Falsafah Jawa yang Adhiluhung

Kiriman: B. Kuntjoro 63
 

Saya kutip butir2 falsafah Jawa yang konon adhi luhung. Kalau dibaca memang bagus2. Tapi faktanya? Sekarang ini ternyata sudah tidak ada yang namanya “orang Jawa”. Jadi falsafah itu sudah tidak diikuti oleh siapapun. Karena orang Jawa sudah sirna. Butir-butir itu hanya sekedar sebagai dokumen sejarah dan hiasan di buku-buku alam impian. Silahkan baca lagi FALSAFAH MIMPI dari dunia MAYA di bawah ini.

Falsafah hidup Jawa Membangun Kedamaian Hidup

  1. URIP IKU URUP [Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita]
  2. MEMAYU HAYUNING BAWONO, AMBRASTA DUR HANGKORO [Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak]
  3. SURA DIRA JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI [Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar]
  4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI-AJI, SUGIH TANPA BONDHO [Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan/mempermalukan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/ keturunan, kaya tanpa didasari hal2 yg bersifat materi]
  5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN [Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu]
  6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN [Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut dgn sesuatu, Jangan kolokan atau manja]
  7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN [Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi]
  8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA [Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka]
  9. OJO MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO [Jangan tergiur oleh hal2 yg tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat]
  10.  OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO [Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti].
  11. ALANG ALANG DUDU ALING ALING , MARGINING KAUTAMAN. [Persoalan persoalan dalam kehidupan bukan penghambat, jalannya kesempurnaan].
  12. SOPO WERUH ING PANUJU sasat SUGIH PAGER WESI. [Dalam kehidupan siapa yang punya cita2 luhur, jalannya seakan tertuntun ]
Iklan

15 Replies to “Falsafah Jawa yang Adhiluhung”

  1. Setuju mas Bambang FBK, Ada lagi yang saya suka tapi tidak tahu sudah benar apa belum ucapannya “Ojo rumongsa biso tapi bisoa rumongso”, artinya dalam bahasa Indonesia bagaimana ya?

    RDD

    1. Mas atau lebih tepat dimas Onny ytc,

      Saya faham betul apabila anda merasa gusar dan terusik dengan apa yang saya kemukakan. Dan saya mohon maaf apabila hal itu tidak berkenan pada anda.

      Sayapun tidak mengingkari bahwa saya terlahir Jawa dan sekarangpun masih berasal dari etnis Jawa. Orang Indonesia dari etnis Jawa.

      Namun sekarang saya lebih suka mengidentifikasikan diri saya sbg orang Indonesia. Sejak tahun 1966 saya tinggal di Betawi. Anak2 saya tahu ada bahasa Jawa, tetapi tidak berani berucap dalam bahasa Jawa takut salah. Cucu2 saya sama sekali tidak berbahasa Jawa. Sayang, namun bagaimana lagi, itulah perkembangan dan perubahan yang terjadi di masyarakat kita , masyarakat indonesia.

      Sejak zaman pak Suharto sampai berakhirnya Orde Baru, waktu kita dijejali P4 – saya sampai sudah lupa kepanjangannya, …. Penghayatan Panca Sila, kita dijejali segala falsafah yang muluk2 terutama falsafah Jawa yang mengedapankan bahwa kita ini bangsa yang adhiluhung. Apakah benar? Bagaimana hasilnya?

      Apa dan bagaimana hasil P4 di lapangan? Tidak lain dan tidak bukan adalah tidak satunya kata dan perbuatan. Terutama yg paling atas yang seharusnya memberi contoh kepada yang di bawah. Orang menjadi munafik dan malahan bertingkah serta berlaku tidak Panca Sila dalam keseharian.

      Semboyan2 falsafah Jawa yang adiluhung, hanya sebatas lip service. Sebagai orang Jawa saya malu, setiap kali mendengar atau membacanya.

      Kalau saya bilang bahwa sekarang tidak ada orang Jawa atau bahwa sekarang orang jawa sudah sirna, itu merupakan SARKASME saya terhadap keadaan zaman sekarang ini. Karena kebanyakan orang jawa sudah tidak mengikuti falsafah adiluhung tersebut. Seolah falsafah itu hanya falsafah dalam mimpi dan tidak membumi, sehingga boleh kita katakan falsafah itu dalam kenyataan tidak ada. Atau sebaliknya apabila falsafah itu ada, maka orang yang mengklaim sebagai yang empunya falsafah itu yang tidak ada. Karena orang2 itu sudah berubah menyimpang dari nilai2 yang dikandung dalam falsafah tersebut.

