What Is in A Name?

SV,
Selamat pagi teman-teman. Sudah sarapan dan bersyukur pada Tuhan? Ini ada kiriman Pesta Kamar berupa Cerpen “What’s in a Name” dari sobatku Fadjar MB alias si Pentul. Cerita singkat ini ditulis tahun 2010 yll untuk menyambut ulangtahun KKI-Houston. Karena ada Realinonya, maka saya ingin mensharingkannya kepadamu. Kisah fiktif ini bergulir seputar seorang pemuda bernama Bejo asal Ngemplak, selatan Klaten. Ketika kuliah di Yogya, tinggal di Realino. Akhirnya merantau ke Amerika untuk melanjutkan studi.
 
Selamat menikmati,
Salam Felixs76

***

Oleh Fadjar M. Budhijanto*

Perjalanan Sebuah Nama

Perjalanan hidup Bejo penuh liku, dinamis dan menarik hati.  Bejo terlahir dengan nama “Mario” di desa Ngemplak, Selatan Klaten.  Namanya cuma satu sebagaimana layaknya orang Jawa di masa itu.  Orangtuanya, pak Wicaksono (sering disingkat pak Wi) dan bu Sariyem menamakan anaknya demikian bukan karena mereka berketurunan Itali atau pernah berkunjung ke sana.

Dalam bahasa Jawa, Mario berasal dari kata mari o yang berarti “sembuhlah.”  Sudah pantaslah bila bapak dan ibunya prihatin karena si jabang bayi lahir premature dengan kondisi fisik tidak fit.

Beberapa kali si jabang bayi terkena step (demam tinggi) hingga sering kejang-kejang.  Entah sudah berapa kali Mario dibawa ke manteri Puskesmas di dekat kantor Kecamatan tetapi tidak ada hasil yang memuaskan.  Malah lebih parah.

Usaha pengobatan alternatif juga sudah sering ditempuh.  Bayi Mario beberapa kali disembur air bunga kembang telon oleh pak Dukun.  Perutnya diusapi minyak telon (3 macam minyak – kayu putih, kelapa dan adas).  Dikerok pakai berambang merah.  Diuapi rokok klembak menyan.  Tetapi belum juga sembuh-sembuh.

Orang jadi kasihan setiap kali mengingat bayi Mario meskipun sesungguhnya geli juga ketika melihat penampilannya.  Coba bayangkan.

Bayi Mario kurus kerontang karena sakit-sakitan, bola mata besar, kelopak cekung, sedikit rambut yang kaku tegak berontak, kepala penuh dengan lumuran parem dari berbagai dedaunan dan rempah-rempah yang ditumbuk jadi satu.  Amit-amit, persis anak monyet.  Belum aroma campur sari di sekujur tubuhnya yang mungil, mulai dari berambang, kencur sampai minyak kayu putih.

Mbah Narwi, kakeknya menasehati bapak dan ibu si jabang bayi agar mereka lebih banyak berdoa dan prihatin.  Menjauhkan diri dari segala nafsu duniawi dan mutih (hanya makan nasi putih, tanpa lauk dan garam, dan minum air putih) setiap Senin dan Kamis.

Beliau meyakini bahwa semuanya ini hanya suatu pertanda bahwa Tuhan sedang mencoba mengingatkan keluarganya.  Menurutnya, melalui doa dan mutih, kita menenangkan batin agar dapat lebih mendengarkan kehendakNya.

Sejak itu pak Wi dan istrinya lebih tekun berdoa dan hidup prihatin, memohon pengampunan atas kesalahan di masa lalu dan kelimpahan berkat bagi si jabang bayi.

Ternyata doanya terkabul setelah menjalani hidup penuh doa dan keprihatinan selama empat puluh hari.  Bayi Mario sembuh total dan pulih sebagai bayi yang sehat dan lucu.  Atas semuanya ini pak Wi dan istrinya mengadakan syukuran dengan mengundang sanak saudara dan tetangga.

Di samping kesembuhan, syukuran di rumah pak Wi dimaksudkan sekaligus untuk mengganti nama si jabang bayi menjadi Bejo.  Nama Mario dianggap oleh bapak dan ibunya sudah tidak tepat lagi karena kenyataannya sudah sembuh.  “Lha wong sudah diparingi (diberi) kesembuhan koq masih minta sembuh terus”, tukas pak Wi dengan lugu.

