Waktu Jakarta Tertinggal 1 Jam

ekoraharjoOleh Eko Raharjo ’78

Ketika transit di Taipei dalam perjalanan ke tanah air pada jam 6.00 am tak ada hal yang bisa saya kerjakan selain duduk bengong. Di depan saya ada papan penunjuk waktu elektronik yang senantiasa berganti-ganti dari satu kota ke kota besar dan penting di Asia Timur dan Tenggara, Tokyo: 7 am, Seoul: 7 am, Hongkong: 6 am, Manila: 6 am, Kuala Lumpur: 6 am, Singapore: 6 am, dst.

Saya jadi penasaran untuk cari tahu jam berapakah di Jakarta? Sekian saat saya menunggu tapi kota Jakarta tak pernah muncul di papan penunjuk tsb. Lho? Apakah Jakarta dianggap kota kecil yang tidak penting? Saya jadi tambah resah campur kekhi. Setelah melakukan perhitungan sambil melihat jam tangan saya yang masih menunjuk waktu Calgary saya figure out waktu di Jakarta adalah jam 5 am!. Buuusyyeeeetttttt !!!!! Kenapa beda sendiri? dan parahnya lagi, kenapa KETINGGALAN 1 jam????

Ini berarti ketika orang-orang di Taipei, Hongkong, Manila, Kuala Lumpur, Singapore pada jam 6 pagi sudah pada bangun, orang-orang di Jakarta masih pada molor karena masih MERASA terlalu pagi (jam 5 am). Berarti pula ketika pesaing-pesaing bisnis mereka dari Hongkong sampai Singapore sudah KERJA keras selama satu jam, para pelaku bisnis di Indonesia masih enak-enak baca koran sambil menikmati bubur ayam. Ketika semua Stock Market di kota-kota penting saingan, dari Hongkong sampai Singapore sudah membunyikan lonceng keras-keras, Pasar Bursa di Jakarta masih tenang-tenang saja ….

Saya kira pepatah “Early birds get the best worms” terlebih dalam bidang bisnis terbukti kebenarannya. Satu jam adalah waktu yang sangat signifikan. Dalam kurun waktu tsb orang bisa “ngunduh” stocks yang paling baik dan membuang yang terjelek. Dalam kurun waktu tsb segala macam informasi yang up-to-date dan crucial bisa ditransfer, dalam kurun waktu tsb berbagai macam keputusan dan transaksi penting bisa dilaksanakan. Saya tidak heran bila satu jam kemudian ketika orang-orang Jakarta siap untuk hunting yang tersisa cuma “bad worms” saja.

Kenapa Jakarta ketinggalan satu jam dari Hongkong? Kita tidak bisa beralasan bahwa Jakarta yang terletak pada longitude (garis bujur) 106 derajat 48E lebih barat dari Hongkong (114 derajat 11E) sebab Singapore yang ada pada longitude103 derajat 55E yang lebih barat dari Jakarta punya waktu yang sama dengan Hongkong. Tentu saja kita bisa berdalih bahwa Indonesia punya 3 wilayah waktu, WIB, WITA dan WIT, dimana WITA sama dengan waktu Singapore dan Hongkong dan WIT sama dengan waktu di Tokyo dan Seoul. Lalu sama dengan waktu manakah Jakarta (WIB)?! Jawabnya adalah sama dengan waktu di Dhaka, ibukota dari Bangladesh!

Oh, Man! Kalau begitu benerlah yang dikatakan Jeffrey Winters ketika berkunjung di Calgary 4 tahun yang lalu bahwa Jakarta yang nota bene merupakan CPUnya Indonesia semakin menunjuk ke arah Bangladesh ketimbang ke Seoul atau Tokyo. Kota-kota di Asia Tenggara yang dulu sama atau terbelakang dari Jakarta seperti Singapore atau Kuala Lumpur sekarang sudah semakin mendekati atau menyamai kota-kota seperti Hongkong atau Seoul sementara Jakarta malah berbalik menghadap jurusan yang salah. Bila Jakarta ingin membalikkan arah tsb, salah satu syarat mutlak adalah Jakarta mesti mau bekerja satu jam lebih awal, bangun satu jam lebih pagi. Pelaku-pelaku bisnis di Jakarta mesti mau berebut kesempatan dengan pesaing-pesaingnya dari Singapore sampai Hongkong dari menit ke menit dari start sampai finish.

