Menjelang Idul Fitri 1980 M/1399 H

Oleh : Budhy Mitra Shah, 1979

Hari Raya Idil Fitri 1399 H tinggal dua hari lagi. Hingga hari ke-4 sebelum Ied, saya masih makan “Sahur Lesehan” di emperan toko Jalan Solo dengan Idaman, setelah kami berdua berputar putar hingga ke Malioboro dgn motor CB 125 Biru Idaman yang selalu mengkilap itu mencari tempat sahur yang kira kira cocok dengan selera kami berdua.

Bukan karena makan sahur tidak disediakan di asrama, Pengen variasi saja. Variasi menu dan variasi suasana. Menu kami terbilang mewah,”burung dara goreng” plus wedang tape dan teh kental + nasi liwet. Burung Merpati beneran, bukannya burung anak anak asrama Realino yang mengaku jantan dan macho-macho itu. Harga burung dara goreng Rp.1.500 per porsi plus nasi putih.

Sudah tidak banyak penjual makanan atau mahasiswa yang makan sahur, karena sudah mulai mudik atau ke hilir walau tidak pasti ke arah mana. Yang jelas,  Jalan Solo sepi. Beberapa tukang becak terkantuk-kantuk dekat pertigaan Bioskop Rahayu, mengharapkan penumpang yang mungkin tidak akan datang sampai esok pagi. Kasihan mereka. Meringkuk dan berselimutkan angin malam. Terpikir juga olehku.Tapi yang jelas mereka terpaksa demi sesuap nasi buat dirinya & anak istrinya.  Dalam hati saya bersyukur dapat hidup di Asrama Realino yang fasilitasnya jauh lebih mewah & berkecukupan dari mereka. Hanya bisa berempati kepada kelompok yang terpinggirkan ini. Mohon maaf untuk itu.

Sejak seminggu menjelang lebaran, Makan sahurku haruslah mewah dari menu harian Asrama. Kalau Buka Bersama mah, tidak masalah. Ada saja teman atau group yang mengundang buka bersama. Tapi kalau untuk Sahur, masalahnya beda.  Jangan lagi menu yang sekedar memperebutkan pantat ayam (brutu) ayam di Refter, yang diukur atau ditimbang dengan ukuran “gram”. Yunan Ginting, Johannes Janu Rombang  juara cepat rebutan gantian dengan Vincentius Widodo di Refter. Dalam kategori ini, mereka juara berganti-ganti. Harus diakui itu.

Sahur dengan burung dara goreng pilihan cemerlang. Di Asrama sendiri sebenarnya sedang “kelimpahan makanan” mengingat banyak teman teman (terutama yang muslim) sudah pulang kampung.  Mereka yang pulang kampung sengaja tidak melapor atau (sengaja) terlambat dilaporkan ke tukang masak, mas Waluyo cs. Bahkan “Seksi Dapur” pun seakan akan memberikan kesempatan anak anak Asrama untuk fully makanan.  Jatah teman teman tersebut bisa untuk “double bahkan triple” untuk teman teman yang bertapa di Asrama. Itulah bentuk salah satu bentuk solidaritas sesama Warga Realino yang nyata. Saling care & perhatikan dan tidak ada tidak ada yang dirugikan. Btw, Lebaran 1980 itu bertepatan dengan liburan panjang. Liburnya 3 mingguan dan di awal bulan. Bisa puas libur di tengah  kegiatan kuliah, praktikum & ekstra kurikuler + kegiatan hobby + kegiatan olahraga + kegiatan pacaran bagi yg sudah punya, dll yang sangat padat rasanya.

Sebenarnya, mas Nyoman Arcana, bapak buahku menawarkan Lebaran ke Singaraja ke rumah orang tuanya. Lebaran ke Bali tidak sulit. Toh di Surabaya ada seangkatanku ku yang kalem, Dismas Tulolo, MIPA UGM,  yg rumahnya setiap saat menampungku + uang saku akan atas nama sekedar ongkos transport.  Memang sejak 32 tahun lalu, Dismas ini sudah menunjukkan tanda tanda dia suatu saat dia akan menjadi seorang Romo (Postor) dan menjadi kenyataan saat ini dan tidak pernah memberi nasehat.Paling nyengir ketawa liat kelakuan temannya. Cocoklah julukan Petruk buat beliau ini. Di Surabaya juga ada Andi Primavera, seorang anak Realino, angkatan 80,  yang asli arek Suroboyo. Nggak tau aku si Andi ini dimana sekarang?

