Pegangsaan Timur 56 dan Pahlawan Remaja Pandu

PEGANGSAAN TIMUR 56 DAN PAHLAWAN REMAJA PANDU
Oleh: R. Darmanto Djojodibroto
Hari proklamasi kemerdekaan selalu kita rayakan dengan rasa gembira dan perasaan syukur. Namun pernah terjadi hari bersejarah tadi diliputi rasa duka yang sangat mendalam. Kejadiannya pada 17 Agustus 1948, hampir enampuluhsatu tahun yang lalu ketika bangsa Indonesia mendapat perlakuan sangat kejam dari tentara KNIL*. Ketika Pemerintah RI berkedudukan di Yogyakarta, penduduk Jakarta tetap berjuang dengan gigih menentang tentara pendudukan yang selalu memprovokasi rakyat. Banyak pejuang yang tertangkap dijatuhi hukuman tembak mati oleh Belanda. Kekejaman KNIL tidak hanya menimpa orang dewasa, anak-anak remaja pandu pun tidak luput dari tekanan Belanda. Keganasan Belanda memuncak pada bulan Agustus 1948.
Pada malam hari di tanggal 17 Agustus 1948 pandu-pandu merayakan hari ulang tahun kemerdekaan dengan mengadakan upacara api unggun di halaman rumah jalan Pegangsaan Timur 56, di rumah kediaman Bung Karno sebelum Pemerintah RI hijrah ke Yogya; di rumah ini juga kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan. Seorang pandu ditembak mati oleh tentara Belanda. Kejadian penembakan remaja pandu ini ini tercatat pada buku “Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan” (biografi) terbitan PT Gunung Agung Jakarta 1980, buku “Sekitar Perang Kemerdekaan” tulisan Jendral A.H. Nasution terbitan Penerbit Angkasa Bandung 1978 dan buku “Jembatan Antar Generasi, Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942-1945” terbitan Pustaka Sinar Harapan Jakarta 1998. Penulis perlu menceritakan kembali peristiwanya sehubungan kenyataan banyak anggota masyarakat saat ini tidak lagi mengenal sejarah para pahlawan.
Pada malam hari itu sekelompok remaja pandu putra dan putri memperingati hari kemerdekaan di tempat diproklamirkannya kemerdekaan. Ketika pandu-pandu sedang asyik di sekeliling api unggun tiba-tiba terdengar rentetan tembakan tentara pendudukan KNIL. Prof. Bahder Djohan yang bertempat tinggal di Jl. Kimia, tidak jauh dari tempat kejadian, selain mendengar suara tembakan juga gelisah karena anak perempuannya yang juga pandu  ikut bergabung dalam upacara ini. Tidak lama setelah terdengarnya tembakan, anak prof. Bahder Djohan pulang sampai ke rumah sambil membawa kabar bahwa seorang remaja pandu laki-laki telah tertembak dan sudah di bawa ke RSUP (sekarang RS Cipto Mangunkusumo). Prof Bahder yang tinggal dekat dengan RSUP sebagai dokter dan sebagai Ketua Badan Perwakilan Palang Merah Indonesia segera ke RSUP. Beliau menemui seorang remaja tergeletak dengan leher tertembus peluru, keadaannya sangat gawat banyak darah keluar. Upaya mengganti darah yang hilang tidak berhasil menyelamatkan jiwanya. Remaja tadi telah menjadi syuhada ditembus peluru Belanda. Buku tulisan Jendral AH Nasution  memuat identitas remaja pandu yang pahlawan ini sebagai Soeprapto, murid sekolah Taman Dewasa (SMP-nya Taman Siswa) Kemayoran kelas 3, anak dari seorang jurist Mr. A. Dwidjosewojo. Meninggal di RSUP Jakarta pada 18 Agustus 1948 jam 00.30  akibat ditembak serdadu KNIL pada 17 Agustus 1948  sekitar jam 20.00.
