Kopdar Mancing Baronang

Setelah lama direncanakan dan dipersiapkan, akhirnya mancing baronang di Merak terlaksana dengan lancar dan “sukses”, persis seperti yang direncanakan semula. Seluruh proses yang harus dijalani seakan direstui alam. Alam telah memberikan dirinya demikian ramah sehingga tujuan obyektif dan subyektif tercapai dengan “sempurna”.

Perlu diungkapkan kembali, tujuan obyektif mancing baronang ini adalah (1) membentuk Realino Fishing Club, (2) belajar memancing ikan dg handicap tersulit. Tujuan subyektifnya, terserah masing2 peserta.

Ya, alam sungguh-sungguh telah memberikan berkat bagi niat baik pembentukan RFC. Tidak percaya? Silakan cermati apa yang saya ungkapkan ini. Pandawa Lima Jumlah peserta mancing perdana bagi RFC ini 5 orang. Mereka adalah Pak Ferry Widagdo Atmadi, Mas Freddy Hariwinoto, Beli Gede Putu Yudhasma, Koh Setiabudi Laratsemi, dan saya sendiri. Jumlah ini seakan telah digariskan alam.

Angka 5 adalah angka magis bagi Ibu Pertiwi. Kita memiliki dasar filosofi yang dirinci dalam 5 hal, Pancasila.. Dan kita pun memiliki tokoh sentral pewayangan dari golongan putih yang terdiri dari 5 orang, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Entah mengapa, ke-5 peserta mancing yang pertama ini seakan merupakan personifikasi dari ke-5 tokoh itu. Tidak hanya dari jumlahnya yang lima, melainkan juga fisik dan psikisnya.

Anda boleh tidak percaya dan menuduh saya mengada-ada. Tapi nantilah saya ceritakan kebenaran pengamatan saya itu. Saya percaya, jumlah peserta yang lima dan kemiripannya dengan Pandawa itu bukan kebetulan. Ini adalah simbol yang diberikan alam atas terbentuknya RFC. Apa makna simbol itu? Walahualam. Biarlah alam sendiri yang akan mengungkapnya nanti melalui kiprah yang akan dilakukan RFC selanjutnya. Yang pasti, dan saya yakini, simbol itu adalah positif dan baik adanya. Perjalanan Menuju Lokasi

Sesuai kesepakatan, kami berangkat dari rumah masing2 dengan perkiraan dapat berkumpul di Pintu Tol Merak pukul 07.00 WIB. Koh Budi Laratsemi adalah orang pertama yang harus bangun pagi untuk menunaikan tugas suci dan berat, menjemput Beli Gede dan saya. Tugas ini nampaknya amat sesuai dg jarak rumahnya yg paling jauh (Cibinong) dan kondisi fisiknya yang tinggi, besar, kuat, dan kokoh mirip Bima. Kebetulan Beliau ini pemegang sabuk hitam (Dan 2, hampir Dan 3) Kyokushinkai. Maka tugas berat ini amat cocok dg dirinya dari semua segi yg dibutuhkan. Bangun pagi pukul 4.00 dan harus telah sampai di rumah Beli Gede di Depok pukul 04..30, serta rumah saya di Percetakan Negara pukul 05.30. Meski sempat keblasuk di Depok, Koh Budi berhasil menjalankan tugasnya dg sempurna. Tiba di rumah saya sesuai jadwal. Berkat Mas Bima ini kami ber-3 dapat berangkat sesuai waktu yang direncanakan. Mas Freddy yang wajah dan kemampuannya amat identik dg Arjuna (ganteng, pintar, dan tangkas), adalah peserta pertama yang paling dulu masuk pintu tol dan tiba di titik kumpul pertama kali. Pukul 05.35 Beliau sudah memberitahu saya sudah masuk Pintu Tol Kebon Jeruk. Tiba di Pintu Tol Merak tepat pulkul 07.00 seperti janjinya. Pak Ferry “Yudhistira” Widagdo Atmadi tiba kemudian setelah Mas Freddy. Sementara rombongan saya bertiga baru menyusul pukul 07.27 WIB. Terlambat 27 menit dari waktu yang diperkirakan, karena kondisi jalan yang di luar dugaan serta kepengecutan saya memacu kendaraan. Di Tol Merak terdapat galian perbaikan jalan sepanjang hampir 30 km. Galian ini amat mirip bangunan kolam pancing air tawar. Andai sampai waktu musim hujan nanti belum selesai dibeton, bisa2 penduduk setempat akan memelihara ikan dan membuat pemancingan umum di jalan tol itu.

