Perjuangan Sesudah Bebas

Bagian ketujuh dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

Misterius!

Itulah yang bisa disimpulkan dari proses keluarnya Sariman dari Penjara Wirogunan. Begitu sidang pengadilan dibuka, lalu seperti biasa panitera pengadilan membacakan tata tertib dan ringkasan sidang terdahulu. Waktu sidang akan dimulai, ketua sidang pengadilan, yaitu Ketua Hakimnya minta diskors, karena akan membacakan telegram yang barusan diterima. Isinya yaitu menghentikan sidang perkara tuduhan Sariman sebagai agen CIA, atas perintah Presiden RI dan Pemimpin Besar Revolusi. Alasannya Sariman bukan agen CIA. Selesai dibaca, lalu Ketua Hakim menutup sidang dan bubar. Aneh sekali!

Koran lokal di Yogyakarta, seperti KR dan lain-lain keesokan harinya memuat berita ini. Tempatnya di halaman yang tidak strategis. Kecil, singkat dan tidak menyolok. Masyarakat dan tokoh2 politik lokal di Yogya maupun tokoh ormas2 tidak ada yang protes, tidak ada yang ribut-ribut. Pemberitahuan ke pimpinan Realino pun dilakukan melalui telpun dari staf di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Suasana politik di tanah air memang sedang memanas pada awal 1965. Para mahasiswa yang aktif di ormas2 politik setiap hari berkumpul di markasnya masing-masing. Mereka diminta berjaga-jaga dan menunggu berita baru dari markas pusat Jakarta, walau setiap hari mendapat briefing pimpinan di Yogya.

Berita yang muncul di headline di koran lokal maupun nasional, yang menegangkan, bukan dihentikannya proses pengadilan Sariman, tetapi perintah dari pimpinan ketua PKI, DN Aidit, yang ditujukan kepada ormas mahasiswa CGMI, underbouwnya PKI, agar CGMI berjuang membubarkan HMI. Disertai `ancaman’ yang bernada humor bahwa kalau ormas mahasiswa HMI tidak bisa dibubarkan, maka DN Aidit memerintahkan agar semua anggauta CGMI memakai sarung. CGMI dianggap lembek dan tidak pecus berjuang.

Proses penjemputan Sariman dari penjara Wirogunan ke asrama Realino dilakukan oleh romo Willemborg dan Realinowan, dengan hati2 dan waspada. Keluar dari penjara Wirogunan Yogyakarta, Sariman langsung menuju Asrama Mahasiswa Realino di jalan Gedjajan. Sariman masih diijinkan tinggal di Realino.

Masalah yang dimiliki Sariman waktu keluar dari penjara adalah dia tidak mempunyai uang. Ditambah status kemahasiswaan Sariman dalam keadaan dipecat, masih belum direhabiliter. Semua tahu bahwa rehabilitasi perlu waktu yang mungkin cukup lama. Sariman perlu hidup, kondisi tabungan yang dimilikinya sudah kosong. Romo Willemborg memutuskan untuk membolehkan Sariman tinggal gratis di Realino, sampai selesai rehabilitasinya. Tapi Sariman memutuskan lain, dia memilih untuk kost di luar asrama Realino.

Untuk mencari makan, diam-diam Sariman menjadi tukang becak dan pedagang kaki lima yang menjual dagangannya/asongannya di trotoir Malioboro. Tapi itu hanya berlangsung dua bulan. Sampai suatu saat Sariman ketemu orang bule dari Amerika yang sedang melancong ke Yogya. Sariman diajak bekerja di perusahaan farmasi yang baru berdiri di Jakarta. Beberapa bulan kemudian Sariman pindah kerja ke Amerika, masih dengan orang bule Amerika yang dikenalnya di Yogyakarta.

Setelah kira-kira 2 tahunan di Amerika, Sariman kembali ke Yogyakarta dengan membawa uang yang cukup. Dia ingin kuliah lagi di Teknik Kimia UGM. Kegiatan diawal 1969 Sariman mengurus status kemahasiswaan dan berhasil. Namanya bisa direhabilitasi oleh rektor UGM yang baru, alangkah gembiranya dia. Dengan tekun, semangat tinggi dan gigih Sariman bisa meneruskan kuliah di Teknik Kimia UGM hingga selesai. Gelar insinyur teknik kimia, yang diimpikan oleh Sariman dan semua familinya akhirnya dapat digenggam di akhir 1973.

Tidak lama dia lulus insinyur dia lalu kawin. Namun cobaan hidup masih terus dihadapi. Beberapa tahun kawin, Sariman belum juga dikaruniai anak. Singkat cerita, Sariman lalu mengambil anak angkat, atas persetujuan istrinya.

Perjalanan kehidupan seseorang tidak sama dengan yang dicita-citakannya. Ijasah Insinyur Teknik Kimia hanya disimpan di lemari. Sariman lalu memimpin lembaga pendidikan yang berazaskan Islam, semacam pondok pesantren, dengan diawali anak santri sebanyak 30 orang. Semakin lama semakin banyak hingga mencapai 200 santri.

Sariman tidak terjun ke dunia politik, menurut dia dunia politik tidak sesuai dengan hati nuraninya. Sariman menekuni ilmu agama Islam dengan sungguh-sungguh.