Ini berarti memajukan waktu Jakarta satu jam lebih awal sehingga akan sama dengan waktu di Singapore, Kualalumpur, Manila, Taipei dan Hongkong. Konsekuensinya, Indonesia cuma perlu membagi 2 wilayah waktu yakni waktu Bagian Barat dan waktu Bagian Timur yang lebih maju satu jam. Kota-kota yang berada dalam wilayah Waktu Bagian Barat  termasuk Jakarta akan punya waktu yang sama dengan kota-kota penting dari Singapore sampai Hongkong, sementara kota-kota di wilayah waktu Bagian Timur akan punya waktu sama dengan kota-kota seperti Tokyo dan  Seoul.

Dampak keuntungan pemajuan waktu di Indonesia bagian barat ini saya yakin tidak hanya pada bidang bisnis melainkan juga pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Orang akan berangkat ke kantor, ke sawah atau ke sekolah ketika hari masih belum panas benar. Sebaliknya ketika pulang, matahari masih bersinar satu jam lebih panjang sehingga orang lebih punya kesempatan untuk bermain dan berolah raga bersama keluarga, tetangga atau teman-temannya. Walhasil, bangsa Indonesia akan lebih punya kesempatan untuk maju, makmur, sehat, bergaul, gembira dan bahagia bersama.

Apakah ini sekedar khayalan orang yang sedang mengalami jetlag saja? Kita tak akan pernah tahu bila belum mencobanya……

SeV
Eko Raharjo’78

Iklan

19 Replies to “Waktu Jakarta Tertinggal 1 Jam”

  1. Mas Dwi terimakasih atas tanggapan dan dimuatnya tulisan saya di blog forsino. Saya tidak pernah dengar atau baca diskusi mengenai “Majukan Satu Jam”. Tapi sebelumnya memang hal tsb pernah menjadi concernnya kelompok diskusi bisnis di Calgary 2 tahun yang lalu (dimana saya dulu menjadi anggotanya). Ada yang meminta saya untuk menyampaikan usulan tsb tapi karena kesibukan saya lupa, baru di Taipei saya teringat lagi. Tapi itupun saya lupa lagi ketika saya bertemu dengan para Forsinowan.

    SeV
    Eko Raharjo’78

  2. Bung Eko dan mas Dwi,

    Aktivitas kita pada umumnya adalah jam 8:00 pagi dimana kantor-kantor pemerintahan telah buka, ada juga yang mulai dari jam 7:30, kantor saya sendiri mulai jam 7:00 dan banyak perusahaan lainnya juga mulai jam 7:00 atau jam 7:30. Jadi walaupun jam kita 1 jam lebih lambat tetap saja Klop dengan negara Asean lainnya yang umumnya mulai dari jam 9:00. He he kalau di Jakarta jam 6:00 pagi sudah mulai padat.

    Yanto

  3. Dari sisi energi kelistrikan, memajukan waktu jam 1 jam diperkirakan akan memperbaiki load factor (perbandingan beban rata-rata vs beban puncak) karena kegiatan mandi (dibantu mesin pompa air), memasak (dgn rice cooker) bisa dilakukan pada saat hari masih terang di mana lampu belum perlu dinyalakan. Ketika lampu mulai dinyalakan, pompa air dan rice cooker sdh tdk digunakan maksimal lagi.

    So mari kampanyekan penyesuaian waktu Indonesia.

    Salam.
    Benny Marbun

  4. Mas Eko sungguh pengamat yang baik. Betul sekali bahwa Jakarta ketinggalan 1 jam, karena kalau dilihat waktu pagi jam 6.00 sudah terang benderang sedangkan jam 18.00 sudah gelap gulita. Dihubungkan dengan bisnis, jam kerja dll saya setuju dengan pendapat mas Eko, dihubungkan dengan energi kelistrikan, saya juga setuju dengan mas Benny. Mengatur jam itu urusan pemerintah, tapi siapa ya? Kawan2 yang di pemerintahan ada pendapat?

