Realino sudah bukan milik kita

Renungan di malam hari 15/07/12
Agus Haryanto ‘ 76.

Berbagai perasaaan berkecamuk muncul seketika, dan begitu mendadak ada didalam diriku (kecewa, cemas, getun dsb.), setelah aku mengamati dengan seksama keadaan di sekeliling bangunan ex asrama mahasiswa Realino, di Jalan Raya Gejayan Mrican Yogyakarta.

Aku sengaja minta ditemani, rekan kita Labuhan Marpaung; siang itu di tamggal 11 Juli 2012 , kami berdua sengaja melihat lingkungan bekas asrama kita Realino, yang telah disulap secara tambah sulam, oleh institusi yang bernama Lembaga Studi Realino (LSR).

Ingatanku kembali ke masa-masa indah , masa 33 tahun yang lalu; ketika aku memandang ke lingkungan sekitar ruang dapur. Aku ingat lagi peristiwa rebutan sisa-sisa potus yang belum/tidak dimakan, bila jam sudah lewat jam 5 sore.

Muncul lagi di benakku wajah Ismanto yang ngguya-ngguyu pecengas-pecengis itu, maupun Waluyo Gambalzz. Masih kuingat dengan jelas, dulu Waluyo Gombal yang sangat gesit, yang selalu menang dalam rebutan potus, karena kegesitannya itu., menyambar potus yang tak bertuan itu.

Aku merasa sangat bahagia sekali siang itu, ingat masa mudaku yang penuh dengan kenangan indah itu.

Tetapi cepat pula berubah, aku jadi murung ketika melihat pintu villa utara (menghadap ke barat),yang sekarang selalu ditutup. Masih segar di dalam ingatanku, dulu di dekat pintu itu, di atas lantai warna hijau abu-abu, kuingat sahabat-sahabatku, Djauhari dan Elias yang berebut es lilin dan mengotori lantai tsb.

Juga aku sengaja mengintip ex aula di villa utara, yang kini menjadi perpustakaan, yang kulihat dari luar (intipan via kaca). Aku sedih karena aula yang dulu begitu bersih dan luas, sekarang tampak kotor dengan penataan barang (buku maupun rak-rak buku) yang semrawut dan kurang rapi itu.

Tetapi ketika aku menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas, ternyata tangga kini sudah berubah tanjakan2/injakan kaki (dari satu lurus menjadi dua). Disitu terjadi banyak diskusi dengan Labuhan tentang lantai (yang baru), juga kayu pegangan tangan yang ada di tangga yang memang berbeda warna dengan yang lama (walau lebih lama, tapi tampak lebih kuat), ubin lantai yang barupun tampak berbeda warna dibanding ubin lama.

Berbagai perasaan negatif muncul lagi di benakku ketika kumasuki kamar pojok, kamar pertamaku dulu,waktu itu aku sekamar dengan Darsono (bapak buahku) dan Kuncoro (teman sekamarku). Rasa getun dan kecewa sekali berkecamuk dalam hatiku saat kulihat “jendela kenanganku” yang menghadap ke jalan raya Gejayan. Yang kulihat bulan lalu (Juni 2012) masih ada dan ternyata sekarang sudah hilang, sudah ditutup oleh tembok.

Muncul begitu cepat di ingatanku, dan akupun merenung sejenak, ingat lagi dengan segala yang dulu ada di ruangan dan jendela di kamar pojokku itu. Dulu aku sering di tengah malam, masih terjaga dan belum tidur, jendela itu menjadi teman setiaku.

“Jendela kenangan itu” sering kubuka, kulihat pemandangan di bawah dari jendela itu, satu dua orang berlalu lalang dan ada pula orang-orang yang bercengkerama. Sementara kulihat ke kamarku, kulihat Kuncoro yang telah lelap tidur dengan dengkuran yang keras itu. Aku masih ingat betul, dulu aku sangat kasihan bila melihat gaya tidur Bapak Buahku Darsono, dia tidur dengan menutup kedua telinganya memakai bantal warna putih itu , karena tak kuat mendengar dengkuran Kuncoro.

