Forsino, mau dibawa kemana?

Ytc para sedulur,

Saat reuni di Yogyakarta, ada salah satu materi RDC yang mengangkat thema Forsino ke depan. Namun dalam diskusi yang terjadi, lebih menonjol diskusi soal pentingnya tidaknya reuni dan juga mengenai keberadaan asrama. Sedangkan mengenai organisasi/komunitas yang bernama Forsino ke depan nampaknya tidak tergali secara mendalam.

Mengenai Forsino sendiri, seperti kita semua tahu bahwa Forsino terdiri dari ex warga yang pernah menghuni asrama mahasiswa Realino. Dari 1000 orang lebih ex warga yang diyakini masih hidup, yang terdata mungkin kisaran 200 – 300 orang. Sedangkan yang aktif dalam milis/reuni dll bisa dibilang di bawah 100 orang. Mengenai data2 tsb saya yakin mas Dwi punya data yang lebih akurat. Namun dari gambaran data kasar tsb, pasti akan timbul pertanyaan yakni kenapa begitu besar “gap” antara jumlah ex warga yang diyakini masih hidup dan ex warga yang terdata. Apalagi bila dibandingkan dengan data ex warga yang aktif baik di milis maupun di acara2 yang dilakukan, entah dalam bentuk reuni/bukber/halal bihalal/gathering dll.

Bila dikelompokkan, ada beberapa kelompok jenis ex warga :

  1. ex warga yang tidak punya ikatan chemistry apapun terhadap Realino,
  2. ex warga yang punya ikatan chemistry terhadap Realino, namun kecewa atau pernah kecewa thd realino / forsino sehingga menjauh,
  3. ex warga yang punya ikatan chemistry terhadap Realino, namun tidak mengetahui adanya forsino shg tidak terdata juga,
  4. ex warga yang punya ikatan chemistry terhadap Realino, terdata, namun pasif,
  5. ex warga yang punya ikatan chemistry terhadap Realino, terdata dan aktif,

Bila kita gabungkan kelompok 2 sampai 5, saya yakin jumlahnya masih cukup besar. Namun tahun demi tahun, jumlah tsb akan terus berkurang juga. Karena itu dalam kesepakatan saat reuni di Cipete tahun 2009, kita sudah mulai membuka diri terhadap non ex warga untuk terlibat di Forsino. Secara konkrit, tampillah mbak Mia (putri dari senior kita pak Sismadi) sebagai bendahara pengurus Forsino yang dipilih dalam reuni tsb.

Mbak Mia dalam banyak pertemuan sering menceritakan bagaimana alm. pak Sismadi selalu menuturkan cerita2 soal Asrama Realino. Keunikannya, atmosfernya, pendidikannya dll. Artinya beliau memahami Realino dari cerita ayahandanya. Saya yakin, banyak diantara kita juga sudah menularkan cerita2 mengenai realino terhadap anak2 kita. Dengan keyakinan tersebut, saya berharap bahwa Forsino tidak akan habis walaupun tidak tersisa lagi ex warga yang hidup.

Selain itu, ada hal lain lagi yang saya concern dari dulu. Melalui bea siswa yang disalurkan oleh pengurus Forsino, saya punya harapan besar bahwa semangat Forsino juga bisa ditularkan ke banyak pihak walaupun bukan dari keluarga Forsino sendiri. Hal ini pernah saya singgung saat mengkritisi program bea siswa yang dilakukan secara partial beberapa waktu yang lalu. Penting buat kita untuk menjadikan program bea siswa sebagai salah satu cara yang efektif untuk menjadikan Forsino tetap “survive”

Namun selain soal survive tidaknya Forsino, justru yang jauh lebih penting adalah apakah Forsino akan menjadi ajang silahturahmi saja ataukah sebagai suatu komunitas bisa memberikan suatu sumbangan (sekecil apapun) terhadap bangsa ini. Banyak diskusi dilakukan di milis ini, banyak “kemarahan/emosi” yang tertuang di milis ini, namun pernahkah kita merumuskan secara konkrit thema yang dilempar saat reuni di Yogya, yakni “Forsino ke depan “

Bila kita semua menganggap bahwa ajang Forsino tetap merupakan ajang silahturahmi, maka sangat jelas bahwa kita sudah melakukan itu. Namun bila kita ingin melakukan sesuatu yang lebih dari silahturahmi, bagaimana kita mengkonkritkannya. Hal ini jelas tidak cukup dengan perdebatan di milis. Perlu gerakan konkrit dari kita semua

Saya sangat berharap pertanyaan mengenai Forsino ke depan ini bisa dituntaskan karena sampai sekarang masih menjadi suatu pertanyaan yang tidak terjawab saat reuni di Yogya.