Penampilan Sariman saat hadir di reuni Realino tahun 2000 di rumah mas Bambang, pemimpin dan pemilik Trubus dan Bina Swadaya, membuat kami semua terkejut. Sariman memakai surban seperti Aa Gym, bajunya gamis putih panjang. Sangat percaya diri, semangat dan antusias. Begitu masuk rumah langsung berkata keras sekali  “Assalamu’alaikum” Semua yang hadir disalami dan yang akrab dipeluk.

Di tengah acara reuni tahun 2000 itu Sariman diminta sharing menceriterakan pengalaman dia sewaktu di penjara di Wirogunan. Dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos seperti dulu, Sariman berceritera dari awal dia dijemput polisi di Realino, melakoni suka duka kehidupan di penjara selama setahun. Sariman menceriterakan dengan terbuka dan disertai humor-humor khas Sariman. Diceriterakan juga suasana di pengadilan dan teror yang dihadapi selama masa persidangan. Sariman masih ingat beberapa nama anak Realino yang bezuk dia, sambil membawa nasi gudeg Demangan. Makanan itu sangat dinikmati Sariman, untuk menambah gizi katanya.

Dari antara teman-teman Sariman, diakuinya bahwa yang paling banyak dan paling sering membezuk Sariman dipenjara adalah teman-teman dari Realino. Yang mengherankan adalah kawan-kawan dari HMI dan kawan-kawannya dari Sumatra Selatan jarang menengok, mereka datang hanya sekali-sekali saja. Dengan lantang dan bersuara keras Sariman mengatakan bahwa anak Realino adalah sahabat sejati, teman tulen yang datang menjenguk Sariman di saat Sariman sedang down dan sedang mendapat musibah. Motornya adalah romo Willenborg. Itu tidak bisa dilupakan. Realino benar-benar mendapat tempat yang sangat istimewa di hatinya. Sariman semakin rajin sembahyang lima waktu dan semakin yakin bahwa itu semua memang sudah ditakdirkan terjadi dan sebagai cobaan hidup yang harus dilaluinya. Dia ikhlas menerima semuanya itu.

“Pendidikan mental spiritual di Realino adalah yang terbaik yang pernah dijalani. Realino diakui sebagai sarana untuk kaderisasi para pemimpin masyarakat dan bangsa Indonesia. Lintas agama, lintas suku bangsa, lintas fakultas, lintas ormas dan lintas golongan. Semuanya ada. Dan itulah Indonesia mini yang benar dan baik. Sariman yakin Indonesia memerlukan tempat pengkaderan yang baik dan benar seperti Realino.” kata Sariman di penutup sharingnya.

Drama kisah Endang Sariman dengan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku, yang penuh suka dan duka benar-benar mengagumkan dan luar biasa. Yang patut diacungi jempol adalah ketabahan, kesabaran, keuletan dan kegigihan dalam menghadapi problem kehidupan. Dia sangat yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Adil. Dia sangat yakin bahwa kebenaran itu pasti akan muncul. Di pertemuan reuni tahun 2000 itu Sariman menyatakan bahwa peranan romo Willenborg selama di penjara sangat besar sekali. Beliau benar-benar bernyali besar, bernyali baja, berani membantu Sariman habis-habisan tanpa pamrih dan tanpa mempedulikan risiko dan nasib dirinya sendiri. Suatu demonstrasi “Sapientia et Virtus” atau kebijakan dan kebajikan yang luar biasa.

Sejak pertemuan reuni Realino di tahun 2000, kami tidak pernah menerima kabar beritanya lagi, kami menebak bahwa Sariman sibuk dengan kegiatan mengelola pesantrennya di Palembang. Jumlah santrinya lumayan banyak, hampir mendekati 200-an.

Setelah lima tahun tidak ada kabar beritanya, di awal tahun 2005 kami para eks Realinowan baru menerima berita lagi bahwa Sariman telah meninggal dunia di Palembang. Sebelum wafat Sariman menderita sakit beberapa bulan.

Innallilahi wainaillaihi rojiun … Semua yang berasal dari Allah dan pasti akan kembali ke Allah. (bersambung)

Iklan

2 Replies to “Perjuangan Sesudah Bebas”

  1. Mas Gufron, dari cerita tersebut koq sepertinya nggak ada respon dari pihak keluarga Sariman, selama Sariman di Penjara dan di Sidang di Pengadilan? Apakah Pihak Keluarga Sariman memang mempercayakan kepada pimpinqan Realino?

    Rudy, 88

  2. bung Rudy,

    Saya yakin ada. Famili2nya Sariman datang ke Yogya menghubungi ormas HMI, ke Realino dan ke paguyuban mahasiswa Sumatra Selatan. Belum ada bantuan hukum seperti sekarang. Orang2 umumnya takut kepada CGMI dan PKI. Pengaruh mereka luar biasa besar di masyarakat. Jadi caranya ya diam2 ke polisi untuk mencoba mengeluarkan.

    Jujur saja, kegiatan famili2 nya Sariman selama di Yogya dilakukan sembunyi2. Saya tidak mempunyai amunisi untuk menulis di cerita ini. Yang pasti ada. Barangkali pengurus Realino, Lukman Tambunan, Precil, mas Teddy, mas Sugiarto bisa menambah cerita dari sisi kegiatan familinya Sariman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s