Mayoritas Perokok Adalah Rakyat Miskin dan Berpendidikan Rendah

31 Mei ditetapkan (oleh WHO) sebagai “Hari Tanpa Tembakau se-Dunia”. Berikut ini kutipan posting email di milis Forsino-Nusantara menanggapi hari peringatan tersebut.
 

Posting mas Eko Raharjo (78), 1 Juni 2012

“Merokok lebih banyak dilakukan orang yang miskin dan berpendidikan rendah. Mayoritas mereka tidak sekolah atau tidak tamat SD,” jelas Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Ekowati Rahajeng dalam temu media di gedung Kemenkes, kemarin (25/05/2012) dikutip JPPN. http://hidayatullah.com/dev/read/22862/28/05/2012/mayoritas

Comment Tri Hascaryo (83)

Mas Eko dan para sobat, perokok dalam pengamatan saya intoleran, dan bila kita toleran pada sikap intoleran mereka maka kita sesungguhnya toleran dalam arti negatif (kata bang Witarsa), beranikah kita intoleran secara kongkrit, face to face, atas sikap intoleran para perokok? monggo pertanyaan retorik ini dijawab masing-masing.

salam,
Tri Hascaryo

Comment Uda Budhy Mitra (79)

Dear mas Eko Raharjo, kancaku sing brilyant. Ada anekdot yg selalu saya lontarkan (setelah saya berhenti merokok). Udah kere, miskin, panuan, kudisan….. Eh, malah merokok lagi. Kalau kaya, sehat, nggak apa apalah.. Anggap aja just have fun. Di Saudi Arabia terutama di komplek Masjid Haram di Makkah dan di masjid Nabawi Madinah. MEROKOK HARAM ! Dan sudah saya baca pengumumannya sejak tahun 2008, saat saya pertama umroh ke sana. Kita aja yang goblok. Pake alasan membela petani, lah. Cukai negara yang trilyunan, lah. Hay… Hay.. Kapan rakyat negeri ini cerdas ? Udah pemalas, ehhh…. Merokok lagi..

Lanjut, Fred!
BM

Tanggapan Mas Eko Raharjo

Mas Tri Hascaryo ysh.

Saya setuju dengan pendapat Bang Witarsa bahwa ada yang namanya toleransi negatif seperti membiarkan keburukan terjadi di depan kita misalnya budaya korupsi, penindasan hak-hak, pencemaran lingkungan dan termasuk juga membuat laporan keuangan yang sembarangan.

Bila dianalisa lebih lanjut toleransi negatif sesungguhnya sama dengan sikap ignoran, dimana sama sekali bukan tindakan toleran (dimana berkonotasi kebaikan) melainkan ketidak pedulian, EGP. Kita tahu masyarakat yang ignoran adalah masyarakat yang menuju ke arah keterpurukan. Dalam arti tertentu Toleransi Negatif bahkan bisa dikatakan sebagai complicit (terlibat dalam perbuatan buruk tsb) misalnya bila orang mau toleran menerima/menikmati pesta (perkawinan) yang dia tahu dengan memakai biaya yang ilegal.

Soal merokok memang bisa ditinjau dari berbagai sudut. Kita yang tidak merokok kalau tidak berbuat apa-apa bisa digolongkan sebagai toleransi negatif atau bisa sebagai complicit, misalnya seoarang dokter yang tahu bahwa merokok sangat merugikan tetapi diam saja. Atau seorang yang dirinya pernah menjadi korban rokok tetapi tidak mau memberi tahu orang lain akan bahaya merokok.

Menghentikan kebiasaan merokok dari mayoritas bangsa Indonesia opini saya adalah hal yang sangat penting dan urgent, yang bisa kita lakukan dengan sangat mudah. Namun tindakan apapun yang perlu dilakukan tidak dimaksudkan untuk suatu permusuhan pribadi dengan si perokok sebab mereka ini sesungguhnya para korban yang perlu dikasihani (kata kasihan sangat tepat disini). Para perokok umumnya tidak sadar bahwa dirinya adalah korban besar dari industri rokok dan substansi dalam rokok yang membuat dia kecanduan dan rusak kesehatannya (termasuk potensi seksnya). Oleh karena itu tidak benar kalau kita misalnya nabokin atau menghukum tukang becak yang merokok kebal-kebul.

Masyarakat maju Barat umumnya dan juga masyarakat maju Timur misala Jeoang dan Singapore memberlakukan pelarangan merokok di tempat-tempat umum dibarengi dengan pendidikan tentang bahaya merokok dan membebani industri rokok dengan pajak yang luar biasa besar.

Pemahaman masyarakat Indonesia masih jauh di bawah masyarakat-masyarakat maju sebab seperti kita tahu kebanyakan wakil rakyat adalah ibarat gombal tokpo, yang hanya baik bila tidak digunakan (kalau digunakan malah bikin kotor saja). Namun kita komunitas Realino bisa memulainya misalnya dengan membuat konsensus untuk tidak merokok dalam acara bersama terutama di dalam ruangan. Mereka yang ingin merokok boleh saja tapi perlu keluar dari ruangan.

