Ketika kesulitan hidup datang silih berganti

Oleh Fadjar M.Budhiyanto (Realino 76)
 

Sejenis pohon ara liar (wild fig) yang tumbuh di Echo Caves, Mpumalanga, Afrika Selatan mampu merebut perhatian bagi banyak peneliti botani. Tentu bukan karena tingginya – sebab pohon ini termasuk jenis perdu yang hanya beberapa meter saja. Bukan pula karena buah atau daunnya. Dari tampak luar sesungguhnya pohon ini tidak menunjukkan keistimewaan yang membuatnya berbeda dari ribuan tanaman lainnya. Lalu apa yang membuatnya menarik?

Pohon ini istimewa karena memiliki akar yang bisa mencapai 120 meter atau puluhan kali lebih panjang daripada batang dan rantingnya. Untuk mempertahankan diri agar mampu hidup di tanah tandus bebatuan, akarnya bekerja ekstra keras – menerobos celah batuan, melalui lintasan yang berliku, gelap dan pengap. Akar terus berupaya mencari sumber kehidupan. Dia seolah memahami akan fungsinya yang sungguh penting. Tidak hanya menopang pohon agar tetap tegak walau dihempas tiupan badai. Lebih daripada itu: menyerap air walau sulit didapat agar pohon dapat mempertahankan hidupnya.

Realita pohon ara ini sesungguhnya bisa menjadi bahan permenungan bagi kita. Kita hidup dalam dunia yang terbiasa mengukur seseorang dari apa yang tampak oleh kasat mata. Jabatan, kekayaan, garis keturunan, penampilan fisik, piagam, tanda jasa di dada. Namun semuanya itu mudah roboh apabila tidak memiliki tempat pijak yang kokoh. Kita membutuhkan dasar yang mampu membuat diri tetap tegar dan tangguh di kala kita melalui padang kehidupan yang kering. Ketika kesulitan hidup datang silih berganti, menerpa dan menggoncangkan kita.

Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan kepada kita akan pentingnya pendidikan dan iman sebagai dasar pijak hidup kita. Sebelum memulai karya misinya, Ignatius menempuh pendidikan di sekolah dasar untuk belajar bahasa Latin, yang kala itu menjadi bahasa standar di lingkungan gereja. Baginya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Meski sudah tergolong tua (usia 33 tahun) dan harus sekelas bersama siswa-siswa lain yang jauh lebih mudah – tidak jadi soal baginya.

Bagi Ignatius, belajar bukan melulu untuk kepentingan dirinya. Dengan buah pendidikan itulah dia mengajak kita semua untuk mengabdikan segala yang ada pada diri kita demi kemuliaan Allah yang lebih besar melalui pelayanan kepada sesama.

Yesus menyebut dua perintah utama, yaitu (1) mencintai Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan (2) mencintai sesama seperti mencintai diri kita sendiri. Iman adalah cerminan hati dan jiwa. Pendidikan memampukan kita untuk berperilaku dengan lebih menggunakan nalar dan akal budi.

Kita tidak bisa mencintai Allah dengan mengabaikan sesama atau sebaliknya. Dengan akal budi, kita bernalar untuk mengetahui mengapa kita melaksanakan perintah-Nya – mencintai Allah, sesama dan diri sendiri. Dan dengan iman yang terus bertumbuh, kita semakin mampu berpegang kuat pada keyakinan akan Allah yang selalu setia mencintai dan tidak pernah meninggalkan kita.

FB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s