Kompleks Van Lith

Pengantar
Banyak warga Asrama Realino yang mendapat didikan dari van Lith. Maka tidak berlebihan bila kliping artikel tentang van Lith ini dimuat dalam blog Forsino.

Jadi Markas Jepang, Dibakar Pejuang RI

MESKI bangunan kompleks Van Lith terlihat masih utuh dan belum banyak perubahan, gedung yang dibangun tahun 1889 ini ternyata pernah dibakar para pejuang Indonesia. Untunglah Gereja Santo Antonius dan Pastoran Muntilan masih bisa diselamatkan.

Tahun 1942 sampai awal kemerdekaan Indonesia menjadi masa-masa paling suram bagi kompleks Van Lith atau Burderan.

Pasalnya, sejak tentara Belanda takluk dan Jepang berkuasa di Bumi Indonesia, kompleks Van Lith menjadi interniran Jepang.

”Kampus kami pernah menjadi pusat interniran Jepang atau penjara Jepang di Magelang,” kata Kepala Sekolah SMU Van Lith Broder Albertus Suwarto kepada Suara Merdeka.

Tentara Belanda yang ditahan di sini bukan tentara sembarangan. Mereka merupakan perwira-perwira menengah dan tinggi yang dianggap berbahaya bagi Jepang. Para perwira Belanda ini ditahan di ruang rahasia di sisi dalam kompleks.

Atap bangunan penjara ini berbentuk melengkung dan pendek. Hal ini membuat para tahanan tidak leluasa bergerak. Dinding terbuat dari tembok cor sangat tebal sehingga sulit ditembus oleh siapapun. Hanya ada jendela kecil sebagai ventilasi udara dan cahaya.

Gedung ini dulunya adalah kamar mandi dan tempat mencuci pakaian para Pastor FIC Belanda. Kini bangunan ini termasuk ke dalam sekolah SMP Kanisius Muntilan. ”Sekarang kami gunakan untuk gudang barang,” kata guru sejarah Daruno Agustian.

Menurut Daruno, hingga saat ini banyak turis asal Belanda yang sering mengunjungi bekas penjara tersebut.

Mereka merupakan keturunan para perwira yang pernah ditahan di sana. ”Setiap bulan pasti ada turis berkunjung. Bahkan ada yang mengaku pernah dipenjara di sana. Turis tersebut sudah tua tapi masih ingat dengan jelas. Mereka datang bersama anak dan cucunya,” kata Daruno.

Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah masa pendudukan Jepang memang menjadi masa paling suram Misi Katolik di Indonesia. Hal ini karena sekolah-sekolah Katolik ditutup sehingga nasib kolose tidak menentu. Semua pastor, burder, dan suster tidak luput dari kekejaman Jepang.

Saat Jepang angkat kaki, kondisi Pastoran Muntilan belum membaik. Rakyat Muntilan dan para pejuang RI memusuhi mereka karena dianggap sebagai markas Jepang. Kompleks Van Lith bahkan dibakar orang sehingga banyak dokumen penting hilang.

Untunglah Gereja Santo Antonius dan Pastoran Muntilan sebagai saksi sejarah masih bisa diselamatkan.”Banyak terjadi kesalahpahaman di antara rakyat karena kompleks Van Lith menjadi interniran Jepang,” kata Daruno.

Kondisi mulai membaik pada tahun 1950 setelah Pastoran Muntilan mulai mengubah pelayanan gereja ke hampir seluruh wilayah Kedu bagian selatan meliputi Kecamatan Muntilan, Salam, Srumbung, Ngluwar, Dukun, Mungkid, Sawangan, Borobudur, dan Mertoyudan. (MH Habib Shaleh-46)

Dikutip dari Suara Merdeka, 5 Mei 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s