Jendela itu kini telah diubah menjadi menghadap ke Selatan, dan pemandangan yang bisa dilihat pun berubah. Dari jalan raya menjadi pemandangan yang kurang bagus yaitu pemandangan atap rumah dan sebagian dedaunan serta ranting-ranting pohon.

Memang di siang hari itu, aku sengaja mengamati ” kamar pojok ” itu lama sekali, karena kamar itu penuh kenangan bagiku. Aku sedih karena sekarang kamar itu tidak digunakan sebagai kamar, tetapi difungsikan sebagai gudang. Disitu bertumpuk bekas-bekas ranjang bercat kuning yg sudah dilepasi, kasur-kasur bekas, juga lemari bekas yang sudah tak mereka pakai.

Aku melihat di salah satu lemari kenangan itu, pada bagian belakang lemari bekas, kulihat banyak tulisan yg menunjukkan tahun & nama-nama penghuni. Mataku tertuju pada tulisan dengan nama-nama teman, yaitu : 77 Pranoto Ismanto Widayanto, ketiga nama temanku yg kukenal (aku tahu secara pasti, bahwa tulisan itu adalah tulisan tangan itu adalah tulisan si Ismanto Togog).

Uung dan aku berjalan terus mengamati koridor di lantai atas itu. Kami berjalan sampai tembus ke berbagai bangunan dan ruangan , yang ada di wisma Realino (yang dulu merupakan Forbidden Area, bagi warga Asrama Realino ). Kuamati seluruh ruangan dan bangunan disitu, ternyata LSR hanya merenovasi/membangun dengan cara renovasi sederhana saja.

Kulihat juga dari luar, kamar keduaku ketika aku di Realino (kamar itu sedang dipakai tamu). Kamarku di pojok dekat tangga. Aku dulu disitu sekamar dengan Bang Eriwan Sembiring (bapak buahku yang jarang bicara itu). Kami bertiga dengan Ramli Kurtianto (teman seangkatanku yang kini jadi pejabat tinggi di kantor Wapres).

Ketika kami mengamati ke kamar bekas kamar pengurus asrama, kembali muncul di ingatanku bahwa dulu kamar yang terawat bersih yang dihuni Gregoriu Maubili, telah disulap menjadi kamar mandi dan WC yang tidak dijaga dengan baik kebersihannya (kulihat lantai & dindangnya sangat kotor). Demikian juga kamar-kamar yang dulu berhadap-hadapan dengan kamar pertamaku, sudah disulap menjadi kamar mandi, WC bahkan ada juga tempat mencuci pakaian (dengan washing machine).

Di taman yang begitu luas, dengan berbagai tanaman (nangka, kluwih dll ) itu dulunya adalah lapangan basket yang penuh dengan kenangan yang indah pula. Mereka menanam tanaman dan tumbuhan dengan menambah tanah begitu sederhana, bekas garis hitam di lapangan basket itu , masih nampak. Masih jelas tampak dalam ingatanku, Made Suladra, yang menjadi juara, terjadi di lapangan itu, yaitu juara dalam lomba sepeda lambat di waktu Dies Natalis di tahun 1977.

Sayang aku tak bisa melihat villa selatan, karena kini sudah tak ada akses kesitu (karena sudah ditutup bangunan, di atas lapangan badminton masa lalu itu), kecuali dari luar asrama.

Dulu aku 3,5 tahun di tinggal Realino. Waktu huniku lebih banyak di villa selatan (2,5 tahun). Aku sudah tak bisa melihat kamarku yang dulu-dulu itu, saat -saat indah bersama Bunadi, Parulian Sinaga, Yos Mailoa, Wignyo Hadriyanto, Arief Pribadi dan David Sinaga (alm);sudah tak bisa lagi kulihat bekas kamar-kamarku di villa selatan.