  5. Mas Wi, ini berbeda dengan di Kuala Lumpur dimana jam 5.30-6 am masih gelap-remang dan masih terasa sejuk. Apa bila kita sudah memahami manfaatnya, saya kira kalau serius kita bisa menjadi pressure group yang kuat sebab di group ini ada beberapa Dirjen, Professor, ada pejabat PLN, dst, dan kalau tidak salah Mas Aloysius Ro (yang mengaku sebagai anak buah saya hehehe..) merupakan ketua dari Jakarta stock market (?) maaf kalau salah. Kalau kita mau bergerak saya kira pada Agustus 2010 waktu Jakarta akan sudah SINKRON dengan waktu Singapore dan Hongkong.

    SeV
    Eko Raharjo

  6. Memang benar juga bahwa situasi perlalu-lintasan di Jakarta sering membuat perhitungan waktu menjadi tidak relevan. Dan seperti yang dikatakan oleh bung Yanto Salim banyak kantor mengkompensasikan dengan cara-caranya sendiri ada yang buka 2 jam lebih awal, ada 1,5 jam lebih awal, ada 1 jam lebih awal, mungkin ada yang 13 menit, 7 menit, 1 menit lebih awal, dst.. Pemecahan masalah yang njelimet, seenaknya sendiri dan tidak efektif sudah menjadi ciri Jakarta dan yang sudah banyak dikenal di dunia luar. Banyak orang masih tidak mau mengerti bahwa sinkronisasi dengan partner-parter bisnis baik swasta maupun pemerintah dari negara maju di kawasan Asia adalah vital agar bisa menyamakan langkah dalam derap menuju kemajuan.

    SeV
    Eko Raharjo’78

  7. Mas Eko, jika dikaitkan dg bisnis, saya melihat perusahaan swasta di Jakarta banyak yg start pukul 8am dan selesai pukul 5pm. Kalau saya match dg rata-rata jam kerja perusahaan di S’pore pukul 9am – 6pm kan sudah cocok. Dg karakter bisnis tertentu dan pertimbangan lain, perusahaan bisa membedakan entah 1 jam atau 1/2 jam kecuali bisnis kapal dan hedging commodity yg jamnya harus mengikuti London.

    Saya tidak menolak ide memajukan 1 jam, tetapi curious saja apa bedanya dg jam kerja yg sekarang toh sudah “match”. Kalau soal load factor, saya serahkan ke ahlinya Lae Benny Marbun. Yang pasti persoalan Indonesia ini selalu complicated. Pemborosan dimana-mana, khususnya di jalan raya (kemacetan). Perlu pemimpin yang nasionalis, strong, berani dan cerdas. Memajukan 1 jam belum tentu membawa manfaat seperti yg kita bayangkan pada pelaksanaannya. Bisa jadi “orang tertentu” di Indonesia harus bekerja lebih lama lagi, karena matahari masih tampak…. he…he….

  8. For your notes :

    Di Spore, HK (and even Vietnam) : standard weekly working hours is 48 hrs. Indonesia has only 40 hrs. Ini belum dihitung effectivenessnya (berapa jam dipakai untuk benar-benar bekerja, berapa dipakai untuk baca email pribadi, Facebook dst). Secara makro, memang ada persoalan quality of life, yang disebabkan oleh traffic jams, urban planning, etc.

    Indonesia secara geografis adalah sangat luas bentangannya hingga perlu ada 3 time zones (satu-satunya negara di kawasan Asia). Menyesuaikan 1 time zone akan memiliki dampak juga pada 2 time zones lainnya.

    So? seperti Budi tulis “it makes no difference”. What matter is “non multa sed multum”

    Have a long and good week end !

  9. Hah.. hah.. hah.. kang Budi ngarani kog pas.. dan mas Setiawan kakak buah saya benar, yang penting memang mutu jam kerjanya, dan bukan kuantitasnya.

    Salam,
    Tri H

  10. Mas Eko, jika dikaitkan dg bisnis, saya melihat perusahaan swasta di Jakarta banyak yg start pukul 8am dan selesai pukul 5pm. Kalau saya match dg rata-rata jam kerja perusahaan di S’pore pukul 9am – 6pm kan sudah cocok.

