Disiplin dan Akal Bulus

Bagian ketiga dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

stolkDisiplin. Disiplin. Disiplin. Kata ini bukan hanya diucapkan tetapi benar-benar dipraktekkan di Asrama Realino, terutama oleh pimpinan Asrama yang dibantu oleh 4 orang pengurus. Pelaksana di villa utara dilakukan romo Stolk dibantu 2 pengurus, di villa selatan romo Willemborg dibantu oleh 2 pengurus. Waktu saya baru masuk asrama (1963), saya selalu melihat romo Stolk setiap pagi jam 05:30 membangunkan penghuni asrama di vila Utara, beliau naik ke lantai-2 dan memeriksa semua kamar tidur. Yang masih tidur dibangunkan Beberapa menit kemudian Romo Stolk naik lagi untujk kedua kalinya memeriksa dan merazzia semua kamar tidur, kalau-kalau ada penghuni asrama yang mbalelo. Pekerjaan ini dilakukan secara rutin hampir setiap pagi dari Senin sampai Sabtu.

Uneg-uneg para penghuni asrama yang sudah tinggal 2 atau 3 tahun disampaikan kepada romo, yang intinya menolak perlakuan romo pemimpin. Para senior Realino ini memberi alasan bahwa penghuni asrama bukan anak-anak lagi, mereka minta romo cukup memberitahu saja dan mengontrolnya sekali-sekali saja. Romo Stolk menjawab :” Untuk menegakkan disiplin perlu tindakan terus menerus dan tanpa pandang bulu dan tanpa kompromi”.

Para senior kecewa dengan jawaban tersebut. Kesannya otoriter dan tangan besi. “Kami ini orang sipil romo, tidak harus diperlakukan se disiplin seperti militer”, kata para senior Realino. “Kalau tidak setuju silahkan angkat koper cari kost yang kamu sukai” jawab romo Stolk.

Dalam reuni akbar tahun 2000, pendidikan disiplin di Asrama Realino sempat dibahas. (30 tahun kemudian). Bahwa hal itu ada gunanya. Mas Soedarto Djacaria, senior saya yang berasal dari Pati, memberi contoh bahwa Lee Kwan Yew berhasil membangun kebersihan Singapore. Bahwa dia merubah kebiasaan bangsa Singapore yang sebagian besar etnis Cina yang suka meludah sembarangan dan kotor menjadi bangsa yang modern dengan western life, termasuk dalam hal kebersihan. Hasil ini diperoleh dengan mencanangkan disiplin nasional yang keras, terus menerus dan tanpa kompromi.

Bagaimana dengan di Indonesia? Adakah hasil dari Gerakan Disiplin Nasional (GDN) dalam ber lalulintas di jalan? Lalu lintas kita masih semrawut, masih macet, motor bersliweran se enak udel nya tidak mengindahkan tanda-tanda lalulintas pokoknya masih semau gue.. Akankah Indonesia memerlukan pemimpin yang berjiwa seperti romo-romo di Realino?

Sambil tertawa-tawa mas Darto, senior saya asal Pati, berceritera ke peserta reuni asrama Realino bahwa sewaktu dia menjadi pengurus koperasi Realino, dia melakukan sesuatu yang kurang terpuji. Beliau mohon jangan ditiru. Begini ceriteranya. Mas Darto selaku pengurus koperasi, dia harus mengisi warung koperasi Realino dengan barang-barang kebutuhan penghuni seperti alat tulis, benda pos dan rokok dll. Seminggu sekali harus belanja/kulakan barang-barang itu membeli dari grosir di pasar Beringharjo Malioboro. Kalau naik sepeda tidak efisien dan melelahkan karena jauh. Dia lalu memberanikan diri meminjam sepeda motor milik romo pemimpin, alasannya agar lebih cepat dan bisa belanja banyak. Permohonannya itu disetujui oleh romo pemimpin.

Beberapa kali mas Darto pergi ‘belanja’ memakai sepeda motor milik romo. Mas Darto sukses karena membuat isi warung koperasi lebih bervariasi, meriah dan harga murah. Suatu saat dia kena tegur romo :”Dibawa kemana saja sepeda motor saya Darto? Setelah belanja kamu lalu melancong kemana?” mas Darto termenung, bertanya dalam hati, darimana romo tahu kalau sepeda motornya dibawa jalan-jalan? Pasti ada mata-mata yang melapor. Namun dugaan itu salah, karena romo mencatat angka kilometer setiap kali sepeda motornya dipakai untuk belanja. Beliau tahu berapa jarak Realino ke pasar Beringharjo. Romo pemimpin memang hebat, beliau masih bijaksana, beliau masih mengizinkan mas Darto memakai sepeda motor sepanjang mengikuti aturan.

Aturan itu tentu mengurangi kenikmatan tersendiri. Dasar anak muda yang bandel, mas Darto nan muda masih berani melanggar aturan dengan akal bulus yang “nyamin”. Kabel kilometer yang nyambung di as roda depan dilepas. Dengan memakai obeng, sekrupnya dikendorin, kabel baja speedometer yang berada di atas as roda depan dilepas. Dengan teknik seperti itu mas Darto bisa melancong dari Yogya ke Solo beli bakso dan jajan ayam mbok Berek di Kalasan dan sebagainya. Pada waktu pulangnya, didepan gedung wanita dekat museum Affandi kabel kilometer diaktifkan lagi. Begitu sampai di asrama langsung melapor ke romo dan serta merta romo mengechek kilometer. Hasilnya tidak ada masalah (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s