Polisi Menangkap “Agen CIA” di Realino

Bagian kelima dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

“Polisi DIY telah menangkap mahasiswa UGM agen CIA” demikian headline di harian lokal Kedaulatan Rakyat Yogyakarta yang terbit di awal Maret 1964. Koran KR memberitakan bahwa nama agen CIA itu adalah Endang Sariman, Mahasiswa Teknik Kimia UGM tingkat 2, yang tinggal di Asrama Realino di jalan Gejayan. Penangkapan agen CIA oleh polisi DIY karena ada yang melapor. Pelapornya adalah mahasiswa yang mengaku sangat dekat dengan Endang Sariman. Di koran KR ada foto Endang Sariman sedang diborgol dengan diapit oleh polisi DIY.

Hari itu gegerlah asrama Realino. Sebagian Realinowan ada yang ketakutan, sebagian lagi ada yang biasa-biasa saja. Umumnya para Realinowan mengatakan tidak mungkin bahwa Sariman adalah agen CIA.  Kasus penangkapan Endang Sariman oleh polisi DIY,  telah membuat Romo Willemborg dan keempat pengurus Realino repot sekali.

Siapakah Endang Sariman?

Sariman adalah mahasiswa berdarah Jawa-Sunda. Bapaknya orang Jawa, ibunya orang Sunda, tinggal di Palembang . Kedua orang tuanya bekerja di pengilangan minyak Sungai Gerong, milik oleh PT. Stanvac. Nama aslinya Sariman. Oleh ibunya dia sering dipanggil “Endang” panggilan umum terhadap bocah laki-laki asal Sunda. Kalau di Pati bocah laki-laki suka dipanggil “thole”. Maka namanya pun berubah menjadi Endang Sariman.

Sariman menamatkan SMA di Palembang, lalu meneruskan kuliah di Fakultas Teknik Kimia UGM, agamanya Islam. Orangnya tinggi, kira-kira 174 cm dan suka bercanda, suka mengobrol ngalor ngidul, dengan siapa saja bisa akrab. Kalau bicara ceplas ceplos, seenaknya sendiri, terlalu percaya diri dan sok tahu.

Di Realino Sariman adalah pemain biola yang pandai, dan guru bahasa Inggris di Realino English Club karena fasih berbahasa Inggris. Di luar asrama, Sariman adalah anggauta HMI yang aktif sekali. Dia termasuk di jajaran Pengurus HMI Komisariat Fak Teknik UGM.

Gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan keaktifannya di HMI menjadikan perhatian tersendiri bagi mahasiswa lain. Anak GMNI selalu mengamati Sariman, apalagi anak CGMI, kelompok mahasiswa yang pro PKI pada waktu itu.  Sariman  berani mengkritik Bung Karno dan mengkritik Pemerintahan Orde Lama. Kritikan yang selalu diulang-ulang, dilakukan di depan kelompok mahasiswa Teknik Kimia pada waktu menunggu kuliah atau menunggu praktikum di depan laboratorium. Celakanya ada teman kuliahnya dari Ormas CGMI (ybs muncul sebagai saksi di pengadilan) yang melapor ke polisi dan menuduh bahwa Sariman itu agen CIA.

Pada suatu sore hari, datanglah beberapa polisi ke Realino untuk menangkap Endang Sariman dan dia langsung dijebloskan ke penjara Wirogunan. Tuduhannya adalah : “Sebagai agen CIA”. Keesokan harinya kota Yogyakarta geger. Koran-koran lokal dan nasional ramai-ramai memberitakan bahwa :”Seorang mahasiswa Teknik Kimia UGM yang tinggal di Realino ditangkap karena menjadi agen CIA”.

Nama Endang Sariman menjadi terkenal. Koran-koran Jakarta pun memberitakan kasus penangkapan Endang Sariman sebagai agen CIA. Sangat luar biasa dan mengejutkan. Pada waktu itu kondisi politik di tanah air sedang giat-giatnya mengganyang antek-antek Nekolim dan antek-antek Amerika. Munculnya berita bahwa ada seorang mahasiswa dituduh menjadi agen CIA jelas membuat heboh.

Para politikus dan analis hukum memberikan komentar dan ditulis di koran lokal dan nasional bahwa hukuman paling ringan adalah hukuman seumur hidup dan paling berat adalah hukuman mati. Jadilah Endang Sariman menanti detik-detik antara hidup dan mati dibalik jeruji di penjara Wirogunan, di Jalan Taman Siswa Yogyakarta.

Yang paling sibuk adalah Romo Willemborg wakil pimpinan Realino sekaligus guru musik dan sahabatnya Endang Sariman. Beliau berkali-kali mondar-mandir ke kantor Polisi untuk meyakinkan polisi bahwa Endang Sariman, anak berdarah Jawa-Sunda, tidak mungkin menjadi antek dan agen CIA. Karena gigihnya romo Willemborg, yang bertampang “bule asli”, semakin memperkuat dugaan polisi bahwa Endang Sariman benar-benar agen CIA. Buktinya dia banyak bergaul dengan bule-bule dan bahasa Inggrisnya Endang Sariman fasih sekali.

Karena gencarnya pemberitaan dari koran lokal dan nasional, dimana ada artikel2 yang menyudutkan Sariman dan menganggap Sariman benar-benar ‘agen CIA’ sangat berbahaya, membuat masyarakat ketakutan. Akibatnya fatal sekali, sebelum diadili dan difonis pengadilan,  Rektor UGM telah membuat vonis dengan mencoret nama Endang Sariman sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM. Nasib Sariman sedang apes sekali.

