Perilaku Baik

Indonesia sebagai negara yang indah terletak di daerah katulistiwa dan juga dikenal sebagai Negara maritim adalah rentan terhadap beberapa bencana alam. Bila kita merenungkan kembali maka bencana alam tersebut, ada “bencana buatan manusia” yakni ulah manusia, yang menerpa bangsa dan tanah tercinta Indonesia, yang telah menelan ribuan jiwa dan kerugian harta benda milyaran rupiah, seperti perusakan lingkungan, pembalakan hutan, korupsi, terorisme dan lain sebagainya.

Berbagai bencana tersebut sangat memprihatinkan kita semua, namun kita harus dapat menghadapi dengan penuh kesabaran, penuh ketabahan iman dan sadar bahwa bencana tersebut merupakan fenomena perubahan dalam kehidupan kita. Kita tidak usah “kagetan ” dan tetap berpegang teguh apa yang kita cita-citakan bersama, bukankah Bill Clinton (1992) pernah mengatakan “Tantangan mendesak masa kini ialah apakah kita dapat menjadikan perubahan sebagai sahabat kita dan bukan musuh kita”.

Sumbang saran dan pendapat-pendapat telah banyak disampaikan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu, untuk menolong kita keluar dari situasi yang merugikan saat ini. Namun pendapat-pendapat tersebut masih belum cukup dan masih diperlukan pemikiran-pemikiran baru maupun pengalaman-pengalaman positif lainnya, guna menangkal prahara-prahara yang mengancam kehidupan bangsa.

Di bawah ini akan dipaparkan pengalaman penulis dalam meniti pendidikan ilmiah dan pendidikan niat berperilaku baik pada waktu usia muda, yakni sewaktu tinggal diasrama mahasiswa Realino di Yogyakarta.

Asrama mahasiswa Realino didirikan dari tahun 1952 ditutup tahun 1991. Penulis sendiri tinggal dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1964. Usia para penghuni asrama antara 18 tahun sampai 27 tahun. Para alumni penghuni asrama Realino lebih kurang 1400 orang, yang terdiri dari berbagai suku dan berbagai agama, mirip dengan Indonesia mini. Mayoritas alumni penghuni asrama Realino dari berbagai fakultas dari Universitas Gajah Mada. Mereka telah menekuni kehidupan dalam masyarakat dalam berbagai keahlian dan profesi seperti profesor, ahli peneliti, pegawai negeri, pebisnis, rohaniwan, ahli perbankan dan lain-lainnya, dan telah bekerja di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Pendidikan pribadi yang penulis alami selama tinggal di asrama Realino sangat mengesankan, dan telah dijadikan pedoman hidup sampai usia purna tugas. Pendidikan pribadi apakah yang telah diberikan selama tinggal di asrama Realino?

Pertama, para pengelola asrama Realino memberikan motto kehidupan kepada para mahasiswa penghuninya yakni “Sapientia et Virtus” yang dapat diartikan sebagai “Kebijakan dan kebajikan”. Juga dapat diartikan “Pandai menggunakan akal budinya dan berani berbuat sesuatu yang baik”. Suatu motto kehidupan luhur untuk pedoman mencapai tata kehidupan yang baik, bagi para mahasiswa yang akan menjadi calon-calon pemimpin pada bidang keahliannya masing-masing. “Sapientia et Virtus” adalah suatu motto kehidupan yang berdimensi sangat luas dan dapat didekati dari berbagai sudut kehidupan manusia, seperti menghargai orang lain, menghargai perbedaan, kebersamaan, kepedulian, kepemimpinan dan kedisiplinan, dan merupakan suatu tawaran nilai luhur bagi setiap mahasiswa. Para penghuni mahasiswa bebas memilih untuk menerima atau tidak pedoman dari motto tersebut.

Kedua, para penyelenggara asrama secara terus-menerus memberikan pelayanan untuk kepuasan para penghuni asrama dari sisi manajemen “service quality” yang mengacu pada “tangibility, empathy, reliability, responsiveness dan assurance”

Ketiga, para penyelenggara asrama dalam melaksanakan tugas-tugas berpedoman pada pilar-pilar keutamaan yang meliputi kesadaran diri, ingenuitas, cinta kasih dan hasrat-hasrat heroik (Chris Lowney, 2003). Mereka mendidik dan bertindak bagaikan agen perubahan niat berperilaku baik (acharya) untuk para mahasiswa penghuni asrama Realino dan semua dilakukan secara magis.

Upaya-upaya para pengelola di atas, membuahkan suasana asrama yang sangat kondusif, serta memungkinkan diberikannya tambahan pendidikan pembentukan diri, disamping ilmu yang dipelajari dari fakultas masing-masing.

Keempat, selain “tangibility” yakni fasilitas asrama yang lengkap, ada sisi lain yang tidak kasat mata yang diberikan kepada para mahasiswa penghuni asrama yakni pendidikan pembentukan pribadi-pribadi yang mempunyai niat berperilaku baik. Bila seseorang telah memiliki niat berperilaku baik, dapat diprediksi bahwa dia akan berperilaku baik dalam berbagai tantangan kehidupan seperti berperilaku jujur, disiplin dalam menuntut ilmu, mengabdi kepada masyarakat dan lain sebagainya. Bagaimana langkah-langkah yang diambil dalam pembentukan kepribadian (diri) tersebut? Menurut Ijzen (1981), seorang ahli psikologi sosial, niat berperilaku baik mempunyai (3) tiga “antecedent” (faktor pendahulu) yakni sikap, norma subyektif dan kontrol perilaku. Ketiga antecedent tersebut dapat dipelajari dan diperbaiki lewat pendidikan. Diharapkan bahwa pada setiap tindakan yang akan diambil atau problema yang dihadapi, agar dapat direnungkan dan dipertimbangkan terlebih dahulu tentang sikap, norma subyektif yang dianut, dan kemampuan untuk mengontrol perilaku. Perenungan secara positif terhadap ketiga antecedent diatas, akan membuat seseorang tetap memiliki niat berperilaku baik, apapun tindakan atau problema yang dihadapi. Pendidikan tersebut dilakukan tanpa kita sadari dan dilakukan secara berkesinambungan, selama tinggal di asrama Realino.

Dengan berbekal niat berperilaku baik, maka para alumni penghuni asrama mahasiswa Realino diharapkan dapat menjadi pribadi-pribadi yang intelek dan bermartabat, yang pada gilirannya akan dapat mendarmabaktikan diri mereka, kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Sebagai kesimpulan, membangun (kembali) niat berperilaku baik bagi generasi muda Indonesia, melalui pendidikan dalam suatu asrama semacam asrama Realino masih relevan saat ini, terutama sebagai salah satu upaya untuk menangkal bencana yang kita alami saat ini. Kita sama-sama memahami bahwa mendidik generasi muda dengan baik, akan dapat membantu membangun kehidupan suatu bangsa.

Semoga sumbangan pemikiran ini dapat menggugah kita semua, dalam upaya mendidik generasi muda, agar tabah dalam menghadapi perubahan hidup, dan tetap memiliki niat berperilaku baik bagi Nusa dan Bangsa Indonesia.

Judul naskah : Membangun (Kembali) Niat Berperilaku Baik Bagi Generasi Muda Bangsa Indonesia

DR. Ir. J. Hardanto Soenarjo
Alumni Penghuni Asrama Tahun 1959,
Ketua Umum Forum Komunikasi Realino Tahun 2006 – 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s