Selanjutnya prof Bahder Djohan menceritakan, keesokan harinya sehabis menghantarkan jenazah remaja pahlawan Soeprapto ke pemakaman, beliau mampir ke Pegangsaan Timur 56 untuk melihat bekas-bekas tembakan KNIL. Didapatinya ada tiga lubang di loteng tengah yang bisa menggambarkan betapa dahsyatnya penembakan waktu membubarkan upacara api unggun para pandu. Peristiwa ini merupakan kenangan dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Siraman darah remaja Soeprapto menambah gelora semangat perjuangan bagi penduduk Jakarta.
Perlu perhatian
Di sini ada kenyataan yang perlu mendapat perhatian. Peristiwa heroik tersebut di atas tidak lagi  diketahui oleh masyarakat umum. Organisasi kepanduan pun tidak mengingatnya, mereka seolah tidak lagi bangga mempunyai anggota yang juga pahlawan. Begitu pula rumah tempat proklamasi kemerdekaan diikrarkan, yang sebenarnya merupakan situs sejarah juga telah dirobohkan. Sejarah tidak lagi dianggap penting, sehingga warga bangsa ini tidak tahu lagi di mana tepatnya posisi Bung Karno saat membaca teks proklamasi, di mana Bung Hatta berdiri, dan di mana perwira PETA Latif Hendraningrat menaikkan Sang Merah Putih. Kenyataannya yang ditemui sekarang ini,  di tanah di mana Bung Karno mengucapkan teks proklamasi, oleh Presiden Pemimpin Besar Revolusi didirikan tugu bergambar petir yang disebutnya sebagai “bledèg”. Pemimpin Besar Revolusi lebih mengagumi simbol bledèg ketimbang situs sejarah dengan alasan bledèg didengarkan oleh 5 benua dan 7 samudera. Presiden Soekarno sebagai Presiden Pemimpin Besar Revolusi telah melaksanakan impiannya pull down yesterday build up tomorrow sesuai pidatonya, tanpa memandang yang di-pull down itu situs sejarah ataukah bangunan tanpa arti. Banyak orang berpendapat ketika merobohkan rumah tempat proklamasi diikrarkan, Presiden Soekarno bukan lagi Bung Karno yang dicintai oleh rakyat Indonesia.
Yang perlu dilakukan
Yang perlu  kita lakukan sekarang adalah:
1. Mengajari anak-anak usia sekolah dasar sampai sekolah menengah sejarah perjuangan kemerdekaan lebih serius lagi agar mereka mengenalnya dengan benar.
2. Pernah ada pemikiran untuk mengembalikan situasi bangunan-bangunan di Pegangsaan Timur 56 ke situasi seperti saat diproklamasikannya kemerdekaan. Pemikiran untuk merekonstruksi ini bisa ditelaah kembali untuk kelayakan dan kemungkinan pelaksanaannya sehubungan masih ada bahan-bahan autentik yang mendukungnya.  Ada keyakinan bila dikembalikan kepada situasi seperti semula, lokasi ini akan lebih banyak menarik perhatian warga bangsa Indonesia ketimbang kepada sosok Gedung Pola atau tugu proklamasi. Nilai seribu buah Gedung Pola yang megah tidak akan pernah bisa menyamai nilai sejarah sebuah Pegangsaan Timur 56 yang sederhana.
3. Untuk penghormatan kepada remaja pandu Soeprapto yang gugur ditembak KNIL perlu didirikan Scout Memorial berupa tulisan pada lempengan logam terbentang di atas tanah di mana ia di tembus peluru.
4. Di tempat lain, misalnya di Gedung Pusat Taman Siswa di Jalan Taman Siswa Yogyakarta didirikan cenotaph sebagai penghormatan kepada Soeprapto seorang murid Taman Dewasa yang gugur demi tanah airnya.
*) KNIL: Koninklijk Nederlandsch-Indies Leger (tentara pendudukan Hindia-Belanda)