Kami ber-3 pun sepakat menobatkan tol ini adalah tol terburuk di Indonesia. Setelah bertegur sapa dan bersalam2an, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi. Sesuai jadwal yg telah disusun Mas Freddy, kami mampir di Warung Tegal langganan Beliau. Warung ini letaknya dipinggir jalan tak jauh dari pintu tol. Meski kecil dan sederhana, warung ini bersih. Hidangan sederhana khas warung Tegal tersaji memikat dan berkesan higienis. Dan setelah disantap, kesan itu tidak luntur. Suasana ini tak urung mengingatkan Pak Ferry pada nostalgia warung nasi di Pasar Gejayan. Selain sarapan, di warung ini kami membeli bekal makan siang dan, yang terpenting, umpan ikan.

Seperti telah dituturkan Mas Freddy, umpan ikan untuk spot Dermaga Kepindis adalah nasi lumat. Nasi itu kami beli dari warung ini. Di warung ini pula kami bercengkerama sambil berkenalan lebih dalam. Betapa Realino tak sekedar bangunan asrama, melainkan “organisme yang hidup” sungguh terasa di sini.. Asrama itulah yg mempertemukan kami dari perbedaan generasi, umur, profesi, latar belakang, dan nasib. Kini, asrama yang sudah “tutup” itu hidup dan bermetamorfosa melalui pancing RFC. Pelajaran praktek kedua dari Mas Freddy, melumat nasi umpan, juga dilakukan di warung ini. Perlu diketahui, pelajaran pertama dari Guru Besar ini adalah soal waktu. Beliaulah yang menyusun jadwal dan dengan disiplin penuh menepatinya. Sungguh, soal waktu ini adalah teladan pertama yang kami lihat. Teladan2 yang lain, selain pengetahuan dan kepiawaian melumat umpan yg telah saya sebut, nanti saya ceritakan di bawah.

Tiba di Lokasi Setelah kenyang sarapan dan belajar melumat umpan, kami meluncur ke Dermaga Kepindis. Letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Merak. Di pintu gerbang kami berhenti sejenak untuk minta ijin pada penjaganya. Namun penjaga itu hanya terperangah di rumahnya dan tak menghampiri kami. Mungkin kami dikira investor atau pemilik dermaga itu, karena kami datang dg 3 mobil. Dua diantarana sedan hitam, hehehe…. Tanpa menunggu sambutan, Mas Freddy turun dari mobil untuk minta ijin dan memberikan uang parkir. Dengan diiringi senyum senang penuh rasa terima kasih dari penjaga kami pun memarkir kendaraan di bawah pohon rindang. Ah… sungguh pertanda nasib baik bagi kami.

Dengan hati gembira dan wajah optimis tak terkira kami pun berjalan menuju dermaga membawa seluruh perlengkapan kami. Tiba di lokasi kira2 pukul 08.00 WIB. Cuaca pagi itu sungguh cerah. Langit sedikit berawan putih, matahari bersinar terang namun suhunya tidak menyengat. Laut nampak hijau kebiru2an dan jernih. Gugusan bukit terlihat di kiri, belakang, dan kanan. Di depan terhampar Kapal2 besar yang tengah bersauh. Sesekali melaju perahu motor. Bunyi klakson yang khas dari kapal besar kerap terdengar dari kejauhan. Beberapa meter dari tempat kami mangkal terdapat rig pengeboran minyak. Satu bangunan rig lagi terlihat agak jauh di sebelah kirinya. Sungguh, suasana ini nampak indah adanya. Kalaupun tidak usah mancing, rasanya perjalanan ke sana sudah cukup menghibur hati. Dermaga Kepindis sendiri, dari struktur bangunan dan kondisinya, saya perkirakan milik swasta/perorangan. Bangunan itu nampak sederhana, kecil, dan, meskipun baru, sudah rusak. Sekelilingnya masih berupa tanah kosong berumput dan tak terurus.