    Mas Budi, pertanyaan saya kenapa mulai kerja pukul 8.00? Kenapa tidak mulai pukul 9.00? Apakah karena jam 9.00 sudah kelihatan terlalu siang (terutama yang di Surabaya)? Kenapa tidak buat konsesus arloji diputar maju 1 jam menjadi jam 9.00 dimana sama dengan jam 8.00 (waktu lama). Kalau kita bisa bekerja lebih efisien kenapa pulang jam 6.00? kan kita bisa tetap pulang jam 5.00.

    Mulai kerja jam 9 itu punya banyak keuntungan sebab anak sekolah biasanya masuk lebih awal. Jadi orang tua bisa membantu persiapan anak-anak ke sekolah (atau mengantar sendiri kalau perlu). Bagi mereka yang biasa untuk bangun subuh maka akan lebih punya banyak waktu lebih panjang lagi untuk melakukan kegiatan lain bersama keluarga entah joging, badminton, atau main anggar seperti saya dan anak saya.

    Sinkronisasi waktu dengan kota-kota penting di Asia seperti Singapura, Kula Lumpur, Manila, Hongkong, Taipei, Shenzhen, Shanghai, Beijing hemat saya adalah penting untuk menyamakan dinamika, vibe, derap langkah kemajuan dengan mereka. Untuk apa kita ini suka sebutan kosong mulai kerja pagi hari jam 8.00 yang sesungguhnya bagi Singapore adalah jam 9.00 atau lebih siang (sebab di Jakarta apa lagi di Surabaya lebih terang benderang dari pada di Singapore). Apakah kita tidak malu kalau dikatakan kerjanya mulai pagi-pagi tapi hasilnya selalu terbelakang?

    Bila waktu di Jakarta (dan Surabaya) sudah sinkron dengan Singapura dan kota-kota penting dan maju lainnya, tapi masih bersikeras mau mulai kerja jam 8.00, lha ini baru bisa disebut kita lebih rajin dari mereka. Tapi juga mesti dibuktikan kerja kita lebih efisien dari mereka sehingga hasilnya (productivitynya) lebih besar dari mereka. Jadi tidak asal seperti yang dikatakan Mas Tri Hascaryo bahwa “yang penting kualitasnya bukan kuantitasnya” dalam konteks Indonesia terasa hambar sebab mana dasar dari pernyataan ini?

    Mengubah konsensus waktu itu LUAR BIASA MUDAH nya, ini tidak SESULIT seperti kita merubah mulai masuk sekolah dari Januari ke Agustus dan sebaliknya, atau mengganti Ejaan Baru, atau mengganti stempel KAR menjadi Forsino, dst. Di Kanada perubahan konsensus waktu terjadi 2 kali setiap tahunnya. Yang perlu dilakukan adalah mengumumkan (mengingatkan) saja lewat media. That’s it! Paling ada sekelompok kecil orang yang lupa tapi ini terjadi cuma sehari saja (perubahan itu dilakukan pada Weekend).

    Mesinkronisasikan waktu Jakarta dengan Singapore dan kota maju dan penting di Asia, ini sangat penting secara mental dan psikologis dimana menunjukkan bahwa kita siap untuk SATU IRAMA maju bersama mereka. Pernyataan Mas Yanto Salim yang seolah-olah mengharapkan bahwa kota-kota Singapore, Kuala Lumpur, Hongkong, Taipei, ShenZhen, Shanghai, Beijing untuk menyesuaikan waktu Jakarta adalah impian usang yang harus dicampakkan jauh-jauh. Kita mesti buka mata-mata lebar-lebar bahwa Jakarta ketinggalan jauh dari Singapore dan kota-kota maju yang saya sebut diatas. Kota-kota besar di China mau belajar dari Singapore, kenapa kita tidak? ShenZhen belajar dari Singapore sekarang lihatlah hasilnya! Kita ini sudah terbelakang tapi masih saja nekat sombong dan tinggi hati!

    SeV
    Eko Raharjo

  11. Pertama-tama saya ingin kenalan dulu dengan Mas Setiawan Tjahjono. Mas, saya angkatan 78 dari Kudus, anda angkatan tahun berapa? dan kalau boleh tahu asalnya dari daerah atau kota apa. Salam kenal ya.

    Ada beberapa pernyataan anda yang saya mohonkan untuk diklarifikasi sebab saya sungguh tidak begitu tahu poin dan juntrungnya.