Anak buah aku pun, Agung Pangsit sudah wanti wanti menawarkan main ke Semarang. Sahabatku yang suka curhat, Nono Satrio Hatsono sudah menyediakan Kamar nyaman di rumah orang tuanya yang mewah di daerah Candi Baru, Semarang. Sebelumnya pernah nginap di rumah Nono. Perbaikan gizi selama 3 hari dan keliling Semarang dengan mobil Sedan Corolla putih mulus ayahnya. Godaan ke rumah Nono ini sesungguhnya sulit untuk dielakkan begitu saja apalagi mengingat Nono punya 2 orang adik cewek yang cantiknya setengah mati, jauh lebih cantik dari anak gadis Professor yang rumahnya di Komplek IKIP Karang Malang depan Asrama dan tiap pagi jalan kaki melewati asrama dan sepertinya pengen ditegur sapa oleh penghuni asrama yang Cap Tombak semua. “Body languange”nya menunjukkan gelagat seperti itu.Dengar kabar juga gadis ini sempat agak dekat dengan salah seorang penghuni. Nggak tau kabar angin atau kabar burung. ha..ha…

Keluarga Nono ke Asrama dengan alasan mengantarkan uang saku bulanan, tapi faktanya mereka mengecek kondisi Nono. Maklum anak paling besar sekaligus laki laki satu satunya dan dari keluarga yang termasuk “the haves”. Kalau aku sih mengambil manfaat saja dari kedekatan pertemanan saya dengan Nono, yakni dekat dgn ortu & adiknya yang manis manis itu dan khas muka Jawanya.. eehemm.. iyalah..ha..ha..

Jadi kalau adik-adiknya nanya mana ruangan makan, Ruangan perpustakaan, ruangan belajar, atau ruangan mandi dll, tentu aku yang kebagian ngantar. Jadi guide lokal, lah. Nggak nolak dong. Malah rahmat. Tengkyu, ya Nok.. Kowe kok apik tenan to karo aku? Yang jelas, kedatangan mereka sekeluarga tsb membuat anak-anak asrama Realino terperangah. Mungkin ada yang sampai terjulur lidahnya, mirip si Bleki anjing hitam yang suka mempelopoti warga sekaligus iri melihat Warga Asrama mengganyang makanan di Refter sementara dia mengharapkan sekedar tulang ayam yang dikumpulkan oleh warga yang berperi kebinatangan untuk dibagikan ke dia!

Ronny Dwi Agus sobatku yang dasarnya rada cuek ke cewek ikut terkagum-kagum, apalagi para kutu kupret lainnnya. Ha..ha… mau maju kenalan ? Ada yang kurang PEDE ha..ha…. Kacian deh loe….

Kecuali mungkin Steve Buntaran, dengan Gitar Yamaha yang disandang kesana-kemari. Gitar ini memang senjata Steve untuk mendekati cewek-cewek, termasuk kalau dia melatih Vocal Group cewek-cewek cantik SMA Putri Stella Duce. Aku akui, permainan Gitar Klasik Steve ini terkenal di UGM, fakultas Psikologi kampus dia khususnya dan mempesona setiap wanita yang denger dia main gitar classicnya. Berkelas dan tidak ecek-ecek, karena Steve memang instruktur di Yamaha Music Surabaya. Ireng Maulana gitaris terkenal saat itu rasanya imbang permainannya dengan Steve. Apalagi tampang Steve ini keren juga kurus tinggi kacamata John Lennon. Tapi asem tenan kelakuannya dalam hal ikut beri kesempatan mengenalkan ke aku ke cewek-cewek psikologi itu. Padahal banyak yang cakep-cakep. Malah ada salah seorang Putri remaja Indonesia, 1978. Ada disampul majalah Remaja “Gadis” saat itu. Kamu memang asem tenan Steve. Sengak aku.. ha..ha.. Dia hanya butuh aku sebagai kelinci percobaan untuk test psikologi. Yunan Ginting pasti merasakan juga saat dikerjai Steve. Asem tenan Steve ini, bukannya kita diwawancarai & diberi kesempatan kek diwawancarai cewek-cewek cakep itu. Walau akhirnya ada sejuta jalan kenal mereka, tapi aku terlanjur mangkel karo kowe Steve. Kancane dewe ora ditawani. Kabeh arep dipek dewe. Jarene solidaritas. Soladaritas opone? ha..ha…

