Kearifan Lokal

Tulisan Bambang Ismawan

Kearfian Lokal adalah istilah yang dipakai oleh TVRI untuk menerjemahkan Indigenious Knwoledge. Dan Kearifan Lokal inilah yang dijadikan judul acara Minggu Malam Bersama Slamet Rahardjo, suatu acara TVRI yang mengangkat isu Kearfian Lokal dengan narasumber Prof. Dr. L. Jan Slikkerveer (Universiteit Leiden),  Prof. Ganjar Kurnia (Rektor Universitas Padjadjaran),  Ir. Sutarto Alimuso MM (Dirut BULOG) dan saya dari Bina Swadaya/ Trubus.

Ketika ditanya definisi Indigenious Knowledge, Prof. Slikkerveer menjelaskan sebagai pengertian yang mencakup kebiasaan, pengetahuan, persepsi, norma, kebudayaan yang dipatuhi bersama  suatu masyarakat (lokal) dan hidup turun-temurun. Kearifan Lokal itu bisa meliputi bidang etika, kesehatan, sosial-kemasyarakatan, kebiasaan bertani, menjaga kelestarian lingkungan, dll.

Merujuk United Nations Environment Programme (UNEP) : Kearifan Lokal dapat secara luas didefinisikan sebagai pengetahuan masyarakat (lokal) adat yang terakumulasi selama beberapa generasi, yang hidup dalam lingkungan tertentu. Definisi ini mencakup semua bentuk pengetahuan, teknologi, keterampilan teknis (know-how skills), praktek dan keyakinan, yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang stabil di lingkungan mereka (http://www.unep.org/ik).Dalam rangka kerjasama dengan Universiteit Leiden, Rektor UNPAD, Prof. Ganjar Kurnia mengemukakan, Indigenious Knowledge mulai digali di masyarakat Pasundan. Seorang Doktor Antropologi bidang komunikasi sosial telah dihasilkan, dan menyusul doktor bidang kesehatan, kebudayaan, keuangan mikro, serta biang-bidang lain.

Bila kita cermati, Kearifan Lokal merupakan bagian dari kehidupan masyarakat miskin pedesaan. Mata pencaharian mereka hampir seluruhnya tergantung pada keahlian khusus dan pengetahuan penting yang dimiliki untuk kelangsungan hidup mereka. Oleh karena itu, dalam proses pembangunan, Kearfian Lokal mempunyai relevansi yang istimewa dengan sektor pembangunan dan sejumlah strategi yang terkait dengan bidang : Pertanian; Peternakan dan Kedokteran Hewan; Penggunaan dan Pengelolaan sumber daya alam; Pelayanan Kesehatan primer dan obat-obatan pencegahan penyakit; Simpan-pinjam (keuangan); Keberdayaan Masyarakat dan; Pengentasan Kemiskinan (www.worldbank.org/afr/ik/basic).

Berkenaan deversifikasi pangan di pedesaan, Ir. Sutarto Alimuso MM menambahkan, bahwa Polo Pendhem, yaitu berbagai bahan makanan yang tersimpan dalam tanah, seperti Ganyong, Garut, Uwi, dan lain-lain perlu dikembangkan lagi sebagai bahan pangan alternatif.

Dalam perbincangan di TVRI itu sayapun memberi contoh tentang kashiat tanaman Sidoguri (adayang menyebut sebagai Sadagori, Saliguri, Taghuri, Kahindu, Hutu gamo, atau Digo). Tanaman ini merupakan tanaman semak yang tumbuh liar dan  banyak ditemui di pinggir  selokan, sungai dan di bawah pohon besar. Seluruh bagian Sidoguri, entah daun, batang dan akar dapat dimanfaatkan dengan direbus dan dapat ditambahkan gula merah untuk diminum. Air seduhan Sidoguri ini diminum secara teratur selama beberapa hari. Pada awalnya tanaman ini sering digunakan untuk mengobati penyakit antara lain rematik,  demam, disentri, cacing kremi, bisul dan ketombe. Namun akhir-akhir  ini banyak dimanfaatkan oleh penderita penyakit asam urat.

