Menggonggong Pada Pohon Yang Salah (Kasus Ariel dan Luna)

Oleh Eko Raharjo (1978)

Kendati curious mengenai kasus video porno dari Ariel yang menjadi berita gencar selama sebulan, saya masih tidak desperate ingin melihatnya. Saya pikir apanya yang aneh? Bukankah Luna Maya yang menjadi lawan mainnya adalah seorang wanita dan manusia juga? Kecuali kalau pasangan seks Ariel adalah sebangsa ikan Pesut atau Calamary raksasa. Saya juga punya keyakinan dalam hal hubungan seks tak ada cara-cara atau posisi apapun yang bisa disebut ganjil. Semenjak masyarakat luas mempraktekkan posisi missionaris yang sesungguhnya (tadinya) bagi manusia adalah ganjil dan tidak natural sebagai posisi yang lumrah, saya kira tak ada lagi posisi dalam hubungan seks yang bisa disebut ganjil.

Kejahatan apa pula yang terkandung, bila hubungan seks mereka diabadikan dalam rekaman video? Bukankah jaman sekarang ini hampir setiap orang sudah terbiasa merekam apa saja? Di FB ini saja, saya sudah melihat bermacam ragam video dan foto, mulai dari foto nenek tersayang yang dying di ICU sampai pada foto ikan-ikan pindang yang berjajar telanjang nan sexy yang disuguhkan dalam piring berhias untuk dilahap. Kalau kita menghormat hak individu, seyogyanya kita memahami bahwa orang bisa punya alasan personal yang beraneka ragam untuk merekam kegiatan seks mereka. Mungkin saja mereka bermaksud menunjukkan kepada anak turun mereka kelak bahwa sang nenek moyang sudah sedemikian pinter dalam hal hubungan seks. Mungkin juga sekedar alasan praktis, siapa tahu tiba-tiba mereka lupa bagaimana cara berhubungan seks maka tidak harus kehilangan waktu untuk mengingat-ingat.

Ah iya, tentu saja ini karena UU Pornografi yang kontroversial tsb. Ariel dan pasangan mainnya bisa dijerat sebagai memproduksi dan mengedarkan gambar pornogarfi sehingga bisa dituntut hukuman denda dan atau kurungan badan. Ini betul-betul UU yang luar biasa tricky. Kalau kita membuat sabu-sabu atau pil koplo maka jelas ada unsur kesengajaan, intensi dan partisipasi terhadap tindak kejahatan. Orang yang membuat tempe tidak mungkin secara tidak sengaja menghasilkan narkotik. Namun, bagaimana mungkin bisa membeda-bedakan persetubuhan untuk produksi umum atau untuk konsumsi pribadi? Haruskah dalam setiap persetubuhan orang mengucap terlebih dahulu di depan notaris bahwa ini untuk konsumsi pribadi bukan umum? Ini betul-betul dagelan yang tidak lucu yang sangat membahayakan kehidupan kita semua sebagai bangsa Indonesia, sebab persetubuhan macam apapun bisa dituduh sebagai memproduksi pornografi.

Saya tahu banyak orang yang berdalih masalahnya Ariel dan Luna bukan pasangan suami istri. So? Pernahkan mendengar hasil survey mengenai Premarital Intercourse yang dilakukan kaum muda bahkan di kota yang paling santun seperti di Yogya? Apakah mereka yang melakukan PIC dan Kumpul Kebo tsb adalah orang-orang jahat yang patut dipenjarakan? PIC dan Kumpul Kebo terjadi akibat desakan jaman! Jaman sebelumnya mungkin tidak banyak kasus PIC atau Kumpul Kebo karena pada jaman itu begitu orang mencapai akil baliq langsung dinikahkan; mereka tidak dituntut untuk meneruskan kuliah. Kemudian jaman berubah, anak-anak muda meskipun sudah akil baliq harus ngempet dulu hasrat seksualnya untuk menyelesaikan kuliah di PT. Setelah lulus atau setelah memperoleh pekerjaan baru diijinkan menikah atau dinikahi. Oleh karena itu PIC atau Kumpul Kebo di kalangan anak muda tidak bisa disederhanakan sebagai kebobrokan moral apalagi sebagai suatu kejahatan. Satu-satunya hal yang jahat adalah apabila pihak yang berkuasa yang mestinya membantu dan meringankan kehidupan generasi muda akibat tantangan perubahan jaman malah mepersekusi mereka dan melabel mereka sabagai perusak moral masyarakat.

