AL-RTV, Peluang Lain Bagi Indonesia

Oleh: Djauhari Oratmangun*

Mulai hari lebaran Idul Fitri 19 Agustus 2012 lalu, stasiun teve Islam pertama di Rusia,  AL-RTV mulai mengudara dan bertekad langsung tancap gas siaran 24 jam non-stop. Kehadirannya di negeri mantan komunis dan disambut dengan sukacita ini akan semakin menyemarakkan kebangkitan kehidupan beragama.  Apa yang bisa diraup dengan teve primordial tersebut?

Kebangkitan kehidupan beragama

Jujur saja, melihat kebangkitan kembali umat beragama di Rusia memang sangat menarik. Setelah 74 tahun dibelenggu sistem yang mengharamkan segala bentuk aktivitas keagamaan, maka periode stabil saat ini memungkinkan semua kembali normal. Kristen Ortodoks yang merupakan mayoritas penduduk (80 persen) kembali membangun gereja di semua sudut kota, sedangkan muslim yang merupakan mayoritas kedua (18 persen), tidak kalah aktif dalam berbagai aktivitas mulai pembangunan tempat ibadah, universitas Islam, halal expo, fashion show, hingga teve Islam.

Kehidupan beragama yang masih dalam posisi menanjak tersebut diperkirakan akan terus berlangsung dalam kurun waktu 20-30 tahun mendatang. Keinginan untuk kembali bersatu dengan sang Khalik belum sampai pada titik klimaks atau jenuh. Artinya, aneka aktivitas yang terkait dengan muamalat (hubungan horizontal dan vertikal) yang terkait dengan primordialisme agama tidak akan pupus sekejab. Apalagi, Presiden Putin tampak memberikan respon relatif positif atas perkembangan yang ada, meskipun Pemerintah Rusia merupakan negara yang sama sekali sekuler.

Pembangunan kembali Kram Krista Spasitelya sebagai gereja Ortodoks terbesar di dunia pasca perestroika dan glasnost melalui dukungan Pemerintah dan seluruh rakyat Moskow merupakan sebuah bukti kongkrit tentang adanya kerinduan vertikal yang tanpa batas. Sebagaimana diketahui, gereja paling indah tersebut dibangun di masa Tsar selama 30 tahun namun harus bernasib malang dan diratakan dengan bumi untuk dijadikan kolam renang terbuka terbesar di dunia pada masa komunis.

Khusus tentang bangkitnya Islam di Rusia, tidak berbeda ceritanya. Kalau pada akhir Uni Soviet jumlah tempat ibadah (masjid) hanya tersisa 100 bangunan dari 10 ribu bangunan di masa Tsar, maka di masa kini pembangunan masjid kembali semarak. Diperkirakan, jumlah masjid sudah tumbuh lagi pada kisaran 7500 bangunan, plus aneka madrasah dan ratusan organisasi keislaman yang muncul di semua daerah dan wilayah Rusia.

Kantong-kantong muslim di Rusia mulai menunjukkan jati dirinya sebagai daerah yang berbasis Islam dengan ciri-cirinya sendiri tetapi tetap berada dalam Federasi Rusia. Simbol-simbol keislaman dibangun dalam rangka memenuhi kerinduan transendental yang pernah diharamkan. Ambil saja Grozny, ibukota Chechnya, begitu keluar bandara maka yang dilihat oleh para pengunjung adalah replika Masjid Aqsa dalam ukuran yang riil. Atau di Kazan, ibukota Tatarstan yang memang sengaja menyandingkan masjid Kul-Syarif yang indah dengan Katedral Ortodoks di tengah-tengah pusat kota (kremlin).

Bahkan, bila bicara tentang Islam maka Moskow merupakan kota dengan penduduk muslim terbesar di Eropa dengan jumlah tidak kurang dari 2 juta muslim. Dengan hanya 5 masjid besar disana, maka kegiatan ibadah, khususnya pada hari Jumat dan hari Raya terasa ada masalah tersendiri. Untuk itu, sebuah “Masjid Jami’ terbesar sedang dibangun di wilayah Prospek Mira, di “jantung Moscow” yang diperkirakan akan menampung lebih 100 ribu orang dalam sekali kegiatan salat.

Salah satu yang perlu mendapat catatan khusus adalah bahwa muslim Rusia adalah sebuah masyarakat asli, bukan pendatang. Memang, pada umumnya muslim Rusia bukanlah dari Suku Rusia yang merupakan suku terbesar, namun setelah bergabungnya wilayah-wilayah muslim ke Uni Soviet maka tidak pelak merekapun sekarang menjadi bagian dari Rusia yang tidak terpisahkan. Rusia tidak ingin melepaskan mereka, dan mereka pun otomatis menjadi warga yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan Suku Rusia.

Seiring dengan perkembangan muslim yang bisa dibilang sangat cepat, khususnya dari sisi demografi, maka muslim Rusia seolah menjadi “mawar desa” yang mampu menyihir tetangga untuk dapat menyuntingnya. Banyak negara yang masyarakatnya mayoritas Islam ingin memberikan pengaruh termasuk mengambil manfaat dari perkembangan muslim di Rusia baik dari sisi ekonomi hingga soal kepercayaan. Bisa sangat jelas terlihat negara jiran kita aktif dalam aneka kegiatan disana, dan beberapa negara di kawasan Teluk dan Timur Tengah dengan jelas memberikan “amunisi” bagi perkembangan Islam di Rusia. Bahkan, terdapat negara dari Teluk yang memasang seorang konsul jenderal di kota santri Tatarstan.