Sahabat-sahabat dan kawan-kawannya Sariman di asrama Realino tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ada satu dua Realinowan yang punya nyali baja yang berani mendatangi penjara Wirogunan untuk menjenguk Endang Sariman, membawa oleh-oleh makanan, seperti nasi padang atau nasi gudeg, dan yang penting teman-teman Realino ini membesarkan hatinya Sariman. Tetapi sebagian besar warga Realino tidak punya nyali, mereka mencari selamat, bahkan ada yang ketakutan jangan-jangan nantinya ikut tersangkut, terutama kawan sekamar Endang Sariman.  (bersambung)

Iklan

4 Replies to “Polisi Menangkap “Agen CIA” di Realino”

  1. GS: “Pelapornya adalah mahasiswa yang mengaku sangat dekat dengan Endang Sariman.”

    Sangat dekat, dalam arti teman sekamar? Jaman itu, orang memang bisa dengan gampang ditangkap oleh karena ada yang melapor. Lantas ditiru oleh penerusnya. Seperti sebuah balas dendam? Mudah-mudahan tidak ada lagi generasi penerus yang bersikap begitu: suka melapor ataupun suka membalas dendam. Sama-sama tidak enak bagi kurbannya ya.

  2. Setelah saya baca tulisan pak GS ini selama tinggal di asrama Realino, serta khususnya mengenai cerita Bp. Endang Sariman saya terharu sekaligus saya sangat setuju Asrama Realino bukan asrama mhs Khatolik (walaupun Pimpinannya seorang Pastur (bule lagi),

    Tetapi suasana dan nilai nilai budaya (culture) adalah nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa Indonesia, dari sabang sampai Merauke/Rote. Bukan dari budaya asing/Barat, yaitu budaya yg penuh dengan berbagai keragaman suku, etnis, agama / kepercayaan, kaya /miskin , warna kulit hitam/putih / kuning, bahasa , maupun juga perbedaan warna politiknya.

    Semuanya itu terangkum dan menyatu jadi satu menjadi nilai-nilai SAPIENTIA ET VIRTUS, dan ini hanya ada di Asrama REALINO. Beruntunglah kita semua yg pernah mengenyam, merasakan, mengalami nilai-nilai ini (SAPIENTIA ET VIRTUS), Spirit ini sampai sekarang masih melekat di hati kita semua, khususnya mantam penghuni Asrama Realino, sehingga diantara kita masih merasa menjadi keluarga besar dan rasa kerinduan terus menerus tanpa batas sampai kt menghadap yang Kuasa.

    Iinilah SAPIENTIA ET VIRTUS (Kebijakan dan Kebajikan).

  3. Saya satu angkatan dengan sdr. G. Sumariyono pada waktu diasrama Realino. Tulisan pengalaman yang dibuat oleh beliau menunjukkan “memori” yang masih sangat bagus dan jernih dari G.Sumariyono (kapan tulisan itu dibuat ?)

    Apa yang dikisahkan memang apa yang saya alami juga selama di asrama Realino ditahun-tahun itu. Terutama tentang Endang Sariman, seorang figur kontroversial.yang humoris, ceplas ceplos, yang dengan kelucuannya itu justru membawanya ke penjara. Itu merupakan cost dari Endang Sariman.

    Dulu, Endang Sariman kalau ketemu saya dan kakak saya selalu cakap Melayu. Dialek Melayunya sangat persis. Bagi yang mendengar bualan melayunya itu sepertinya memang ngece terhadap pemerintah yang sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, tapi itulah dan begitulah Endang Sariman, berani mengutarakan yang bagi orang lain justru dihindari..

    Tulisan sdr. G.Sumariyono membawa kita ke kenangan masa lalu di asrama Realino. Tapi saya juga punya kenangan kecil dengan G.Sumariyono. Suatu pagi buta saya mau ke Stasiun Tugu. Di undhak-undhakan vila selatan berpapasan dengan G. Sumariyono yang mau naik ke kamar. Saya pikir baru dari kamar mandi. Waktu saya tanya dari mana.. jawabannya… ” aku bar ngimpi sepedaku ilang.. tak tiliki neng tempat sepeda jebule isih ana..” He..he..he..

    ymulyanto (realino 62)

  4. Tapi saya juga punya kenangan kecil dengan G.Sumariyono. . suatu pagi buta saya mau kestasiun Tugu…diundak- undakan vila selatan berpapasan dengan G.Sumariyono yang mau naik kekamar..saya pikir baru dari kamar mandi. Waktu saya tanya dari mana..jawabannya. .. ” aku bar mimpi sepedaku ilang..tak tiliki neng tempat sepeda jebule isih ana..” He..he..he..Mulyanto – angk 62

    mas Mulyanto,
    terima kasih komentarnya. Saya sudah lupa akan kejadian mimpi kehilangan sepeda. Bagi saya sepeda saat itu merupakan alat transport penting, strategis dan murah, karena dengan sepeda saya bisa kemana-mana, bisa kuliah, bisa pergi ke sendangsono dan sebagainya. Biaya pemeliharaan hampir nihil. Sepeda ontel yang saya miliki pernah saya pakai untuk keliling dari Pati – Semarang – Magelang – Yogya pp. Jadi nilai historis dan emosionilnya luar biasa.
    Salam untuk nyonya
    Maryono – angk 63.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s