Hidup Tak Terkotak-kotak

Bagian kedua dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono, 63)

.

yel-yelSV singkatan dari Sapientia et Virtus, adalah motto Realino yang artinya kebijakan dan kebajikan. Dengan dijiwai semangat “Sapientia et Virtus” yang tak pernah padam, kelompok muda Realino dipersiapkan sebagai calon pemimpin bangsa, diajak peduli kepada yang kurang beruntung sambil mempererat kebersamaan diantara sesama penghuni.

Apa benar begitu? Sekarang saya berani mengatakan bahwa hal itu benar. Di Realino berkumpul mahasiswa dari berbagai daerah dengan beragam suku bangsa, beragam adat istiadat, berbagai kepercayaan, berbagai fakultas. Ada juga orang Jepang namanya Akira. Kumpulan gado-gado anak-anak muda itu dilatih, diajar dan diasuh untuk hidup bersama dalam suasana damai. Kita bisa hidup bahagia dalam Indonesia mini di Realino yang penuh keragaman. Kita tidak pernah hidup terkotak-kotak. Kamu agama ini, kamu suku itu, kamu hitam, kamu putih.. wah,.. nggak ada itu kotak-kotak di Realino. Semua sama saja tidak ada perbedaan. Setiap 6 bulan kami pindah kamar, dicampur dengan orang lain, dari suku lain, dari agama lain.

Saya pernah sekamar dan sangat akrab dengan kawan Realino yang bernama Oei Sioe Djien J.A. asal dari Blora yang kuliah di Fakultas Kehutanan Gadjah Mada. Namun keakraban saya dengan Sioe Djien terasa ada ganjalannya. Dalam hati saya bertanya mengapa dia tidak mau menggunakan nama Indonesia sedangkan kepribadiannya, integritasnya seratus persen Indonesia. Pada suatu kesempatan saya berterus terang kepadanya : ”Djien, kenapa sih kamu tidak ganti nama Indonesia? Kau lahir di Blora, besar di sana juga dan kau paling doyan tempe, tahu, pecel apalagi sambel terasi.”

Saya tahu Oei Sioe Djien bukan tipe orang yang mudah dipengaruhi. Dia terdiam sebentar tapi saya tahu otaknya berpikir, karena dia tipe orang yang tidak mudah dipengaruhi. Tak ada tampang munafik dalam dirinya. Dia langsung menjawab : “Mar, tolong tunjukkan kepada saya mana yang dikatakan nama Indonesia itu. Namamu sendiri sendiri Gabriel Sumariyono campuran Barat dan Jawa. Ahmad Wahib, Ahmad Nur, Hasan Basri, Faishal jelas diimpor dari Arab. I Putu Nantra, Sutrisno, Sutarno itu kan nama Sansekerta. Bernard Rivai Siregar impor Barat dan Batak.”

Saya benar-benar KO dan pembicaraan putus sampai disitu. Namun puluhan tahun kemudian (1999) ketika saya memimpin perusahaan HPH saya bertemu dengan dia dalam rapat APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia). Nama Oei Sioe Djien sudah berubah dengan Johannes A. Hoesada, dengan jabatan Sekretaris Badan Litbang, Departemen Kehutanan. Saya yakin Sioe Djien tak kan pernah lupa hal itu.

Terus terang penjiwaan nasionalisme saya secara utuh tumbuh di Realino. Waktu baru masuk Realino tahun 1963, Indonesia sedang gencar-gencarnya mengganyang Malaysia setelah sebelumnya perjuangan merebut Irian Jaya. Perlawanan PRRI/Permesta dan DI/TII pun baru saja berakhir 2 atau 3 tahun. Hal itu membuat rasa kedaerahan saya tinggi dan kecurigaan terhadap orang dari daerah lain masih melekat. Hal itu tanpa saya sadari dan ikut melatarbelakangi sikap hidup saya sehari-hari.

Saya merasa bersyukur kepada Tuhan karena hal itu tidak berlangsung lama. Dari hari kehari pergaulan saya makin bertambah dengan kawan-kawan dari berbagai suku. Di Realino saya mengenal sifat-sifat orang Madura, Flores, Timor, Jawa, Sunda, Toraja, Bali, Palembang, Padang, Menado, Kalimantan Dayak dan lain-lainnya. Tanpa saya sadari hilang sifat curiga dan tumbuh rasa kebersamaan yang bermuara kepada rasa senasib dan seperjuangan.