rdd2Oleh: R. Darmanto Djojodibroto

Hari proklamasi kemerdekaan selalu kita rayakan dengan rasa gembira dan perasaan syukur. Namun pernah terjadi hari bersejarah tadi diliputi rasa duka yang sangat mendalam. Kejadiannya pada 17 Agustus 1948, hampir enampuluhsatu tahun yang lalu ketika bangsa Indonesia mendapat perlakuan sangat kejam dari tentara KNIL*. Ketika Pemerintah RI berkedudukan di Yogyakarta, penduduk Jakarta tetap berjuang dengan gigih menentang tentara pendudukan yang selalu memprovokasi rakyat. Banyak pejuang yang tertangkap dijatuhi hukuman tembak mati oleh Belanda. Kekejaman KNIL tidak hanya menimpa orang dewasa, anak-anak remaja pandu pun tidak luput dari tekanan Belanda. Keganasan Belanda memuncak pada bulan Agustus 1948.

Pada malam hari di tanggal 17 Agustus 1948 pandu-pandu merayakan hari ulang tahun kemerdekaan dengan mengadakan upacara api unggun di halaman rumah jalan Pegangsaan Timur 56, di rumah kediaman Bung Karno sebelum Pemerintah RI hijrah ke Yogya; di rumah ini juga kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan. Seorang pandu ditembak mati oleh tentara Belanda. Kejadian penembakan remaja pandu ini ini tercatat pada buku “Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan” (biografi) terbitan PT Gunung Agung Jakarta 1980, buku “Sekitar Perang Kemerdekaan” tulisan Jendral A.H. Nasution terbitan Penerbit Angkasa Bandung 1978 dan buku “Jembatan Antar Generasi, Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942-1945” terbitan Pustaka Sinar Harapan Jakarta 1998. Penulis perlu menceritakan kembali peristiwanya sehubungan kenyataan banyak anggota masyarakat saat ini tidak lagi mengenal sejarah para pahlawan.

Pada malam hari itu sekelompok remaja pandu putra dan putri memperingati hari kemerdekaan di tempat diproklamirkannya kemerdekaan. Ketika pandu-pandu sedang asyik di sekeliling api unggun tiba-tiba terdengar rentetan tembakan tentara pendudukan KNIL. Prof. Bahder Djohan yang bertempat tinggal di Jl. Kimia, tidak jauh dari tempat kejadian, selain mendengar suara tembakan juga gelisah karena anak perempuannya yang juga pandu  ikut bergabung dalam upacara ini. Tidak lama setelah terdengarnya tembakan, anak prof. Bahder Djohan pulang sampai ke rumah sambil membawa kabar bahwa seorang remaja pandu laki-laki telah tertembak dan sudah di bawa ke RSUP (sekarang RS Cipto Mangunkusumo). Prof Bahder yang tinggal dekat dengan RSUP sebagai dokter dan sebagai Ketua Badan Perwakilan Palang Merah Indonesia segera ke RSUP. Beliau menemui seorang remaja tergeletak dengan leher tertembus peluru, keadaannya sangat gawat banyak darah keluar. Upaya mengganti darah yang hilang tidak berhasil menyelamatkan jiwanya. Remaja tadi telah menjadi syuhada ditembus peluru Belanda. Buku tulisan Jendral AH Nasution  memuat identitas remaja pandu yang pahlawan ini sebagai Soeprapto, murid sekolah Taman Dewasa (SMP-nya Taman Siswa) Kemayoran kelas 3, anak dari seorang jurist Mr. A. Dwidjosewojo. Meninggal di RSUP Jakarta pada 18 Agustus 1948 jam 00.30  akibat ditembak serdadu KNIL pada 17 Agustus 1948  sekitar jam 20.00.

Selanjutnya prof Bahder Djohan menceritakan, keesokan harinya sehabis menghantarkan jenazah remaja pahlawan Soeprapto ke pemakaman, beliau mampir ke Pegangsaan Timur 56 untuk melihat bekas-bekas tembakan KNIL. Didapatinya ada tiga lubang di loteng tengah yang bisa menggambarkan betapa dahsyatnya penembakan waktu membubarkan upacara api unggun para pandu. Peristiwa ini merupakan kenangan dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Siraman darah remaja Soeprapto menambah gelora semangat perjuangan bagi penduduk Jakarta.

