Aku senang sebagai orang Indonesia

joseJose Puglisi

Saya senang sekali menikmati tulisan kiriman Pak Budhy Mitra (Robohnya Surau Kami) yang sangat menginspirasi. Terima kasih.

Saya juga sering membaca tulisan2 bapak2 tentang republik kita Indonesia, dan kebanyakan dari sisi ‘lain’, dan kemudian dibandingkan dengan negara lain… saya tidak ikut nimbrung karena saya selalu melihat dari sisi yang lain… sisi seorang anak kampung yang sudah sangat senang bisa hidup di Jawa.

Saya tak pandai menulis, mohon pak Gufron jangan menertawai tulisanku yah…(tulisan bapak bagus bagus)


. :: ** :: .

Aku lahir di Pantirapih Yogya 1964 dan kemudian tahun 1967 dibawa ‘pulang’ dan bertumbuh besar di Abepura-Jayapura (Papua) dulu bernama Holandia Benen.

Sedari TK, SD, SMP aku lalui di sekolah Katolik, dan pada saat SMP aku sangat lekat dengan kehidupan di PK3 (Pendidikan Kader Kader Katolik). Teman-teman kami adalah anak-anak pedalaman yang dicomot oleh pastor dari kampungnya karena ‘kecerdasannya’ dengan harapan setelah selesai sekolah, mereka mau pulang ke kampungnya untuk mbangun deso.

Sungguh, hidup di Papua di tahun-tahun itu merupakan masa yang sangat menggembirakan dalam keterbatasan (kita terbiasa menciptakan kegembiraan sendiri). Segala sesuatu tersedia untuk dibuat gembira…. Apapun bisa dijadikan alat senang-senang (kita bisa berebutan menendangi kaleng bekas susu sepanjang perjalanan pulang dari sekolah sampai rumah). Atau hal yang paling kusukai adalah ‘mengambil’ mangga yang entah kenapa, memilih tumbuh di halaman pastoran (dihardik dan dikejar oleh pembantu pastoran sampai kami lari berhamburan merupakan kesenangan tersendiri).

SMA adalah masa-masa yang penuh dengan pembelajaran bagiku.

Aku beruntung karena dikaruniai suara yang sangat indah (terima kasih Tuhan), sehingga setiap minggu aku bernyanyi di gereja bersama kelompok vocal ‘Syaloom’ (kami berdelapan).

Setiap Selasa dan Kamis kami latihan, dan di hari minggunya bernyanyi minimal di tiga geraja. Pagi jam 07:00 kami bernyanyi di gereja Katolik Gembala Baik, jam 10:00 di gereja Protestan Pengharapan, dan sorenya di gereja yang lainnya lagi.

Hal yang saat ini aku rasakan unik adalah, dulu kami semua (anggota vocal group) adalah peminum dan kemudian pemabuk (hal yang sangat biasa bagi pemuda2 di Papua). Setiap malam Minggu dapat dipastikan kami mabuk! Tetapi dapat dipastikan juga bahwa pagi harinya kami pasti berjejer di barisan kiri depan gereja, siap melantunkan lagu-lagu pujian dengan sangat baik. Tidak pernah tidak !!

Impianku sejak awal bersekolah di SMA adalah : SEGERA LULUS DAN KEMUDIAN KULIAH DI JAWA !!

Tidak sedikitpun terpikirkan untuk sekolah di luar negeri. Jawa sudah merupakan suatu kemewahan bagi kami.

Mei 1983, hari pertamaku menginjakkan kaki di kota impianku: YOGYA!, karena abangku selalu mempromosikan Realino setiap saat padaku (enak, bisa makan tiga kali sehari, kalau telat wesel kita tetap bisa makan dan hal-hal lain yang menarikku begitu kuat untuk segera bisa tidur di kasur asrama – sesuai imajinasiku).