Kasus Ariel dan Luna saya kira tidak jauh berbeda dengan kasus-kasus serupa sebelumnya, muncul sebagai akibat dari tekanan perubahan jaman. Siapa pernah membayangkan bahwa akan ada jaman internet macam sekarang, dan tiba-tiba semua orang menjadi getol merekam apa saja untuk diunggah ke jejaring sosial? Youtube, FB, Twitter, etc merupakan bentuk-bentuk jejaring sosial yang muncul karena adanya kemajuan pesat informasi teknologi dan yang akan terus berkembang sampai di luar batas pemahaman kita. Kita harus mengakui bahwa bagi kita, semua ini merupakan barang baru. Tidak mengherankan seandainya ada orang yang kejeglong dengan situasi ini. Keberhasilan kita dalam menghandel tantangan jaman yang tak mungkin dielakkan ini adalah juga tergantung dari kebijakan dari para penguasa. Sayangnya pemerintah/DPR RI bukannya memutuskan membantu dan meringankan hidup dari warga negaranya, melainkan justru memutuskan untuk memasang jerat dengan UU Pornografinya sehingga mereka bisa memuaskan ego dan delusinya mereka akan kesucian dengan menyaksikan anak-anak muda warga Indonesia jatuh bergelimpangan tercekik oleh UU mesum tsb.

Lebih parah lagi adalah tuduhan bahwa video Ariel dan Luna (dan Cut Tari) akan menyebabkan kebobrokan moral bangsa. Apakah mereka tidak tahu bahwa sudah sejak jaman baheula sebelum Ariel dan Luna ini dilahirkan selalu beredar pornografi di masyarakat, baik dalam bentuk cerita stensilan, foto-foto hitam putih, filem-filem biru, majalah-majalah porno seperti Playboy, Penthouse, dst. Apakah moral masyarakat menjadi rusak karenanya? Perlu diberi catatan bahwa umumnya mereka yang punya akses akan pornografi pada waktu itu justru kaum terdidik, para mahasiswa, dosen, profesor dan mereka yang memperoleh beasiswa untuk studi di luar negeri. Apakah gambar pornografi macam ini yang menyebabkan Gayus Tambunan mentilab uang pajak dari masyarakat? apakah pornografi ini yang menyebabkan korupsi meraja lela?, apakah pornografi ini yang menyebabkan institusi kepolisian dan pengadilan kita jadi porak poranda? apakah pornografi ini yang menyebabkan listrik di Indonesia sering padam? Apakah pornogafi ini yang menyebabkan DPR kita bermental EGP dan hanya mengejar gaji dan kemewahan semata? dst. Jelas tidak, sebab di negara-negara maju dimana pornografi bukan dianggap suatu kejahatan tidak terjadi hal-hal yang seperti itu, bila ada, tidak sedemikian parah seperti yang terjadi di negara kita.

Terlebih dari itu, Ariel dan Luna ( dan Cut Tari) adalah artis-artis biasa yang tidak punya kekuasaan apa-apa untuk memerintah atau membuat undang-undang yang memaksa masyarakat mengikuti lifestyle mereka. Mereka ini bukan pejabat atau pembesar agama yang punya kuasa untuk mengesahkan hajat hidup orang atau menghalalkan – mengharamkan sesuatu, bukan pula orang yang punya kuasa untuk menghapuskan dosa-dosa orang dan bisa menyelamatkan orang dari api neraka dengan pembaptisan. Meminta orang-orang muda ini untuk bertanggung jawab atas kerusakan moral dan ahklak bangsa adalah ibarat menggonggong pada pohon yang salah. Demi keadilan seyogyanya Ariel dan Luna bahkan tidak harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di depan umum sebab mereka ini tidak pernah digaji dan hidup dengan makan uang rakyat. Merupakan ketidak adilan bila Ariel dan Luna harus dipermalukan di depan umum sementara mereka yang digaji dan dihidupi oleh uang rakyat seperti anggota DPR, kepolisian, pejabat-pejabat negara, termasuk pejabat PLN tidak pernah bersedia dengan tuntas mempertanggung-jawabkan kasus-kasus yang merugikan masyarakat di depan umum.