Ketika akan meninggalkan lingkungan Realino di siang hari itu, dari kejauhan masih kulihat refter, yang kuingat betul bahwa dulu, pada Juni 1979 (sekitar 33 tahun yang silam), aku dan Tatan Setiawan, berpamitan dengan warga asrama, karena masa tinggalku sudah habis. Masih kuingat dengan jelas, bahwa setelah berpamitan dengan warga asrama pada saat makan malam. Aku tak bisa tidur sama sekali, mulai malam sampai pagi, aku terjaga terus, aku gelisah sekali, karena pagi harinya aku harus angkat kaki dari Realino.

Hatiku memberontak lagi, rasa getun dan kecewa , muncul lagi…. Muncul pula dalam benak fikiranku bahwa LSR yang tidak punya uang banyak, mengapa dulu mengambil (melakukan take over) atas Realinoku, Realino kita.

Selintas muncul begitu lengkap, kenangan lamaku, ketika aku masih muda dulu, kenangan sebagai perbandingan yaitu kunjunganku ke Duke University di Amerika Serikat, Universitas besar yang begitu lengkap fasiltasnya (termasuk asrama mahasiswa).

Kuingat dengan jelas sekali bahwa di Universitas yang tergolong tua di Amerika itu, dilengkapi dengan asrama yang sangat besar dan lengkap, dan berusia sudah ratusan tahun, aku tahu betul akan hal ini karena adik ipar dari teman dekatku adalah seorang Profesor Kimia di Universitas tsb. Mengapa Realinoku hanya berusia 39 tahun (1952 – 1991).

Aku tidak membanggakan “negeri Paman Sam”, aku hanya menulis sebagai perbandingan karena aku merasa kecewa dan getun, mengapa tempat dimana aku digembleng dan dididik secara disiplin itu, sekarang hanya tinggal kenangan.

Realino kini bukan milik kita lagi.

*elek yaitu atas rumah yaitu genting dan dedaunan pohon yang tinggi.
Iklan

8 Replies to “Realino sudah bukan milik kita”

  1. Puitis juga teman kita agus har. . . .membangkitkan kenangan lama. . . .tapi dunia ini selalu dan pasti
    berubah. . . . . yang tidak berubah hanyalah PERUBAHAN ITU. Lahir-kecil-remaja-dewasa-tua akhirnya kembali kepadaNya ITULAH suatu wujud perubahan. . . . Akupun sedih teman, kamarku di vila utara sayap luar pojok sekarang jadi kamar mandi padahal dulu pagi jam 05.oo an saya buka jendela terlihat pemandangan indah matahari. Pagi anak2 mahasiswa ikip kuliah. Ya,…masa lalu penuh kenangan.

    Kapan kita kumpul lagi? Saran di yogya saja biar ada ikatan emosionalnya.

    Salam,
    Bambang Trenggono’78
    tukang tiup saxophone

  2. dear dodiet gombloh….and all….

    Saya membaca tulisan Dodiet dan mencoba mengikuti perasaan Dodiet. Saya tdk berkesempatan ikut acara rlry12…tdk bisa melihat kondisi terakhir realino, tapi dari tulisan mas dodiet saya bisa membayangkan perubahan2 yg terjadi….dan memahami perasaan dodiet.

    “realinoku sudah bukan milik kita” tulis dodiet…

    Begitulah kenyataannya mas dodiet, banyak yang berubah di sekitar kita. Kita sendiri juga berubah, dan kita tdk bisa mencegah terjadinya perubahan2 itu. Yg penting bagaimana kita bisa tetap eksis dan survive dalam lingkungan yg betubah itu.

    “realinoku sudah bukan milik kita”….tulis dodiet…tapi kenangan indah yg pernah kita alami disana, persaudaraan yg pernah kita bina disana, pendidikan mental, latihan kedisiplinan, rasa toleran yg pernah kita dapatkan disana tetap menjadi milik kita.