Sebaliknya, nama baru “Bejo” dalam bahasa Jawa berarti untung.  Pak Wi berharap agar setiap orang yang memanggil Bejo anaknya akan mengingatkan tidak hanya keberuntungan yang didapat di awal hidup si anak tersebut.

Sekaligus pak Wi ingin mengingatkan si pemanggil itu sendiri atas keberuntungan yang diperolehnya.  Memang bila direnungkan lebih dalam, ada benarnya.  Bukankah kehidupan itu sendiri merupakan suatu keberuntungan yang kita dapatkan dari kemurahan Tuhan?

***

Ketika kuliah di UGM, Bejo mondok di Asrama Realino.  Sebagai warga baru, diapun mendapatkan nama baru yaitu “Benjol.”  Karena selain mirip dengan nama aslinya, juga karena kebetulan ada sedikit tonjolan di bagian belakang kepalanya

Bejo menerima paraban itu dengan penuh suka cita.  Baginya “Benjol” bukan suatu ejekan yang merendahkan melainkan suatu realita bahwa orang lain melihat dan mengakui kelebihan yang ada pada dirinya.

Sapientia et Virtus adalah semboyan Realino.  Artinya Kebajikan dan Kebijaksanaan.  Semboyan ini bukan sederetan kata yang mati tanpa arti.  Sederhana tetapi bermakna mendalam.

Kebajikan dan kebijaksanaan adalah dua hal hakiki yang tidak tergantikan, saling melengkapi dan mutlak dimiliki oleh para calon pemimpin bangsa agar dirinya seimbang.  Semboyan itu berarti menjadi calon pemimpin harus mumpuni (piawai atau ahli di bidangnya) dan sekaligus bijaksana.

Bejo begitu terinspirasi atas nasihat Andreas Sitepu asal Kabanjahe, Sumatra Utara, mahasiswa tingkat sarjana jurusan Teknik Geologi, bapak buahnya di Realino.  Bang Andre sering menekankan panggilan sebagai mahasiswa, calon pemimpin bangsa.

“Ibarat garam, kita harus benar-benar asin Jo, supaya bisa mengasinkan sayur sekuali besar.  Apabila garam tidak asin maka tidak akan berguna lagi.  Garam menjadi asin melalui proses pengkristalan yaitu penguapan air laut oleh terik matahari.  Proses ini tidak sekali jadi tetapi memakan waktu.  Sebagai calon pemimpin, kita mesti gigih untuk terus mendalami dan menguasai ilmu serta profesi kita”, demikian nasihat Bang Andre.

Lanjutnya: “Kamu tahu Jo, kubah garam yang tersingkap di Cekungan La Popa, Mexico.  Ternyata, endapan ini mampu bergeser dalam kecepatan belasan sentimeter per tahun.  Realita ini sempat membuat para ahli terbelalak matanya.  Kristal garam yang padat ternyata mempunyai kemiripan sifat seperti cairan.  Sebagai pemimpin, kita harus tegar dalam berpedoman tetapi sekaligus lentur dalam menerapkannya.”

Suasana, lingkungan serta persahabatan yang Bejo dapatkan di Realino semakin mendorong dirinya untuk menggalang motivasi lebih kuat, lebih bertekun dalam menuntut ilmu, dan terus mengasah kebajikan (kepandaian, sapientia).  Oleh perjalanan waktu, Bejo semakin menyadari betapa kepandaian saja tidak cukup sebab masih perlu diimbangi oleh kebijaksanaan (virtus).

Bejo sering menyaksikan begitu banyak terjadi kebobrokan dalam hidup hanya karena orang terlalu mengandalkan dan mendewakan kebajikan (akal, kepandaian) tanpa diimbangi kebijaksanaan.

Orang tidak segan menggunakan akalnya untuk menimbun kekayaan dengan serakah bagi dirinya.  Atau menggunakan akalnya untuk memperdaya orang lain.  Orang yang tidak bijaksana akan menggunakan akalnya untuk bersilat lidah dan memutar balikkan fakta demi keuntungan pribadi atau golongannya.

Dia ingat akan nasihat mbah Narwi bahwa menjadi pandai saja ternyata tidak cukup.  Sebab kepandaian (otak) semata bisa mengakibatkan seseorang celaka (pinter keblinger).  Untuk mencapai kehidupan yang seimbang, manusia perlu nguri-uri kawicaksanan (merawat, memelihara, menumbuhkan kebijaksanaan).

