Petualangan di Awal Tahun 2011, Kapal RFC Dihempas Ombak

Oleh Arihadi Joseph (82)

Bagi saya ajakan untuk mengarungi laut itu begitu mendadak! Namun seperti terhipnotis saya hanya mengiyakan saja dan tidak berdaya untuk menyampaikan keberatan apapun, walaupun saya belum sempat berdiskusi dengan anggota keluarga saya. Waktu itu di sela-sela rapat RFC menggagas rencana penerbitan MARLIN, Majalah Wisata Mancing 28 Desember 2010; Mahmudi Widodo dan Master Fredy mengungkapkan rencana untuk mengukir hari baru 1 Januari 2011 dengan bertolak ke Pulau Sang Hyang untuk kembali menebar rapala, menguji kehandalan peralatan dan penguasaan seni memancing di laut lepas.

Dan kembali, di sepanjang perjalanan di tol Merak itu, lagi saya harus mengulangi rute yang masih saja sama situasinya. Jalan tol yang masih saja banyak lobang, walau terus  ada perbaikan tambal sulam, dan berlobang lagi. Sementara truk dan tronton raksasa seenaknya melata di lajur kanan jalan, cuek saja mereka membiarkan mobil-mobil kecil yang seharusnya lebih kencang harus bersabar untuk  bisa menyalibnya. Padahal truk dan tronton yang lebih berat dari Brontosaurus inilah yang telah membuat lubang-lubang di jalur sebelah kiri tol.

Itulah keseharian pemandangan tol Jakarta – Merak yang selamanya tidak pernah mulus. Beruntung, bukan saya yang menyetir, Mahmudi Widodo membawa Toyota Vios miliknya melintas kearah Merak. Saya sendiri memparkir kendaraan saya di depan rumah Mahmudi Widodo dan untuk selanjutnya kami berdua menuju pelabuhan Tanjung Tum seperti disepakati beberapa peserta yang akan memancing.Kesesakan melintasi jalan tol Jakarta Merak sepertinya belum cukup, begitu kami keluar pintu tol Cilegon Barat, kamu masih harus melintasi jalan tembus  kearah Anyer yang juga banyak lubang dan sepeda motor yang melintas.

Mahmudi Widodo memutuskan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan siang di pinggir jalan. Karena hanya warung Pecel Lele Brebes yang dapat kami temui, maka kamipun memesan makanan. Widodo pecel lele, dan saya soto ayam. Setelah cukup mengisi perut dan meregangkan otot-otot yang mulai pegal di warung tenda tersebut kamipun melanjutkan perjalanan.

Waktu itu jam 14.20 WIB. Suasana liburan panjang Natal dan akhir tahun masih terasa dari keramaian suasana jalanan. Jalan raya Anyer macet total dari dua arah baik yang menuju Anyer maupun yang meninggalkan daerah wisata pantai ini. Pasar-pasar tumpah dan kerumunan manusia yang menyemut menyumbat lalu lintas di tempat ini. Polisi juga memasang tali panjang pembatas jalan, maksudnya untuk mencegah salah satu jalur menerobos dan menghalangi yang lain. Hal ini tentu mengakibatkan pelintas jalan tersebut juga tidak bisa leluasa membelok untuk mencari jalan alternative.

Master Fredy yang posisinya sudah berada di depan kami memberitahu bahwa rencana meeting point diubah tidak di pelabuhan Tanjung Tum tapi di pelabuhan Paku, tempat baru yang kami belum tahu. Jam 16.15 kami tiba di Paku, ternyata tempat ini adalah salah satu pangkalan pelabuhan Angkatan Laut di pantai selatan Jawa Barat.

Bertiga kami anggota RFC: Master Fredy, Mahmudi Widodo dan Arihadi bergabung dengan dua orang pemancing lagi yaitu Tomy, salah seorang eksekutif dari Charoen Pok Pan bersama Joni satu orang rekannya karyawan sebuah pabrik gula. Keduanya warga kota Cilegon.

Tanpa banyak basa-basi, kamipun segera mengemas peralatan dan barang-barang ke kapal yang sudah siap menunggu. Kapal itu ternyata sebuah kapal mungil bermesin 24 PK, panjang enam meter dan lebar  satu setengah meteran. Di punggung kapal bertuliskan “Shimano”, brand peralatan mancing yang cukup terkenal. Kapal itu berkesan masih baru dari cat merah dan putih pada badan kapal yang masih cerah. Langit biru bersih, angin bertiup dengan kecepatan sedang. Air laut di tepian berwarna biru gelap, pertanda bahwa pinggir pantai pelabuhan Paku ini cukup dalam. Ombak berdeburan membentur dinding pelabuhan.

Begitu Mamad kapten kapal menghidupkan mesin dan kapal mulai bergerak, jantung saya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Waktu itu jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 16.32 WIB, jika perjalanan kapal normal hanya diperlukan waktu satu jam untuk mencapai pulau Sang Hyang.