      Sokur2 / syukurlah kalau masih ada yang bersikap dan berperilaku satunya kata dan perbuatan dengan nilai2 yg terkandung dalam falsafah jawa tsb.

      Demikian dimas Onny,
      Terima kasih atas responsenya dan
      Salam,
      Fbk/1960.

  2. Mas FBK dan Mas RDD,

    Ada sedikit pengalaman saya ttg falsafah Jawa yang sampai sekarang aku “ora mudeng tenanan”. Sewaktu banyak berhubungan dengan rekan sejawat di Sekretariat Negara, saya dikuliahi oleh Waseskab (Wkl Sekretaris Kabinet) di jaman Pak Sudharmono sampai Moerdiono.

    Beliau keturunan Arab tetapi lebih njawani dari orang Jawa (menurut pengamatan saya). Maaf wajahnya nongol di depan mata, namun memori komputer saya tidak menemukan nama beliau…apakah ini gejala “demensia” Mas Darmanto?

    Beliau mengajarkan kepada saya untuk bertindak dan bersikap “Ngono yo ngono ning ojo ngono” dalam hubungannya dengan birokrasi Pemerintahan. Saya bertanya “bagaimana ya Pak memahami dan mengejawantahkan “begitu yang begitu tetapi tidak begitu” (coro Melayune..). Inti petuah beliau ke saya sebagai anak muda yang meniti karir di Pemerintahan adalah “begini lho …namun tidak begitu…”.

    Menurut beliau filsafat ini bersifat “adhi-luhung”. Walah…wong mBatak yang diajari oleh lingkungannya berfikir rasional dan bersikap “egalitarian” diberi wejangan filsafat adhiluhung yang betul-betul luhung sehingga logika berfikir saya tidak”nyandak”. Benar-benar saya tidak faham namun “mantuk-mantuk”. Apakah ini contoh “ngono yo ngono ning ojo ngono”?

    Barangkali plesetan ini lebih afdol untk difahami “Ngono yo ngono, sepisan ngono ora ngono-ngono”, ha…ha…ha…

    Pripun Mas FBK lan Mas RDD?

    Salam,
    Normin Pakpahan

    1. pak Normin
      menurut saya itu paling tepat diterapkan ketika kita memiliki perasaan marah kepada anak, sehingga muncul dorongan dari dalam untuk memukul anak kita sendiri,
      ngampleng ya ngampleng neng ya ora ngampleng
      sehingga tidak terjadi tindak kekerasan kita terhadap anak kita sendiri

      salam
      uus

    2. Hehehe…… Bang Normin dari Batak yang mempersunting puteri Jawa,

      Ternyata anda sudah belajar dengan baik pelajaran budaya dan bahasa Jawa dari nyonya. Sebaliknya saya juga yakin nyonya sudah belajar dengan baik budaya dan bahasa Batak dari anda. Buktinya?

      Saya terkagum-kagum mendengar nyonya anda ikut maragam-ragam dalam reuni Forsino. Sya terkagum-kagum ucapan2 bahasa Jawa anda dalam tulisan yang anda kirim.

      Seingat saya waktu di asrama dahulu anda adalah seorang yang rajin belajar. Jarang bergaul, introvert, namun suka sekali bermain biola. Ternyata persepsi saya salah. Anda seorang yang pandai bergaul juga, pandai bermasyarakat.

      Buktinya? Ya, anda mempunyai pengetahuan yang luas dan pandai pula berkata-kata dalam bahasa pergaulan yang macam2.

      Kembali ke pokok masalah, kata2 “ngono yo ngono, ning ojo ngono” saya sendiri tidak tahu maknanya, namun saya akan sangat malu kalau dalam pertemuan resmi harus mengakui bahwa saya tidak tahu. Jadi saya akan berpretensi tahu, walaupun sebenarnya tidak tahu apa yang dimaui oleh yang mengucapkannya. Terutama kalau itu berupa uacapan yg datang dari seorang tua atau dituakan atau yang lebih tinggi posisinya.