Ketika manusia diciptakan Gusti, kita dianugerahi otak dan hati untuk dikembangkan demi tercapainya pemenuhan hidup.  Otak dan akal diasah agar tajam, bisa digunakan untuk menuntut ilmu.  Tidak jarang orang harus merantau jauh untuk mencari dan mengembangkan kebajikan.

Sedangkan hati diciptakan untuk menumbuhkan kebijaksanaan.  Dengan kepandaian dan kebijaksanaan, manusia menjadi pribadi yang utuh.  Ibaratnya, suatu masakan menjadi sedap karena semua bumbu pas, tidak ada yang kurang (missing ingredient).

Selanjutnya mbah Narwi menuturkan bahwa manusia tidak perlu sibuk menghabiskan seluruh waktu, pikiran dan tenaga untuk mencari kebijaksanaan hingga ke mana-mana.  Sebab kebijaksanaan itu sudah diberikan olehNya.  Beliau menasihati Bejo agar tidak henti-hentinya memohon kepada Sang Pencipta: supaya diberi kesadaran yang utuh dan penuh atas anugerah roh kawicaksanan (kebijaksanaan) itu.

Kebijaksanaan lebih mulia dari jabatan, tahta atau kekayaan.  Permata yang tak terhingga nilainya tidak bisa menandinginya.  Segala emas di bumi hanyalah berupa pasir di hadapannya.  Dan perak dianggap lumpur di sampingnya.  Kebijaksanaan lebih berharga daripada kesehatan, kecantikan rupa ataupun cahaya.  Orang bijak akan terus menebarkan kebijaksanaan tanpa rasa takut kehabisan.

***

Sesungguhnya Bejo sudah lama mendambakan dirinya untuk mengadopsi nama “Wicaksono.”  Pak Wi, ayahnya menolak ide penambahan nama tersebut.  Bagi beliau, nama itu bukan sekedar tempelan.  “Kita perlu memaknai setiap nama kita”, demikian nasihat beliau.   Bejo tidak patah semangat.  Dia terus merenungkan makna nasihat itu.

Kerja keras selama empat tahun penuh di bangku kuliah ternyata tidak sia-sia.  Lamarannya mendapatkan beasiswa untuk mengambil program magister di negeri Paman Sam telah dikabulkan.  Bejo memperoleh beasiswa dua tahun penuh dari Ford Foundation untuk melanjutkan studi pertanian di Oklahoma State University.

Rupanya berita gembira itu membawa konsekuensi.  Pasalnya demikian.  Ketika mengurus pembuatan paspor, Bejo diberitahu oleh petugas keimigrasian bahwa dia akan mengalami kesulitan bila hanya punya satu nama.  Begitu banyak urusan di Amerika membutuhkan minimal dua nama: nama depan (nama kecil) dan nama akhir (nama keluarga).  Untuk itu Bejo diminta mempertimbangkannya dan membuat surat kenal lahir baru bila perlu.

Bejo langsung pulang ke Ngemplak untuk mendiskusikan hal ini kepada ayahnya.  Selama perjalanan, ia senyum-senyum karena impiannya akan segera menjadi kenyataan.  Baru kali ini dirinya punya alasan kuat untuk mendapatkan izin menambahkan namanya menjadi Bejo Wicaksono, demikian pikirnya.

Tentu saja ayahnya sulit untuk menolak argumen yang sangat beralasan itu.  Dan lebih-lebih setelah beliau menyaksikan sendiri bahwa Bejo, anaknya memang sudah semakin bijaksana.

***

Sebelum berangkat ke Oklahoma, Bejo memutuskan untuk memperistri Endang kekasihnya. Bejo mempersiapkan diri dengan serius khususnya dalam hal keseimanan.  Bejo dibaptis dengan nama Yohannes.  Baginya kesatuan iman merupakan hal esensial dalam mengarungi bahtera perkawinan.

Bejo menyadari panggilan hidupnya, yaitu untuk menyiapkan jalan bagi Endang, keluarga dan masyarakat desanya.

Kecerdasan yang ada padanya bukan berasal dari usaha dirinya atau warisan orangtuanya semata-mata tetapi dari kemurahan dan kasih Gusti.  Begitu pula dengan semua peluang yang dia dapatkan di sepanjang hidupnya.

Dia dipertemukan Endang (padahal begitu banyak cewek yang jatuh cinta padanya).  Diterima di UGM tanpa ujian saringan masuk.  Mendapatkan beasiswa ke luar negeri.  Bukankah semuanya itu karena kasih Gusti yang melimpah.

