Balada tengah malam di Realino

Bagian keempat dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

Tiga orang romo-romo Realino memprotes kepada bruder Wrekso, mengapa makanan di refter untuk romo-romo tidak pernah komplit. Selalu berkurang. Sosis cepat habis, keju cepat habis, roti pun cepat habis, buah juga cepat habis “Apa banyak tikus di sini?” tanya romo Stolk pada suatu hari.  Bruder Wrekso yang bertanggungjawab atas makanan pun membatin “Apa ada tikus, ya?”

“Hei ..bruderr!  Apa… ituu.. bruder tidak sediakan ituu .. roti .. en .. ituu buaah .. buat .. ituu romo-romo?”  tanya Romo Stolk. “Sudah romo, sudah komplit” jawab bruder. Sekarang bruder Wrekso yang terpekur karena disentil oleh romo pimpinan asrama kalau kerjanya tidak beres. “Kurang ajar tenan, aku yang kena marah romo. Siapa ya, tikus.-tikus yang suka ngambil makanan di refter romo?”

Maka malam itu jam 23:00 diam-diam bruder Wrekso mengintip dari kandang skuter romo yang berjarak hanya 5 meter dari pintu refter, dan sengaja lampunya semua dimatikan. :”Biar kuintip dari sini. Siapa yang tengah malam masuk ke refter romo yang memang tidak pernah dikunci.”

Dan memang betul, sekitar jam 02.00 dinihari ada 3 anak Realino mengendap-ngendap masuk ke refter romo-romo. “Waah enak ya rotinya, ..buahnya segarr .. enak ..!” Sementara itu, bruder Wrekso gemetar karena sudah siap menangkap anak Realino yang kelaparan itu.. tapi beliau takut juga ..

Akhirnya sambil menyalakan lampu garasi motor dan lampu di depan pintu masuk refter, bruder Wrekso berteriak keras sekali :

“Maliiiing ..maliiing .. ono .. maliing!”

Seketika ketiga anak lari keluar dari refter, tapi dihadang bruder. Bruder Wrekso yang kecil mungil takut. Ketiga warga realino yang kelayapan malam2 ke refter romo pun ketakutan. Jadi sama-sama ketakutan.

Suara bruder sangat keras sekali, membuat penghuni Villa Selatan bangun dan bertanya-tanya. “Mas, ..ada maling ..bangun, mas!” kata anak-anak membangunkan penghuni kamar di sebelah. Sambil membawa peralatan apa adanya, ada yang bawa penggaris panjang, ada yang gantungan baju, juga pentungan, para penghuni Villa Selatan turun dari lantai dua dan berkumpul di depan refter. Melihat bruder Wrekso tergeletak di lantai, mereka bertanya :”Mana malingnya bruder?”

“Maluuu .. akuu .. maluuu .. aku.. Ooh mereka tak punya kemaluan.. Maluuu.. aku..!” kata bruder.

.

“Sialan .. kirain maling beneran, enggak tahunya temen sendiri .. “

Akhir cerita, setiap tahun di Realino selalu ada generasi2 baru yang menjadi maling tradisionil ..ngelayap di tengah malam ..bergerilya masuk ke refter romo .. ambil buah .. ambil roti .. untuk sekedar pengganjal perut di tengah malam..

(bersambung)

Iklan

6 Replies to “Balada tengah malam di Realino”

  1. Mas Mariyono,

    Kejadian itu saya kira di waktu pimpinan asrama Romo Depoortere. Saat kejadian saya tidak di asrama tetapi sedang pulang ke Kediri. Ketika pulang setiba di asrama diberi tahu bahwa pasukan guerilla penyerbuan refter akan keluar dari asrama. Oleh karena seorang guerilla adalah teman sekamar saya, dan saya bapak-buahnya, saya tanyakan langsung kebenaran ini kepada Romo Pemimpin.Romo Pemimpin mengatakan bahwa ini bukan merupakan koreksi kepada saya, bahwasanya saya sebagai bapak buah tidak bisa membimbing teman sekamar yang lebih muda.

