Reuni dengan diri sendiri

ekoraharjoEko Raharjo

Saya kaget sendiri ketika mengingat bahwa terakhir kali saya berada di asrama Realino adalah di saat hari terakhir saya “lulus” dari asrama tsb yakni tahun 1980. Setelah itu saya tak ingat lagi pernah mengunjungi asr. Realino kendati masih menyelesaikan coschap di RS Sarjito, kendati kemudian pernah balik ke Yogya dan punya proyek penelitian di PAU Biotek UGM. Jadi kira-kira sudah 27 tahun saya tidak pernah menapakkan kaki ke tangga menuju kamar-kamar warga, tidak membau urinoir disana, tidak mengintip makanan yang disajikan di refter asrama dengan perut keroncongan.

Ketika ke Yogya Desember 2007 yang lalu, saya sengaja menginap di Yogyakarta Plaza yang bertetangga dengan asr Realino sehingga saya tidak mungkin punya alasan untuk tidak berziarah ke asrama. Tentu saja saya mengantisipasi perubahan. Tapi tetap saja saya terkesan dengan munculnya gedung-gedung baru dengan fungsi mentereng seperti Gedung Pusat, Gedung Perpustakaan dan masih ada lagi gedung-gedung yang dalam proses pembangunan. Saya dihinggapi perasaan Schadenfreude ketika melihat bangunan utama asrama boleh dikata masih utuh seperti sedia kala.

Di Villa Utara saya masih bisa mengintip kamar-kamar dengan perabotan bed dan lemari yang itu-itu juga. Cuma lapangan basket sudah menjadi kebun yang ditumbuhi pohon mangga, sukun, dst. Di sana saya menjumpai Waridi sedang memegang arit dan gunting rumput yang sama, sungguh megharukan. Hartoko yang kadang dulu saya panggil “Romo Dick” sedang cuti, Paridi dan Wakidi sudah pensiun, sedangkan Waluyo yang tak bisa membedakan ucapan FIPA dan VIVA pindah ke Wisma Sanatadarma.

Di Villa Selatan saya juga naik ke kamar warga. Disini saya lebih merasa tersentuh sebab sesungguhnya dulu saya lebih “feel at home” di Villa Selatan katimbang di Villa Utara. Ini mungkin karena kamar saya pada semester pertama dan kedua ada di Villa Selatan, tetapi mungkin juga saya selalu merasa bahwa Villa Selatan sebagai Villa kemenangan. Sebab pada acara konfrontasi Warga pada tahun 1978 saya merasa Villa Selatan keluar sebagai pemenang. Konfrontasi tsb boleh jadi merupakan yang paling sengit dan keras dan sekaligus merupakan kali yang terakhir karena setelah itu tradisi tsb oleh pimpinan asrama dibubarkan dengan alasan destruktif. Ketika itu saya sebagai cah anyar berperan sebagai benteng pertahanan ketika Idaman dan Labuhan Marpaung menculik dengan paksa PH, warga super senior dari Villa Utara dan dikurung di suatu kamar di Villa Selatan.

Saya kira keputusan pimpinan asrama untuk mengakiri tradisi tsb sangat beralasan sebab konfrontasi tsb meninggalkan 2 kursi panjang hancur berantakan, pintu pembatas Villa Selatan pecah belah, dan terlebih pada malam itu warga menunjukkan tingkah laku yang anarkis dan irasional. Namun di sisi lain, acara konfrontasi tsb bagi saya merupakan suatu kesempatan berharga untuk mengalami dan mengenal reaksi “psiko-kultural” manusia Indonesia. Kendati kelompok terdidik, ternyata warga Realino tidaklah immuned dari provokasi – reaksi yang sepenuhnya muncul dari gonads tanpa diproses dengan otak. Perang fisik meletus di koridor depan refter. Warga Villa Utara dengan membawa potongan pipa besi merangsek ke Selatan untuk merebut kembali warga kehormatan mereka. Pasukan garis depan Villa Selatan yang terdiri dari cah anyar mempertahankan garis demarkasi tsb dengan memasang barikade berupa tumpukan kursi panjang.

Oleh serbuan massa dari Villa Utara, pertahanan tsb dipukul hancur dan kami terpaksa mundur sampai ke pintu dekat refter Romo Romo pimpinan asrama. Beberapa warga Villa Utara berusaha masuk paksa lewat pintu gerbang selatan namun Kojak Cs sudah siap dengan air panas yang disiramkan lewat bawah pintu. Oh ya Kojak, Nyoman dan Ismanto mendirikan dapur umum darurat di lapangan badminton Villa Selatan setelah sebelumnya jatah air minum dari dapur disabotage dengan sekilo garam oleh para teroris dari Villa Selatan. Warga Villa Utara yang berusaha menyelundup dengan merayap lewat kawat penangkal petir disisi Wisma Realino juga tertangkap literally basah karena diguyur air. Malam itu Villa Selatan bagaikan Iwojima karena di bombardir tanpa henti dengan lemparan lumpur oleh warga Villa Utara dari arah kebun……

Berjalan sendirian di koridor lantai dua di Villa Selatan pada hari libur seusai hari Natal sepertinya menghidupkan kembali “the ghost of the past”. Sepertinya saya melihat lagi Boyke Hutabarat yang suka berdiri di depan kamarnya dengan pandang menerawang jauh ke arah pantai Selatan (atau ke Kolombo Disko)….  sepertinya mendengar teriakan frantic dari Sabar Hati Bawahulu ketika di tengah malam buta mengalami nightmare…..  erangan Kumoro Pudiyanto yang mulas kesakitan sehabis makan bakso dengan sambal suicidal di warung di pojok RS Panti Rapih….  bayangan sosok Waluyo Wijaya yang pasang aksi, pura-pura belajar, ketika Rm Bolsius melakukan kontrol pada pagi hari, dst, dst……

Tentu saja bangunan asrama tanpa kehadiran warga tidaklah punya makna apa-apa. Keberadaan saya tanpa warga lainnya juga tak punya dampak apa-apa. Syukurlah kebanyakan warga Realino masih hidup dan terus maju dan berkembang. Reuni warga bukanlah hal yang khayal. Saya merasa dengan melakukan reuni dengan diri sendiri juga mampu melahirkan kembali makna dari keberadaan saya di asrama Realino di masa lalu….  segerombolan anak muda, mahasiswa, yang lugu dan mungkin naif, yang tak mengenal gentar untuk berjuang meraih nilai-nilai ideal. Kebersamaan dalam meraih cita-cita untuk menjadi manusia-manusia dengan Scientia, Sapientia et Virtus tsb masih dapat saya rasakan sampai sekarang….

Desember 2007

Iklan

2 Replies to “Reuni dengan diri sendiri”

  1. Eko, pengembaraan ke masa kebersamaan di realino yang mengasyikan. Setiap kita punya cerita sendiri-sindiri mengenai masa tinggal di Realino…. terima kasih untuk sharingnya. Saya masih ingat persis kejadian malam “konfrontasi” tersebut, seperti Malaysia dan Indonesia… he…he… salam hangat.

  2. Bang Djau,
    Siapa yang bisa lupa dengan “Burgerkrieg” tsb hehehe… Semalaman saya tidak tidur sebab menjelang fadjar Bang Boyke mengajak saya ke stasiun Tugu untuk menjemput Anto Hepramanto takut kalau didahului dijemput oleh anak-anak Malaysia eh Villa Utara hehehe…
    Paginya sudah mesti apel di lapangan basket di Villa Utara, cuma untungnya tidak harus cari pinjaman dasi seperti beberapa warga dari pihak Utara huahaha…….

    Salam SeV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s