Bertarung Dengan Diri Sendiri

Setelah tiba di spot yg kami tuju, kami memilih tempat sesuai naluri untuk memburu ikan jalu. Ikan jalu adalah sejenis baronang, namun, sebagaimana penuturan Mas Freddy, ikan ini adalah baronang jenis priyayi. Kikrik terhadap umpan dan sulit ditangkap. Sebelumnya Mas Freddy sempat memberi gambaran tentang pemilihan tempat ini dan memberi saran untuk memilih tempat yg dalam. Setelah mantap dg pilihan tempat, kami mulai merakit pancing. Mau tidak mau Sang Empu harus rela direpotkan untuk mengajari bagaimana merakit pancing yang benar.

Hal ini seharusnya sudah akan diajarkan pada pertemuan pra mincing di RM Ikan Tude, Jumat (16/10).. Namun karena yg ikut pertemuan waktu itu hanya saya dan Pak Ferry, maka ilmu itu belum diajarkan. Terpaksalah sang guru mengajar ilmu itu on the spot. Sementara para murid tergagap merakit pancingnya masing2, Guru Besar sudah melemparkan mata pancing berumpannya ke laut. Lebih dulu melempar umpan adalah prinsip Beliau. Entah apa maksudnya, saya belum bertanya dan belum mendapat penjelasan.

Saya menduga ini adalah upaya merebut perhatian ikan, sehingga ikan akan bergerombol. Yang pertama melempar umpan, dialah yg pertama akan menarik ikan. Mungkin ini maksudnya. Perburuan dimulai. Semua sudah melemparkan umpannya. Tinggallah mengadu untung, pikir saya. Dalam hati saya bertekad untuk menjadi orang pertama yg melakukan strike (menarik ikan). Wajah sumringah, ceria penuh optimisme menaklukkan sang jalu terlihat jelas. Bagi Sang Guru Besar pun, nampaknya mancing perdana ini merupakan ujian atas reputasinya. Tapi semua hanya diam, menyimpan hasratnya, hingga perasaan optimis perlahan2 dikikis pesimisme.

Waktu telah berlalu 2 jam. Sang jalu pun belum menyentuh umpan. Saya mulai mencemaskan tempat yg saya pilih. Tapi setiap kali kecemasan itu muncul saya memandang ke arah Guru Besar dan teman2 lain. Belum satupun menampakkan gelagat akan menarik ikan yg menyangkut kailnya. Maka tempat tidak membawa pengaruh, pikir saya. Namun hasrat untuk menjadi yg pertama mendorong saya untuk bereksperimen pindah tempat ke ujung dermaga.

“Di situ dangkal, Mas Widodo”, teriak Sang Guru. Ah masa bodoh. Saya akan buktikan sebagai yg pertama, pikir saya. Tiga jam berlalu dan kami duduk tepekur menunggu dan mengamati umpan disambar. Karena umpan mudah hancur di air, kami harus rajin mengontrol umpan itu agar tetap utuh. Jika kondisi umpan sudah mulai terkikis air, kami harus menggantinya dg yg baru. Sedikit saja umpan itu cacad, “sang priyayi” pun enggan menyentuhnya.

Kegelisahan mulai menghinggapi kami. Jika sampai tak satupun berhasil mengangkat ikan, RFC bakal menghadapi hal buruk, pikir saya. Entah apa yg dipikir dan dirasakan Guru Besar. Saya duga Beliau lebih gelisah dari siapapun yang ada di situ. Untuk mengusir kegelisahan dan menanam kembali optimisme yang mulai menciut, saya bisikkan “bujuk rayu” pada Dewa Baruna agar penguasa laut itu “bermurah hati”. Tetapi tanda2 perkenan dariNya tak jua kunjung muncul. Bujuk rayu saya ganti dengan “permohonan restu”. Tetap saja beku.

