Laki-laki atau Pejantan?

Judul Asli : Mengapa Dalam Spesies Manusia Ayah Mengasuh Anak-anaknya?

Oleh: Eko Raharjo
.
Dalam dunia satwa, sang ayah tak akan perduli untuk mengasuh anak-anaknya. Sebab demikianlah hukum yang berlaku dalam alam. Kalau kamu pejantan sebarkan DNA/gen-mu lewat sperma ke sebanyak mungkin betina kemudian lari ngibrit sejauh-jauhnya. Biarlah si betina sendiri yang pusing menghadapi dilema apakah harus mengasuh anak.

Beberapa hari yang lalu saya terlibat diskusi dengan bu Atiek Winarti dan pak Agnito mengenai mengasuh anak. Pendapat saya: ciri dari spesies manusia adalah sang ayah mengasuh anak-anaknya. Tentu saja ini mengandung konotasi bahwa seorang ayah yang tidak mau mengasuh anak-anaknya, dengan alasan apapun, adalah masih dalam taraf evolusi binatang. Sayangnya, tidak semua orang mau mengakui kebenaran fundamental ini.


Eksploitasi terhadap makhluk wanita sudah terjadi dalam dunia binatang. Hukum yang berlaku disana adalah “survival for the fittest”. Ini artinya, siapa yang mampu menyebarkan gennya sebanyak-banyaknya dengan ongkos sekecil-kecilnya akan memenangkan seleksi alam. Sebab gen mereka akan lebih punya kesempatan untuk mengalami replikasi dan tercopy secara abadi. Persaingan ini menyebabkan terjadinya evolusi yang asimetri antara pejantan dan betina. Sel telur dari betina ukurannya besar-besar dan jumlahnya terbatas, sedangkan sel telur (sperma) dari pejantan ukurannya kecil-kecil dan jumlahnya luar biasa banyak, nyaris tak terbatas.

Sel telur dari betina selain berisi gen juga mengandung makanan yang cukup untuk menopang pertumbuhan dari embrio. Bagaimanakah kualitas sel telur dari pejantan?  Busyeeet! Ternyata kosong melompong, cuma ada gen doang. Sementara si betina invest dengan sel telurnya yang berharga untuk suatu reproduksi yang sukses, si pejantan ini maunya cuma menyebarkan gennya melalui spermanya yang murah dan meriah tanpa mau keluar ongkos ekstra.

Menyadari telah membayar ongkos lebih mahal dalam reproduksi maka si betina berpikir bila si anak mati pihaknyalah yang akan rugi paling besar. Nah ketika si betina ini sedang berpikir…. sang pejantan menggunakan kesempatan ini untuk ngacir sejauh-jauhnya untuk menyebarkan lagi gennya ke betina-betina lainnya. Tinggallah si betina sendiri tanpa punya pilihan kecuali harus mengasuh anak-anak tsb. Bisa disimpulkan, dalam dunia binatang individu adalah sekedar survival machine di bawah kendali dari the selfish gene.

Dalam masyarakat manusia situasinya berbeda. Kita tidak bisa mengatakan bahwa individu adalah sekedar mesin komputer di bawah kendali dari program yang dikemas dalam selfish software yang disebut gen atau kromosom. Otak dari spesies manusia telah berevolusi sedemikian canggihnya sehingga punya kemampuan untuk menciptakan suatu program, idea, dan mengekskusinya secara independen. Dari otak manusia pula muncul kesadaran akan diri sendiri dan lingkungannya, masa lalu dan masa depannya.

Oleh karena saya dari spesies manusia pula, saya bisa memahami bahwa seleksi alam merupakan proses yang unfair terhadap jenis betina. Namun saya tidak perlu terlalu khawatir sebab saya bukanlah jenis manusia yang pertama. Spesies manusia, Homo sapiens, ini sudah berkeliaran di bumi sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Mereka ini sudah lama hidup berkelompok membentuk suatu kehidupan sosial masyarakat, menciptakan dan mengembangkan suatu sistem budaya, moralitas, dst. Dari sana muncul suatu standar nilai-nilai seperti laki-laki dan wanita merupakan mahluk yang setara dengan kesamaan hak dan tanggung jawab.