Saya kemukakan juga hasil penelitian di Amerika Serikat 20 tahun lalu, yaitu  tentang khasiat  daun Sirsak yang kekuatannya 10 (sepuluh) ribu kali kemoterapi untuk mengatasi Kanker. Laporan lebih lanjut, tentang kebolehan daun Sirsak ini dapat diikuti di Majalah Tubus edisi Januari 2011. Ketika ikhwal khasiat daun Sirsak itu saya kemukakan kepada seorang penyembuh Akupresure, dia menyatakan  pengetahuan tentang khasiat Sirsak sudah kita ketahui lama, sebenarnya yang  ampuh itu Sirsak muda, dengan diparut dan diperas, dimana airnya berkasiat mengendalikan diabetes. Menurut bapak Merta Ada, guru meditasi dan pemerhati tanaman herbal, pengetahuan tentang pengobatan herbal banyak tertulis di lontar-lontar di Bali.

Isu-isu kesehatan yang diangkat oleh Majalah Trubus, serta tema-tema kesehatan yang diterbitkan oleh Penebar Swadaya dan Puspa Swara, sumbernya adalah nilai-nilai Kearifan Lokal. Demikian pula, Kelompok-Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang dibentuk dan dikembangkan Bina Swadaya, dasarnya antara lain merujuk pada nilai-nilai yang dianut masyarakat, baik dalam bidang sosial, ekonomi, etka, budaya dan sebagainya.

Di tengah arus pembangunan dan globalisasi yang melanda, mungkin kita menyoal, “Apa pentingnya Kearifan Lokal bagi kita?” Sahabat saya, Prof. M. Dawam Rahardjo, dalam suatu diskusi dengan dengan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) tahun 2009 pernah menyatakan, “Pembangunan masa depan harus tetap  mempertimbangkan dan bahkan memberdayakan kembali tradisi, pengetahuan dan kearifan lokal”.

Ke depan, dengan semakin maraknya inisiatif masyarakat (lokal)dalam upaya mengatasi masalah-masalah setempat, maka kemajuan negara ini sebagian akan ditentukan oleh kemampuan aparat birokrasi dalam mengidentifikasi dan mendukung inisiatif-inisiatif masyarakat tersebut.
Menyitir Antonio Melato, penerima penghargaan Ernst & Young Philiphina 2009 dalam forum ASES (Asia Sosal Entrepreneurship Summit) di Seoul, Korea Selatan (November 2010) bahwa  situasi miss-match terjadi dalam praksis pembangunan di Philiphina. Kenyaataan “tidak nyambung” (miss-match) dalam berbagai program pembangunan terjadi juga di Indonesia, yaitu ketika program pembangunan yang dirancang dari atas tidak menjawab masalah-masalah yang dirasakan di bawah, di desa-desa. Dalam situasi semcam itu Kearifan Lokal bisa menjadi penunjuk arah bagi program pembangunan agar benar-benar menjawab kebutuhan yang dirasakan masyarakat.

Contoh konkrit adalah berjayanya LPD (Lembaga Perkreditan Desa) di Bali. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang berakar pada masyarakat adat itu tidak diubah menjadi lembaga modern seperti Bank, melainkan diberdayakan dalam aspek-aspek teknis dan diayomi dengan Peraturan Pemerintah Dearah, hingga tetap berakar di masyarakat dan menjadi LKM non Bank terkemuka di Indonesia. Buktinya LPD yang tersebar di desa-desa tetap hidup sampai kini, mampu bersaing dengan BPR-BPR di Bali dan tetap eksis mendorong perekenomian masyarakat.***