“Ini yang namanya arus mati, Mas Widodo”, tiba2 Sang Guru berseru. Jelas, seruan Mas Freddy itu adalah ungkapan kegelisahan yang tak tertahankan. Saya pun ingat salah satu pelajaran yang Beliau sampaikan lewat email. Pada saat arus mati, ikan2 enggan keluar dari sarangnya. Pada kondisi ini air laut nampak jernih dan dasar laut terlihat, tetapi sang jalu tak nampak batang ekornya. Saya pun berharap arus hidup segera datang. Maka pandangan mata pun saya layangkan ke tengah laut, menyongsong datangnya arus. Saya amati Koh Budi. Manusia berbadan besar itu satu2nya peserta yang mengenakan celana pendek. Kekuatan tubuhnya tak dapat disembunyikan oleh otot kakinya. Tangannya yg kekar dan kuat tak henti2nya mengangkat mata kail dari air. Ia juga gelisah. Kegelisahannya mirip betul dengan watak Bima. Meski belum berhasil mengangkat ikan, ia tetap kukuh dg pendapatnya sendiri. Ia mempraktekkan gaya mancing yg lain dari teman2nya. Berbagai eksperimen dia lakukan, mulai dari penggunaan joran pendek di air kolam, mengganti gaya mancing sampai penggunaan pelampung. Akhirnya ia mengganti jorannya dg tegek 4 meter yang saya pinjamkan. Untuk pelampung, Beliau masih kukuh dg pendapatnya sendiri. Tetap dengan pelampung air tawarnya dan umpan tercelup dangkal di air. “Bud, ganti pelampungmu dengan pelampung baronang”, teriak saya berkali2. “Aku masih punya beberapa”, lanjut saya sambil memperlihatkan bungkusan pelampung saya. Berkali2 juga ia bergeming. Kukuh pada prinsip yang diayakinya, itu watak khas Bima.

Bli Gede Putu, yang terkenal dengan gayanya yg flamboyan dan tenang itu pun tak dapat menyembunykan kegelisahannya. Sesekali dia mengeluh. Berbeda dengan saya dan Koh Budi, Bli Gede tetap setia dengan gaya mancing dan pemilihan tempatnya. Pak Ferry, adalah satu2nya peserta yang tak menampakkan tanda2 kegelisahan. Sungguh, beliau memiliki watak Yudhistira yang tenang, bijaksana, setia, murah hati, dan sabar. Watak ini akan semakin terlihat jelas nantinya. Dan itu membuat saya dan Mas Freddy terkagum2.

Dan saudara, bertarung dengan diri sendiri itulah yang kami rasakan selama menunggu galaknya sang jalu menyambar umpan. Pertarungan melawan pesimisme, kegelisahan, dan hasrat yg menggebu2 itu berlangsung lebih dari 4 jam. Ketika arloji mendekati angka 12.00, sekonyong2 arus keruh mendekat pantai. Saya pun mewartakan penglihatan itu pada Mas Freddy. Meski pandanganya dialihkan ke arah datangnya arus, namun Guru Besar itu tak menunjukkan antusiamenya. Jelas sekali, Beliau tengah bertarung dg bathinnya sendiri. Datangnya arus itu membangkitkan optimisme saya, untuk untuk membuktikan wejangan Sang Guru.

Tiba2 keheningan pecah oleh teriakan Sang Guru. Kailnya disantap ikan, tetapi lepas. Dugaan Beliau adalah jalu. “Ikannya pasti besar, Mas Widodo. Salah satu mata kail saya bengkok. Andai 2 mata kail yg menancap, pasti kena”, demikian penjelasan Sang Guru. Optimisme pun menjalar dan semangat kembali berkobar. Saya pindah tempat ke tempat semula di samping Sang Guru, Tetapi Pak Ferry tetap tenang di tempat semula yg jauh dari Mas Freddy dan kami.