Situasi Asrama Realino saat itu sudah sepi. Asrama termegah, terlengkap & besar di yogya ini Hampir 80 % lebih warganya sudah pulang Mudik atau Hilir. Lorong Villa Selatan, lapangan badminton, lapangan basket di Villa Utara dan di segala tempat apalagi ruang parkir motor & sepeda, sunyi…sepi…hanya pendaran sinar lampu neon TL yang menerangi. Teduh. Tapi hatiku galau..

Sementara kumandang Takbiran mulai terdengar sayup sayup dari Mesjid Demangan Baru, Mesjid tempat kami selalu sholat Jum’at yang Lurahnya adalah adiknya satu ibu President Soeharto, bernama Pak Nitisemito. Lurah Catur Tunggal ini konon lebih berkuasa daripada Bupati Sleman. Pernah saya dengan Iwan Lukito van Malang nekat mencoba berkenalan dgn beliau dgn alasan si Iwan sebagai atlit panahan yang latihannya di lapangan samping Kantor Kelurahan “Termegah se Indonesia itu”. Sayangnya tidak ketemu pak Lurah beken ini. Kalaulah sempat ketemu dan ber “KKN” dengan Pak Lurah terkaya se Indonesia ini (saat itu), mungkin jalan hidup saya dengan Iwan Lukito akan berubah 180 derajat! Bisa jadi kami ber dua yang meng kavling kavling tanah di Catur Tunggal, Sleman tsb.Apalagi saat ini harga tanah di Yogya termasuk yang termahal di Indonesia. Dalam kacamata sekarang, upaya kami berdua masih kurang sepertinya. Seharusnya usaha mengenalkan diri tahun 1980 an itu haruslah kami rintis dengan maksimal. Yah.. let’s gone by be gone. Apalagi nggak mengira kalau pak Harto berkuasa hingga thn 1997, hingga 17 tahun kemudian. Pasti kami berdua jadi kaya raya jadi tuan tanah. ha..ha..ha..

Nyatanya nasib tidak berpihak kepada kami. Gaya Iwan dengan busur busur panahnya, jangan ditanya. bak Robinhood. Padahal akurasi panahnya tidaklah hebat hebat benar. Willy Umboh lebih tau gaya si Iwan ini. Menang gaya thok. ha..ha..ha. pizz Wan.

H minus 2! Teman-teman sudah cabut, terutama Forsinowan muslim yg akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Jakarta jadi kota tujuan terutama bagi anak Jakarta. al : Mas Tomi, Bambang Slebor, Anto Hepramanato, mas Wid Widianto bahkan Freddy Cemplon yang tidak ikut lebaranpun sudah cabut. Nanang yang asli urang Bandung dan Harmayyusi yang juga dari Bandung dan keduanya anak arsitek, sudah menghilang dia. Nggak ngajak-ngajak lagi. Tapi yang saya herankan tidak jelas apa alasan si Cemplon ini mudik ke Jakarta? Merayakan Idul Fitripun Cemplon ini tidak. Seharusnya si Cemplon ini merintis jualan Mie pangsit aja di Yogya. Mie pangsit khas Kemayoran Jakarta, karena pasti banyak yang beli Mie dagangan dia. Setelah 30 tahun kemudian, bisa diprediksi Usaha Mie Freddy Cemplon ini menjadi besar. Mungkin Freddy cemplon punya “franchise Mie” terkenal di Indonesia saat ini. “Mie Cemplon” bisa jadi brand yang terkenal, bersaing bahkan mengalahkan misalnya Mie Gajah Mada, mie GM. ha..ha.. sorry ya broer Cemplon. Sekedar berandai-andai. Dan ternyata bisnis kuliner ini memang yang paling profitable, aman dan tahan banting.

Btw, pikiran saya mulai gundah. Antara bertahan lebaran di Yogya atau ke Jakarta apalagi ada tawaran Reni, cewek manis asrama Syantikara, mhs Sospol HI-UGM 79, adik kelas mas Tommy, untuk mampir di rumah orang tuanya di komplek Sekneg-Cidodol. Keinginan lebaran di Yogya !. Udah janji dengan Gunawan (Teknik Mesin, UGM) ke rumah ortunya di Solo. Tapi suasana hati saya kok ingin lebaran dekat orang tercinta?

