Sidang Pengadilan

Bagian keenam dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

lp-wirogunanDari Maret 1964 Sariman meringkuk di balik jeruji penjara Wirogunan Yogyakarta. Bagi Sariman waktu berjalan dengan sangat lambat sekali. Mula-mula Sariman susah bergaul dengan para penghuni penjara. Sebagian besar dari mereka adalah penjahat yang dihukum karena melakukan tindak pidana. Sariman dipenjara karena ulah lawan politiknya, bukan karena tindak pidana.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dijalani tanpa ada kejelasan kapan mau disidangkan perkaranya. Sementara itu Romo Willemborg dengan penuh kasih dan sayang menjenguk Sariman seminggu sekali sambil membawakan makanan.

Sembilan bulan kemudian barulah muncul tanda-tanda bahwa perkaranya akan disidangkan. Detik-detik menghadapi pengadilan adalah saat yang menegangkan dan menggelisahkan. Romo Willemborg masih tetap rajin mengunjungi Sariman, membawa makanan sambil selalu memberikan dorongan moril kepada Endang Sariman. Dia diminta agar tenang dan tabah menghadapi percobaan hidup dari Tuhan yang sedang dialami.

Sidang Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan 3 hakim pun akhirnya digelar dengan mendapat perhatian yang sangat luar biasa. Hakim yang memimpin Prof. Sudikno, SH. dosen Fakultas Hukum UGM merangkap hakim profesional.

Kawan-kawan yang bersimpati ke Sariman banyak yang hadir di persidangan antara lain dari HMI, dari Realino, dari PMKRI dan dari mahasiswa2 Sumatera Selatan. Saya ikut hadir di pengadilan untuk mengetahui suasana dan situasi pengadilan, suatu tempat yang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Dorongan “ingin tahu” mengusik hati saya, sehingga dibela-belain mbolos dari kuliah.

Kelompok yang berseberangan pun turut hadir seperti kelompok CGMI, mereka tidak menggerombol jadi satu tetapi memecah diri menjadi kelompok kecil 2-3 orang. Wajah mereka masih saya ingat karena mereka menjadi panitia mapram ketika saya baru masuk. Wartawan pun banyak yang hadir untuk meliput persidangan. Ada atribut yang dipasang di baju mereka sehingga bisa terbaca oleh orang lain.

Pada Sidang pertama jaksa membacakan dakwaannya, dengan semangat dan berapi-api, intinya menuduh Endang Sariman sebagai agen dan antek CIA. Sariman dituduh sebagai manusia yang sangat berbahaya karena intelektualitasnya tinggi dan pengaruhnya besar, bisa melemahkan perjuangan negara dan bangsa untuk mengenyahkan nekolim dari bumi pertiwi dan dunia. Kira-kira begitulah kalimat-kalimat yang dibaca pak Jaksa.

Pada sidang kedua dan ketiga, selang sebulan-sebulan, ada beberapa saksi yang dihadirkan. Saksi yang memberatkan adalah kawannya sendiri mahasiswa Teknik Kimia UGM seangkatan Sariman dari CGMI ormas mahasiswa di bawah PKI. Jumlahnya ada 2 orang.

Lalu ada saksi yang meringankan antara lain Romo Willemborg. Beliau dengan berapi-api menjelaskan ke hakim bahwa Endang Sariman bukan agen CIA. Tidak ada hubungan dengan Amerika. Orang tua Sariman bekerja di PT Stanvac milik Amerika, tetapi itu tidak ada hubungan dengan CIA. Selama di Yogya, Sariman kuliah di Teknik Kimia UGM, dan berorganisasi di HMI, disitu Sariman belajar soal politik. Sariman bergaul dengan romo pastor yang tidak pernah ngurusin politik praktis. Sariman adalah penganut islam yang taat beribadah.

Ketua Asrama Mahasiswa Realino, mas Lukman Tambunan, mahasiswa tugas belajar dari AURI pun memberikan kesaksian bahwa Sariman bukan agen CIA. Mas Lukman hadir di ruang pengadilan mengenakan seragam AURI lengkap dengan tanda pangkatnya. Orang Batak yang satu ini gagah, ganteng, putih dan sangat simpatik sekali.

Sudah setahun lebih Endang Sariman meringkuk di belakang terali besi, bercampur dengan narapidana lain. Dia sangat terpukul, menderita lahir maupun batin.

Sidang sudah berlangsung tiga kali, belum ada tanda-tanda kapan hakim akan menjatuhkan keputusan. Benar-benar menegangkan. Menurut Realinowan mas Waluyo Sejati dari Fak Hukum UGM, kasus ini tergolong baru dan landasan KUHPnya belum ada. Bukti-bukti bahwa Sariman adalah agen CIA itu belum cukup untuk menjatuhkan vonis. Ini adalah urusan politik bukan pidana, mungkin yang akan di”salah”kan adalah menghina Bung Karno dan mengkritik pemerintah di tempat terbuka. Tetapi hakimnya pun takut.

Secara mengejutkan, pada sidang yang diadakan di akhir Pebruari 1965, ada berita yang diumumkan oleh Ketua Hakim Pengadilan bahwa Bung Karno mengirim surat yang mengatakan bahwa Endang Sariman “bukan agen CIA”.

Sariman harus segera dibebaskan dari penjara dan namanya direhabiliter. Berita di persidangan ini disambut denga gembira oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat Sariman yang hadir di sidang itu. Berangkulan, bersalaman, berpeluk-pelukan sambil menitikkan airmata. Airmata kegembiraan yang keluar sendiri karena saking gembiranya.

