Asrama (semacam) Realino, masih perlukah?

Comment dari Hermawih pada artikel Jose “Aku Senang sebagai orang Indonesia

Saya bukan anggota forsino, walaupun pernah mengalami kehidupan asrama yang dikelola bruder bruder dari Belanda. Anggota Forsino kelihatannya senang dan mungkin bangga dengan keberagaman yang pernah dialaminya. Mengapa miniatur TMII ini harus ditutup. Seharusnya asrama seperti Forsino ini harus dibuka lebih banyak lagi sehingga mahasiswa mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa perlu belajar saling menghargai perbedaan suku dan agama. Indahnya toleransi dan perbedaan.

Beberapa tanggapan yang muncul di milis Forsino Nusantara.

.

Herry ‘keong’ said:

Salam S et V,

Poro sedulur, ada keinginan dalam hatiku (dan aku yakin ada di dalam hati poro sedulur Realino) untuk melihat ‘REALINO’ itu ada lagi. Ini tantangan yang perlu dipikirkan. Hayooo, poro sedulur yang tergabung di RBC, bukankah ini sebuah peluang? Bangun ‘REALINO-REALINO’ lagi . . !!! Supaya kita tidak hanya mampu bernostalgia saja . . .

Salam hangat.

.

Ardi Kohar said

Mas Heri,

Mungkin saya agak berbeda pendapat. Saya berpendapat bahwa Realino dg gedungnya yang megah dan berisi +/- 100 warga di dalamnya merupakan bagian dari masa lalu kita. Hal ini juga diungkapkan oleh Romo Bolsius pada saat pertemuan di Lembang baru2 ini.

Apakah misi dan semangat Realino masih relevan saat ini? Ya, masih relevan, tapi tidak dalam bentuk suatu asrama mahasiswa. Kondisi sosial, kebijakan Keuskupan, interest mahasiswa dll membuat suatu asrama mahasiswa sudah tidak membumi lagi.

Pertanyaan yg timbul adalah bagaimana kita menyalurkan misi dan semangat Realino ke dalam suatu bentuk dan aktifitas yg konkrit. Tugas kita semua untuk menyusunnya. Saya pikir thema ini akan jauh lebih mengena di lingkungan Forsino untuk menjadi thema pembahasan pada saat Reuni Akbar.

Saya sangat berharap bahwa semua pergerakan Forsino dapat berakhir dengan sesuatu yang konkrit, bukan selalu dalam tataran wacana.

RBC? Ternyata tidak mudah. Biarlah waktu yg akan menjawabnya.

Salam,
Ardy Kohar

.

Benyamin Mangitung said

Hi Mas Ardy,
Setuju dgn pendapat anda.

Jaman sekarang “kebebasan” yang diagung2kan oleh sebagian besar orang seringkali salah ditafsirkan atau salah implikasinya. Bebas tapi tidak bertanggung jawab bahkan seringkali diluar batas dan sulit dikendalikan. Ini salah satu faktor kesulitan membuat asrama sekaliber Realino pun. Mungkin bisa tapi model militer seperti AKABRI begitu.

Memang yang penting Roh dari Realino harus tetap hidup dan membumi dalam bentuk perbuatan nyata kepada masyarakat umum. Bisa dlm btk beasiswa, bantuan pengobatan, bantuan usaha mikro dll.

Modal? Ya dari RBC.
Bagaimana memulai? Learn to crawl before you run.

Cari bisnis yang halal tapi pasti untung. Disepakati oleh para stake holder aturan mainnya. Cari dan tempatkan manajer profesional, utamakan dari lingkup Realino dalam pengertian sempit dan luas. Awasi dengan cermat pergerakannya. Bukankah Realinowan banyak sekali konsultan, manajer tangguh, pengacara, dan para praktisi bisnis lainnya.

Sebagian BESAR laba (!!) Dialokasikan utk kegiatan membumi tadi. Mau ikutan RBC, monggo, mau jadi donatur tetap/tdk tetap monggo, ada jalurnya masing2. Bagaimana?

Gampang omongnya ya, ya gampang pelaksanaannya, asal diniati disertai ketulusan hati utk memberi yang terbaik.

Salam SeV,
BenFTP75

.

Eko Raharjo said

Mas Ardy Kohar,

Saya setuju dengan anda dan Romo Bosius, bahwa Asr Realino sudah merupakan bagian dari masa lalu kita yang sudah tidak eksis lagi namun spiritnya masih bisa tetap kita hidupkan sesuai dengan relevansi waktu dan sikon saat ini. Walaupun demikian, dilain pihak, saya berpendapat bahwa selama ada komunitas mahasiswa asrama mahasiswa selalu dibutuhkan.