      Jadi semacam sikap berpura-pura- lah. Apakah ini hanya terjadi pada diri saya sendiri? Ataukah juga terjadi pada orang Jawa lain, sehingga boleh disebut sebagai budaya jawa? Saya sungguh tidak tahu. Mudah2an itu hanya terjadi pada diri saya sendiri.

      Bagi orang yang mengucapkannya saya rasa ucapan semacam itu sebagai kedok atau tempat bersembunyi atau pelarian bahwa dia sudah kehabisan penjelasan atau argumen, sehingga memaksakan dia berkata”ngono yo ngono, ning ojo ngono”.

      Karena seperti anda pula, kata2 itu bagi saya tidak ada artinya sama sekali. Bisa diartikan macam2 / ambiguous, sesuai spekulasi2, kreasi atau inspirasi yang diharapkan dari orang yang dituju. Mungkin dengan pengharapan agar orang yang dituju itu seyogyanya menangkap arti abstrak yg diucapkan, setingkat dengan wisdom yang dipunyai dari orang yang dituju.

      Misalkan ternyata bahwa orang yang dituju sama sekali tidak kreatif untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya, maka orang tersebut lalu disebut bodoh, tidak peka akan pengertian baik dan buruk, tidak tahu adat istiadat jawa, atau tidak mempunyai wisdom, tidak nJawani dan sebagainya.

      Begitulah pendapat saya,

      Salam,
      Fbk/1960.

      1. Mas FBK,
        Posting Mas mencerahkan saya setidak tidaknya pemahaman serius “ngono yo ngono ning ojo ngono” berpulang kepada orang yang mengucapkan dalam bersikap terhadap orang lain. Artinya ya…coro mBatak-e “songon-songon i ma” atau “so, so, lah” kata orang Malaysia. Betul tidak Bung DBA? Nanging coro dagelane terserah masing-masinglah…he…he…he…

        Mas FBK, ada lagi filosofi Jawa yang adhi luhung tapi sulitnya bukan main mengartikan dan memahaminya bagi cah sabrang seperti aku. Bunyinya “Tanggap ing sasmita”.. Mengenai hal ini syahdan di awal era Suharto itu bagaikan mantera yang sangat ampuh bagi orang yang mampu memahami dan menjalaninya diiringi nasib baik…

        Aku bersyukur bahwa pemahaman filosofi yang terkandung dari kalimat ini saya peroleh dari wong Yojo asli Bapak Radius Prawiro. Beliau bercerita bahwa suatu saat menghadaplah mereka (Widjojo Nitisastro, Emil Salim dan Radius Prawiro ke Pak Harto. Mereka diberi kesempatan mejelaskan apa yang akan dilaporkan sesuai bidang masing-masing. Kedua Menteri orangJawa melapor singkat dan padat mengenai hal yang memohon perhatian dan petunjuk Pak Harto. Pak Harto mantuk-mantuk diringi sesekali mendehem (ehmmm).

        Tiba giliran Pak Emil Salim, yang orang Minang, beliau menjelaskan dengan bersemangat masalah di bidang kerja dan tanggungjawab beliau. Pak Harto mendengar dan mantuk-mantuk juga.. Melihat itu makin bersemangat lagi beliau menjelaskan dan Pak Harto tetap mantuk-mantuk tapi tidak lagi mendehem tetapi merem…sebegitu jauh, tidak ada tanggapan. .karena Pak Harto masih mantuk-mantuk, lebih bersemangat lagi dia berbicara… Pak Widjojo sudah berkali-kali menginjak kaki Pak Emil, tetapi tidak juga dimengerti yang bersangkutan. Selesailah alokasi waktu yang diberikan dan sesudah meninggalkan ruangan Pak Emil bertanya, apa petunjuk Bapak Presiden setelah mendengar penjelasan panjang lebar… Dengan tegas dan nada agak gimana gitu Pak Widjojo dan Pak Radius mengatakan bahwa… Artinya Pak Harto sudah mendengar…Lho petunjuknya?? YAITU.. KALIAN SUDAH KUDENGAR…

        Dengan contoh ini aku diberi wejangan untuk memperhatikan bahasa tubuh dan kata-kata Bos besar dan simpulkan sendiri untuk dikerjakan… Aduh mak jang… berat kali jadi pejabat kecil di negeri ini. Macam mana pula aku tahu apa yang didalam kepalamu. Ini kukatakan dalam hati.. kalau tidak MAKA TIDAK TANGGAP ING SASMITA namanya. Beruntunglah aku orang sabrang sehingga Pak Radius maklum harus menjelaskan sendiri maknanya. Maka sejak itu berpikir keraslah aku sembari mengamati dengan “awas lan waspada” sikap berbicara beliau supaya aku si anak buah tanggap dalam menerima dan melaksanakan perintah yang tidak jelas..menurut ukuran Bhs Indonesia… Untunglah aku bergaul dengan wong Jowo Solo dan Jogja di Sekretariat Negara yang memberi “tips” sehingga ….jadilah aku seperti yang anda katakan… Maturnuwun atas pujiannya..he…he…he..