Dua minggu sebelumnya Warga Asrama Muslim mengadakan acara buka bersama di Realino dilanjutkan taraweh. Terjadilah kenal mengenal, termasuk Bang Sudarman yang kenal dengan istrinya yg dokter gigi itu. Atau Anto Herpramanto yang kenal dengan Lusi, istrinya sekarang. Biasalah, kesempatan tsb digunakan juga untuk saling mencatat alamat ortunya & nomor telpon dsb nya. Hitung hitung “bonus” perkenalan.

Tawaran beberapa cewek cakep ini cukup menggoda juga. Diam diam saya mengagumi diri saya sendiri. Ternyata dulu semasa mahasiswa, saya banyak penggemar juga. Biarlah tinggi kurus, kerempeng, tapi keren. Buktinya banyak mendapat kiriman Kartu Valentine dari cewek cewek yang sebagian besar tidak menyebut namanya. Hanya tulisannya yang coba saya kira kira, siapa pengirimnya. Kartu Valentine dengan gambar Hati, bunga Roos atau anak panah atau sejenisnya dengan warna didominasi Merah Jambu. Bukti Kartu “Happy Valentine” itu yang penting kalau saya juga dikagumi cewek cewek, walau saya tidak pernah percaya kepada si Valentine atau Kisah Valentine tersebut. Pinter pintarnya si pembuat mitos itu saja. Setidak tidaknya nasibku tidaklah seperti mas Sutopo, Geodesi Ponorogo yang jarang mandi itu atau mas Harun Qasim, sahabatku Arab Tegal yang janggutan yang jago main sepakbola bahkan team A nya Realino, tapi tidak pernah dapat kiriman Kartu Valentine.

Dalam acara buka bersama & tarawehan tersebut, biasalah, kalau perkenalan dengan cewek dimanfaatkan juga untuk saling takar menakar ha..ha. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Maunya begitu.

Yang saya ingat, Mardiasmo pun “kita adu” dengan Ria (Hukum UGM) anak Syantikara juga. Idaman dengan Nora, anak Surabaya, Sospol UGM 79. Kalau Ria jadi dgn mas Mardiasmo, tentulah saya harus memangilnya dengan sebutan Yth : Ibu Ria Mardiasmo, ibu Ketua BPKP-Republik Indonesia. wha..ha..ha… Mardiasmonya suka ke Ria. Ria nya..? mungkin suka juga atau mungkin Ria menyesal, apalagi kalau bisa memprediksi Mardiasmo yang suka sarungan akhirnya menjadi Professor dan jadi pejabat keren di RI ini. (Ria di Telkom sekarang. Sy baru dapat no. HP nya).

Kembali ke pokok cerita, berbagai benturan di atas mebuat saya mulai goyah dari sikap karena “ego tidak karuan” saya sendiri, yang pengen merasakan bagaimana rasanya lebaran tanpa orang tua tanpa sanak saudara dan lebaran di Yogya. Dilain pihak, tahun lalu saya sudah lebaran di Jakarta juga. Dan untungnya ada sohib saya yang selalu “patuh”. Siapa lagi kalau bukan Freddy Hariwinoto, “sang professor Maestro Mancing”, suhunya RFC. Eko Djunaidi, yang karena praktikumnya di Kedokteran UGM, termasuk yang terakhir mudik, sohib bertampang Ossama Bin Laden dgn janggutnya yang tebal yg rajin Begadang di kursi panjang depan Perpustakaan Villa selatan, sudah wanti wanti memberikan alamat & telpon rumahnya di Malang dengan janji khas si Eko. Akan saya kenalkan dengan teman teman cewek saya yang cakep cakep dari SMAN I Dempo-Malang. Semua proposal ini silih berganti muncul dalam benakku. Mirip analisa “SWOT” lah. Kurang lebih begitu.