Apakah pornografi sama sekali tidak menyebabkan dampak buruk kepada masyarakat? Tentu saja ada, yakni bila menyebabkan seseorang menjadi addicted (kecanduan). Resiko kecanduan akan pornografi saya kira tidak melebihi resiko kecanduan akan Play Station atau semacamnya. Sebaliknya hal-hal seperti merokok sudah diketahui umum sebagai mendatangkan resiko kecanduan berat dan berbahaya bagi individu dan masyarakat luas. Bila saat ini ada yang perlu dilarang dan dituntut di pengadilan adalah pihak-pihak yang memproduksi dan mengedarkan rokok. Di negara maju Barat memang ada juga pembatasan ekspresi seksual dan larangan komersialisasi seks, namun persekusi terhadap kasus-kasus seks hanya terjadi bila ada unsur abuse dan eksploitasi bukan alasan moral. Menariknya saat ini yang justru sedag hangat baik di Eropa, Australia dan Amerika adalah bukan penuntutan lifestyle sexual dari para artis semacam Ariel dan Luna melainkan lifestyle sexual abuse dari penguasa agama (Katolik). Ironisnya, institusi inilah yang dulu selalu secara kencang menggembar-gemborkan untuk anti terhadap (keterbukaan) seks dan yang secara kejam menghukum individu-individu yang menentang dogma moral mereka.

Semoga bisa disadari bahwa konflik nilai-nilai (moral) seksual akibat perubahan jaman semacam kasus Ariel dan Luna ini bukan pertama kali terjadi. Ini sudah terjadi sebelumnya di Indonesia dan sudah berulang kali terjadi di negara-negara lain. Menyudutkan artis-artis biasa seperti Ariel dan Luna (dan Cut Tari) tidak akan pernah memecahkan persoalan. Sebab bukan merekalah yang berkewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atas moral bangsa melainkan para pejabat penguasa pemerintahan dan agama. Apakah mereka sudah berlaku benar dalam menegakkan kebobrokan moral keadilan yang berdampak pada kerugian besar masyarakat, seperti kasus korupsi di pengadilan dan kepolisian, kasus penggelapan pajak, kasus Lapindo Sidoardjo, tidak tranparansnya pengelolaan resources milik publik seperti kasus bank century, kebijakan migas, pengelolaan hutan, PLN, dst. Mengenai penegakkan moral seks selalu terbukti sejak abad-abad awal dari peradaban manusia dan sejarah agama bahwa yang menggonggong paling keras adalah mereka yang paling munafik.

Eko Raharjo

Iklan

9 Replies to “Menggonggong Pada Pohon Yang Salah (Kasus Ariel dan Luna)”

  1. Paparan yang menarik Mas Eko Raharjo, dan saya hampir sepenuhnya sependapat dengan Mas ER.

    Sepertinya memang ada upaya2 untuk memenuhi pikiran dan otak kita (rakyat) dengan berbagai kontroversi dan hal2 yg tdk masuk di akal, sehingga sampai pada suatu titik di mana kita sulit membedakan antara yang putih dan yang hitam, antara kebenaran dan kebongan, antara rekayasa dan kenyataan…. seolah tiada batas antara halal dan haram. Kita dibuat bingung dan akhirnya menjadi apatis dan tidak perduli. Kalau rakyat sudah tidak perduli maka sang ‘dalang’ semakin mudah memainkan skenario yang sudah dirancang.

    Yang lebih parah lagi, sepertinya ada begitu banyak ‘dalang’ yang masing2 mempunyai skenario sendiri. Sering terjadi skenario yang satu bertabrakan dengan skenario yang lain. Dan kita harus menyaksikannya dengan penuh kegemasan dan kegalauan. Kalau kegemasan dan kegalauan berubah menjadi kemarahan…. artinya rakyat masih perduli dan mempunyai harapan.