Aku masuk sebagai tamu diasrama sembari mencari-cari sekolah. Waktu itu bos kamar (bahasaku waktu itu – kemudian ternyata disebut bapak buah) adalah mas Prasetyo Utomo (sebagai tamu aku dengar slentingan bahwa nama sucinya Togog – tapi aku takut menyebutnya waktu itu).  Setelah dapat sekolah akupun diterima jadi warga Realino.

Dan benar, menyenangkan sekali di Realino (makan lancar tiga kali sehari, kalau mau lauknya nambah, aku memilih duduk di sebelahnya mas Handoyo (yang vegetarian), pasti lauknya dilungsurkan ke aku.). Malam harinya kita bisa makan lesehan di Malioboro sampai larut…walaupun paginya harus dibayar dengan macul pinggiran lapangan bola, diteruskan mbersihkan selokan depan asrama karena  malamnya ketangkap  Romo Windi saat aku manjat saluran air villa selatan sepulang dari Malioboro (rupanya romo sudah tahu modus operandi dan jalur-jalur rahasia yang sering digunakan anak-anak asrama kalau pulang kemalaman)

Kehidupan di Yogya aku lewati dengan senang (aku selalu senang atas ‘kemewahan’ kota Yogya – dibandingkan Abepura kotaku dulu). Saking senangnya aku sampai lupa kuliah ha..ha.., sempat sekolah di Atma Jaya dua tahun setalah itu mogok (abangku sampai gedek-gedek dan capai menggugahku dari tidur kesenangan… walau hari itu ada ujian di kampus, aku lebih memilih senang-senang di luar kampus). Sehingga mudah ditebak, dua tahun di Atma Jaya, aku langsung ‘lulus’!! Lulus juga dari Realino!!

Hari pertama mengontrak kamar kos di gang Menur (pinggir selokan Mataram) serasa seperti perayaan hari kemerdekaan tujuhbelas Agustus ’45. ” ….dengan ini menyatakan kemerdekaannya… hal-hal mengenai…… ntar diurus belakangan…” Yang pasti tidak ada romo yang njagain pintu kalau aku pulang kemalaman.

Kesibukanku setelah itu adalah menjadi ‘peneliti’ yang melakukan riset tentang kehidupan orang Yogya, apa saja yang membuat Yogya bisa jadi menyenangkan bagi banyak anak-anak lulusan daerah sehingga berbondong-bondong datang ke Yogya untuk sekolah dan ‘belajar’. Dan hasil ‘riset’ ku membenarkan bahwa memang banyak tempat-tempat yang bagus dan menyenangkan disamping hanya ‘untuk bersekolah’.

Aku kemudian bersekolah lagi, kali ini di AKUB (Akademi Keuangan dan Perbankan). Kali ini aku sregep sekali ke kampus, karena teman-teman kuliahku kebanyakan wanita dan cantik-cantik – beda waktu di Sipil Atma Jaya, laki-laki semua, cuma dua yang wanita dan tidak cantik. Aku kuliah dua setengah tahun dan lulus  dengan IPK yang lumayan bagus.

Aku rasa cukup membahas tentang masa kecilku.

Singkat cerita (versi panjang dan komplit akan aku buat nanti – kerana sebenarnya maksud tulisanku ini ’hanya’ menggambarkan betapa nikmatnya hidup di Yogya yang notabene berada di negara Indonesia, negara kita!!) aku kemudian merantau ke Jakarta dan memulai perjalanan hidupku sendiri, kemudian berdua dengan istriku, kemudian berenam dengan anak-anaku yang lahir kemudian.

Aku bekerja di Bank Perkembangan Asia (1988) selama 2 tahun, kemudian pindah ke Citibank, NA., selama 7 tahun, pindah lagi ke BNI 46 selama 5 tahun, dan kemudian sekarang di Danamon. Selama masa-masa itu aku sempatkan melanjutkan sekolahku sampai S1.

Banyak kisah-kisah yang mewarnai kehidupanku, dan bekal yang paling berharga adalah pengalaman hidup di Papua yang penuh kreatifitas mengelola ’kesenangan’ dan Yogya yang  telah menyediakan ’kesenangan’ untuk kita nikmati.