JIka saya renungkan kembali tumbuh perasaan kagum dan takjub di dalam hati saya. “Alangkah hebatnya ide mendirikan Asrama yang dilandasi Bhinneka Tunggal Ika seperti Asrama Realino ini”. Kawan-kawan saya yang muslim, termasuk Ahmad Wahib (almarhum) Ahmad Nur dari Madura, Hasan Basri dari Aceh, Syahrir dari Padang merasakan sentuhan rasa saling hormat menghormati dan harga menghargai terhadap pemeluk agama lain. Dibulan Puasa Ramadhan, seorang Broeder (namanya Van Zon almarhum) menyiapkan makan sahur selama sebulan penuh. Dan makanan untuk buka puasa lengkap dengan kolak pisang waktu maghrib. Penghuni yang lain makan malam seperti biasa yaitu jam 19:30. Alangkah indahnya.

Sewaktu masih di Pati, tempat saya lahir sampai tamat SMA, rasa simpati saya kepada kawan-kawan etnis Cina tipis sekali. Mungkin itu disebabkan karena mereka lebih suka menutup diri dalam pergaulan. Antar mereka digunakan bahasa leluhurnya yang membuat curiga dan salah paham. Kalau pun berbahasa Indonesia, lebih-lebih yang senior, logatnya patah-patah dan kurang jelas. Misalnya: ‘ Hei Mal, lu abis pigi mana” maksudnya : “Hai Mar kamu habis pergi dari mana”.

Semua pengalaman di Pati itu berubah total, hilang dan habis sifat curiga kepada etnis Cina. Selama di Realino dari perasaan curiga menjadi simpati. Rasa takjub menyeliputi saya karena bertemu dengan manusia-manusia baru. Dengan mata kepala dan telinga sendiri saya melihat, mendengar, bagaimana kawan-kawan etnis Cina di Realino bercanda, berbicara, memaki dengan bahasa Jawa sekalipun antar mereka sendiri.

Saya beruntung akrab dengan mas Loe Boen Hian, senior saya di Teknik Kimia UGM. Orangnya kalem tenang asal Djuwana, periang, selalu senyum dan terbuka. Setiap pagi melayani pastor di kapel sebagai pelayan misa. Dialah tempat saya bertanya kalau ada permasalahan di Teknik Kimia. Mas Loe Boen Hian sampai meminjamkan catatan kuliah tingkat 1 kepada saya untuk mencocokkan isinya. Dan memberi soal-soal ujian tahun sebelumnya. Kawan-kawan dari etnis Cina di Realino umumnya mereka sangat menonjol di bidang olahraga dan organisasi. Seperti Realino Discussion Club, Realino English Club, badminton, pingpong, sepakbola dan basket. (bersambung)

Iklan

2 Replies to “Hidup Tak Terkotak-kotak”

  1. Luar biasa tulisan ini. Kebetulan, saya sedang menyelesaikan buku tentang Romo Casutt SJ yang pernah menjadi Direktur Asrama Realino tahun 1965 hingga 1971. Numpang tanya, siapa sajakah yang pernah tinggal di Realino dan mengenal Romo Casutt? Bolehkah saya mendapatkan alamatnya? Terima kasih banyak, atas tulisan yang inspiratif ini.

  2. Wah tulisan G. Sumaryono betul-betul mengingatkan kembali saat saya tinggal bersama dia di Asrama Realino, saat saya panggil dia Mar dan dia panggil saya Kris, orangnya simpatik rapih, gagah dan suka olah raga. Oei Sioe Djien juga pernah jadi bapak buah saya, dia ngajari saya main basket. Pada th 1965 sering terjadi tawuran antar organisasi mahasiswa yang dibawah partai seperti saya yakin penghuni asrama banyak yang ikut, tapi apa yang terjadi di asrama??. seperti tdak terjadi apa2, kita tetap makan dan berdoa bersama pada saat seperti itu tidak ada yang berbicara politik, saya yakin karena mereka tidak ingin ada perpecahan diantara teman, salam teman 2 “Sapientia et Virtus”. Oh ya pak Tonny saya pernah tinggal dibawah pimpinan Romo Casutt SJ menggantikan romo Williemborg, kesan saya waktu dibawah pimpinan Romo Williem (dia suka musik) Rielino sampai pernah konser dan masuk TV, saya sendiri dipanggilkan guru musik waktu itu saya ingin belajar biola, tapi setelah dipimpinan Romo Casutt semua hilang dia lebih senang hal2 yang teknis. Alamat saya Jl. Permai II no 11, Bumi Asri Padasuka, Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s