        Salam SeV,

        Normin Pakpahan (1964)

  3. pak FBK, siapakah filsuf yang menterjemahkan falsafah hidup Jawa yang bapak kutip ?

    Sekedar info, saya lebih suka menerjemahkan “Memayu hayuning bawana, dengan “memperindah indahnya dunia, diteruskan dengan kata “Asih samining dumadi”, berbelas kasih terhadap sesama hidup.

    Sementara RMP Sosrokartono, satu dari dua penasihat spiritual Ir. Soekarno, memilih kata-kata “leladi sesamining dumadi”, melayani sesama hidup. konon beliau melaksanakannya persis seperti kata petuah “Bawa laksana laku”, kesesuaian ucapan dan tindakan.

    Konon pula, itu atas dasar kiblat “Langgeng Purba”, kekuasaan abadi Tuhan, yang simbolik visualnya adalah kiblat poros Utara – Selatan, “Luhur Wasesa” kewenangan tertinggi Tuhan, yang simbolik visualnya adalah kiblat poros Timur – Barat. ” Sejati” ialah yang sebenar-benarnya, yang simbolik visualnya adalah kiblat poros vertikal di tengah titik silang, dengan fokus “Pangastuti”, Restu keselamatan dan kebahagiaan.

    Itulah asal muasalnya lahir semboyan hidup kejawen ketika menghadapi kemelut “Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”, keberanian – kejayaan menyatu di dalam restu keselamatan – kebahagiaan.

    mohon maaf, ini sekedar dleming selepas Jum’atan

    Hong Ulun Basuki Langgeng
    Apriadi Ujiarso

    1. Mas UUS ysh,
      Sungguh mas saya hanya lihat tulisan itu tanpa ada apa2nya lagi. Lalu saya copy and paste.
      Jadi saya tidak tahu siapa yang menerjemahkannya.
      Kalau yang anda tulis itu tulisan sastra Jawa yang bagus.

      Yang saya suka dan harapkan di adopt orang2 Indonesia adalah frasa “Bawa laksana laku”, kesesuaian ucapan dan tindakan.
      Semoga.

      Karena dengan demikian kita akan kembali kearah jalan yang benar. Yaitu Gejayan no.berapa ya… Lupa saya. Matur nuwun dan salam,

      Fbk/1960.

  4. Bang Normin ysh,

    Begitu anda sebut kalimat “Tanggap ing sasmito”, saya baru sadar bahwa saya ada sedikit salah dalam menjelaskan tentang “ngono yo ngono, ning ojo ngono”.

    Mungkin penuturan saya di bawah ini tidak akurat, rapi dan sistimatis serta asal tulis saja. Karena saya menulis apa yang saya ingat, tanpa sempat untuk menata kalimat atau memilih kata2 yang tepat. Jadi “in promptu” saja.

    Saya baru ingat adanya kata2 “cipto, karso dan roso”. Lah dalam lingkungan orang jawa yg saya dilahirkan, pernah gauli, kenal dan alami, masalah “rasa” ini selalu memainkan peran utama atau diutamakan di dalam tata pergaulan antar manusia.

    Kita dianggap sudah mencapai titik teratas dalam tata pergaulan dengan sesama, apabila kita sudah bisa mencapai ketajaman “olah rasa” sedemikian rupa sehingga semua panca indera kita berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan penuturan orang2 tua kita terlatih untuk bisa “tepo sarira”, sambung rasa, empati dan dengan demikian dapat memperkirakan atau membaca apakah seseorang atau orang2 lain itu sedang dalam keadaan/mood gembira, sedih, marah, resah, galau, bosan atau sakit hati dan lain sebagainya.