Sidang hari itu hanya sebentar, hanya setengah jam saja, lalu Sariman dibawa kembali ke rumah tahanan Worigunan. Proses berita acara keluarnya Sariman memerlukan waktu dua hari.

Romo Willemborg beserta Realinowan yang mempunyai sepeda motor menjemput Sariman ke penjara Wirogunan. Sariman akhirnya sudah bebas dan dia bisa menghirup udara segar. Badannya lebih putih dan lebih kurus.

Di Realino Sariman disuruh cerita pengalaman suka dan duka dia selama di penjara. Yang mengenaskan antara lain makanan yang kurang gizi, tempat penjara yang jorok dan tidak bersih, wc-nya yang bau dan jorok sekali, pergaulan dengan para penghuni yang umumnya kelas rendahan dan bersifat kasar dll. Yang menyenangkan yaitu dia merasa dekat dengan Tuhan, rajin sembahyang dan berdoa dengan khusuk, selalu memohon pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan, dan dia yakin bahwa kebenaran akan muncul.

“Saya sekarang ini sudah bebas dari tuntutan, bebas dari pengadilan, saya jadi manusia normal kembali. Tetapi saya mempunyai masalah besar, yaitu status kemahasiswaan saya di FT Kimia UGM. Saya sudah dipecat oleh rektor UGM. Bisa nggak ya saya tuntut rektor UGM mengembalikan status mahasiswa dan menuntut uang ganti rugi?” demikian pertanyaan Sariman kepada kerumunan penghuni Realino.

Kami semua terdiam, cep klakep ngga ada yang bisa ngomong.

.

(bersambung)

Iklan

2 Replies to “Sidang Pengadilan”

  1. Mas Mariyono dan teman-teman,

    Mas Mariyono telah menulis dengan jelas tentang mas Endang Sariman. Ada beberapa yang saya tidak tahu sekarang menjadi tahu, terima kasih mas GS. Untuk teman-teman yang tidak mengalami kejadian ini, saya akan menambah tulisan mas Mariyono.

    Pada suatu malam mungkin sudah jam 21.00 ada telepon, saya yang kebetulan dari kamar mandi atau toilet menerimanya. Telepon dari polisi meminta agar dikirim kasur ke kantor polisi. Telepon saya sampaikan kepada Romo Stolk. Saat itu saya tidak tahu kalau mas Sariman ditahan polisi, baru esok harinya saya tahu bahwa polisi minta kasur untuk mas Sariman.

    Yang sering membezoek mas Sariman di Wirogunan setahu saya mas Hasan Basri Pase (psychology UGM), saya pernah sekali bersama mas Hasan membezoeknya.

    Gedung pengadilan untuk mengadili mas Sariman letaknya di sebelah selatan kantor pos besar Yk, berseberangan dengan Universitas Respublika milik Baperki.

    Mas Sariman juga dituduh telah mendengarkan radio Malaysia. Saat itu Pemerintah RI melarang rakyat mendengarkan radio Malaysia. Malahan Menteri Agama RI menyatakan bahwa mendengarkan radio Malaysia hukumnya haram. Memang saat itu aneh, mendengarkan radio Peking (sekarang Beijing) yang komunis boleh, radio Malaysia yang sering mengumandangkan adzan dianggap haram. Hakim bertanya kepada mas Sariman apakah dia tahu hukumannya mendengarkan radio Malaysia. Mas Sariman menjawab hukumnya haram menurut Menteri Agama RI. Yang menghadiri sidang tertawa.

    Suasana di masyarakat saat itu saling curiga mencurigai. Bung Karno menganggap orang yang tidak berpolitik itu tidak etis. Orang harus memihak. Suasana di asrama Realino tidak-terlalu terpengaruh, walau masih ada pembicaraan keras antara penghuni Realino pendukung Bung Karno dan yang tidak mendukung. Tentang Realino saya singgung di buku yang saya tulis “Tradisi Kehidupan Akademik” terbitan Galang Press 2004.

    Ingatan saya tentang mas Sariman: Nampak lebih dewasa dibandingkan saya, mungkin beliau kelahiran sebelum tahun 1939. Berkacamata, pandai meniru pembicaraan singkek, tangkapan saya, dia sekolah dibiayai atau tugas belajar dari PT Stanvac (Standard Vacuum Oil Company), itulah sebabnya baru masuk FT UGM tahun 1962, mature student.

    Mas Mariyono sekali lagi terima kasih atas tulisannya yang mengembalikan kenangan. Mohon diperiksa lagi spelling nama Romo. Ingatan saya namanya Romo Prof. Mr. Drs. Willenborg, SJ. Bukan Willemborg

    Salam
    RDD

  2. Kisah Sariman pernah ditulis di tahun 2000, persis sesudah reuni di rumah mas Bambang, lalu di foto copi biasa dan kebetulan saya dapat satu. Saya menambah hal-hal tentang latar belakang Sariman, dan tentang ‘aktifitas’ Sariman di fakultas (karena sama-sama TK UGM) dan kisah di pengadilan, perjuangan Sariman sesudah keluar dari Wirogunan.

    Mas RDD terima kasih atas tambahan cerita dari anda, yang lebih melengkapi cerita dari saya. Ini benar2 “true story” yang luar biasa. Tidak ada duanya dan tidak bisa dibanding-bandingkan dengan kisah lain. Luar biasa hebatnya. Acungan jempol patut diacungkan kepada romo Willenborg dan Sariman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s