Salam
Ardy Kohar ’81

Iklan

9 Replies to “Forsino, mau dibawa kemana?”

  1. Mas Ardy,
    Terimakasih telah menyadarkan saya kembali untuk ikut memikirkan bagaimana Realino ke depan. Saya merasa bersalah ikut “menikmati” diskusi-diskusi panas yang tidak ada akhirnya itu. Dan itu sama dengan menonton acara Lawyer Club. Saya akan kembali ke usaha berkarya untuk Realino, walaupun cuma karya kecil-kecil tapi lebih baik daripada tidak.

    Salam SeV
    Budi Ain

  2. Postingan dengan wacana yang menarik ini mas, bisa melibatkan alumni realino untuk “kecil bergerak”.

    Belajar dari pengalaman bersama Forsino, sejak dari bersekretariat di Bina Swadaya, hingga bersatu di dalam milist Forsino ini, yang salah satunya juga mendapat fasilitasi dari Bina Swadaya, dengan menempatkan mbak Ayu Bulan untuk turut terlibat di awal2 milist terbentuk, hingga ke Lustrum di Jogya, tampaknya sudah terlihat dinamikanya Forum Studi Realino. Semisal ada yang bikin Realino Bussiness Club, Koperasi, bekerja sama dalam bisnis lainnya yang tidak dalam format RBC, piknik bersama, bersilahturahmi terbatas antar teman seangkatan.

    Jujur saja karena saya tidak terlibat dalam urusan bisnis dan koperasi, di dalam Forsino saya memilih untuk sebisa mungkin terlibat kepada hal-hal yang menggembirakan (dulu ada acara tea – walk, kemarin juga ada acara tour bersama, reuni, mencari makan enak, silaturahmi dan lain2.

    Intinya saya mau terlibat di dalam kegembiraaan Forsino, meski begitu saya akan berusaha hadir bila Forsino di dalam duka, setidaknya menyempatkan melayat, memberi penghormatan terakhir.

    salam SeV
    Uus

  3. Ha..ha.. Mas Ardy, untuk topik ini memang berlaku : “Teori Evolusi mas Charles Darwin”. Terjadi seleksi alam. Sudah tersegmentasi, suka atau tidak suka faktanya begitu..

  4. hehehehe mas Budhy, justru saya butuh kepastian dalam rangka mau kemana gerbong Forsino ini dibawa. Hal ini menurut saya penting, karena akan mempengaruhi banyak hal, baik pemikiran, pergerakan, materi milis dll.

    Sebagai contoh kecil, bila kita semua merasa cukup bahwa forsino hanya kita jadikan ajang kumpul2 dan kangen2an, berarti media yang cocok adalah reuni / ngopi bareng / gathering. Koperasi Realino menjadi suatu media yang menjadi berlebihan. Sebab setahu saya salah satu misi pembentukan Koperasi Realino adalah menjadi salah satu media paguyuban dengan perekat aspek ekonomi. Dan secara jangka waktu lebih panjang, bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya, yang notabene seharusnya warga Forsino.

    Terima kasih mas Budhy, salam buat keluarga. Kapan pulang mas ?

    Salam,
    Ardy

  5. Pak Ardy ytk……menurut kami, kaum Forsino ini tetap harus kumpul kumpul dan hura hura……akan tetapi kita Forsino itu TIDAK punya dana abadi yang bisa mengakomodasi kegiatan di atas, maka mau tidak mau kegiatan kumpul kumpul kita SEHARUSNYA dibarengi dengan kegiatan ekonomi baik berupa Koperasi Realino maupun kegiatan business lainnya…….

    Disamping itu kegiatan bisnis kita mungkin bisa sekaligus memperpanjang umur kita karena bisa terus bekerja dan berharap serta beramal menurut semampu kita masing2 sehingga secara langsung kita merasa dan memang betul bahwa kita ternyata masih sangat sangat berharga…….

    Dan kemudian menambahkan rembukan beberapa sobat yang mengatakan bahwa mari kita sama sama mencari teman/domba selifting yang hilang supaya milis ini tambah dan bersemi kembali…..sekarang kita mau mulai dari mana mencari teman kita …….harusnya bisa minta tolong bagaimana kita kembali her-registrasi……mungkin policy ini bisa dibantu forsino?

    Salam JP72.

  6. Buat Sobatku Dimas Ardi yang SANGAT AKU BANGGAKAN karena tetap semangat berjuang untuk menjawab pertanyaan yang masih belum tuntas tentang FORSINO KE DEPAN.

    Sesungguhnya pertanyaan ini sangat mudah untuk dijawab, namun TIDAH SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN UNTUK DILAKSANAKAN. Sebenarnya Bung Djau pernah menawarkan suatu gagasan agar Kita mau menyalurkan ENERGY POSITIF. Dalam gagasan itu diungkapkan bahwa sekecil apapun energy yang Kita sumbangkan, akan mampu MENGHANCURKAN segala kebobrokan yang ada di Negeri ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah MAU KAH KITA MELAKUKANNYA…..????