“Apalah saya itu: berasal dari keluarga sederhana, anak buruh tani yang hidup serba pas-pasan sejak kecil”, demikian pengakuan jujur Bejo setiap kali ditanya tentang dirinya.

Ketika Bejo studi di Oklahoma, suatu negeri asing yang hampir dapat dikatakan tidak mengenal budaya Jawa, tempat asalnya.  Dia menyadari bahwa kini dirinya hidup dalam dunia realita di mana tidak semua orang bisa dengan mudah melafalkan namanya.  Banyak teman-temannya yang salah ucap tanpa bermaksud memperolok namanya.

Timbullah ide yang cemerlang.  Bejo membubuhkan “BJ” dalam namanya yang berarti Be John.  Atau “Jadilah Yohannes.”  Dengan demikian BJ mempermudah orang menyebut namanya.  Sekaligus initial ini mirip dengan singkatan namanya sendiri: Bejo.

***

Mario, Bejo, Benjol, Yohannes, Wicaksono ataupun BJ.  Banyak nama satu pribadi.  Sekalipun berganti-ganti nama tetapi masih tetap mengacu pada satu pribadi yang sama.  Dialah Bejo yang berasal dari Ngemplak, cerdas, sederhana, hormat pada orangtua, rendah hati, penuh pengertian, terbuka, kuat dalam berkehendak.  Meskipun kadang agak peragu, kurang percaya diri.

Kecerdasan Bejo yang disertai dengan kebijaksanaan yaitu sikap terbuka, rendah hati, penuh pengertian dan toleran mampu membuat dirinya lentur di sepanjang perjalanan hidupnya.  Dia memahami betul esensi penamaan dalam tradisi Jawa yang mengalir dalam darah dan dagingnya.  Sekaligus dia berani mendorong dirinya untuk memodifikasi atau menambahkan nama tanpa takut kehilangan jati diri.

Bejo jatuh cinta pada Fransiska Endang Permata Hati bukan karena keindahan namanya.  Bejo mencintai karena pribadi Endang yang menerima dirinya dengan setulus hati.  Oleh sebab itu Endang pantas menjadi permata hatinya.

Sebaliknya, Endang tidak merasa rendah diri karena punya suami yang bernama kampungan, kuna, tidak updated, dan terus bertambah jumlahnya.  Dia tahu bahwa Bejo suaminya yang terkasih selalu memaknai semua namanya.  Endang yakin bahwa suaminya bukan kolektor nama.  Sebab dia memperlakukan nama-nama itu bagai mutiara kehidupan yang dirangkai menjadi sebentuk kalung yang indah.  Tergantung di leher, menjuntai di dada, dekat di hati.

Refleksi

What is in a name?  Apalah arti sebuah nama.  Demikian yang dituliskan oleh Shakespare dalam drama percintaan Romeo dan Juliet.

Romeo Montague tidak bisa menikahi Juliet Capulet hanya karena perseteruan keluarga.  Kedua keluarga itu musuh bebuyutan dan saling bersumpah serapah melarang anak turunnya berhubungan, apalagi menikah satu sama lain.  Masing-masing keluarga itu menyimpan hati yang terluka dan melestarikan dendam karena merasa dikecewakan satu sama lain.

Apalah arti sebuah nama.  Juliet meyakini bahwa sekuntum bunga disebut mawar bukan karena namanya tetapi karena sifat yang terkandung di dalamnya: bentuk dan aromanya.  Juliet jatuh cinta dengan Romeo bukan karena sebuah nama tetapi karena seorang pribadi Romeo.

Juliet mempertanyakan mengapa kita sering terjebak untuk bersikeras hanya karena sebuah nama tetapi lupa memahami esensi dari sifat dan karakteristik dari pribadi si pengemban nama.  Apalah arti sebuah nama apabila akhirnya membuat manusia berseberangan dan bermusuhan.

Cinta Romeo dan Juliet adalah tulus dan utuh untuk menerima satu sama lain sebagai sahabat, apa adanya.  Mereka tidak saling menuntut pasangannya untuk mengikuti ukuran baik dan buruk yang ditetapkan olehnya.

Cinta yang tidak bersyarat ini telah mampu membebaskan mereka dari belenggu dendam keluarga yang menahun.  Demi cintanya, Romeo akhirnya rela dan berani melepaskan nama Montague dan menikah dengan Juliet.