    Dengan kemampuan kita itu kita akan bisa melakukan “tanggap ing sasmito”, dapat membaca tanda2 dari seseorang atau keadaan. Dengan pengetahuan mana kita bisa terbantu utk menentukan sikap kita.

    Demikian juga dengan “ngono yo ngono, ning ojo ngono”. Hal inipun juga mengandalkan kemampuan kita untuk mengolah atau memanuver, mengolah perasaan kita dengan menggunakan panca indera berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki.

    Kalau kita berbuat sesuatu, apakah perbuatan kita elok atau tidak bagi seseorang atau orang2 lain atau suatu keadaan. Kalau tidak elok, jangan dilakukan atau lakukanlah dengan cara lain yg bisa lebih diterima akseptabel.

    Tingkat kemampuan dan ketajaman olah rasa itu membantu menentukan tingkat wisdom yang kita miliki.

    Demikian Bang Normin. Sudahkah ada titik terang atau malah kacau dan bingung?
    Cobalah menilai seseorang lain dengan perasaan anda, dengan cara merenung dan menggunakan pengetahuan serta pengalaman hidup anda, membaca perasaan orang lain tersebut, dengan menempatkan diri anda sendiri sebagai orang yang sedang anda nilai. Jika anda menjadi orang yang sedang anda nilai tersebut, apakah orang yang dinilai itu sedang merasa bahagia, atau susah atau marah, gelisah, atau perlu dikasihani, atau berbahaya, dan lain sebagainya.

    Lalu sikap dan atau perbuatan apa yang harus anda ambil atau kerjakan menghadapi situasi yang meliputi orang yang anda nilai? Itulah tanggap ing sasmito.

    Dan dengan pengetahuan itu pula anda bisa menentukan sikap atau perbuatan apa yg sebaiknya diambil atau dikerjakan, agar selaras dengan “ngono yo ngono, ning ojo ngono”.

    Wah saya langsung teringat assisten dosennya pak Notonagoro yg bernama pak Imam Bernadip yg memberi kuliah pengantar filsafat. Anda masih ingat?

    Salam,
    Fbk/1960.

    1. Mas FBK,

      Mantap tenan penjelasan sampeyan…
      Nek bar “maju” coro Wijilan di tahun 1963/64, pokoke “lulus dengan memuaskan”… Kuliah Filsafat di UGM termsuk kuliah yang kusenangi waktu itu karena setelah itu rasanya merasa “lebih tahu” he…he..he…

      Salam SeV,
      Normin Pakpahan

  5. Nyuwun pangapunten sak derengipun nggih dumateng sedoyo sederek2 ingkang kerso maos tulisan kulo meniko. ”Ngono yo ngono nanging ojo ngono” artosipun menawi menurut kulo piyambak inggih meniko : ”Sedoyo nopo kemawon mboten pareng klewat bates” Maksudnya gini,segala sesuatu itu jangan sampai kelewatan batas/berlibihan, contohnya orang makan jangan sampai muntah,jadi intinya tdk boleh berlebihan dalam segala hal. Sepindah malih nyuwun pangapunten menawi meniko mboten pas. Matur suwun…….

  6. Ternyata ada sensor di blog Realino/Fosino ini sebab saya menulis penajang lebar menanggapi copy-paste dari Mas FBK mengenai Falsafah Jawa “Adiluhung” ini yang isinya adalah bahwa falsafah ini adalah terbukti inferior karena muncul pada masa PB VII dibawah penjajahan Belanda.

    Pemimpin jaman kemerdekaan yang getol yang mempraktekkan falsafah Jawa adalah Presiden Soeharto dimana tidak saja merubah negara RI menjadi suatu pemerintahan feodal melainkan teah membuat mentri-mentrinya seluruh bangsa Indonesia menjadi bangsa penakut, penyembah dan penjilat penguasa.

    Sensor adalah salah satu bentuk penindasan yang disukai oleh Rezim Suharto dan saya yakin merupakan tafsiran dari falsafah Jawa tsb. Saya sebagai salah satu warga Forsino/alumnus Forsino tidak ikut serta dalam tidakan pensensoran ini dimana merupakan ciri dari tindakan represif dari rezim Orba dan penguasa-penguasa Jawa dimasa Pakubuwanan. Mereka ini sewenang-wenang terhadap bangsa sendiri tapi keok terhadap bangsa asing.

    Eko Raharjo Realino angkatan 1978

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s