    Aku harap dengan sangat agar Om Pelek bisa menjawab pertanyaanku ini. Mengertinya Kau Om Pelek….????

    Salam SeV
    UUNG (MAT ’77)

  7. Saya baru membuka blog Forsino yang disusun oleh mas FBK dan mas Dwi. Ternyata sudah ada visi dan misi Forsino. Saya copas di bawah ini.

    Visi Forsino
    Menjadi wadah kebersamaan yang dijiwai semangat Sapientia et Virtus (kebijakan dan kebajikan), berusaha ikut menjiwai dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang pluralistik, bersatu, maju, bermartabat dan terhormat, dalam perkembangan dunia yang sangat dinamis.

    Misi Forsino
    – Menggali dan mensosialisasikan nilai-nilai Sapientia et Virtus (kebijakan dan kebajikan),
    – Mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa,
    – Mewujudkan kepedulian kepada mereka yang kurang beruntung,
    – Mempererat kebersamaan sesama alumni.

    Dalam merumuskan visi dan misi Forsino, saya yakin bahwa para senior kita mempunyai pertimbangan yang matang. Dan saya lihat bahwa sebagian besar dari misi yang tertulis, merupakan point2 yang bisa menjadi dasar kita dalam memberikan kontribusi bagi sekitar, baik dalam arti yang sempit ataupun dalam arti yang seluas2nya.

    Saya usulkan agar pengurus Forsino kembali merumuskan langkah2 konkrit sehingga visi dan misi tersebut dalam tercapai walaupun secara bertahap.

    Salam hormat,
    Ardy Kohar 81

  8. Dimas Ardy yang tulisannya menggugah hati nurani saya untuk turut bicara.

    Menurut saya, pesan Bung Karno masih relevan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Pelajari dan introspeksilah sejarah ketika kita ketika kita tinggal di Realino, waktu itu kita sedang berjuang untuk dapat lulus dari Universitas, dan di Realino kita mendapat pendidikan spiritualitas. Saya yakin bahwa apa yang saya peroleh di Yogya sungguh menjadi modal menghadapi tugas dan menghadapi kondisi yang semakin kompleks. Meski kondisi masa lalu dan masa kini berbeda, namun semangat untuk ‘maju dan menyelesaikan permasalahan’ akan terus terpateri di masing-masing hati milik eks-Realinowan.

    Realino itu Indonesia mini. Hidup di Realino tidak terkotak-kotak, kita menyatu, walau beda agama, walau beda suku, walau beda umur, walau beda fakultas. Di Realino diajarkan dan diimplementasikan cara hidup bersosialisasi. Bergaul dengan orang lain. Sukes yang kita peroleh sekarang maupun masa lalu, karena kita mengetrapkan hidup bersilaturahmi dengan sesama manusia, tidak peduli latar belakang dari teman kita itu. Asal niatnya tulus dan ikhlas, selalu mengajak kepada kebaikan, selalu siap membantu sesama bagi yang membutuhkan, hal itu membuat hidup kita senang dan tenang. Manusia yang tinggi derajatnya dimata Tuhan adalah manusia yang bertakwa. Yang bermanfaat bagi masyaraklat. Sekecil apapun kebaikan yang kita buat di dunia, akan menjadi sangat penting nanti di akhirat. Sifat ‘memberi’ kepada sesama manusia itu amat bernilai daripada mengambil yang bukan haknya apalagi ‘korupsi’. Balasan bagi yang ‘memberi’ yang dilandasi tulus dan ikhlas , pasti mendapat balasan yang setimpal, mungkin berlipat ganda. Didunia maupun nati di akhirat. Inti ajaran semua agama menyuruh manusia berbuat kebaikan.

    Eks – Realino diberikan kebebasan untuk memilih. Eks – Realino mempunyai akal dan pikiran untuk membaca dan mempelajari segala sesuatu. Eks-Realno dapat memilih yang mana yang akan dilakukan. Mau aktif, mau pasif, mau nulis, mau komentar, mau sharing… silahkan ..monggo wae.. Semua dimulai dari diri sendiri. Tidak ada paksaan. Tetap semangat.
    Salam
    Gufron (63)

    1. Pak Gufron yang saya hormati,

      Terima kasih banyak atas pencerahannya. Saya sependapat bahwa ex realino punya kebebasan untuk memlih kiprahnya dalam mewarnai hidupnya maupun lingkungannya.

      Ada sedikit hal yang terpikirkan oleh saya, bahwa karena waktu, suatu waktu nama realino hanya menjadi sejarah saja. Dalam konteks sebagai suatu komunitas, belum memberikan apa-apa terhadap masyarakat.

      Terima kasih pak Gufron, salam buat keluarga

      Salam hormat,
      Ardy (81)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s