    Tapi kalau selanjutnya kemarahan berubah menjadi ketidak- perdulian, maka bencana akan menimpa bangsa ini. Mari kita tetap kritis. Lebih baik marah daripada tidak perduli.

    Salam (sedang transit di Dubai).
    SeV/Elgin’76

  2. TANGGAPAN tentang ” Menggongong pada Pohon yang Salah ( Kasus Ariel Luna ).

    Kejadian apapun atau berita apapun bisa terjadi di muka bumi ini, dan itu menjadi menarik untuk dibicarakan karena peran Media yang kadang mengekpose terlalu berlebihan bahasa gaulnya “LEBAI”. Namun sebagai manusia yang berusaha bijak ( Sapientia et virtus ), maka kita harus juga selalu memandang dengan jernih segala hal yang kita hadapi. Termasuk kita menanggapi apapun yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting bagi kita secara proposional. Apa yang dilakukan Ariel dan Luna, bisa dilakukan oleh siapapun, dan vidio seperti itu di dunia maya sangat banyak bergentayangan, siapapun dapat mengakses. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang luar biasa, masalahnya di dunia media sesuatu yang biasa bisa dibuat menjadi sesuatu yang luar biasa.

    Ign Kusumo / 1979

  3. Makasih Mas Eko atas ulasan yg cerdas ttg Ariel n Luna. Juga buat tmn2 lain yg memberi komentar positif thd ulasan Mas Eko.

    Aku sependapat dgn Mas Budiono. Kasus ini hny pengalihan perhatian thd kasus lain yg lbh penting. Malah Aku pernah mengungkapkan di milis ini secara guyon bhw akan ada REKONSTRUKSI. Kayaknya secara makro sudah terlalu sulit negara ini diperbaiki.

    Mungkin Aku termasuk org yg APATIS, seperti yg TIDAK DIINGINKAN oleh Bung Elgin. Hal ini aku lakukan karena konsepku ttg Ujian Nasional (UN) sd skr blm mendpt tanggapan yg positif. Semua pejabat di Kemendiknas tau bhw UN yg skr adl BOM WAKTU bg generasi mendatang, tp demi keberlangsungan PROYEK, UN tetap dilakukan tanpa REFORMASI.

    Skr Aku tetap melakukan sesuatu secara MIKRO. Didepan Mata kita ada sahabat yg membutuhkan SETETES EMBUN yaitu Arne Ian Doli Hutabarat. Aku mengajak teman2 anggota Forsino utk BERTINDAK. Mari kita mulai dari yg kecil. Mudah2an kita bisa melangkah ke Masalah yg lebih besar. Perjuangan tidak pernah berhenti.

    Salam SeV
    UUNG (MAT ’77)

  4. @Bang Elgin, terima kasih atas tanggapannya. Saya bisa memahami situasi yang membingungkan di Indonesia. Dapat saya bayangkan kesulitan orang-orang seperti Bang Elgin, Bang Jauhari, Mas Mardiasmo dan yang lainnya yang memangku jabatan dalam pemerintahan. Namun, kekritisan itu memang perlu senantiasa dipertahankan. Sebab dengan tetap kritis kita tidak akan mudah ikut-ikutan menjadi bias dan menambah keruwetan yang ada. Kekritisan tidak mengenal keterpihakan. Kekritisan akan bergabung dengan kekritisan lain tanpa memperdulikan latar belakang dan golongan. Kekritisan memberi harapan untuk memperoleh solusi yang mengatasi haluan politik, golongan, latar belakang dst. Semoga semakin banyak orang di Indonesia yang bangun dari keapatisan dan berani mengadopsi pikiran bebas dan kritis. Salam dari Calgary.

