Djauhari Oratmangun: Diplomat dari Timur

Butuh pikiran, fisik, dan mental di atas rata-rata untuk memainkan peranan keketuaan ASEAN. Sepanjang 2011, politik luar negeri Indonesia terkonsentrasi ke keketuaan organisasi regional ini. Ratusan sidang kecil sampai kepala negara berlangsung tanpa henti di berbagai kota. Itulah tantangan bagi Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri, Djauhari Oratmangun.

Kompas sempat berulang kali mengikuti dari dekat aktivitas Djauhari. Hidupnya nyaris tanpa istirahat. Ia bukan cuma menjadi koordinator sidang di berbagai kota di dalam negeri. Dia juga rutin berkunjung ke negara-negara ASEAN lain serta yang tergabung dalam East Asia Summit (EAS) yang terdiri dari 10 negara ASEAN plus delapan (China, Korea Selatan, Jepang, India, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Rusia).

Meski keketuaan ASEAN berakhir Desember 2011, dan disibukkan tugas baru sebagai duta besar di Rusia, pekan ini Djauhari masih mengoordinasi sidang Forum Pariwisata ASEAN di Manado. ”Ini bertujuan menggalang kerja sama industri pariwisata yang dihadiri menteri, pengusaha biro perjalanan, hotel, dan restoran ASEAN untuk saling meningkatkan jumlah kunjungan turis dari dan ke 10 negara,” kata Djauhari.

”Dalam rangka keketuaan itu, saya selalu reaching out ke semua pemangku kepentingan. Saya wajib memberikan pemahaman bahwa ASEAN bermanfaat bagi rakyat, bukan pemerintah saja. Fungsi saya bukan sebagai Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN saja, melainkan juga Kepala Sekretariat Nasional ASEAN, ” katanya.

Sejak awal kegiatan Ketua ASEAN, Djauhari rajin menyebarkan sidang-sidang ke provinsi. ”Distribusi kegiatan ke Medan, Manado, atau Lombok, misalnya, penting supaya orang daerah ikut merasakan gaungnya. Saya bahkan bikin festival makanan ASEAN ke mal atau festival music rock ASEAN,” kata diplomat yang ikut pendidikan di New York University dan Bridgeport University, Connecticut, ini.

Salah satu terbaik

Berhasilkah sosialisasi itu? ”Kalau ada kekurangan, biasanya fungsi koordinasi. ASEAN bukan monopoli Kementerian Luar Negeri saja, idealnya kementerian lain ikut berperan. Institusi yang menggerakkan ASEAN di kementerian lain ada, kerja sama antarkementerian lumayan walau belum maksimal,” ujar ayah tiga anak ini.

Ia mendatangi satu per satu semua pemangku kepentingan, mulai dari kementerian sampai aktivis. ”Kebetulan kita ketua, jadi ada gairah. Saya sengaja meluangkan waktu untuk mereka. Janganlah ASEAN sekadar kop surat saja, tetapi juga ada semangat di hati tiap kalangan masyarakat, ” ujar penggemar aneka musik ini.

Djauhari menjawab keraguan terhadap ASEAN, organisasi yang berdiri tahun 1967. ”Bagaimanapun, kita harus memperjuangkan kepentingan nasional melalui ASEAN. Kita wajib menjadikan Asia-Pasifik wilayah stabil, menjaga keutuhan wilayah NKRI, dan mendatangkan keuntungan ekonomi bagi rakyat,” kata lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Di hari-hari awal tahun 2012 ini, aktivitas Djauhari difokuskan ke persiapan bertugas sebagai duta besar untuk Rusia yang akan dimulai sekitar akhir bulan ini. Saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan, Komisi I DPR mengungkapkan, presentasi Djauhari merupakan salah satu dari empat yang terbaik dari 20-an calon duta besar. Dalam presentasinya, Djauhari menargetkan hubungan bilateral lebih menguntungkan bagi Indonesia karena potensi itu besar mengingat hubungan emosional Jakarta-Moskwa pada zaman Presiden Soekarno. ”Hubungan bilateral saat ini terkesan business as usual. Mestinya bisa lebih maksimal,” kata diplomat yang pernah bekerja di bawah dua duta besar saat bertugas di Perutusan Tetap RI New York, Ali Alatas dan Nana Sutresna.