Perlu perhatian

Di sini ada kenyataan yang perlu mendapat perhatian. Peristiwa heroik tersebut di atas tidak lagi  diketahui oleh masyarakat umum. Organisasi kepanduan pun tidak mengingatnya, mereka seolah tidak lagi bangga mempunyai anggota yang juga pahlawan. Begitu pula rumah tempat proklamasi kemerdekaan diikrarkan, yang sebenarnya merupakan situs sejarah juga telah dirobohkan. Sejarah tidak lagi dianggap penting, sehingga warga bangsa ini tidak tahu lagi di mana tepatnya posisi Bung Karno saat membaca teks proklamasi, di mana Bung Hatta berdiri, dan di mana perwira PETA Latif Hendraningrat menaikkan Sang Merah Putih. Kenyataannya yang ditemui sekarang ini,  di tanah di mana Bung Karno mengucapkan teks proklamasi, oleh Presiden Pemimpin Besar Revolusi didirikan tugu bergambar petir yang disebutnya sebagai “bledèg”. Pemimpin Besar Revolusi lebih mengagumi simbol bledèg ketimbang situs sejarah dengan alasan bledèg didengarkan oleh 5 benua dan 7 samudera. Presiden Soekarno sebagai Presiden Pemimpin Besar Revolusi telah melaksanakan impiannya pull down yesterday build up tomorrow sesuai pidatonya, tanpa memandang yang di-pull down itu situs sejarah ataukah bangunan tanpa arti. Banyak orang berpendapat ketika merobohkan rumah tempat proklamasi diikrarkan, Presiden Soekarno bukan lagi Bung Karno yang dicintai oleh rakyat Indonesia.

Yang perlu dilakukan

Yang perlu  kita lakukan sekarang adalah:

  1. Mengajari anak-anak usia sekolah dasar sampai sekolah menengah sejarah perjuangan kemerdekaan lebih serius lagi agar mereka mengenalnya dengan benar.
  2. Pernah ada pemikiran untuk mengembalikan situasi bangunan-bangunan di Pegangsaan Timur 56 ke situasi seperti saat diproklamasikannya kemerdekaan. Pemikiran untuk merekonstruksi ini bisa ditelaah kembali untuk kelayakan dan kemungkinan pelaksanaannya sehubungan masih ada bahan-bahan autentik yang mendukungnya.  Ada keyakinan bila dikembalikan kepada situasi seperti semula, lokasi ini akan lebih banyak menarik perhatian warga bangsa Indonesia ketimbang kepada sosok Gedung Pola atau tugu proklamasi. Nilai seribu buah Gedung Pola yang megah tidak akan pernah bisa menyamai nilai sejarah sebuah Pegangsaan Timur 56 yang sederhana.
  3. Untuk penghormatan kepada remaja pandu Soeprapto yang gugur ditembak KNIL perlu didirikan Scout Memorial berupa tulisan pada lempengan logam terbentang di atas tanah di mana ia di tembus peluru.
  4. Di tempat lain, misalnya di Gedung Pusat Taman Siswa di Jalan Taman Siswa Yogyakarta didirikan cenotaph sebagai penghormatan kepada Soeprapto seorang murid Taman Dewasa yang gugur demi tanah airnya.

*) KNIL: Koninklijk Nederlandsch-Indies Leger (tentara pendudukan Hindia-Belanda)

Iklan

One Reply to “Pegangsaan Timur 56 dan Pahlawan Remaja Pandu”

  1. Pejuang semacam ini yang betul2 kita namakan Pejuang dan Pembela Ibu Pertiwi bukan seperti sekarang pejuang mencari lembaran Sudirman !
    Saya secara pribadi bisa membayangkan peristiwa pada malam tersebut ketika pada berkumpul disekitar api unggun persis seperti kalau kita para pramuka membuat api unggun dan tiba2 dalam salah satu acara yang sedang berlangsung ….. ada serentetan tembakan dari luar dan seseorang tergelatak ….. dan acara bubar …. dan ada sosok tubuh dilarikan ke RSUP …. dan ada kematian dan itulah Sang Pahlawan kita…. !!
    Siap dan hormat kita untuk Pandu Suprapto ! The great hero came from boyscout …. Selamat jalan pahlawan Ibu Pertiwi telah menantimu di tempat yang paling indah disisi Tuhan . Amin

    Salam Pramuka !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s