Adanya sistem budaya dan moralitas inilah yang menyebabkan kaum betina dalam spesies manusia punya hak-hak yang lebih baik dari pada dalam dunia binatang. Kaum ayah dalam spesies manusia turut bertanggung jawab untuk mengasuh dan membesarkan anak anaknya secara langsung maupun tidak langsung. Kaum ayah yang tidak bisa menyusui anaknya akan berkerja keras macul di sawah atau berburu di hutan untuk mencukupi makanan untuk keluarganya. Demikian pula secara tradisional kaum ayah akan berusaha keras untuk membangun tempat berteduh untuk keluarganya.

Namun tidak bisa diingkari ada pula pejantan-pejantan manusia yang membiarkan istrinya bekerja keras sendirian, mengasuh anak dan mencari nafkah, sementara kerja mereka cuma adu ayam, main judi kuda lari, atau lebih buruk lagi sibuk mencari istri kedua atau ketiga. Saya kira cukup fair kalau kita mengatakan bahwa pejantan-pejantan  ini tingkat evolusinya masih berada dalam tingkat binatang. Pejantan seperti ini bisa disebut sebagai He – animal (boleh diisi sendiri, He – lutung, celeng, luwak, dst).

Ada jenis pejantan lain yang tidak sejelek seperti di atas namun mereka ini suka selama-lamanya ndompleng tinggal bersama mertua tanpa alasan yang kuat.  Ada pula jenis pejantan/ayah yang menghindar dari susah payah kehidupan dan memilih membawa anak istrinya untuk bernaung di ketiak ibunya. Tentu saja situasi macam ini akan memberikan stress luar biasa besar terhadap sang istri. Sebab sudah lama diketahui hubungan ibu dan menantu wanita mengandung resiko adanya kecurigaan primordial bahwa gen yang dikandung menantunya adalah bukan berasal dari anak laki-lakinya. Pejantan-pejantan jenis ini memang tidak bisa disebut sebagai He – animal, tetapi lebih cocok kalau disebut sebagai pejantan yang mengalami masalah intelektual, mungkin intelektualnya kurang berkembang atau berkembang secara sesat.

Munculnya idea, gagasan, sistem budaya dan moralitas dalam masyarakat manusia tidak otomatis membebaskan manusia dari perilaku selfish. Pada kenyataanya idea atau ideologi dalam masyarakat manusia juga berfungsi seperti gen yakni saling bertarung pengaruh agar dirinya mengalami replikasi dan tercopy secara abadi. Dengan kata  lain, dalam dunia binatang terjadi “survival for the fittest” untuk suatu seleksi dari gen, dalam masyarakat manusia ditambah lagi dengan pertarungan untuk memenangkan idea, ideologi atau kepercayaan. Dalam dunia binatang, individu merupakan survival machine yang dikendalikan oleh the selfish gene, dalam masyarkat manusia, individu bisa merupakan sekedar survival machine di bawah tirani dari  the selfish idea, ideologi atau agama.

Tidak heranlah atas nama idea, ideologi atau agama, manusia bisa saling bantai satu sama lain, bahkan tanpa memperdulikan hubungan kebangsaan, tetangga, sanak saudara, orangtua – anak. Masalah terakhir ini adalah masalah yang gawat dan serius yang bisa mengancam eksistensi manusia dan yang perlu pembahasan tersendiri. Namun saya ingin mengingatkan bahwa perbudakan otak manusia oleh suatu idea, ideologi atau agama bisa menyebabkan naluri dan intelektual kemanusiaan dan tanggung jawab seorang ayah menjadi mati ‘kapalen’.

.
Eko Raharjo, dokter peneliti, tinggal di Calgary-Canada.
Alumni Realino Angkatan 1978

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s