Tujuh Belasan, Perayaan Siapa?

Dikutip dari email mas Eko Raharjo (23 Agustus 2007)

Waktu aku masih tinggal di asrama Realino, tiap tanggal 17 agustus selalu diadakan perayaan meriah. Warga asrama merayakannya dengan upacara bendera. Tapi bukan kemeriahan itu yang aku maksud melainkan tontonan yang diselenggarakan oleh remaja kampung di tiap RT/RW, termasuk di Gejayan. Pada saat-saat itu biasanya aku pilih pergi ke halaman rumah pak RT/RW untuk menonton pentas seni remaja daripada bengong di asrama dan kena tipu Dardjami.

Seni dan kreativitas remaja kampung ini selalu mengundang kekaguman. Ada pementasan tarian klasik, ada modern, kontemporari, ada nyanyian pop, ndangdut, ada pula deklamasi. Pokoknya serba apiklah sampai muncul tontonan klise yakni adegan drama gerilyawan dan tentara kumpeni dimana pihak gerilyawan berdandan bak jembel dipukuli dan dikata-katai oleh serdadu kumpeni “kowe orang extremist… god verdomzeg…etc”

Tentu saja bisa dipercaya bahwa ada gerilyawan yang tertangkap dan dianiaya oleh tentara penjajahan, tapi apakah ini bukan suatu cara penghayatan yang paling dangkal – superficial dan yang sangat menyederhanakan permasalahan (dari sistem penjajahan)?

Pengorbanan tentara Indonesia, baik sebagai gerilyawan maupun tentara formal, hanya mewakili sebagian kecil dari penderitaan bangsa Indonesia akibat sistem penjajahan. Daendels yang dikenal sebagai Ndoro Guntur untuk mensukseskan proyek pelebaran dan perataan jalan raya pos dari Anyer sampai Panarukan telah meminta tumbal puluhan ribu nyawa rakyat. Pramudya Ananta Toer menyebutnya sebagai genocide di Jawa. Penerapan politik kultur stelsel dari Van Den Bosch membuat rakyat petani Jawa mati kelaparan di daerah yang merupakan lumbung padi.

Tidak ada satupun dari korban penjajahan yang berlangsung ratusan tahun tsb yang merupakan pihak militer, punggawa, priyayi atau kelas feodal lainnya. Sebaliknya dalam berbagai catatan sejarah diungkapkan bahwa kelas feodal, priyayi, punggawa, justru berlaku memeras dan kejam terhadap rakyat Indonesia. Jadi mengapa setiap kali memperingati tujuh belasan yang semestinya merupakan ulang tahun kemerdekaan seluruh bangsa Indonesia selalu menyempit kepada pengagung-agungan perlawanan fisik dari kaum gerilyawan, militer?.

Tentu saja patut disukuri bahwa pada masa perjuangan fisik lapisan elite bangsa Indonesia bersatu padu melepaskan ikatan primordial kesukuan, ras dan keagamaan bersama-sama mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Namun ini saja tidak cukup. Kemerdekaan Indonesia berarti juga memikul tanggung jawab untuk memberdayakan rakyat yang merupakan korban utama dari sistem penjajahan yang ada. Kemerdekaan Indonesia berarti kesepakatan untuk membentuk pemerintahan dengan struktur dan sistem yang bebas dari pemerasan dan eksploitasi rakyat.

Pertikaian, perebutan kekuasaan dan pengaruh antara elite bangsa selama tahun 50an menunjukkan bahwa bukanlah rakyat yang menjadi pusat dari kemerdekaan melainkan segelintir kecil lapisan elite. Peristiwa tragedi 65 yang mengorbankan ratusan ribu rakyat semakin memperjelas bahwa rakyat dianggap bagian yang tidak penting, yang tidak perlu masuk hitungan dalam proses pembentukan kedaulatan baru Republik Indonesia. Sebagai akibatnya, kita saksikan bahwa rakyat Indonesia kebanyakan adalah massa apung yang bodoh, yang mudah disetir kesana dan kesini, yang gampang diprovokasi untuk ini dan itu, serba bingung dan senantiasa terombang-ambing.

Salam
Eko Raharjo

Iklan

One Reply to “Tujuh Belasan, Perayaan Siapa?”

  1. waduh, membaca ini rasanya, semangat patriotik/nasionalis tidak terukur hanya kerana menyematkan merah putih didada baju atau memasang bendera merah putih di depan rumah tapi bagaimana sikap kita melihat kondisi negara dan bangsa kita semakin jauh dari rasa MERDEKA……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s