Air keruh belum mencapai tempat kami, tetapi kegalakan sang jalu sudah dimulai. Kerumunanya masih terlihat terlihat dari atas. Tetapi entah kenapa mereka hanya berkerumun di bawah tempat Bli Gede. Mas Freddy pun pindah ke samping Bli. Mata kail saya geser mendekat kail Beli. Demikian juga dg Koh Budi. Tetapi, Pak Ferry tetap setia di tempatnya. “Hup!”. Joran Mas Freddy melengkung. Umpanya mengena. Ditahannya sebentar, lalu ditariknya ke atas. Jalu sebesar 7 jari tangan menancap di mata kailnya.

Ikan ini sungguh jelita. Pantas disebut priyayi. Sirip luriknya mengembang menawan. Warna putih sembura kuning memancar dari tubuhnya. Teriakan dan tawa kelegaan pun merekah dari wajah Sang Guru. Pupus sudah ketegangannya. “Untung kena. Malu juga saya kalau sampai nggak dapat”, demikian Sang Arjuna mengekspresikan kelegaannya. Momen ini pun kami abadikan dalam foto. Keempuan Mas Freddy telah lunas dibuktikan, dan gelar Guru Besar pun mutlak miliknya.

Harapan kami membuncah. Naluri berburu menggelegak kembali. Pak Ferry pun turut menyambut gembira dan antusias. Tetapi, lagi2, Putra tertua Pandawa ini kembali duduk di kursi, di tempatnya semula dengan anggun. Saya gagal menjadi yang pertama. Menjadi yang ke-2, itu target saya kemudian. Ini harus. Hasrat ini nyaris terlaksana ketika joran saya sentakkan tak lama kemudian. Tetapi malang. Tali senar saya putus pada pangkalnya. Saya duga itu akibat kesalahan saya mengikatnya. Maka saya pun berguru kembali kepada Sang Arjuna. Mau tidak mau Beliau harus melayani saya. Maka keluarlah “teguran” yang memang pantas saya terima. Beliau menyentil, “bagaimana ini, pemancing kok nggak bisa mengikat senar”.

Senar pun saya ganti dengan petunjuk Sang Guru. Peburuan dimulai lagi dan sang jalu mencapai puncak kegalakannya ketika jarum arloji telah meninggalkan angka 12. “Ikan rupanya mengenal jam makan” celetuk Koh Budi. Dan kami berempat, kecuali Pak Ferry, berkali2 menghentakkan joran, karena kegalakan sang jalu. Hentakan joran Pak Feryy tdk pernah saya lihat, karena beliau terpisah agak jauh dari kami. Dan hura hara kami tetap tak mengusik ketenangan Sang Yudhistira. Sikap kakak tertua kami ini membuat Mas Freddy berdecak kagum. “Pak Ferry ini luar biasa. Ketenangan Beliau mengingatkan saya pada teman saya yg tak terpengaruh oleh keberhasilan saya. Spt Pak Ferry, dia tetap setia ditempatnya, meskipun tak kunjung berhasil mengangkat ikan. Sungguh keteguhan yg mengagumkan”, demikian Sang Guru berbisik pada saya.