Kenapa saya katakan hal-hal itu sebagai bekal yang sangat berharga?

Aku menjalani hidupku dengan senang, dan selalu bersyukur. Kalau ada hal-hal yang tidak menyenangkan, aku akan membuatnya menjadi menyenangkan. Aku pandai dalam hal itu. Orang bilang bekerja bisa bikin stres, aku bilang kerja jangan dibikin stres…! meminjam kata-kata Gus Dur : ”gitu aja kok repot…”.

Seringkali kita merepotkan hal-hal yang seharusnya tidak usah dibuat repot. Kita paling pintar menjadi ’pemerhati’ menjadi ’pengamat’ kemudian  melakukan analisa-analisa sampai menjadi ide-ide yang seolah-olah baik (lihat saja pengamat-pengamat sepak bola kita yang ’lebih pandai’ dari manager atau coach klub-klub sepakbola dunia – tetapi sepakbola kita tetap-tetap saja memble), atau pengamat ekonomi dan yang ’ketularan’ jadi pengamat… kalau dibaca ulasannya sih bagus dan masuk akal… tapi itu sudah terjadi bertahun-tahun, dan tetap-tetap saja tuh… nggak ngaruh… malah kadang bikin bingung.

Aku berhenti membaca ulasan atau ’pengamatan’ dari para ’pengamat’. Aku lebih senang menjalankan pekerjaanku dengan tidak direpotkan dengan membaca ulasan seperti itu. Aku lebih memilih bilang ”gitu aja kok repot” jika ada ’pengamat’ yang mulai mengamati sesuatu yang sebenarnya sudah diamati oleh pengamat yang memang ditugasi untuk mengamat-amati.

Aku fokus pada hal-hal yang ada dalam area ekspertisku.

Pertama, adalah menjadi suami yang baik bagi istriku, menjadi ayah yang baik bagi anak-anakku, dan menjadi kepala keluarga yang baik dan selalu terbuka untuk memperbaiki diri (catatan: aku belajar banyak dari anak-anakku, yang tidak berusaha menjadi pengamat, tetapi langsung ngomong ke aku kalau aku salah)

Kedua,  adalah menjadi karyawan bank yang baik, yang berani mengambil resiko tetapi sesuai dengan kaidah-kaidah perbankan yang benar, menjalankan bank agar dapat menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik dan benar (mudah-mudahan menjadi bermanfaat bagi masyarakat)

Ketiga, menjadi anggota masyarakat yang baik. Minimal aku aktif di lingkunganku, kerja bakti, olah raga bersama… ngobrol di pos ronda dll.

Keempat, aku tetap bersenang-senang, tetap ke cafe, tetap golf, sesekali minum alkohol hik..

Kelima, Selalu bersyukur atas berkat dan rahmat yang sudah diberikan Tuhan pada kita.

Pendek kata, lakukan sesuatu sesuai dengan area keahlian kita, jangan repot-repot memikirkan sesuatu yang akhirnya tidak bisa kita kontrol. Ingat ide tentang Lingkaran Kepedulian dan Lingkaran Pengaruh dari Stephen Covey dalam 7 Habits oh Highly Effective People? dan itu semua dimulai dari Lingkaran Pengaruh kita bukan?

Dari kota kecil Abepura, dengan bekal senang, kreatifitas sederhana dan berani, sekarang aku hidup dengan penuh syukur dengan keluargaku di Jakarta.

Salam.
Jose Puglisi (angkatan ’83, nama suci Bekicot)
Saat ini Vice President di Bank Danamon Indonesia

Pernah menjabat sebagai:
Pimpinan Wilayah Bank Danamon Jabotabekacil
Pimpinan Wilayah Bank Danamon Jateng-DIY
National Sales Head di Bank BNI 46
DRU Head di Citibank NA.,
Dan pernah menjadi petugas appraisal di Bank Perkembangan Asia

(Aku sampaikan ini hanya sebagai ilustrasi bahwa aku menjalankan hidupku dengan fokus, senang,  tidak repot-repot memikirkan hal-hal yang aku nggak tahu, aku selama ini dibayar dengan rupiah dan membayar dengan rupiah, dan aku senang tinggal di Indonesia, persetan dengan kata orang tentang negeriku, dan aku tidak omong kosong !!!)

