Realino Memberikan Kesadaran kebangsaan

Oleh Eko Raharjo

Saya kira tidak ada yang meragukan bahwa manusia merupakan mahluk yang suka berkomplot seperti srigala atau serangga. Ada bani Israel, ada bani Arab, ada bangsa Jerman, bangsa Inggris, bangsa China, dst. Wajarlah kalau saya juga termasuk dalam satu bangsa yakni bangsa Indonesia dan punya satu negara yang disebut negara Indonesia dan satu bahasa yang disebut bahasa Indonesia. Cuma yang bagi saya rada aneh adalah kata Indonesia bukan berasal dari bahasa Indonesia dan bukan pula dari bahasa daerah, seperti Jawa, Minang, Batak, Dayak, dst.

Di waktu kecil bila mendengar nama Indonesia di benak saya tidak pernah terbayang suatu negara kepulauan yang amat luas dengan aneka ragam penduduk, melainkan sebuah radio listrik di rumah saya yang kuno, besar dan suka nyetrum. Sebab dari sanalah kata-kata Indonesia secara rutin dikumandangkan, seperti: “Inilah siaran Radio Republik Indonesia”. Saya kira orang lain juga punya masalah pemahaman identitas kebangsaan seperti saya. Karena saya tahu kebanyakan orang pada waktu itu cuma mengenal kesatuan tetangga sekitar saja.

Pada waktu tahun 60 an (sesudah tragedi PKI) kalau ada seorang pemuda baru dari kota lain yang muncul di lingkungan tetangga, dan sedikit petinthang-petinthing, bisa dipastikan tidak sampai satu jam orang tsb pasti sudah dikeroyok oleh pemuda lokal. Jangankan pemuda dari kota lain yang sah digolongkan sebagai orang asing, dengan pemuda dari kampung tetangga saja tawuran masal kadang terjadi. Bagaimana mungkin masyarakat yang mudah saling curiga dan bermusuhan hanya karena perbedaan yang tidak signifikan seperti beda kampung, beda kota, beda logat bahasa, dst, seperti itu kok bisa-bisanya punya konsepsi sebuah bangsa dan negara kesatuan besar yang disebut Indonesia?

Tentu saja ini berkat jasa dan kehebatan dari para bapak-bapak bangsa kita yang sedemikian teguh dan tegar dalam memperjuangkan cita-cita trewujudnya suatu negara Kesatuan Indonesia yang merdeka. Namun berapa banyakkah jumlah para pejuang yang paham mengenai politik kenegaraan ini? Seribu? Sepuluh Ribu? Seratus Ribu? Bagaimana dengan jutaan rakyat yang tersebar di berbagai pulau, kabupaten dan desa-desa? Saya yakin kebanyakan dari mereka tidak saling mengenal satu sama lain, tidak pernah kontak dan tidak tahu menahu satu sama lain.

Perjumpaan saya pertama kali dengan orang dari Papua adalah waktu saya masih SD dan benar-benar memalukan. Waktu itu saya sedang berada di teras di rumah teman saya, ketika melihat seorang bapak sedang naik sepeda saya berteriak-teriak sambil tertawa dan jogedan:”hey..hey..hey.. lihat, lihat, ada orang Irian, ada orang Irian… ha hey ha hey…. Tidak saya sangka, bapak tsb menghentikan sepedanya dan berbalik menuju ke arah saya. Bisa dibayangkan betapa takutnya saya waktu itu. Saya sudah mengira kepala saya akan dipukul atau dijitak sebab hal macam tsb pda waktu itu lazim dilakukan bahkan oleh guru-guru di sekolah. Ternyata bapak tsb cuma bicara dengan suaranya yang dalam dan halus: “Jangan begitu lagi ya nanti saya laporkan ibumu”.  Oh leganya…

Meskipun perlu diakui konsep kebangsaan Indonesia adalah konsep yang amat brilliant namun pada kenyataannya tidak ada yang tahu persis bagaimana mewujudkan suatu bangsa Indonesia yang satu seperti dalam semboyan Bhineka tunggal Ika. Jelaslah nation building merupakan hal yang crucial dalam NKRI pada waktu itu. Ini disadari oleh pemimpin-pemimpin bangsa seperti Sukarno dan Hatta yang senantiasa meletakkan politik kesatuan lebih atas dari segalanya. Namun cara-cara politik saja tidaklah cukup, perlu suatu perombakan sosial dan budaya yang mampu memunculkan kesadaran dan pembentukan karakter kebangsaan baru Indonesia. Ini pun saya kira sudah disadari oleh para bapak bangsa tsb. Mungkin memang ada unsur-unsur luar yang tidak menghendaki trebentuknya suatu bangsa dan negara Indonesia yang kuat yang tidak mau bersekutu dengan Amerika dan Inggris sehingga bangsa Indonesia sampai sekarang masih merupakan bangsa yang lemah.

Adalah disayangkan bahwa di bawah rezim Orba kesadaran dan pembentukan karakter kebangsaan itu menjadi dilupakan sama sekali. Kesatuan Indonesia lebih berlandaskan pada kesamaan tujuan yakni pada meningkatnya GDP. Kesadaran kebangsaan tidak terbentuk melalui proses interaksi sosial dan budaya melainkan melalui doktrin praktis yang dibuat oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu sebagai anak SMA pengenalan saya terhadap saudara sebangsa yang berbeda suku, budaya, bahasa, agama dan kepercayaan hanyalah melalui retorika PSPB dan P4, yang tak banyak berguna untuk memahami realita dari pluralitas Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankan bila setiap kelompok, golongan, suku, agama akhirnya membuat penafsiran sendiri-sendiri mengenai kebangsaan Indonesia.