Menanggapi kekaguman Mas Freddy terhadap Pak Ferry, dengan agak “nakal” saya berujar, “Pak Ferry mungkin telah mengucapkan Sumpah Parapat, Mas. Tidak akan pindah tempat meskipun tidak dapat”. Mendengar itu Sang Guru yang memang paling ganteng dan awet muda ini pun hanya tertawa. Joran saya hentakkan lagi. “Tas!”. Kali ini yg putus tali senar pengikat garong (kail khusus baronang). Upaya menjadi yang ke-2 gagal lagi. Saya pun terpaksa mengganti lagi senar dan mengikatnya mantab sesuai teori yang diajarkan Guru Besar. Dua kegagalan ini dan menggelegaknya optimisme saya menjadikan saya kurang cermat mengamai apa yang dialami teman2 lain, selain, tentu saja, ketenangan Pak Ferry yang semakin menambah kekaguman saya pada Beliau dan sikap ksatria Koh Budi yang akhirnya mau menerima saran untuk mengganti pelampungnya. Keanggunan Pak Ferry dalam memancing dan kesediaan Koh Budi belajar dari teman tak membutuhkan pengamatan jeli. Saya pun tenggelam dalam keasyikan saya berarung melawan gaya aristokrasi sang jalu yang sombong itu. “Des!”. Senar saya putus untuk ketiga kali saat joran saya sentakkan entah untuk keberapa ratus kalinya. Kali ini putus lagi di pangkal ujung joran. “Mungkin senar Mas Widodo tidak kuat, ganti dengan senar saya”, saran Mas Freddy. Demi hasil, saya pun mengabaikan rasa ewuh pakewuh yg sempat menyuak ketika harus merepotkan lagi Sang Guru untuk kesekian kalinya. Saya sambut tawaran Beliau. Tidak hanya senar yang ditawarkan melainkan juga joran tegek kesayangannya diberikan pada saya untuk digunakan. Perasaan optimisme pun mencapai puncaknya. Tetapi Saudara, dinamika mancing nampaknya amat mirip dengan roda kehidupan. Setelah hangar bingar kegembiraan, akan muncul prahara yang disusul kegelisahan dan kehampaan. Prahara muncul seiring berhembusnya angin yg kuat. Saat2 spt ini, sebagaimana diungkapkan Mas Freddy, adalah saat yang menjengkelkan. Pemancing akan kesulitan membedakan getar tiupan angin dan getar sentuhan ikan. Sang Guru pun berkali mengeluhkan angin nakal ini. Beliau sampai harus mengganti tali senarnya dengan yang lebih kecil. “Semakin kecil ukuran senar, akan semakin peka kita menangkap getaran umpan dimakan ikan”, demikian teori lain yang pernah diajarkan Putra Ketiga Pandawa ini. Teori ini nampaknya benar, karena setelah senar saya ganti dg milik Mas Freddy, saya menjadi tidak peka dg getaran sentuhan ikan pada kail saya. Ditingkah angin yang semakin kencang dan semakin menumpulkan kepekaan kami, maka sempurnalah kebebalan kami. “Hup!” Tegek (joran khusus baronang) Mas Freddy melengkung lagi. Untuk kedua kalinya beliau berhasil mengangkat jalu, meski kali ini ukurannya hanya setengah dari yang pertama. Keberhasilan Mas Freddy ini menaikkan kembali motivasi yg mulai melemah lagi. Di luar dugaan, Pak Ferry pun memindahkan tempat duduknya mendekat ke kami. Entah sudah berapa kali saya dan Mas Freddy menyarakan Beliau untuk bergabung. Baru setelah lewat 5 jam beliau beranjak mendekat. Sumpah Palapsi Jengkel karena sudah 5 jam bertarung tidak berhasil mengangkat ikan, saya pun meniru apa yang dilakukan Gajah Mada. Seperti Maha Patih legendaris itu, saya pun mengucapkan sumpah. Sumpah saya adalah Sumpah Palapsi, yang artinya “sebelum berhasil mengangkat ikan tidak akan makan nasi ”. Tapi kali ini alam tidak merestui sumpah saya. Sampai saat waktunya pulang, tak seekor ikan pun berhasil saya tarik. Nampaknya alam ingin mengajar saya tentang kerendahan hati. Tak dibiarkannya saya berbesar kepala, sebab sebelumnya terlanjur berikrar bahwa sayalah orang pertama yg akan mengangkat ikan jalu sasaran kami. Untung saja hanya Koh Budi yang mendengarnya, shg saya terselamatkan dari rasa malu.. Lalu, bagaimana dengan sumpah saya? Saya konsekuen dan konsisten, dong. Sampai di rumah saya setia untuk tidak makan nasi. Mas Freddy dan Pak Ferry adalah orang yang