    “Di Spore, HK (and even Vietnam) : standard weekly working hours is 48 hrs. Indonesia has only 40 hrs. Ini belum dihitung effectivenessnya (berapa jam dipakai untuk benar-benar bekerja, berapa dipakai untuk baca email pribadi, Facebook dst). Secara makro, memang ada persoalan quality of life, yang disebabkan oleh traffic jams, urban planning, etc.”

    Poinnya ini apa Mas? Apakah bukan membuktikan bahwa kita ini dari banyak segi ketinggalan dari Singapore, Hongkong, dst? Apakah ini bukan merupakan alasan yang kuat untuk kita mau berubah dan mengacu kepada IRAMA, TEMPO,
    DINAMIKA kerja dari mereka yang sudah terbukti sukses seperti Singapore, Hongkong, dst?

    Mas apa sih ini? mohon dijelaskan.

    “non multa sed multum” unquote? quote Indonesia secara geografis adalah sangat luas bentangannya hingga perlu ada 3 time zones (satu-satunya negara di kawasan Asia). Menyesuaikan 1 time zone akan memiliki dampak juga pada 2 time zones lainnya.

    Mas, kata hingga yang saya bold-italic adalah bukan konsekuensi alamiah melainkan keputusan bebas dari kita. Kalau kita mau bisa kita buat satu time zone. Seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan saya bila waktu Jakarta (WIB) disamakan dengan Singapore, Hongkong, dst, konsekuensinya Indonesia akan cuma punya 2 time zones sebab WIB jadi sama dengan WITA. Tentu saja 2 time zones tsb tidak bisa kita sebut WITA dan WIT, kan jadi nggandul. Lebi enak kalau yang kita hilangkan WITAnya, jadi tinggal WIT dan WIB. Saya kira ini perhitungan yang simpel.

    Terakhir,

    So ? seperti Budi tulis “it makes no difference” –

    kesimpulan ini datang dari mana? mohon sedikit dijelaskan, Terimakasih.

    SeV
    Eko Raharjo’78

  12. mas Eko, saya ikut nimbrung

    dalam banyak hal, sy kok sependapat dengan anda, dalam arti bukan “hasil” nya ansich yang penting, tp kerangka berpikirnya yang make sense yg walau agak pragmatis tp humanis..(nah apalagi nih). Kadang cara berpikir seperti ini dianggap “mendahului zaman”nya.

    Indonesia, butuh banyak orang orang seperti mas Eko, kalau Republik tercinta ini memang mau (dan harus) jadi negara yang diperhitungkan dan mendominasi dunia 30-40 tahun lagi. Bravo mas Eko. Maju terus, pantang mundur. ha..ha…

    Tidak ada yg tidak mungkin mas. Deng Xiao Ping (yang pernah dipenjarakan oleh rezim Kuo Chan tang Komunis cina) tahun 1979 menggebrak dengan duolisme ekonominya. “Tidak penting Kucing itu bewarna apa, yang penting dia mampu menangkap tikus”.Sekarang China punya cadangan deposito terbesar di dunia.

    India, mengambil jalan sedikit “berbeda”. PM Indira Gandhi memilih “swa sembada dan anti modal asing/anti kapitalisme malah cenderung ke sosialisme Uni Sovyet” karena dia yakin India bisa. Sekarang India dan China sangat diperhitungkan di dunia dalam segala ha, ukuran negara mereka seukuran “benua” dan populasi penduduknya >1 milyar mulut manusia yang harus diberi makan… Luar biasa(ini sebagai pembanding jangan ada lagi yang mengatakan, mengurus singapura yg kecil mudah bin gampang)..

    Yang penting leadership pemimpinannya (di sini kita belum berhasil). He..he..mantap tho? Teruskan ide-ide mu mas Eko….

    salam SeV, bms79

  13. Mas Eko, saya rasa rakyat Indonesia nggak pernah meng-klaim dirinya lebih rajin kerja dibandingkan bangsa lain. Justru seperti yang dibilang Setiawan bahwa kita less productive. Disinilah yang sebenarnya diperlukan bagaimana caranya meningkatkan produktivitas?