Salam,
Eko Raharjo’78

Reply Heru Nugroho (84)

Ini perkiraan data pengeluaran perokok di indonesia.. disadur dr tetangga sebelah:

Saya hanya bisa membayangkan jika uang 100 trilyun rupiah per tahun yang “dibakar” oleh orang Indonesia ini dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat untuk mensejahterakan masyarakat. Menurut statistik katanya satu dari tiga orang Indonesia adalah perokok (http://staff.blog.ui.ac.id/ari.fahrial/2012/05/31/hari-dunia-tanpa-tembakau-31-mei-1-dari-3-orang-indonesia-merokok/) dan yang lebih menyedihkan anak2 seusia SD pun ada yang sudah menjadi perokok berat.

Berikut kutipan dari Republika. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/06/01/m4y0yc-astagfirullah-setahun-indonesia-hisap-225-miliar-batang-rokok

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jumlah perokok aktif di Indonesia kian hari kian bertambah. Diketahui, konsumsi rokok Indonesia mencapai 225 miliar batang per tahun dengan jumlah perokok mencapai 65 juta orang.

“Jumlah perokok Indonesia terus meningkat dalam sembilan tahun terakhir, 0,9 per tahun periode 2000-2008,” ungkap Dr Zainal Abidin, M Kes, Ketua Umum Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.

Ia mengemukakan, sejalan dengan peningkatan jumlah perokok, diprediksi produksi rokok Indonesia pada akhir tahun 2011 bisa mencapai 248 miliar batang rokok per tahun. “Diperkirakan tidak kurang Rp100triliun dana masyarakat dikeluarkan untuk membelinya,” sebut Zainal.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia ‘dinobatkan’ sebagai peringkat ketiga terbanyak jumlah perokok di dunia. Peringkat Indonesia berada setelah Cina dan India di peringkat satu dan dua.

Menurut saya, pemerintah harus memiliki sikap dan visi yang jelas dalam rangka mengurangi jumlah perokok di dalam negeri. Salah satunya yaitu menaikkan cukai yang tinggi dan memberlakukan lebih luas lagi daerah2 yg bebas rokok dan pemberian sanksi/denda yang cukup berat bagi siapapun yang melanggarnya.

Namun sayang sekali, saya rasa pemerintah tidak memiliki pemikiran seperti di atas. Hal ini disebabkan pendapatan negara melalui APBN dari bea cukai rokok yang di tahun 2012 ditargetkan sebesar Rp 75 triliun. Membuat lobi2 pemilik perusahaan rokok cukup kuat dalam “mengarahkan” undang2 tentang tembakau.

Salam,
Heru

Comment bang Wilfried Purba

Tulisan mas Eko benar sekali. Saya dari dulu tidak merokok tapi tidak pernah memusuhi para perokok yg menjadi korban dan perlu dikasihani. Bahkan perokok awal dimulai karena iklan yg menyesatkan seperti lebih jantan, lebih PD, lebih gaul, lebih mudah berpikir sampai katanya membela petani tembakau. Enggak tahunya kita menjadi penyumbang kekayaan pemilik pabrik rokok yang selalu masuk dalam orang-orang terkaya di Indonesia. Bahkan orang miskin yg merokok menjadi penyumbang terbesar bagi orang kaya.

Pemilik pabrik rokok tahu bahayanya merokok, terbukti keluarganya tdk pernah dianjurkan utk merokok, biar aja orang lain merokok, yg penting gua untung. Mau sakit siperokok, mau kena kanker, mau impoten, mau kena stroke Emang Gua Pikirin? Biar kelihatan peduli kepada masyarakat dibuatlah Beasiswa kepada murid-murid dan mahasiswa. Membantu korban bencana dan orang miskin sebagai kamuflase. Sepertinya sedikit yg menyadari atau peduli.

Salam
Wilfried Purba

Comment pak Mulyadi Danu Sasmita

Teman2 Forsino perokok dan bukan perokok yang budiman, selamat pagi.

Ikut nimbrung dikit dalam percakapan yang menarik ini – sebagai pelepas tekanan kerja – dan menantang juga. Sudah terbaca di setiap bungkus rokok,bahwa rokok yang tengah dinikmatinya itu sangat berbahaya. Dasar manusia… sudah tahu berbahaya namun masih dilakukan juga,demi kenikmatannya. Seperti korupsi juga. Ajakan untuk sangat mengurangi merokok bukan cuma kerjaan pemerintah semata namun harus diikuti oleh tekad rakyatnya. Ya pengusaha rokok dan perokoknya. Di negara maju tindakan mengurangi konsumsi rokok mungkin diimbangi dengan pengalihan lapangan kerja dari para pekerja di pabrik rokok. Memfasilitasi pengalihan usaha pekebun tembakau,merefungsikan pabrik rokok menjadi pabrik kimia (misalnya). Menata ulang rumah2 kos pegawai sekitar pabrik rokok menjadi perumahan umum (barangkali),meningkatkan kualitas warung2 makan di sekitar pabrik menjadi rumah makan murah tapi sehat dan nyaman,dan segala aspek yang berkaitan dengan keberadaan dan kesuksesan pabrik rokok menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyat.

Ah teman2 saya hanya berandai saja dalam percakapan ini, tidak mempunyai data2 akurat perihal rakyat miskin dan kurang berpendidikan yang menjadi korban akibat merokok. Mudah2an percakapan ini menelorkan gagasan konkrit untuk masyarakat kita, lanjuuuutt…….

Salam S e V
Mulyadi Danu Sasmita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s