Iklan

6 Replies to “Kearifan Lokal”

  1. Matur Nuwun Mas, you are always inspiring us, we are proud of you Mas Bisma. Keep inspiring…..; salam u keluarga,

    ferry widagda atmadi

  2. Pak Bambang Ismawan yang saya hormati

    Terima kasih atas sharing tulisannya yang sungguh menarik …. sayangnya menurut saya masih sedikit pihak “dalam” atau “orang kita” yang peduli soal Kearifan Lokal termaksud, saya lebih suka memakai istilah Intangible Cultural Heritage. untuk menujuk diantaranya Lontar2 Usada yang syukurlah sekarang sudah ada beberapa dalam versi digital di, sehingga memudahkan masyarakat luas mengaksesnya atau bahkan mendownload-nya via internet, konon yang menarik adalah adanya lembaga donor yang membantu yaitu pihak musuem smithsonian AS, sayang saya tidak mendengar kiprah Depdiknas maupun Budpar dalam proses digitalisasi ini.
    Soal LPD di Bali memang mencengangkan mata awam saya, di banjar Suwung Kangin sendiri tempat saya tinggal di Denpasar setidaknya ada 3 LPD yang kantornya sangat berdekatan, ketiga2nya tampak sukses, 2 diantaranya bahkan sedang merenovasi kantornya menjadi lebih baik, secara pribadi saya terbantu dengan keberadaan LPD itu yang memudahkan saya membayar listrik dan PAM.

    salam
    Apriadi Uus Ujiarso

  3. SeV
    Yth Pak Bisma

    Sangat menarik apa yang disampaikan kebutan saya di KPDT begelut di pembardayaan masyarakat (PNPM Daerah Tertinggal), kearifan lokal sangat penting dalam salah satu proses perencanaan, dalam penggalian gagasan kemasyarakat kearifan lokal sangat2 diperlukan sehingga apa yang diinginkan masyarakat benar2 diketahui dan bisa diwujudkan akan tetapi hal ini yang kurang bisa dipahami dan terabaikan oleh fasilitator kita dan apalagi jika dikaitkan dengan teknologi tepat guna hasil yang diharapkan kurang tepat sasaran. Kalau saya melihat apa yang sudah dihasilkan dari PNPM masih jauh dari harapan karena SDM nya belum handal,
    Mohon maaf Pak Bisma mungkin ini hanya sedikit pemanfaatan kearifan lokal yang saya tahu

    Salam
    BS 79

  4. Pak Bisma dan sederek Forsino,
    Ngomong-ngomong soal kearifan local, di Jogja ada LSM Lessan (Lembaga Studi Kesehatan Masyarakat) yang didirikan oleh Heny Yudea. Sejak 20 tahun belakangan ini mereka giat mengumpulkan resep-resep pengobatan tradisional dari 13 dusun di pelosok lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, dan Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Kalau kita tidak cepat mempublikasikan hasil mereka, maka akan kedahuluan para peneliti dari Jerman yang konon sampai mau “membeli” hasil jerih payah mereka senilai 500 juta rupiah. Wartawan TRUBUS harus segera mendatangi mereka di Jl Kaliurang 10, Ngaglik, Sleman, lalu membuat reportase tentang mereka, lalu menerbitkan buku-buku mereka. Lebih baik lagi bila ada yang terpanggil memproduksi resep-resep mereka dan mempromosikannya hingga dapat menjadi alternative bagi pengobatan untuk kelas bawah. Saya pribadi bersama teman-teman di sini berhasil membuat serbuk minuman peluruh kolesterol dan penguat stamina, ada yang tertarik mencoba?
    Salam,
    Tri Hascaryo

  5. Mas Tri Hascaryo,

    Henny Yudea, asline cah solo kemringet mas, dekat atau dibawah candi Cetha … kawan satu ini plus suami dan anaknya, juga Lessan adalah salah satu kawan baik kami sekeluarga, sewaktu di Jogya, kami suka bertandang ke rumahnya demikian sebaliknya, di dalam rak perpustakaan kami di Jogya, setidaknya ada dua buah buku terbitan Lessan. Saya sendiri terkesan dengan kerja2 yang dilakukan oleh Lessan. Matur nuwun sudah mengintrodusir Lessan ke Forsino. Bila KR atau Forsino ingin menindak lanjuti, saya siap memfasilitasi …

    salam
    Uus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s