    Masalah besar lain yg dihadapi adalah culture kita yang memang “belum bisa” atau “belum sampai” untuk memenuhi standard kualitas bangsa lain (yg sudah lebih maju). Di S’pore, pemerintah menjadi motornya karena pemerintahnya cerdas dan kebetulan yg diatur tidak kompleks. Perubahan jam boleh diubah tetapi saya tidak yakin itu memberikan manfaat banyak tanpa perubahan habit, culture, policy, aturan, dll.

    Dulu ketika saya masih di S’pore (2001-2005) saya pernah berpikir seperti mas Eko, tetapi akhirnya it’s meaningless tanpa perubahan yg disebutkan di atas. Yg saya tahu orang Singapore sangat beruntung karena dimanjakan oleh pemerintahnya yg cerdas. Sehingga kalau ada hal kecil saja mereka mudah mengeluh dan mudah panic.

    Kota-kota besar di China mau belajar dari Singapore, kenapa kita tidak? ShenZhen belajar dari Singapore sekarang lihatlah hasilnya! Kita ini sudah terbelakang tapi masih saja nekat sombong dan tinggi hati!

    Mohon maaf, saya kira bangsa kita memang masih melarat, tetapi tidak sombong kok!! Malah bangsa kita sudah melarat tapi kok masih banyak senyum juga. Padahal kalau melihat orang S’pore, wajahnya begitu serius dan stress (wong sugih kok malah kayak gitu???). Terakhir, sudah melarat masih di BOM juga, tapi syukur tidak berimbas banyak pada sektor ekonomi.

    Mudah-mudahan yg terjadi sebaliknya kita menjadi bangsa yg resilience. Tinggal bgmn pemimpin kita mengelola resilience ini. Jadi seperti yg saya katakan di comment saya sebelumnya, saya tidak menolak dg memajukan 1 jam, tetapi……. it’s meaningless tanpa apa yg sudah saya sebutkan di atas. Untuk menjadi maju atau mengejar ketertinggalan kita tidak cukup hanya dg mengubah waktu. Kalau saya biasa masuk pukul 7am dan pulang pukul 6pm akan berubah menjadi kerja pukul 8am dan pulang pukul 7pm. Dan saya akan tetap berangkat 1 mobil dg anak saya (untuk menghemat). Sekarang pun seperti itu juga…

    So???

  14. quote dari Mas Budi,

    Kalau soal load factor, saya serahkan ke ahlinya Lae Benny Marbun. Yg pasti persoalan Indonesia ini selalu complicated. Pemborosan dimana-mana, khususnya di jalan raya (kemacetan). Perlu pemimpin yang nasionalis, strong, berani dan cerdas.

    Saya setuju soal penghematan enerji merupakan hal yang sangat penting. Kita harus mau menempuh berbagai cara untuk bisa lebih efisien dalam penggunaan enerji. Salah satunya adalah untuk lebih melakukan kegiatan pada siang hari (memanfaatkan sinar matahari). Juga cara-cara lain seperti membiasakan 250 juta penduduk Indonesia ini untuk tidur dengan lampu dimatikan. Ini benar-benar akan menghemat watt yang banyak.

    quote dr Mas Budi –

    Memajukan 1 jam belum tentu membawa manfaat seperti yg kita bayangkan pada pelaksanaannya. Bisa jadi “orang tertentu” di Indonesia harus bekerja lebih lama lagi, karena matahari masih tampak…. he…he…..

    Untuk memperoleh hasil yang nyata memang tergantung faktor-faktor pelaksanaanya termasuk apakah juga ada perubahan dalam attitude, mentalitas, budaya, dst. Tapi ini semua kan tantangan dari kemajuan. Jangan dikira dengan sekedar guyon-guyon, makan-makan, tidur, lalu simsalabim Jakarta tiba-tiba lebih maju dari Singapore, Hongkong, Shenzhen, dst. Saya yakin kemajuan mereka di raih dengan berpikir keras, dengan berkerja keras, dengan perubahan attitude, mentalitas, etika, budaya yang sesuai dengan tuntutan jaman.

    SeV
    Eko Raharjo’78

  15. Setuju sekali pendapat dari Mas Budi bahwa kemajuan tak akan mungkin terjadi hanya karena perubahan satu faktor atau satu variable saja. Kemajuan terjadi karena hasil dari concerting education, innovation, change of attitude, lifestyle, etc.