    @Bang Uung, anda adalah man of action, selalu berada digaris depan untuk menggalang aksi yang nyata dan berguna bagi lingkungan sekitar. Saya agak ketinggalan berita mengenai Bang Arne Ian Doli Hutabarat, saya akan melihat-lihat lagi arsip di Forsino MLGroup, namun apapun yang dialami beliau semoga kita sebagai satu keluarga Forsino selalu memberikan dukungan dan bantuan yang dibutuhkan.

    Salam SeV.

  5. Teman-teman Forsino,
    Saya tertarik pada ulasan mas Eko Raharjo tentang video karya Ariel dan Luna (sebenarnya masih ada yang lain lagi). Video tadi bisa dipandang dari banyak segi; hasil pandang tadi bisa dianalisis dengan bermacam cara.

    Mas Eko Raharjo mengutarakan pendapatnya sebanyak 9 paragraf. Penduduk bumi ini banyak sekali bermilyar, oleh karenanya pendapatnya juga bermilyar. Pendapat itu bisa sama dan bisa juga berbeda.

    Pada paragraph 1:
    Ada yang memandang video karya Ariel dan Luna lucah (shameless), ada juga yang mengatakan tidak aneh oleh karena dilakukan oleh sesama manusia laki dan perempuan. Lucah oleh karena hal ini di luar tatanan.

    Paragraf 2:
    Sex-intercourse itu instingtif; orang yang lugu sekalipun tahu cara-caranya.

    Paragraph 3:
    Pada paragraph ini saya berbeda pandang dengan mas Eko tentang pendapatnya yang menyatakan undang-undang pornografi itu tricky. Undang-undang ini tidak menjerat ataupun menjebak siapapun. Masyarakat harus dilindungi dari godaan-godaan. Bersyukurlah orang yang memang bisa melawan godaan oleh karena sudah bisa berpikir dewasa; tetapi masih lebih banyak orang yang tidak bisa melawan godaan. Orang-orang yang lemah tidak bisa melawan godaan ini harus dilindungi.

    Paragraf 4:
    PIC dan kumpul kebo adalah termasuk zina. Ada masyarakat yang berpendapat berzina adalah akibat tidak kuat melawan desakan setan; bagi yang beraliran agnostis/freethinker mereka lebih suka menyatakannya sebagai desakan jaman. Berzina itu melawan tatanan yang telah baik. PIC atau kumpul kebo, yang dilakukan oleh orang tua maupun oleh orang muda sama saja di luar tatanan.

    Saya merasa beruntung mendapat ajaran tatanan ketika menjadi seorang pandu, Ketika saya berusia 14 tahun sebagai seorang pandu, saya mendapat nasehat dari Lord Baden-Powell sebagai berikut:
    ·Jangan membuang-buang waktumu dengan seorang anak gadis, yang sekiranya tidak menyenangkan ibumu atau saudaramu perempuan kalau mereka melihat kamu dengan gadis itu.
    ·Janganlah bercinta-cintaan dengan seorang gadis manapun, kecuali kalau maksudmu hendak mengawininya.
    ·Janganlah mengawini seorang gadis, kecuali kalau kamu sanggup mencarikan nafkah baginya dan beberapa anak.

    Ada ajaran yang menyatakan jangan menghambat perkawinan, bila sepasang anak lelaki dan perempuan sudah saatnya menikah maka sebaiknya segera dinikahkan. Ketika program KB mengusulkan agar perkawinan ditunda dulu sampai umur mencapai likuran, maka hal ini bertentangan dengan ajaran tadi.

    Paragraf 5:
    Undang-undang pornografi bukan untuk memuaskan pembuatnya, jangan dianggap bila ada orang mendapat hukuman maka sipembuat undang-undang gembira. Undang-undang ini tidak mesum, undang-undang ini mencegah kemesuman.

    Paragraf 6:
    Stensilan tidak terbukti merusak moral masyarakat oleh karena peredarannya terbatas. Mungkin juga pembacanya telah berbekal pikiran yang bisa melawan godaan. Sekarang ini di masyarakat bekal untuk melawan godaan sangat minimal. Godaan apa saja.

    Paragraf 7:
    Semua yang melanggar peraturan perundangan haruslah mendapat hukuman. Kekecewaan kita sekarang ini adalah oleh karena hukum diberlakukan tidak merata.