Kapal bergerak lurus mengarah ke pulau tujuan. Master Fredy mengambil posisi di buritan kapal, cekatan segera memasang down rigger di dinding kapal. Untuk mengantisipasi ombak yang kuat, peralatan itu diperlukan agar umpan dan senar pancing tidak hanyut atau ruwet berbelitan dengan senar antar sesama pemancing.

Mesin kapal meraung. Belum mencapai 50 meter dari pelabuhan, kapal mulai terpental oleh benturan ombak dari arah kiri lambung kapal. Oleng. Mamad sang kapten menancap gas untuk menambah kekuatan. Widodo tampak merebahkan diri di anjungan penumpang, sebelum kapal melaju dua buah tablet anti mabuk sudah diminumnya untuk mengusir mabok. Saya duduk di depan sebelah kanan kapal untuk menghindari hempasan ombak yang mengguyur badan kapal. Seorang anak buah kapal, bergelayutan bergerak ke depan kapal dan mengeratkan tali temali bambu pembentang terpal peneduh.

Saya mengamati setelah lima belas menit pertama, kapal masih mampu bergerak sembilan puluh derajat kearah Sang Hyang. Dan ombak kembali menghantam dari arah lambung kiri kapal kali ini lebih keras. Saya melihat Mahmudi Widodo, terbangun dari pembaringan, tangannya berpegangan erat ke tiang cabin penumpang. Dijulurkannya kepalanya ke arah air laut. Dan dari mulutnya keluarlah air dan seluruh makan siangnya … muntah! Mabok laut lagi !!

Gulungan ombak semakin tinggi sejalan dengan semakin redupnya matahari di ufuk barat. Dua meter, dua setengah meter dan tiga meteran … Kapal kami terasa seperti biji yoyo di lautan pantai selatan Cilegon. Terpental tinggi ke atas dan terhempas jatuh dengan suara berderak-derak. Peti mati Master Fredy dan tas-tas bawaan kami meloncat-loncat, menimbulkan bunyi-bunyi gedobrakan di geladak kapal.

Kaki dan tangan saya berpegangan erat di dinding dan bibir kapal bertahan agar tidak terlempar ke laut. Tomy dari arah belakang kapal, mulai berteriak-teriak meminta kami semua untuk mengenakan pelampung. Mahmudi Widodo, bangun dan berbaring lagi di cabin penumpang. Setiap kali dia terbangun, setiap kali pula dia harus muntah karena rasa pusing dan mual.

Dari depan kapal saya berteriak-teriak agar dia tetap bangun dan menebar pandangan jauh ke cakrawala mengusir rasa sakit dan kepala yang berputar …   Dan kapal semakin bergeser arah seratus tiga puluh lima derajat. Kapten berusaha memutar kemudi kea rah kiri, namun lagi ombak menghantam dari arah kiri kapal. Mesin meraung lebih keras, namun ombak lebih kuat mendorongnya ke kanan.

Arah kapal sudah seratus lima puluh derajat. Sudah tiga jam lebih kami dimainkan ombak, dan belum ada tanda-tanda kapal dapat mengarah lurus ke Sang Hyang tetapi malah memutar ke kanan menjauh arah tujuan. Malam telah gelap. Mahmudi Widodo sudah terbaring tenang di cabin penumpang, setelah delapan kali terkuras seluruh isi perutnya.

Dari depan kapal kami berteriak ke arah Mamad Sang Kapten Kapal menanyakan ke mana kita akan menuju, namun suara kami tertelan gemuruh ombak. Beberapa saat kemudian, seorang awak kapal maju ke depan, memandu kapten kapal menghindari karang dan bebatuan.

Kami mulai sadar bahwa kapal telah tersesat terbawa gelombang. Empat jam sudah kita dipermainkan ombak dan yang kami pikirkan adalah bagaimana kapal bapat merapat dengan selamat. Di manapun tempat pendaraatan itu. Namun gempuran ombak belum juga mereda. Awak kapal sudah menarik tongkat untuk membantu arah kapal, agar tidak menabrak karang.

Upaya keras itu benar-benar diuji oleh gelombang kuat yang terus menghantam kapal. Tiba-tiba awak kapal berteriak kuat-kuat: Kanan, kanan, kanann …..!! Saya menengok ke belakang dan lagi-lagi suara itu seperti tertelan gemuruh ombak. Tak terhindarkan dua kali suara berderak terdengar dari arah perut kapal. Kapal akan pecah!! Dalam hitungan detik, Tomy dari posisi tepian tengah kapal meloncat ke laut, disusul Master Fredy dan Joni.

Saya menengok ke belakang mencari-cari Mahmudi Widodo, dan berteriak membangunkannya dari tidur. Sebelum kapal akan segera terbalik, saya pun yang sudah mengenakan pelampung segera meloncat ke laut disusul Mahmudi Widodo ……. (bersambung).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s