Penutup

Bejo sebagaimana dituliskan dalam kisah tersebut di atas adalah representasi dari seorang yang hidup dalam suatu persimpangan budaya.  Di satu pihak dia  harus mempertahankan tradisi asal dia dilahirkan dan bertumbuh yaitu masyarakat Jawa desa yang sederhana dan umumnya mengenal satu nama.

Sejak kecil Bejo diajarkan oleh kedua orangtuanya untuk menerima segala sesuatu sebagai rasa syukur kepada Sang Pemberi Hidup.  Manusia hidup karena kasih ilahi dan karena itu kita perlu dekat denganNya.  Lebih-lebih ketika seseorang memilih atau memberi nama.

Penyatuan hati dan pikiran adalah permenungan untuk mencoba mendengarkan kehendak Gusti pada pengemban nama.   Dengan cara inilah kita memaknai sebuah nama.

Pemaknaan suatu nama juga perlu dilakukan oleh si pengemban nama berulang kali di sepanjang hidupnya.  Sudahkah saya menyatu dengan harapan yang tergores dalam namaku?  Hal-hal apakah yang harus kutempuh agar semakin menampilkan diri sesuai dengan nama yang kuemban?

Bejo berangkat dari tradisi Jawa yang sangat kental di mana mencari sebuah nama adalah hal yang penting dengan memperhatikan segi keseimbangan.  Bagi orang Jawa, nama itu bukan sekedar atribut tempelan (embel-embel) saja yang dipilih karena formalitas, muluk-muluk atau asal-asalan saja.

Namun pada kenyataannya hidup Bejo sangat dinamis dan penuh warna.  Dirinya pindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan latar belakang budaya yang berbeda dari Ngemplak, tempat asalnya.  Perpindahan ini membuat dirinya untuk terus mengantisipasi perubahan secara positif.  Dia menambahkan namanya sejauh diperlukan dan terus memaknainya agar bisa menyatu dengan dirinya.

Nama itu penting.  Tetapi apalah arti sebuah nama.  Bila akhirnya kita terpatri mati dalam pergunjingan sebuah nama dan melupakan pribadi pengembannya.

* Katy, TX, Oktober 2010 | Fadjar M. Budhijanto aka Fadjar Marsono aka “Pentul”, adalah alumni Asrama Realino angkatan 1976

Iklan

6 Replies to “What Is in A Name?”

  1. Bung Felix Sutandy ytc,

    Kisah inspiratif yang ditulis teman kita Fadjar Marsono (skrg : Fadjar M. Budhijanto), merupakan kisah sebagian dari perjalanan hidupnya, dengan variasi nama-nama yang ada pada dirinya, misal ” Benjol ” (Yohanes Bunadi menyebutnya dengan ” Jendhol “), Realino dll. ,juga nama-nama tempat asal istrinya (Endang) yaitu Ngemplak (Klaten); ditulis juga pengalaman hidup setelah di luar negri misal La Popa (Mexico) dengan berbagai falsafah Jawa.

    By the way, Pak Felix datangkan saja Pak Fadjar ke Realino pada 6 – 8 Juli 2012.

    Salam,
    Agus Haryanto ‘ 76.

  2. Terima kasih Mas Felix atas kiriman “What is in a name”.
    Saya ingin mengutarakan pengalaman saya mengenai:

    —- Sapientia et Virtus adalah semboyan Realino. Artinya Kebajikan dan Kebijaksanaan. Semboyan ini bukan sederetan kata yang mati tanpa arti. Sederhana tetapi bermakna mendalam.—– seperti ditulis oleh
    Fadjar M. Budhijanto

    Ketika saya pertama kali masuk menjadi penghuni Realino saya temui arti dari Sapientia et Virtus adalah Kebijakan dan Kebajikan; itu dijaman kepemimpinan Romo HC Stolk, SJ. kabarnya S et V pernah diubah menjadi SS et V yaitu Sapientia, Scientia et Virtus; ini di jaman kepemimpinan Romo Teeuwise, SJ (Saya tidak tahu pasti ejaan yang benar untuk nama Romo ini). Saya pernah membaca lembaran logo tentang Asrama Realino yang bertuliskan SS et V. Namun SS et V tidak tahan lama, kembali lagi ke semboyan semula S et V.

    Saya yakin betul Kebijakan adalah padanan Sapientia berkaitan dengan pengertian saya tentang homo sapiens suatu genus yang bijak. Virtus atau padanan virtue dalam bahasa Inggris berarti kebajikan dalam bahasa Indonesia. Saya mengenal kata Kebajikan sejak usia 8 tahun oleh karena ada ajaran, motto “Berbuat kebajikan setiap hari”. Pertama kalinya saya mengira Berbuat kebaikan setiap hari — salah tulis menjadi — Berbuat kebajikan setiap hari. Setelah saya mengerti bahasa Inggris ternyata Berbuat kebajikan setiap hari adalah terjemahan dari “Do a good turn daily” suatu slogan Boyscout.