Apakah asrama mahasiswa Bhineka seperti Asr REALINO diperlukan? Jawab saya untuk konteks Indonesia YES, ABSOLUTELY! Tetapi kenapa saya bahkan tidak pernah mencoba untuk mengusulkan? Sebab untuk konteks Indonesia saat ini, hal tsb merupakan HIL yang MUSTAHAL.  Apakah cita-cita tsb mesti dipadamkan? Tentu saja tidak. Saya masih memimpikan bahwa suatu kali asrama semacam Realino kelak akan tumbuh di setiap Propinsi, di kota-kota dengan populasi tinggi mahasiswa. Jadi tidak cuma di Yogyakarta saja melainkan juga di Medan, Padang, Makasar, Manado, Ambon, dst

Mengapa saat ini Mustahil? Salah satunya adalah karena iklim Politik Kebangsaan kita masih sangat TOXIC, dimana kita ini meskipun sudah 64 tahun memproklamirkan sebagai SATU BANGSA namun masih suka mencurigai satu sama lain. Masih ingat bahwa Asrama Realino sering dianggap sebagai tempat untuk Kaderisasi Katolik yang dihubungkan dengan Khasebul? Saya ingin menjawab, benar, saya sendiri ikut serta dalam proses kaderisasi tsb yakni salah satunya adalah sebagai ketua seksi renang dengan mengajari warga Realino untuk melapisi kartu renang dari KR Kolombo dengan lem supaya setelah dicap (distempel) bisa dihapus lagi dengan air hangat, sehingga warga Realino tidak perlu lagi beli kartu baru (mestinya satu kartu hanya berlaku untuk 4 kali renang).

Saya pikir kecurigaan politik itulah kendala yang paling besar. Bila hal itu bisa dikendalikan maka kesulitan-kesulitan lain yang memang akan selalu ada akan sangat mudah diatasi. Bila kesulitan tsb adalah karena saat ini banyak kos-kosan yang mewah, ya dibuat saja suatu Asrama Realino yang lebih mewah (modern). Bila kendala tsb adalah bahwa mahasiswa sekarang tidak suka akan kedisiplinan, ya memang itulah tugas dari pengurus seperti Bang Uung untuk hanya memilih mereka yang mau bercita-cita untuk menegakkan disiplin (perkara kenyataannya banyak warga yang naik penangkal petir itu lain ceritanya).

Andaikan ada kendala lain yang juga besar kemungkinan adalah adanya kekurangan Kepercayaan Diri dari pihak kita sendiri (atau pihak penyelenggara). Mungkin ada suatu krisis kepercayaan diri dalam Sarikat Yesus di Indonesia?, mungkin ada krisis kepemimpinan dalam tubuh Ordo Yesuit di Indonesia?. Mungkin ada pergeseran VISI dari KARYA Ordo Yesuit di Indonesia? Sehingga saat ini banyak anggota SJ yang menjauh dari Karya Leadership dan lebih memilih “bersembunyi” di dalam karya-karya yang berbentuk STUDI  yang hanya berurusan dengan info dan data-data dalam komputer? Semoga saja saya salah.

Yang jelas kita semua tahu bahwa berkarya dalam penanaman jiwa Leadership dalam bentuk asrama bhineka Realino bukanlah hal yang sia-sia. Apakah waktu selama 15 an yang diabdikan oleh Romo Bolsius merupakan hal yang sia-sia? Apakah dengan mengabdi sebagai pimpinan asrama Realino Romo Bolsius sebagai seorang Yesuit telah mencoreng nama Ordo SJ? tentu saja jawabnya sebaliknya. Acara Family Gathering dan berbagai aktivitas Forsino menunjukkan bahwa Romo Bolsius SJ sebagai eks pimpinan asrama Realino tak akan pernah bisa dipisahkan dari komunitas Forsino, dan bila Forsino ini dianggap suatu keberhasilan maka nama nama Romo Bolsius SJ akan selalu menjadi referensinya.  Tentu saja hal yang sama berlaku pada Romo Beek SJ yang merupakan bapak pendiri dari Asrama Realino dan juga eks pimpinan-pimpinan asrama Realino lainnya. Sebagai alumnus Asr Realino dan Khasebul saya pribadi berpendapat bahwa keharuman dan kesuksesan dari Asrama Realino dengan mudah akan menghapus segala “kontroversi” mengenai Khasebul atau karya-karya lain yang secara politik kontroversial dari pihak ordo SJ.

