sejak kecil saya sering mendengar kalimat: “Gak Jowo karo wong tuwane”. Maksudnya apabila seseorang tidak memikirkan orang-tuanya, menelantarkan orang-tuanya disebut sebagai “gak Jowo” artinya tidak menggunakan adat Jawa. Adat Jawa mengharuskan kita sayang kepada orang-tua kita, kasih, dan hormat.

    Ada ajaran Jawa bahwa seorang pegawai negeri itu harus mempunyai sifat seorang priyayi. Seorang priyayi itu tidak boleh berdagang, sikapnya tidak boleh urakan, anak priyayi tidak boleh teriak-teriak di jalan. Berdagang itu tidak jelek, tetapi priyayi tidak boleh berdagang, kalau masih mau juga berdagang dipersilahkan untuk tidak jadi priyayi. Perdagangan harus digalakkan oleh bangsa kita apabila bangsa ini mau maju. Harus ada dari bangsa kita yang menggeluti perdagangan, penggelut perdagangan bisa kaya raya. Penggelut perdagangan tidak kalah mulia bila dibandingkan dengan priyayi.

    Saya tidak sepakat bila sifat-sifat priyayi harus diganyang seperti kata Presiden Soekarno. Sifat-sifat priyayi malah harus dikuatkan bila kita ingin berpemerintahan kuat. Presiden, menteri, gubernur bupati, komandan korem, kodim, kapolres, guru, prajurit, juru-tulis kecamatan, kelurahan semuanya harus bersifat priyayi.

    Salam
    RDD

    1. Dear pak RDD,

      Alangkah sejuknya suasana di ndeso dimana saya berada saat ini walau kalau siang sudah mencapai 40•C dan malam 19•C, saya menikmati paparan anda (sebagai salah satu “pendekar kelas wahid” di Forsino) yang luar biasa SeV.

      Di Jawa Tengah (tempat lahir saya) tidak dikenal istilah : “Gak Jowo, jawane dll”, istilah ini saya kenal di daerah Jawa Timur sini. Saya sependapat dengan bapak bukan karena budaya Jawa yang salah shg menyebabkan Indonesia terpuruk dan menurut saya pendapat yg menyalahkan budaya Jawa bisa diibaratkan “buruk rupa cermin dibelah”, tapi pengetahuan ttg sifat2 adiluhung yg diajarkan budaya jawa seperti sifat piyayi itu yg sekarang banyak dilanggar.

      Saya menemukan akar budaya jawa yg adiluhung tsb di Jawa Timur sini seperti : sifat ksatria, keterbukaan, kekeluargaan, kejujuran, ketegasan, kebijaksanaan, kebajikan, dll.
      Dan pantaslah banyak tokoh2 nasional yang berasal dari Jawa Timur sini.

      Salam dari ndeso,
      Budiono

  6. Mas FBK, Dimas Eko dan Forsinowan lain terutama yang merasa dan mengaku orang Jawa,

    Sebagai orang Batak Medan bukan Batak tembak langsung, ha…ha…ha…, saya sangat kagum dan memuji dengan tulus dari lubuk hati yang dalam akan ke-adhiluhungan-an budaya Jawa, mulai dari bahasa yang betingkat-tingkat (setahu saya yang dikonfirmasikan oleh “konco wingking” hanya orang Jawa yang sejak lahir harus bisa berbahasa tiga tingkatan sekaligus dan ini pula alasan pembenar dari saya untuk tidak serius mempelajarinya, he…he…he..),

    Karya sastra klasik dalam berbagai serat, filsafat hidup Jawa yang sering diartikan secara sempit sebagai “Kejawen”, orkestra gamelan dengan perangkat alat musik lengkap, sendra tari tarian yang menggambarkan olah laku, olah pikir dan olah rasa manusia Jawa, tembang-tembang yang sarat dengan refleksi kehidupan, seni panggung wayang baik kulit maupun orang dan..ketoprak Mataraman… Hampir lupa, keris yang sangat tinggi cita rasa artistiknya yang tidak dipakai sebagai senjata serta kain batik. Itu semua diciptakan para empu Jawa yang tidak ada duanya di mata saya.

    Persoalan sekarang adalah apakah yang sebutkan di alinea di atas adalah budaya adhiluhung yang perlu dilestarikan atau dianggap pembodohan? Monggo poro sederek dijadikan bahan sarasehan…

    Salam SeV,
    Normin Pakpahan (1964).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s