    Biarlah realino kita berubah…biarlah dia menjadi milik generasi yg baru. Tugas kita sekarang adalah menerjemahkan makna ‘sapientia et virtus’ di lingkungan kita yang berubah.

    broer dodiet gombloh…..salamku dari jauh…
    salam sev.
    elgin.

  3. Mas Agus Haryanto yang baik,

    Sangat menyentuh relung hatiku yang paling dalam membaca tulisan Mas ini. Aku terbawa lamunan yang jauh teringat Realino, sebuah Panti yang membentuk pribadiku yang tangguh seperti sekarang ini.
    Aku seolah-olah ikut berjalan bersama mas Agus dan Bang UUng dalam perjalanan mengamati Realino ini.
    Wah, sungguh luar biasa. kenangan dan ingatan mas Agus masih tajam sekali meskipun telah termakan usia.

    Aku sendiri masuk Asr Mhs Realino 28 thn silam (1984). Memang benar sekarang semua tinggal kenangan saja, karena banyak sudut dan bagian Asr Mhs Realino tercinta telah direnovasi. Sayang Aku nggak bisa ikut Reuni tahun ini. Mudah2an ada lagi Reuni di tahun2 mendatang biar Aku bisa ikut juga.

    Salam manis dari Tanah Papua.
    Salam Sapientia et Virtus.

    Manase Faan, Sorong, Papua Barat.

  4. Dear Kapten Dodit n all;
    Aku sangat terharu membaca postingmu ini.

    Memang ada kalanya Kita sentimentil dan ada kalanya Kita harus tegar menghadapi kenyataan yang ada. Namun satu hal yang perlu Kita ingat adalah Kita sama-sama dilahirkan dari REALINO yang memiliki darah GOLONGAN SeV.

    Mungkin saja ada diantara teman Kita yang menyalahgunakannya, mungkin saja ada yang lupa akan SeV, atau sama sekali tidak mau tau tentang SeV. Bagiku hal itu merupakan hal yang biasa dalam dinamika kehidupan, karena tidak semua orang memiliki persepsi yang sama thd makna dari SeV.

    Terkait dengan masalah reuni yad, Aku sangat paham bahwa semakin jauh lokasi reuni dari tempat kita berdomisili, maka semakin mahal pula biaya yang harus kita pikul. Dan sudah jelas Kita semua memiliki kemampuan ekonomi yang sangat beraneka ragam antara satu dengan yang lain. Untuk itu Aku punya usulan sbb:
    1. Reuni diadakan sekali 1 sd 2 tahun (tergantung pada kesepakatan yang disesuaikan dengan kondisi keamanan negara).
    2. Reuni dapat dilaksanakan dimana saja yang ditentukan oleh Pengurus Forsino berdasarkan kecenderungan pilihan Anggota dan kesiapan Panitia Lokal yang diusulkan.
    3. Bagi Anggota yang mampu, diharapkan dapat memberi sumbangan kepada orang yang tidak mampu (diluar sumbangan kepada panitia) yang dikoordinir oleh Pengurus Forsino.
    4. Bagi Anggota yang kurang mampu, diharapkan dapat mendaftar kepada Pengurus Forsino untuk diusahakan biayanya agar dapat ikut berpartisipasi dalam reuni.

    Mudah-mudahan usul ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Kita semua demi suksesnya Reuni yad. Semoga bermanfaat.

    Salam SeV dari Bali
    UUNG (MAT ’77)

  5. Wouw tulisan yg mengungkit memori, dari sekedar membaca, menikmati menjadi pengin berpartisipasi merespon,… aku jadi ingat dengan bapak buah ku Paul Mamahit entah dimana dia sekarang juga Idaman kakak buah ku …. mengenang hidup di Realino sungguh menjadi pengalaman yg luar biasa … trimakasih Dodiet

    adi ismawan (78)

  6. bung Dodit…..secara fisik Realino bukan milik kita lagi…tetapi secara Spirit…..Realino tetap milik kita…dia ada didalam diri kita kita…..salam hangat dari moscow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s