    Saya katakan kepada Romo bahwa bukan itu yang saya tuju. Saya katakan bahwa Pimpinan Asrama telah menyalahi tradisi Realino. Apa itu tradisi Realino kata Romo Pemimpin?

    Apabila ada penghuni diminta pindah atau keluar dari asrama, tidak seorang penghuni lain pun tahu bahwa ia diminta keluar. Kehormatan mahasiswa sangat dijaga oleh Pimpinan. Saya katakan bahwa dulu ada penghuni dikeluarkan, saya baru tahu dia dikeluarkan setelah beberapa tahun kejadian. Mengapa sekarang ini semua orang tahu bahwa ada dua orang keluar dari asrama oleh karena dipersona non grata?

    Romo Pemimpin berterima kasih kepada saya bahwasanya saya telah menceritakan tradisi Realino.

    Salam
    RDD

  2. ‘Dimas GS,

    Sampai di balada tengah malam ini, Saya jadi men-coba2 mengingat kejadian yang dimaksud.Ya , benar terjadi hal yang dikatakan.

    Catatan ‘kecil’ sahaja. (tidak penting). Bruder tsb namanya seingat saya ( dapat dibantu rekan2 lain , barangkali….) tanpa W. Beliau ‘suatu waktu’ exit dari ‘kebruderan’nya dan beralih profesi jadi ‘petani’ di daerah Jawa Barat. Masih sempat kami bertemu muka dalam suatu acara re-uni (?)di pusdiklat Trubus (kalau tidak salah…..). Beberapa tahun yang lalu beliau telah berpulang kepada Sang Pencipta. RIP Bruder.

    Lanjut……
    Ya benar, sesudah ‘konangan’ , ada yang kemudian ‘terpaksa’ meninggalkan asrama.
    Namanya , biarlah , bila tahu, disimpan sendiri… Tidak elok , membuka ‘catatan hitam’ saderek Kita sendiri , sebab kita sendiri masing2 punya ‘kelemahan’. Bila tidak keliru, saat2 itu, saya ikut dalam kepengurusan bersama Lukman Tambunan cs.

    ‘seingat saya…..”, kurang benarlah bahwa.. “Akhir cerita, setiap tahun di Realino selalu Ada generasi2 baru yang menjadi maling tradisionil ..ngelayap di tengah malam ..bergerilya masuk ke refter romo .. Ambil buah .. Ambil roti .. Untuk sekedar pengganjal perut ditengah malam .” Kalau yang ‘ndobel atau ‘nripel.’…makanan mis. Daging di refter….may be yes

    Setelah kepengurusan kami, estafet kepengurusan rasanya ‘jatuh’ kepada ‘Dimas, Trisunuwarso cs. Ya khan ?

    Salam,
    Thy

  3. Mas Teddy,

    Bruder itu namanya bruder Reso. Pada potret yang dikirim mas Mariyono beliau tidak menggunakan songkok, biasanya berkupiah hitam. Sering menggunakan Floretnya Romo Stolk. Floret itu tidak ada yang makai setelah ditinggal Romo, jadi digunakan oleh Bruder.

    Beliau menanam pepaya banyak sekali di halaman selatan.

    Salam
    RDD

  4. Dik GS, tahun berapa ya kejadian itu? Karena terus terang saja, saya juga pernah jadi malingnya. Sama teman2 bertiga, atau berempat. 2 orang jaga lingkungan dan 2 orang masuk (satu di depan refter romo dan satu masuk). Waktu saya itu, memang ketahuan, tapi kebetulan saya jaga lingkungan , didepan kapel, jadi tidak ketahuan. Waktu itu, yang ketahuan masuk refternya, dikeluarkan dari asrama oleh romo Depoortere.