Iklan

7 Replies to “Aku senang sebagai orang Indonesia”

  1. Bung Jose Puglisi dan para rekan Realinowan,

    Tulisan Bung sungguh menggetarkan karena disampaikan dengan terang dan lugu serta “to the point”. Anda berhasil menyampaikan Visi dan Misi kehidupan pribadi anda sebagai orang Indonesia. Saya yakin banyak yang memiliki kesamaan dengan pengalaman hidup anda. Semakin banyak yang menyuarakannya akan semakin baik bagi “nation building”. Keperdulian akan kelangsungan Indonesia sebagai bangsa perlu diutarakan dengan jelas dan gamblang agar para pemimpin, calon pemimpin, politisi cum partai politik dan para tokoh agama dan masyarakat tidak asal ngomong mengatasnamakan rakyat padahal mengatasnamakan dirinya dan kelompoknya untuk kepentingan dan kemaslahatan diri sendiri/partai/kelompok dan bukan untk kepentingan seluruh orang Indonesia yang pluralis. Hasilnya? Tragedi nasional silih berganti baik karena bencana alam maupun yang diciptakan oleh manusia. Korbannya siapa? Rakyat biasa yang atas namanya Indonesia didirikan dengan proklamasi Sukarno Hatta. Adakah kesatuan tindak untuk keluar dari segala bentuk tragedi ini? Saya menjawab tegas tidak dan belum.

    Mudah-mudahan saya keliru dan saya mengundang kawan-kawan mengoreksinya. Mengapa? karena para pemimpin terbuai oleh kekuasaan yang sudah sangat senang dinikmatinya. (Sungguh mereka bersenang-senang dengan sberbagai bentuk sperti studi bandig keluar negeri, menikmati segala bentuk “privelege” sebagai pemimpin namun hasil kerja??? Lihatlah hasil kerja para waki kita di DPR. Para pembayar pajak negeri ini yang setiap saat diingatkan atas kewajibannya, namun hak-hak rakyat dan terutama para pembayar pajak??? Saya prihatin dan tulisan Bung Darmanto Djojodibroto (’63) di milis ini menyangkut pelayanan masyarakat terkait dengan kewajiban membayar pajak patut diperhatikan oleh para rekan Relinowan yang berkiprah di Lapangan Banteng.

    Namun apakan anak bangsa yang telah menikmati pendidikan tinggi dan kehidupan yang senang, bahagia, menyenangkan dan bahkan makmur tidak berkekurangan cukup berpuas diri saja? Saya pribadi menjawab tidak. Justru dengan kelebihan-kelebihan serta kesenangan yang secara pribadi telah kita raih patutlah kita pakai sebagai sumbangan memperkuat kebangsaan dalam bingkai kebhinekaan.

    Bagi saya visi ke-Indonesia-an sudah jelas seperti yang termuat dalam Mukadimah UUD 1945. Tinggal Misi mewujudkannya yang perlu diperjelas dan dipertajam dengan program-program kerja kongkrit dan terukur yang diabdikan untuk seluruh lapisan warga NKRI tanpa pandang bulu dan yang berdiam diseluruh pelosok mulai dari ujung paling timur di Papua sampai di barat utara Sumatera, dari Miangas di utara sampai di pulau-pulau kecil diselatan pantai pulau Jawa. Untuk inilah dialog, pendapat, pengamatan dan terutama kritk (setajam dan sekasar apapun) sangat diperlukan.

    Pengalaman saya sebagai professional di Pemerintahan dan lembaga internasional selama 32 tahun lebih mengatakan bahwa ide atau pendapat yang kelihatannya “stupid” justru sumber inspirasi yang handal untuk menghasilkan kerja/program yang sangat brilian.