Karena itu, semaraknya pengaruh yang dicoba ditanamkan oleh berbagai negara tersebut sangat syah dan bisa dimengerti. Bagaimana tidak, dengan 25 juta penduduk Islam dari Moskow sampai Vladivostok, perkembangan demografi sekitar 5% dan pertumbuhan ekonomi yang positif, mau tidak mau merupakan sebuah peluang yang tidak bisa disia-siakan. Pada saat ekonomi mereka mencapai tahapan yang mapan, maka pola konsumsi dan kebutuhan harian mereka akan berkembang secara linier.

Di sisi lain sangat kasat mata melihat Negara Negara tersebut berusaha “mempengaruhi” umat Islam disana dengan berbagai bungkusan kegiatan, baik ekonomi maupun social budaya. Tentu ini dengan hitung-hitungan yang jelas, bahwa pada saatnya nanti ketika umat Islam memiliki leverage lebih tinggi maka diharapkan ada keberpihakan tertentu kepada negara yang banyak membantu. Selain itu, ada juga kelompok tertentu yang ingin menanamkan aliran fikihnya lebih populer di negeri “beruang  putih” ini.

Peluang Ekonomi Kreatif

Mengudaranya teve Islam pertama kali di Rusia tentunya menjadi sebuah fenomena yang sangat luar biasa mengingat media tersebut akan mejangkau hampir seantero negeri dan juga bermaksud melebarkan sayapnya ke beberapa negara tentangga yang mayoritas beragama Islam. Dalam dunia teknologi informasi saat ini, peranan teve dalam menyebarkan sebuah pengaruh sudah tidak bisa dinafikan. Dengan demikian, siapa yang siap bekerja sama dengan teve Islam Rusia dialah yang akan meraup banyak keuntungan dalam bentuk pengaruh, termasuk keuntungan ekonomi.

Sebenarnya, Indonesia memiliki kapasitas dan kapabilitas yang tidak kecil untuk melakukan penetrasi ke masyarakat Islam Rusia melalui media teve. Indonesia dan Rusia merupakan negara yang sama-sama plural dalam arti memili banyak etnis, bahasa dan budaya. Selain itu, Indonesia juga sangat dikenal di masyarakat muslim Rusia sebagai masyarakat muslim yang taat, santun dan memiliki kedisiplinan beribadah (haji). Justru karena itulah, Indonesia merupakan negara yang tepat untuk bermitra strategis dengan Rusia dan  masyarakat Islam disana.

Berbagai program teve di Indonesia sangat pas untuk disiarkan oleh teve Islam Rusia. Pengajian, kuliah subuh, sinetron hingga soal hiburan termasuk musik yang bersifat islami bisa jadi merupakan sebuah sajian berselera bagi muslim Rusia yang memang memiliki dasar-dasar yang sama. Hemat saya, pimpinan agama Islam di Rusia juga sangat welcome terhadap sajian teve Indonesia seperti halnya mereka penuh semangat menyekolahkan anak-anak asuhannya di Indonesia..

Program budaya semacam itu bukan merupakan hal yang sulit apalagi mustahil. Hanya saja harus cepat melihat peluang dan segera mengambil langkah strategis dalam bentuk kebijakan nasional –bukan parsial apalagi sporadic untuk menangkap peluang tersebut. Kerjasama antara teve nasional (swasta maupun negeri) dan teve Islam Rusia akan tidak mahal akan tetapi efektif. Pengajian dan sinetron serta sajian musik rohani yang memang populer di Indonesia manakala ditransliterasi dalam bahasa Rusia yang pas diyakini akan menarik penonton dan menguntungkan teve Islam karena mengundang iklan.

Bahkan, bila memang berminat sekali untuk dapat memanfaatkan teve Islam yang masih sangat muda ini maka Indonesia dapat memasang iklan dan aneka promosi budaya. Maklum, dalam setahun tidak kurang dari 25 juta rakyat Rusia melancong ke luar negeri dan sampai saat ini hanya 100 ribu diantaranya yang menjenguk  Bali. Dan Lombok. Umat Islam di Rusia antara lain perlu ditarik untuk berkunjung ke tempat bersejarah umat Islam di Indonesia yang memang eksotik. Tayangan teve seperti “Jejak Islam” bisa menjadi daya tarik.

Tidak hanya itu, promosi produk bernuansa Islam (halal) juga akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Busana muslimah Indonesia terkenal sangat indah dan melihat selera masyarakat setempat, dipastikan akan mematik keinginan untuk membeli. Belum lagi kalau bicara aneka produk lainnya seperti guitar, film film animasi, makanan, snack, buah-buahan dan lain sebagainya. Itu semua pasti menyangkut uang tidak kecil, alias bisnis dalam jutaan dolar. Bukankah ini peluang “ekonomi kreatif” yang Indonesia cukup kuat di kawasan?.

Kini semua tergantung pada kita, apakah akan ikut dalam hiruk pikuk meraup peluang yang masih terbuka pada komunitas Islam Rusia ataukah kita menunggu sampai semua penuh sesak. Memang, pekerjaan memulai selalu sulit, tetapi kalau memulai saja nanti-nanti maka yang ada hanyalah: sangat-sangat sulit sekali.

Penulis adalah alumni FE UGM, Duta Besar untuk Rusia dan Belarusia
Tulisan ini adalah 
pandangan pribadi penulis, dan ditujukan untuk dimuat di http://www.detik.com

Artikel Terkait

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s