    Bahwa secara umum orang-orang Indonesia less productive itu sudah banyak dikenal di dunia internasional. Adalah benar bahwa Singapore, Hongkong,Taiwan, China dst ada “motor” yang menggerakkan kemajuan entah dari pihak pemerintah atau swasta. Motor penggerak ini mesti terus menerus dihidupkan. Kesan saya motor penggerak ini di Indonesia kadang hidup kadang mati. Inertia dan resistensi orang-orang Indonesia terhadap inovasi dan pemikiran baru yang berorientasi kepada kemajuan masa depan luar biasanya besarnya. Kesan saya orang Indonesia lebih suka pada tahayul dari pada ide-ide pemikiran rasional atau ilmu pengetahuan.

    Saya tidak setuju bahwa seolah-olah Singapore menghadapi masalah yang simpel dibanding dengan kita (sehingga kita bisa punya excuse untuk terus terpuruk). Kita bisa pecah-pecah Indonesia menjadi suatu area, suatu lingkungan demografi, sos-pol, budaya, atau apa saja yang lebih simpel dari Singapore tapi tetap tak bisa membuahkan kemajuan seperti Singapore.. Sebab bukan kadar PERMASALAHANnya yang berbeda melainkan taraf SOLUSInya lah yang berbeda. Saya katakan pula ini pada Federasi Anggar Indonesia dimana mereka juga merasa punya permasalah yang lebih besar dari negara-negara lain. Kanada, Amerika, Belanda, Jerman, Itali, China, Jepang, dst juga punya permasalahan besar bedanya adalah pada upaya SOLUSInya. Saya salut dengan mereka yang memutuskan untuk belajar mengenai pembinaan anggar di Calgary.

    Pemerintah Singapore, Malaysia ataupun China, dst tidaklah begitu saja kuat seperti sekarang. Terutama Singapore dan Malaysia, pemerintah disana dulu lebih atau sama lemahnya dengan di Indonesia. Mengupayakan solusi yang rasional berdasar pada referensi keberhasilan yang nyata dan sudah ada adalah kuncinya. Attitude orang-orang Singapore juga dulu tidak bedanya dengan attitude dan budaya orang-orang Melayu, India dan China pada umumnya, yakni jorok, tidak disiplin, uneducated, suka judi dan pelacuran. Singapore pada tahun 60/50 an juga masih seperti kota nelayan yang kumuh dan terbelakang sama dengan Jakarta. Resistensi terhadap pemikiran-pemikiran inovatif dan lemah/malas terhadap pengupayaan solusi inilah yang menyebabkan Jakarta tak semaju Singapore, Hongkong, SenZhen, Hyderabad, dst.

    Tidak sombong dan murah senyum itu hanya punya arti dalam konteks etika, moralitas, justice yang tepat. Kalau koruptor besar senyum-senyum dan rendah hati ya membingungkan, orang yang kecing sembarangan tapi senyum-senyum dan tidak sombong ya bikin orang garuk-garuk kepala, dst. Saya juga dibesarkan di Indonesia, saya dapat melihat bahwa banyak ketidakadilan, kekacauan dan kesengsaraan yang mendalam dibalut oleh murah senyum dan ketidak sombongan (dan ketahayulan). Tapi sekarang saya menolak untuk melihat kehidupan di Indonesia pada lapisan superfisial saja. Ini bukan berarti saya tidak bisa tersenyum atau sombong. Itu semua adalah afeksi pribadi yang tak perlu dipamer-pamerkan atau dibangga-banggakan.

    “Kalau saya biasa masuk pukul 7am dan pulang pukul 6pm akan berubah menjadi kerja pukul 8am dan pulang pukul 7pm. Dan saya akan tetap berangkat 1 mobil dg anak saya (untuk menghemat). Sekarang pun seperti itu juga…so??