    Bung Jose dan Realinowan lainnya, teruslah menulis dan berinteraksi. Tulisan anda adalah sumber inspirasi bagi orang lain. Saya salah seorang yang beruntung diperkaya oleh berbagai tulisan di milis ini.

    Salut kepada Bung Jose.

    Salam SeV,
    Normin Pakpahan (’64)

  2. Mas Jose Puglisi dan teman-teman,

    Saya menikmati tulisan mas Jose berjudul “Aku Senang Aku Orang Indonesia”.Saya bisa membayangkan perasaan yang diutarakan mas Jose. Kata senang yang digunakan pada judul kisahnya sangat tepat. Di sini mas Jose tidak menggunakan kata bangga. Kita bangga bila bangsa kita mencapai prestasi yang melebihi bangsa lain, seperti ketika bisa mendapatkan / mempertahankan piala Thomas, ketika PSSI berjuang melawan Rusia di olimpiade Melbourne, ketika masyarakat ilmu kedokteran mengagumi keberhasilan prof. Padmosantjojo memisahkan kembar siam dempet kepala.

    Saya pernah kecewa ketika pak M. Jusuf (ketika jadi menteri pertahanan RI) di pulau Lombok di hadapan anak-anak sekolah kira-kira di tahun 1979/1980 mengatakan kita harus bangga menjadi anak Indonesia. Pada waktu yang sama di kala itu di Lombok Barat ada kejadian luar biasa busung lapar. Kedua kejadian itu dimuat dalam Koran Kompas pada halaman yang sama. Bagaimana bisa kita bangga bila ada sebagian bangsa di pulau yang sama mengalami kelaparan. Mungkin kata bangga yang dimaksud pak M. Jusuf lain dengan apa yang saya artikan. Mengapa saya kecewa? Oleh karena pak Yusuf adalah orang yang saya kagumi, tetapi pada saat itu koq cara berpikirannya tidak sama dengan yang saya anut.

    Pada saat ini, bagaimana kita bisa bangga bila negara kita dilanda banjir oleh karena hutannya dibabat habis, banjir oleh karena tidak ada drainase, antre minyak dan gas oleh karena tambangnya diserahkan kepada bangsa asing, naik haji ONH terus naik; royalty hasil tambang tidak dibayar sesuai ketentuan; kesemuanya menunjukkan salah urus. Apanya yang dibanggakan?

    Jika mas Jose menyatakan “Aku Senang Aku Orang Indonesia”, saya paralel dengan pendapat mas Jose, “Saya harus menerima dan ikhlas Tuhan menjadikan saya orang Indonesia”.

    Saya pernah bekerja sebagai pegawai negeri selama sebelas tahun, saya menikmati bidang pekerjaan saya, tanpa merasakan bahwa saya digaji tidak cukup. Ibu saya lebih peka daripada saya, Beliau tahu bahwa kehidupan saya tidak layak untuk bisa membina keluarga. Saya katakan kepada Ibu, bahwa saya pegawai negeri seperti Bapak. Apa kata Ibu saya? Ya, Bapakmu di kala jadi pegawai negeri (ambtenaar) digaji layak sedangkan kamu tidak. Dengan berat hati saya keluar dari pegawai negeri.

    Betul apa yang dikatakan Ibu, bahwa untuk berbakti tidak harus menjadi pegawai negeri.Ternyata setelah pindah kerja saya masih bisa menulis penelitian untuk bisa dimuat dalam jurnal ilmiah nasional, regional dan internasional. Berbakti kepada bangsa / negara dan kemanusiaan bisa dilakukan di mana saja di Indonesia atau di luar Indonesia tidak harus jadi pegawai negeri (mas Anton Sujarwo dan mas Bambang Ismawan adalah bukti nyata), banyak aparat negara yang terhormat malahan menjadi parasit bangsa.