Sapientia et Virtus
Eko Raharjo’78

Iklan

8 Replies to “Asrama (semacam) Realino, masih perlukah?”

  1. Saudara sebangsa, setanah air, dan seantero dunia,

    Kita bersyukur pernah tinggal di asrama yang menurut kita telah membentuk pribadi-pribadi yg diperlukan untuk membangun bangsa ini serta menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa ini. Kita bangga dan mensyukurinya.

    Kita juga merasa tdk mampu utk membangun asrama mahasiswa sejenis walau kita rindu suatu saat akan muncul asrama-asrama sejenis di banyak tempat. Kalau kita merasa tdk mampu membentuk asrama, saya usul alumni realino menulis suatu buku tentang (kira-kira topiknya) “asrama mahasiwa yg nasionalis”. Nah buku itu menjadi petunjuk bila Pemda mau membangun asrama mahasiswa daerah.

    Buku tsb paling tidak dapat menjadi persembahan kita kepada bangsa ini. Buku tsb bisa saja komersil diperjualbelikan di toko buku, tetapi bisa juga dibagikan gratis kepada Pemda oleh beberapa anggota Forsino yg datang ke Pemda. Saya menawarkan diri utk menjadi salah satu editor.

    Salam dari Jayapura.
    Benny Marbun

  2. Bang Benny…

    Ide baik ini, pasti akan dipakai referensi untuk pendirian asrama baru….
    Paling tidak asrama yang masih dikelola oleh yayasan nasionalis. Tapi yang pasti bisa diusulkan untuk pendirian asrama di samping kampus kami. Terima kasih Mas Eko atas ulasannya yang selalu menarik.

    Salam
    Ronny

  3. Benar Mas Benny Marbun.

    Kalau kita tidak mampu membuat asrama semacam Realino lagi paling tidak kita mesti banyak-banyak menulis atau lebih baik lagi membuat buku-buku yang bisa menjadi acuan bila suatu saat ada pihak-pihak yang ingin merealisasikannya.

    Adalah menarik bahwa anda juga menyiratkan suatu harapan bahwa suatu kali Pemda punya kesadaran untuk membangun asrama semacam Realino. Iya mengapa tidak? Bila pihak pemerintah juga bisa menyadari betapa pentingnya usaha-usaha yang nyata dan efektif untuk menfasilitasi tumbuhnya suatu pengertian kebangsaan yang sehat dan positif diantara generasi muda yang terdidik maka bisa diharapkan munculnya angin segar yang bisa menghembus bersih udara toxic yang masih ada saat ini.

    Rendahnya penghargaan dan support dari pihak pemerintah terhadap usaha-usaha pembentukan karakter kebangsaan itulah saya kira sedikit banyak membuat Asrama Bhineka Realino pada akhirnya menyerah terhadapan berbagai deraan jaman dan harus menemui ajalnya.

    Sapientia et Virtus,
    Eko Raharjo’78

  4. Pak Eko yang Wargonjo nan Rahardjo,

    Alumni Realino ada yg sekaliber Dirjen, sekelas Profesor, seterhormat Ketua Pengadilan, dan se se lainnya. Kalau mereka ikut menulis buku tentang asrama bhinneka, ditambah tulisa teman-teman lainnya, maka pasti ada nilai plusnya. Ide membuat buku ini sebagai respon atas email para realinowan yg ingin melihat ada lagi asrama sekualitas Realino.

    Bila kita ingin menghidupkan kembali Realino, tentu bukan sekedar fisik Realino yg di Mrican Yogyakarta. Sumbangan tulisan tentang asrama Realino adalah sumbangan yg masih dapat kita berikan. Dan menurut saya, sebagai rasa terima kasih kita karena kita pernah tinggal di asrama dgn suasana yg kita dapat di Realino, maka kita terpanggil utk sharing pengalaman kita. Atau anggaplah, masyarakat berhak memperoleh informasi tentang nikmat yang kita alami. Bahwa nanti tdk ada yg memanfaatkannya, itu soal lain.

    Demikian Bung Eko.
    Tambahan, saya berharap suatu waktu saya punya kesempatan jalan ke Kanada.
    Salam.