Malam kian larut. Pintu gerbang Villa Selatan sudah digembok.Tandanya tidak akan ada lagi penghuni yang boleh ke luar Asrama. Lorong Vila Selatan arah ke Komplek Colombo sudah sunyi. Kalaupun ada yang terdengar adalah bunyi tokek. Tooooookkkeeeeeek…. toooooookkeeeeeeeeek. Kursi panjang tempat biasa bang Pangsit alias Pangasian Sitompul, Arief Pribadi, Agus Indratno atau Andry Cahyono yang arsitek yg kerap menirukan suara tokek. Bang Pangsit biasa nangkring dengan mas Felix Sutandi atau alm David Sinaga (semoga alm RIP) yang mungkin capek dari praktikum kedokterannya pun tidak nampak batang hidungnya. Nggak tau, teman teman pada kemana. Apa ke alun-alun atau sekedar menyusuri kota Yogya?

Sayang saya tidak sempat menceknya. Kalaupun masih ada kehidupan, paling itu si Impun Siburian, yg selalu menyandang tape recordernya untuk memutar lagu Song For You-Chicago, sambil meminjam pembersih “head cleaner” tape recorcer tersebut.

Asrama sungguh hening dan sepi. Penguruspun tidak keliatan. Mas Tommy udh ke Jakarta, bang Uung Marpaung entah kamana, begitu juga dengan Kang Paul Irawan atau mas Bambang Kojek. Hanya lampu neon yang menerangi deretan kamar mandi & tempat jemur baju di Villa Selatan.Bahkan nyanyian jangkrik di lapangan depan yang luas Villa Selatan ini seakan akan seperti “orkestra alam” yg mungkin mentertawakan betapa pandirnya saya. Malam takbiran kok bukan ditengah keluarga? Kenapa kok menyendiri?

Saya naik tangga ke lantai dua, sambil memandang taman luas yang menghadap ke Jalan Colombo, kolam renang Colombo dan diskotik Colombo. Musik disko dari Diskotek Colombo yg selalu sayup sayup terdengar selepas pukul 10 malam, sudah tidak terdengar lagi. Jalan sepi. Bahkan pada jam 11-an begini kita bisa melihat cewek-cewek Diskotek Colombo yang sexy-sexy naik becak pun tidak ada. Sepi dan hening.

Yang ada kumandang takbiran lambat-lambat entah dari mana, tapi kok membuat jantungku teriris-iris? Nafasku mulai sesak. Pikiran melayang entah kemana. Yang pasti ada rasa rindu yang menguat dan membuncah..

Masuk ke kamar dan di kamar pun tidak membuat saya bisa tidur. Telentang, telungkup, miring dan telentang lagi. Jendela kamar terbuka semua. Saat itu Asrama sangatlah adem. Selain lokasinya di Utara Yogya, juga taman-teman di depan Villa Selatan sangat luas dan sungguhlah membuat suasana asri dan damai. Sendirian di kamar berhubung bapak buah dan anak buah udah cabut aku merasa gundah dan sepi.

Bangkit dari pembaringan sambil menyambar bungkusan rokok Jarum Filter, aku menyusuri lorong Vila Selatan arah ke Selatan. Ketika sampai di tangga yang menuju ke lantai dasar, saya sambar telpon. Saya telpon Freddy Hariwinoto yang waktu makan malam lalu masih sama sama sepakat dan pengen lebaran di Yogya. Tapi telpon tidak ada yang yang angkat! Bunyi telpon di Villa Utara seakan akan terdengar sampai ke Villa Selatan. tuuuttttt…tuttt…tutttt…..sunyi!

Singkat kata, saya turun tangga, jalan kaki menuju Villa Utara. Di depan refter hanya berpapasan dengan Bagus Cahyono. Mungkin si Bagus lagi nyari lokasi semedi. Say hello saja. Ruang musik yang biasa gaduh dengan drum yang ditabuh pun sunyi. Yang saya tau Drum ini hanya merdu kalau Idaman, Nyong Shane atau Andri yang drummernya. Kalau yang lain, parah. Rusak deh bunyinya. Ibarat kapal pecah. Nggak jelas beat dengan ritme nya.

Dari arah lapangan basket saya liat kamar Freddy udh gelap sesuai paraturan jam 10 malam lampu kamar harus dimatikan. Pastinya ada kontak batin. Freddypun punya perasaan sama. Dari teriakan kecil, langsung Freddy Hari menyahut. Hai, Bud! dengan teriakan yang ditahan. Aku segera beri kode ke Freddy untuk turun ke bawah. Dari perundingan kilat di depan ruangan musik pas di bawah lonceng keramat yang dentangannya menandakan nafas kehiduoan Asrama inilah kami saling “berkeluh kesah”. Keluh kesah yang intinya kami ini sebenarnya anak mami juga, yg rindu kepada suasana rumah.