    Salam
    RDD

  3. bung Jose Puglisi,

    Saya pernah berjabat tangan dengan anda, saya pernah ngobrol dengan anda juga (walau sebentar) bung Jose waktu di Reuni Semarang, duduk agak dibelakang, berkaos merah memakai kalung, anda duduk disamping bung Lodewyk dan Ronny. Waktu tiba acara bebas, anda menyanyi lagu ambon (kok milih lagu ambon ya?). Itu semua terjadi di Semarang sewaktu ada Reuni Realino di Semarang. Beda masuk Realino antara saya dengan bung Jose adalah 20 tahun. Itu bukan menjadi halangan.

    Sama dengan anda bung Jose, sayapun menikmati artikel yang dikirim oleh pak Budhy Mitra, sangat menyentuh.

    Sewaktu saya masih aktif bekerja , saya tidak pernah menulis memoir atau cerita perjalanan saya. Saya hanya mencatat di buku harian, yang kemudian saya kumpulkan. Jumlahnya banyak sekali sampai puluhan. Lalu foto2 saya simpan dengan baik2 beserta klise2nya, semua masih analog. Saya baru banyak menulis 2 – 3 tahun terakhir ini saja.

    Saya sangat menghargai tulisan bung Jose. Sungguh. Saya tidak bohong. Kalau ada waktu, silahkan diteruskan. Tulislah apa saja yang ada dibenak anda, forsino ini forum yang sarat dengan persaudaraan.

    Sebagaimana anda bangga sebagai putra asli Abepura, sayapun bangga sebagai putra dari Pati, anak seorang guru SMP yang memiliki 12 saudara dari satu ayah dan satu ibu. Hidup sederhana sudah saya lakoni sejak dilahirkan sampai lulus sarjana. Selama 17 tahun di Pati dan hampir 7 tahun di Realino. Dengan berbekal itu saya memulai bekerja, 20 tahun di IBM dan 15 tahun di swasta.

    Saya menantikan tulisan anda berikutnya. Saya harapkan kalau bung Labuhan mempunyai rencana kumpul2 lagi, anda sudi meluangkan waktu kumpul bersama eks2 Realino. Jangan peduli dengan angkatan yang tua, yang setengah tua, atau yang belum tua.

    Salam kami untuk keluarga. Semoga sukses berkarya di Bank Danamon.
    Gufron – 63

  4. Mas Jose, Pak Darmanto, Pak Gufron, Pak Normin dll yang saya sangat hormati

    Subhanallah, saya kagum pada anda semua!!.
    Alhamdulillah, saya bersyukur ditakdirkan menjadi keluarga besar ini dan menikmati serta berkesempatan untuk mem “Brain packing” pribadi saya dengan diskusi yang wahhhh, ilmiah, lancar, bersahaja tapi mengena.

    Saya tidak pernah ketemu anda semua, tapi di hati saya yang terdalam, saya “merindukan” anda semua dan Alumni Realino lainnya.
    Akhirulkalam, Mas`Jose, Pak RDD, Pak Normin, Pak Gufron, dll, terima kasih atas pencerahan untuk batin saya.

    wassalam
    budhy mitra shah-79

  5. Terima kasih,malam ini saya bisa membaca – baca tulisan bang Jose,ada semangat yang saya rasakan saat pikiran saya melayang melihat “sejarah kehidupan” anda.

    Terima kasih sekali lagi, tulisan anda membuat pikiran saya kembali ke masa lalu saya dan tersenyum……….

    Maaf,saya bukan warga realino,tapi saya menikmat tulisan anda.

    Salam Sukses Selalu untuk kita semua………..

  6. Saya bukan anggota forsino, walaupun pernah mengalami kehidupan asrama yang dikelola bruder bruder dari Belanda.

    Anggota Forsino kelihatannya senang dan mungkin bangga dengan keberagaman yang pernah dialaminya. Mengapa miniatur TMII ini harus ditutup. Seharusnya asrama seperti Forsino ini harus dibuka lebih banyak lagi sehingga mahasiswa mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa perlu belajar saling menghargai perbedaan suku dan agama. Indahnya toleransi dan perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s