    Benny Marbun

  5. aq juga punya impian buat bikin semacam asrama realino kecil2an; dg visi/misi spt realino; pk konsep asrama yg terbuka u semua, diseleksi
    ketat;disiplin,kekeluargaan, lengkap dg sistem pembinaan bapak, kakak, n
    anak buah…. dg acara2 spt rdc, rec/r english club kayak waktu rm bolsius
    tiap minggu menggembleng ku bersama yanto salim, gunadi, daniel,dll
    sehingga aq bisa omong inggris, kerja part time di pacto-yogya sambil buat
    skripsi, dan lebih siap waktu cari kerja di perush intern’l, sgv/andersen
    consulting yg lalu jadi accenture smp dpt beasiswa di thunderbird, arizona….. sdng di timbang2…; mungkin ditambah special courses u
    bantu penghuninya jadi bintang di fakultasnya; including course ttg
    entrepreneurship, agar angkatan muda kita lebih berani n siap buka
    usaha…, n gabung di rbc….

    lokasi sdh ada; tanahku di serpong yg sktr 5.000 m2 belum tahu mo diapain;
    tadinya mau jadi training center kantorku; tapi blm terlaksana;

    beberapa waktu yl, waktu diundang peresmian kampus prasetiya mulya
    diserpong,aq melihat perkembangan dunia kampus disekitar serpong yg luar
    biasa; binus, swiss german uni, uni multimedia nya kompas, denger2 untar n
    trisakti jg rencana bangun disana . ada yg punya data / pengalaman u
    perencanaan, studi kelayakan, or any idea?

    FWA

  6. Kalau jaman sekarang ada cita-cita ingin mengembalikan atau membangun arama realino secara fisik, nampaknya merupakan sesuatu yang membutuhkan sedikit keajaiban yang mungkin fatamorganis. Yang mungkin dapat dilakukan adalah membangun realino secara spirit dalam kehidupan kita para warganya. Ya, mungkin kalau reuni perlu ada RDC dan Dance (Cha Cha Cha) itu akan lebih menggairahkan. Aku selama ini tidak pernah ikut aktif dalam forsino. Kerinduanku kepada teman teman seangkatan 77 dan seniorku (Benyamin Mangitung……… katanya nyusul Grace ke Belanda……apa kabar?). Dalam tugasku sebagai guru, semangat realino selalu kucoba untuk kutransfer kepada peserta didikku terutama semboyan SAPIENTIA et VIRTUS. Salam.

  7. Mas Setyabudhi,

    Saya berhutang besar dengan jurus-jurus disco dan cha-cha-cha yang anda dan mas Sulis ajarkan. Iya saya setuju sekali dengan ide untuk menghidupkan roh-roh Realino dalam acara Reuni seperti mengadakan acara dansa, cuma gerakan mesti disesuaikan dengan kondisi rheumatic dan gout yang mungkin sudah menjadi pandemic diantara alumni Realino hehehe… dan bagaimana mendatangkan kembali tamu-tamu dari asr putri Syantikara, Ratna Ningsih, Cakra Kembang, Meskar, dst tanpa ribut dengan suaminya?

    Btw, saya harap anda sudah bergabung dengan Milis Forsino. Kalau di Semarang lagi saya harap bisa bertemu dengan anda (apakah punya jurus baru cha cha atau masih dengan stock lama?).

    Salam sapientia et virtus

  8. satuuuju banget bung beny dan widagdo, saya kira perjalanan bangsa ini masih jauh, keburu NKRI bubar kita mesti memikirkan Nation and character building, terutama penggodokan kader2 bangsa yang mengerti ke-Indonesiaan. Pemahaman kultur dan budaya etnis secara rasional tidak akan terjadi kalau tidak ada kontak fisik dan kontak bathin. Para calon pemimpin harus mengerti kebhinekaan dimana masing2 budaya membawa ‘logika’ peradabannya secara khas. Kita tidak akan pernah mengerti kalau tidak ada dialog yang intensif antara anak negeri, sehingga perbedaan yg absurd itu bisa diterima sebagai satu persamaan, bahkan keindahan.
    Kalaupun membuat asrama mini ala realino, tidak untuk mahasiswa tapi khusus pelajar, itupun ide cemerlang dan patut dipertimbangkan.
    Khusus utk bung Beny barangkali di dalam reuni yad sudah perlu kita menerbitkan bunga rampai tulisan yang mencakup multikulturalisme dan multi etnis yang memperkaya rasa kebangsaan. karena ke Indonesiaan tentu lahir dari sana.Tabek.
    saya ada di 08128567909.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s