Singkat cerita kesepakatan didapat. Deal! “Keangkuhan itu” runtuh juga. Dirayakan dengan merokok sampai berbatang-batang. Besok sore, kita ke Stasiun Tugu, beli karcis kereta Senja Utama dan berangkat ke Jakarta. Berapapun harga tiket, beli! Tanggal masih muda. Wesel udah datang. Yang penting tinggalkan Yogya. Harga tiket sekitar Rp. 12 ribuan/org.

Gerbong Kereta Senja Utama yang nyaman, relatif tidak banyak yang bisa diceritakan. Tertidur pulas setelah semalaman begadang dan berbagai persiapan mencari oleh-oleh. Yang berat adalah antre mencari karcis KA. Indonesia ini dulu dan sekarang relatif sama saja dalam kenyamanan publik. Berburu Karcis 30 tahun lalu sudah jadi problema tersendiri.

Tapi yang jelas kondisi kami jauh lebih nyaman dibanding mas Eko Warganyo Raharjo yang semalaman di loko kereta api dan Berdiri lagi. Kondisi kami berdua di kereta jauh lebih baik dan terhormat setidak-tidaknya dimata Kondektur apalagi di mata Masinis.

Tujuan di Jakarta sudah jelas, omnya si Freddy yang kolonel TNI-AD di daerah Jatinegara. Pertimbangan sederhana, konsumsi aman, kamar enak dan nyaman dan pasti diberi makan enak dan dekat kemana-mana. Akses mudah dan banyak pilihan naik bus kota/metro mininya. Minimal mudah naik Bajaj, kecuali Taxi. Schedule selama di Jakarta secara otomatis sudah tersusun sejak dari Yogya. Hebat juga ya planningnya.

Matahari sudah naik di ufuk timur dari arloji Seiko kulihat, pukul 6 lebih! 1 Syawal 1399 H/1980 M. Kereta Senja Utama kami mendarat Di Stasiun Jatinegara. Dengan gerakan sigap dan terlatih, kami turun dan langsung ke rumah si omnya Freddy. Taruh tas. Mandi tidak keburu lagi. Basuh muka dan ambil air wudhu saja mengingat Adzan Sholat Ied sudah berkumandang. Langsung menuju tempat sholat Ied di lapangan terbuka di Komplek Perwira TNI tsb walau sedikit terlambat karena orang sudah takbir. Dengan mata berkaca kaca, saya takbir dan sholat Ied sambil melintas ingatan khususnya ke pada orang tua & adik adik di Padang. Tidak khusuk sholatnya. Belum lagi kalau kepikir Rendang, Lamang tapai atau makanan khas lebaran di kampung halaman.

Entah apa yang ada di pikiran sahabatku Freddy Hariwinoto. Mungkin dia teringat maminya yang di Holland atau atau ceweknya yang di Ujung Pandang yang setiap saat fotonya dikeluaran dari dompet dia. Yang jelas, Hari raya Idul Fitri ini , kok kami berdua begitu sentimentil?

Dan setelah sholat Ied, aku bilang ke Freddy. Fred, Pinjam telpon Om mu. Telpon sambil curi curi kesempatan. Aku mau tepon ke ibuku di Padang (terimakasih dan sekaligus maaf ya Om).

Setelah nada panggil terdengar suara yang sangat aku kenal di ujung sana. Sangat aku sayangi. Kuucapkan : “Selamat Idul Fitri 1399 H/1980 M. Maaf Lahir dan batin, Mamiku tersayang. Air mataku berlinang tak terasa. Biarlah dianggap cowboy cengeng, tapi plong terasa di dada ini. Terasa sekali Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Ya Allah, Ya Rabbi, semoga almarhum ibuku tercinta diterima disisiNya. Diterima amal ibadahnya. Diampuni segala dosa dosanya. Perkenankanlah ya Allah. Aamiin Ya Rabbal Allamin.

salam Sapientia et Virtus.
(Mohon maaf, kalau nama nama & lokasi yang disebut nyata adanya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s