    Bedanya adalah perubahan itu MENGGELINDING, motor inovasi itu berputar, bila anda bisa berubah dari kerja jam 7am di Jakarta dimana matahari sudah bergeser ke atas dan sekarang disesuaikan menjadi jam 8am dimana menjadi sinkron dengan irama dan tempo dengan orang-orang di kota-kota yang lebih maju maka anda bisa juga BERUBAH untuk punya attitude, disiplin, lifestyle, produktifitas kerja sesuai dengan orang-orang Singapore, Hongkong, Shenzhen, dst. Kenapa tidak? Bila semua orang seperti itu maka dalam waktu singkat Jakarta – Indonsia akan menyamai kemajuan Singapore, China, Jepang, Korea, dst.

    Anak-anak Indonesia yang tinggal di negara-negara maju seperti Amerika, Kanada, Jerman, Jepang, dst umumnya menjadi lebih maju walaupun kulitnya tetep kulit Indonesia dan rambutnya tidak berubah blonde. Rupanya lingkungan hidup itu punya pengaruh besar terhadap kemajuan anak/orang. Tentu saja kita tidak bisa memindahkan semua orang Jakarta ke Singapura atau Hongkong, tapi paling tidak kita bisa MIMIC suasana yang ada disana, seperti dengan sionkronisasi waktunya, irama dan dinamika kerjanya dst. Dari sana bisa meluas pada etos kerja, pada disiplin, pada tingkat produktifitas, dst

    Jadi Mas Budi, pada akhirnya memang tergantung kita masing-masing mau memutuskan untuk berubah kearah kemajuan atau mau memilih resisten terhadap ide kemajuan, tentu saja yang saya maksud ide kemajuan adalah yang sudah teruji secara rasional dan juga ada referensi nyata.

    SeV
    Eko Raharjo’78

  16. Renungan singkat ku pagi ini sebelum memulai kerja ku yang padat…

    Dalam pidato kenegaraan baru baru ini, Pak Presiden mengumumkan lagi akan ada kenaikan gaji PNS dan Polri dan TNI 5%.

    Saya sebagai karyawan swasta asing, mengucapkan selamat berbahagia kepada saudara saudara PNS, Polri dan TNI atas kenaikan gaji tersebut. Semoga semakin meningkatkan kualitas pelayanan pada masyarakat luas tanpa pandang bulu. Semoga saya tidak dicuekin lagi kalau datang ke department tertentu untuk butuh pelayanan tertentu.

    Semoga saya tidak didekatin oleh calo calo lagi untuk megurus izin izin tertentu dan berusaha menciptakan proyek proyek yang tidak pro rakyat melainkan pro kantong sendiri dan golongan. Semoga dan semoga dan semoga lainnya.

    Semoga jam 8 tepat para saudara saudara PNS sudah duduk diruang kerja masing masing dan siap untuk bekerja dan menyingkirkan segala Koran Koran , dan menutup situs Facebook, internet yang banyak menyita waktu pelayanan.

    Yah Semoga lah..jam 8 tepat sudah mulai bekerja penuh sehingga kita tidak perlu berpolemik tentang memajukan 1 jam waktu Indonesia.

    Semoga dan semogalah…

    Salam,

  17. Saya rasa Indonesia atau jakarta sebagai penggeraknya lebih mendekati arah India yang mandiri dan maju.

    Saya rasa juga dengan pembagian tiga waktu di Indonesia ini lebih menguntungkan di masa yang akan datang saya permisalkan: Bila Bali sebagai WITA indonesia yang sama waktu seperti Asia Timur kita dapat dengan mudah bersaing dengan negara Asia Timur dalam bursa efek Denpasar atau untuk Papua dengan WIT kita dapat melakukan bursa efek dengan JayaPura dan Jakarta kita yang WIB dapat lebih lama memperdagangkan bursa efek.

    Jadi, menurut saya argumen bapak hanya ilusi untuk saat ini bila Indonesia lebih maju di masa akan datang dengan menempatkan bursa efek lokal pada masing – masing tempat bukankah kita lebih diuntungkan bahwa pelaku pasar kita dapat membeli saham lebih cepat dengan WIT, bersaing dengan Negara Asia Timur melalui WITA dan dapat menahan sahan lebih lama dengan WIB.

    Hanya perlu kemauan untuk memulai sesuatu

  18. Kasian nasib kalimantan ngikut ibukota yg ketinggalan.. jadi ketinggalan jg dahh.. lebih parahnya hasil buminya di managed ibukota yg ketinggalan.. hikss.. i love my borneo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s