    Kok anda tahu juga ya, mengenai balada tengah malam? Aku kira para Forsinowan gak ada yang tahu, jadi saya diam2 saja, he he he. Memang lama2 keterlaluan, jadi konangan. Ada roti bantal satu, disikat semua. Ada sop sa basi, coklat, disikat semua. Sopnya enak lho, sop LONDO, sing kental, nganggo sosis. Awake dhewe, sampai bongkok ning Realino, ora bakal menangi sop seperti itu, he he he. Paling disisakan sedikit untuk romo Blot, karena beliau yang makannya paling larut malam. Tapi kalau roti dan buah, lama kelamaan disikat semua, jadi bikin curiga. Memang orang itu kadang2 terlalu serakah. Kalau ga konangan, yo semakin parah. Maapin.

  5. Hehehe….. saya baru tahu kalau yang suka nyasar ke refter romo (saya koq ndak sreg ama istilah ‘maling’ gitu) itu sudah mentradisi dari sejak lama ya. Saya pikir itu sekedar keisengan beberapa teman kita saja.

    Malah yang saya ingat justru cerita kocak – jenaka senior kita yang sudah almarhum, Mas Pardjono. Waktu itu entah siapa (sorry, lupa) ada yang kepergok nyomot keju dari meja makan romo. Sang romo Londo sok berbasa Jawa lantas bilang ‘balenono’ (diulang) padahal maksudnya ‘baleno’ (kembalikan) – sorry, kalau salah, saya ndak paham banget basa Jawa-nya. Tentu saja teman kita tsb ambil lagi sepotong keju sesuai ‘perintah’ sang romo, mestinya keju merupakan suatu kenikmatan hidup nan mewah sangat pada masa itu. Di asrama kita gitu lho, jeh!

    Maling? Rasanya ndak sampai sejauh itu. Mungkin cuma ‘kenakalan’ masa muda saja ya. Sorry kalau beda pendapat.

    Yan

  6. Romo Bolsius Yang saya hormati dan sayangi,

    Alamat e-mail saya yang lain, wini_57@yahoo.com
    Terimakasih banyak, romo masih mau terlibat, masih mau mendidik saya sampai hari ini, lewat mail-list Forsino.
    Ngomong-ngomong, maaf sekali lagi (terakhir bertemu romo di Jakarta, saya sudah minta maaf lho), karena dulu sewaktu di asrama Realino, saya sering mencuri makanan di refter romo. Itu tidak lain karena pengaruh buruk dari Elias Ginting dan Djauhari Oratmangun. Saya sendiri sebenarnya orang baik-baik yang maunya sih mentaati 10 perintah Allah (jangan mencuri)….hehehehe…
    Tapi Tuhan berkehendak lain (yang saya tidak mengerti), Elias dan Djauhari sekarang bisa jadi Duta Besar….. sedangkan saya yang relatif lebih baik dari mereka, hanya menjadi dokter jiwa.
    Masih terbayang dalam ingatan saya, ketika sering kita bertiga mencuri di refter romo. Secara bergiliran 1 orang menjaga di selatan, 1 orang menjaga di utara, 1 orang masuk refter romo untuk mencuri.

    Elias Ginting dan Djauhari Oratmangun
    Pada giliran Djauhari dan Elias yang masuk refter, mereka membuka kulkas romo dan meminum air dingin di botol. Ternyata yang diminum “wine”….. Ketika mereka keluar, saya bingung karena mereka sempoyongan mau jatuh karena mabuk…hehehehe…
    Kalau saya giliran masuk, yang paling saya suka adalah mencuri “oseng-oseng hati sapi masak kecap” dan ayam goreng. Kemudian dimakan di WC, tulang-tulangnya dilempar ke luar jendela……
    Mohon ampuni saya romo…. saya sudah mengaku dosa…saya kepingin masuk surga. Kalau Elias dan Djauhari memang sudah bakatnya, tidak ada penyesalan, jadi biarkan mereka masuk “api pencucian” dulu….hihihihi….
    Sekedar selingan, agar tidak tegang terus…..
    (dokter Wini – RS Jiwa Malang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s