paling mengkhawatirkan sumpah saya. Bukan apa2, Beliau berdua takut saya sakit dan merih-rih untuk membatalkan sumpah saya. Demikian ketakutannya, Mas Freddy sampai-sampai harus mengupaskan pisang buat saya. Tapi, sumpah saya memang hanya tidak makan nasi saja dan bukan tidak makan yang lain2. Maka meskipun saya tidak makan nasi, saya tetap ngemil kacang Bali bekal Beli Gede dan pisang bekal Mas Freddy, plus semangkok bakso di tempat peristirahatan menjelang pulang ke Jakarta. Pembuktian Teori Mancing Jika anda berpikir mancing hanya perkara kemujuran, saya anjurkan anda hilangkan anggapan itu sekarang juga. Mancing RFC Sabtu kemarin membuktikan kesalahan anggapan itu secara mutlak. Kegagalan saya menarik ikan akibat terputusnya 3 X senar pancing saya membuktikan bahwa pengetahuan dan ketrampilan amat penting. Dari pengalaman itu setidaknya saya belajar 3 hal (1) pengetahuan dan keterampilan mengenai pemilihan perlengkapan mulai dari senar, joran, mata pancing, kepekaan pengamatan ikan memakan umpan, dan pengetahuan mengenai kondisi alam termasuk arus laut dan kebiasaan ikan mutlak harus dimiliki secara detil; (2) belajar, berlatih, dan praktek untuk terus mengasah kemampuan mutlak diperlukan; dan (3) memancing, ternyata melibatkan fisik dan psikis, karenanya, sbg HRD, saya berkesimpulan memancing bisa dijadikan salah satu alternatif seleksi karyawan karena dari memancing kita akan dapat membaca kepribadian seseorang. Hasil Akhir Pada akhirnya memang hanya Guru Besar yang berhasil mengangkat jalu. Dan itu pun hanya 2 ekor. Tetapi apakah kami kecewa? Ya, ada sedikit kekecewaan memang, tetapi kenikmatan yang kami peroleh amat jauh lebih banyak. Kenikmatan mancing tidak melulu pada pencapaian hasil yang diperoleh, melainkan pada seluruh proses yg dimulai sejak perencanaan. Jika anda menanyakan bagaimana rasanya, mungkin bisa digambarkan mirip keasyikan anda membaca reportase saya ini, hahahaha………. Tentu saja bedanya kami menikmati keasyikan itu secara langsung, utuh, dan berlangsung dalam waktu yg panjang.. Tiba di Jakarta Sesampai di Jakarta hujan lebat menyambut kami. Inilah pertanda alam menyempurnakan restunya. Hujan adalah berkat bagi kehidupan. Maka hujan yg mengguyur setibanya kami di Jakarta akan menumbuhkan tunas kehidupan bagi RFC dengan segala harapan dan tujuan yang tengah maupun akan dicanangkannya. Untuk diketahui saja, Pak Ferry sempat berbisik pada Mas Freddy bahwa memancing bisa dijadikan ajang bisnis wisata. Ya, wisata mancing mungkin bisa dirintis dari sini. Sebelum tulisan ini saya akhirir mungkin anda bertanya2, siapakah personifikasi dari Nakula dan Sadewa. Dengan tegas saya jawab, itu adalah Beli Gede dan saya. Kami berdua memiliki beberapa kesamaan. Petama, kami pernah satu kamar di asrama, dimana Beli Gede adalah Bapak Buah saya. Kedua, kami adalah ber-2 adalah peserta yang mendahului mencoba memancing baronang sebelum ini. Ketiga, kami sama2 pernah menyusun cerita wayang mbeling versi Realino. Keempat, kami pernah sama2 tinggal di Bandung dan Jakarta dalam waktu bersamaan. Kelima, sampai saat ini perusahaan tempat saya bekerja dan Perusahaan tempat Beli Gede bekerja, tanpa sengaja, memiliki hubungan vendor dan pelanggannya. Hehehehe…. Layak disebut kembar, bukan? Jakarta, tengah malam, 18 Oktober 2009 Salam, Widodo

Iklan

One Reply to “Kopdar Mancing Baronang”

  1. Saudara ku sekalian saya ucapkan selamat atas usaha mas bambang supriyanto memasukkan RFC DI facebook, marilah siapapun anda yang tertarik,dengan hobby memancing silahkan joint di RFC ini, baik anda alumni realino maupun yang bukan alumnirealino. Karena komunitas ini untuk siapapun yang mempunyai ketertarikan dan hobby yang sama. sekali lagi silahkan anda joint dan share apapun informasi dunia pemancingan. leo sugoto ( member RFC )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s