Kesimpang-siuran dari pemahaman kebangsaan ini tak pelak berakibat benturan-benturan (yang saya yakin kebanyakan tidak disengaja dan tidak dengan maksud jahat). Ketika saya diterima di FK UGM saya beruntung bisa tinggal di pondokan mahasiswa-mahasiswa top UGM yang berasal dari kota asal saya Kudus (saya sendiri lulusan SMA Demak). Namun saya yang satu-satunya simpatisan Katolik di pondokan tersebut tak menyangka ditanya dengan pertanyaan yang sangat personal yakni: bagaimana bisa Yesus dianggap sebagai Tuhan? Teman saya tsb tidak menyadari bahwa pertanyaan tsb bila dilemparkan dalam kehidupan nyata (bukan dalam forum diskusi) adalah sangat offensive. Semenjak itu saya tidak pernah lagi merasa aman tinggal bersama mereka. Sungguh suatu kebetulan, ketika saya sedang merenung-renung, mata saya menangkap iklan Asrama Realino di dalam kotak sampah. Dan kebetulan pula di FK UGM ada pengumuman bagi yang mengikuti kuliah agama Katolik perlu menghubungi Rm Lukas di Asrama Realino… Gampang ditebak keesokan harinya saya sudah di bawah tirani mas Felix Sutandy untuk melakukan push up di urinoir di Villa Utara hehe…

Komunitas Asrama Realino menjawab apa yang menjadi kebutuhan anak-anak bangsa yang masih muda ini, yakni untuk bergaul dan mengenal secara nyata saudara sebangsanya yang berbeda suku, budaya, bahasa, agama dan kepercayaan. Kalau tidak di Realino mana mungkin saya mengenal secara dekat saudara-saudara dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusatenggara, Flores, Bali dan Pare, Kediri? Dari sana saya tahu bahwa saudara-saudara dari luar Jawa adalah juga mahasiswa-mahasiswa yang pintar dan berbakat yang suka berteman, bercengkerama, guyonan, menikmati musik bersama? Saya yakin, komunitas asrama Realino telah membantu saya memahami konsep kebangsaan Indonesia. Saya bisa tahu nilai-nilai mana yang menjadi kebanggaan bersama dan mana yang dianggap tidak terpuji. Nilai-nilai nasional ini merupakan dasar dari pembentukan karakter kebangsaan, sehingga sebagai bangsa kita mempunyai satu pengertian, sikap dan tingkah laku, yang berfungsi sebagai National Code of Conduct.

Andai kata pergaulan di Realino dikontrol dengan aturan ketat dan kedisiplinan yang mati maka saya kira tak akan banyak warga yang punya pengalaman yang unik dan berkesan. kehidupan di asrama realino dipandu dengan semboyan Sapientia et Virtus yang saya pribadi suka menafsirkan sebagai Keberanian dalam Berpikir. Ini merupakan tantangan besar, sebab dalam komunitas yang plural kompromi dan toleransi merupakan hal yang tak boleh ditinggalkan. Namun, di lain pihak, bila kita sekedar bertahan dan bersembunyi dalam toleransi dan kompromi saja maka tak akan mungkin muncul kemajuan. Kendati dalam situasi guyub dan rukun kita semua akan mandeg. Sapientia et Virtus menantang kita untuk berani berpikir maju kendati segala resiko kecurigaan dan kesalah pahaman dari saudara-saudara kita. Sampai suatu saat kita masing-masing bisa membebaskan diri kita dari segala ikatan kepicikan apakah kesukuan, tradisi kedaerahan, agama dan kepercayaan. Mungkin ini tidak terjadi pada masa hidup kita, tapi paling tidak kita bisa berharap bahwa anak-cucu kita kelak akan bisa menikmatinya.

Sapientia et Virtus
Eko Wargonyo Raharjo’78

Iklan

2 Replies to “Realino Memberikan Kesadaran kebangsaan”

  1. Salam sejahtera Bung Eko….
    Boleh nimbrung diluar konteks tulisan anda ya.
    Saya hanya ingin tahu apakah bung teman seangkatan saya..FK UGM 78.
    CCHC di Minomartani Kring IV dengan kepala Dukuh pak Badhow.
    Salam.
    Ambarwati

  2. kita sadar,negara kita adalah negara yang kaya raya.namun rasa persatuan timbul jika terjadi kesewenang-wenangan,penghinaan,merasa dikucilkan bangsa lain,etc.sungguh indah jika rasa persatuan itu timbul apa adanya,bukan karena merasa senasib karena diremehkan atau apalah itu namanya.semestinya orang banyumas bangga dengan ngapaknya,orang papua bangga dengan hitamnya,orang batak dengan logatnya.tetapi apa yang terjadi??kebanyakan warga negara indonesia kita ini malah merasa lucu dengan hitamnya papua,ngapaknya banyumas, dan dengan logat batak, sehingga itu jadi bahan lucu-lucuan.
    semestinya pikiran kita bisa lebih dewasa dan terbuka lagi.
    seandainya kita dulu dijajah oleh inggris misalnya,tentunya kita sudah menjadi negara yang maju…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s