    Pendapat saya adalah lebih tepat mengartikan S et V sebagai “Kebijakan dan Kebajikan” dibandingkan dengan “Kebajikan dan Kebijaksanaan”.

    Mudah-mudahan ada manfaatnya mengutarakan hal ini.

    Salam
    R. Darmanto Djojodibroto

  3. Posting Bung Felix ttg “what is in a name” yang kemudian berkembang ditanggapai rekan-rekan berkaitan dengan makna motto Realino “Sapientia et Virtus” menggelitik saya untuk ikut meramaikan posting tsb.

    Saya lengkapi kutipan tsb sbb: Juliet berkata kepada Romeo “What is in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet” (Shakespeare: Romeo and Juliet; II,ii, 1-2). Kalimat kutipan ini umumnya difahami sebgai pujian kepada seseorang atau pribadi yang kita cintai, dengan nama apa saja yang kita cintai itu seperti bunga mawar yang tetap memancarkan semerbak harum. Dengan nama apa saja mawar itu tetap bunga yang memancarkan keindahan dan keharuman yang sangat menyenangkan.

    Posting yang disebarkan oleg Bung Felix tentang rekan kita Bejo, Benjol..dll sebutan ya seperti mawar itu.

    Kaitannya dengan “Sapientia et Virtus”. “Sapientia” adalah kata Latin yang padanan katanya dalan Bhs. Inggris “wisdom”. Kata ini selalu dikonotasikan dengan “knowledge”, artinya, seseorang baru dapat memancarkan “wisdom” (kebijaksanaan) apabila didukung oleh “knowledge” pengetahuan yang luas yang diperoleh dengan serangkaian usaha keras. “Virtus” juga kata Latin yang memiliki pengertian luas manliness (kedewasaan), excellence (prestasi tinggi), character (berkepribadian), worth ( memiliki tatanilai), courage (keberanian) yang dirangkum semuanya dalam Bhs Inggris “virtue”.

    Singkatnya, “Sapientia” diartikan sebagai “Wisdom/Knowledge = Kebijaksanaan/ Pengetahuan” dan “Virtue” (sifat dan karakter seorang jantan (manliness) yang menjunjung nilai kesatria dan penuh keberanian). Padanan kata dalam Bhs Indonesia kurang lebih “Kabajikan” (Thesaurus Indonesia).

    Pemahaman ini saya rujuk dari berbagai sumber Kamus, Encyclopedia, bukan pendapat saya. Dengan pemahaman seperti saya kemukakan diatas, maka dalam konteks Realino menjadi jelas bahwa sewaktu kita hidup di Realino, kita semua berjuang keras untuk memperoleh kebijaksanaan dengan menguasai ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku kuliah dan dalam keseharian kita sebagai warga Asrama Realino kita juga membangun kebersamaan dalam keberagaman yang berlandaskan “Virtue” seorang kesatria yang memiliki karakter keberanian dan menjunjung tata nilai kehidupan yang beretika. Keselarasan “Kebijaksanaan/Pengetahuan” serta Virtue (Kebajkan) yang kita perleh di Realino, menjadikan kita seperti apa adanya sekarang ini dalam kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat dan berbangsa. Inilah harta karun yang saya gali selama saya di Realino bersama rekan-rekan di masa masa 1964 – 1967.

    Lanjut tanggapan teman-teman menyongsong Reuni dan Lustrum Realino Juli nanti.

    Salam SeV,

    Normin S. Pakpahan (1964)

  4. Dimas Fajar,
    tulisan anda ‘what is a name’ sangat bagus, karena dalam banyak hal menginspirasi eks-Realino yang lain, anda telah sharing pengalaman pribadi untuk dikenang anak, istri, dan teman2. Mampu menjaga spirit untuk berkarya didunia. Beberapa pengalaman saya mirip pengalaman anda. Bisa diakses di wordpress.
    Dimas Dwipramono berkenan memasukkan ke arsip realino ‘Kenangan”. Terima kasih dimas Dwi, ini amal anda untuk bekal kelak.
    Tetap semangat.
    Salam kenal untuk dimas Fajar.
    Gufron (63)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s