”Memaksa” Belanda

”Saya tinggal meletakkan hubungan emosional itu dalam konteks kekinian, dengan pendekatan lompatan katak (a leap-frog approach) yang mengandalkan terobosan. Misalnya, jadi pertanyaan menarik mengapa jumlah mahasiswa kita di Rusia hanya sekitar 200 orang, sementara dari Malaysia mencapai sepuluh ribuan. Perkembangan ilmu kedokteran dan teknik di Rusia amat maju,” kata Djauhari yang ayah dan ibunya guru itu.

”Misi saya makin mendekatkan aliansi Indonesia-Rusia karena bekas pecahan Uni Soviet itu adalah pemain global penting. Rusia anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan anggota kelompok ekonomi BRIC (Brasil, Rusia, India, China). Rusia baru bergabung dengan EAS dan akan menuanrumahi KTT APEC di Vladivostok, November 2012,” kata pria berayah Maluku dan ibu Kawanua ini.

Selain itu, Djauhari bertekat mendekati 25 persen penduduk Muslim Rusia yang total populasinya sekitar 141 juta. Sasaran lain, menambah jumlah turis Rusia ke Indonesia. ”Daya beli mereka tinggi. Tahun 2005 jumlah turis yang datang sekitar 20.000, tahun 2010 sekitar 80.000. Namun, jumlah itu rendah dibandingkan turis mereka ke negara-negara ASEAN lainnya,” ujar diplomat yang dua kali bertugas di New York itu.

Djauhari memilih karier diplomat, antara lain, karena semasa SD sampai SMA di Ambon dia sering membaca berita-berita internasional. ”Biasanya orang Ambon bercita-cita ke luar negeri sebagai pelaut, petinju, atau penyanyi. Setelah diterima di UGM, saya mantap mau jadi diplomat,” kata Djauhari yang sempat selama 14 bulan jadi Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) di Den Haag, Belanda.

Saat sebagai KUAI, Djauhari mencatat prestasi membanggakan, yakni ”memaksa” Belanda mengakui Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 pada tahun 2005. ”Mereka berkeras kita merdeka pada 27 Desember 1949. Itu pun mereka anggap kemerdekaan sebagai hadiah, padahal kita merebut kemerdekaan. Akhirnya Belanda berubah dan sejak itu hubungan bilateral mencair, ” kata Djauhari yang bangga dengan ke-Timur-annya itu.

DJAUHARI ORATMANGUN

  • Lahir: Deo, Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, 22 Juli 1957
  • Istri: Elsiwi Handayani (53)
  • Anak: Lebitduan (25), Karina (22), Resiyaman (21)
  • Pendidikan: – SD Saumlaki Maluku Tenggara Barat dan Xaverius Ambon – SMP-SMA Xaverius Ambon – Fakultas Ekonomi UGM – New York University, New York – Bridgeport University, Connecticut – International Peace Academy, New York – Centre for Applied International Negotiations, Geneva – International Trade Organization-WTO, Geneva
  • Karier:
    • Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus (2011)
    • Direktur Jenderal ASEAN/Kepala Sekretariat Nasional Indonesia-ASEAN (2009-sekarang)
    • Watapri RI untuk ASEAN (2009-2010)
    • Deputi Kepala Perwakilan/KUAI KBRI Den Haag (2005-2009)
    • Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup PBB (2003-2004) – Direktur Kerja Sama Ekonomi Multilateral (2001-2002)
    • Kepala Bidang Ekonomi PTRI New York (1999-2001)
    • Wakil Direktur Kerja Sama Ekonomi Multilateral (1998-1999)
    • Sekretaris I, PTRI Geneva (1993-1997)
    • Kepala Seksi Direktorat Kerja Sama Ekonomi Multilateral (1991-1992)
    • Atase, PTRI New York (1986-1990)

Sumber: KOMPAS, KAMIS, 12 JANUARI 2012 OLEH BUDIARTO SHAMBAZY
*Djauhari Oratmangun, alumni Asrama Realino, masuk 1976.

Iklan

One Reply to “Djauhari Oratmangun: Diplomat dari Timur”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s