    Paragraf 8:
    Semua yang di luar tatanan adalah dosa; Baik bila dilakukan oleh ordinary citizen ataupun oleh pemuka agama, sama saja.

    Paragraf 9:
    Saya menulis pendapat ini didasari keikhlasan hati mengutarakan pendapat yang saya yakini menuruti tatanan. Saya sadar ada kemungkinan orang meragukan keikhlasan saya dan menengarai kemungkinan kemunafikan pada diri saya. Bila saya melihat Luna Maya di televisi, saya iba mengapa orang secantik dia, sesopan dia bisa mendapat pemberitaan seperti itu. Saya merasa tidak bisa berlaku adil bila ditugasi sebagai hakim; bila saya iba dan kasihan tentu saya tidak bisa menjatuhkan vonis yang adil. Sungguh mulia seorang hakim yang menunaikan tugasnya dengan adil.

    Bila ada jarum yang patah jangan di simpan di dalam peti, bila ada kata yang salah jangan di simpan di dalam hati.

    Salam RDD

  6. Sesuatu kesalahan yang satu dengan yang lain adalah hal yang masing-masing punya konsekuensinya masing-masing, tidak kemudian kesalahan yang satu menutupi kesalahan yang lain, karena dalam konteks ini hal salah tetaplah salah. Mau dari sudut manapun di lihat tetaplah salah, lepas dari ada atau tidak masalah yang lebih besar atau lebih serius dari itu. Ingat sebuah kebiasaan tetap bermulai dari sesuatu yang diawali, pertama, kedua, ketiga dst, sehingga kita bilang menjadi biasa. Bahkan sesuatu yang salah pun seakan-akan tidak salah. Buka lah mata hati kita, banyak yang harus kita rubah, dari hal sekecil apapun, kesalahan harus diperbaiki dan dibenarkan, bukannya malah bilang itu hal biasa dan seakan-akan menjadi tidak salah ketika dibandingkan dengan masalah yang katanya seakan lebih besar.

  7. Tambahan UNTUK EKO RAHARJO, jangan sampai anda membela orang yang salah, dan ingat setiap dosa dipikul orang pribadinya masing-masing, namun jangan lupa ketika orang lain memperoleh dampak dari dosa dan kesalahan kita maka kita tentu harus menanggung akibat tersebut (Orang lain menjadi berdosa karena tindakan kita), Bayangkan jika anda memiliki anak dan anak anda biasa menonton video porno di internet yang menurut anda adalah hal biasa, apakah anda akan rela, moralnya hancur. Jangan sangka masalh besar muncul begitu saja, dia muncul dari masalah kecil yang dianggap sepele dan dianggap biasa, padahal dampak sebenarnya sangatlah dahsyat.

    Penjabat yang korup dan bejat moral jelas itu salah, tetapi jangan emnutup mata bahwa yg dilakukan artis diatas juga salah, soal apa yang dihukumkan masyarakat secara moral saya kira masih wajar. Apalagi kalo kita lihat dampak dari video itu, yang semakin emnjadi pembenaran bahwa hal tersebut adalah hal biasa dan kemudian secara tidak langsung anda sekan-akan membenarkan, sekali lagi seakan-akan membenarkan.

    Maaf jikalau kurang berkenan……..

  8. Dan saya setuju dengan pendapat EKO, tentang penegakan hukum yang harus tegas kepada PENJABAT. Dan saya pun mendukung PENEGAKAN HUKUM YANG TEGAS DAN TIDAK MEMIHAK (ADIL)

    Tapi saya setuju dengan salah satu komentar diatas
    Mulailah dari Hal terkecil >>>> cikal bakal menjadi besar
    Mulailah Saat ini dan >>>> proses panjang tentu ada permulaan
    Mulailah dari Diri sendiri >>>>> yang kemudian akan menjalar ke seluruh yang lain

  9. reuni jogja 2013 supaya dimajukan 2012 karena rasa rasanya terlalu lama. kasihan koperasinya. buat pengurus terutama butong, kebijakan diambil demi orang2 tua yangsudah lanjut usia. Bobby. 82.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s