The Audacity of Hope

Eko Raharjo

Kita yang survive sampai tahun 2009 ini mestilah memiliki syaraf yang terbuat dari baja. Sebab kita ini hidup dalam situasi dunia yang serba kacau dan gawat terutama dalam 8 tahun terakhir ini.

Permusuhan,perang, serangan teror, eksploitasi alam yang berlebihan, kekacauan dalam interpretasi nilai-nilai keadilan, hukum, etika dan moral merupakan kenyataan hidup sehari-hari. Sepertinya belum cukup, di akhir tahun 2008 Israel melancarkan serangan massive ke jalur Gaza yang merenggut ratusan korban dan yang memicu dan memanaskan kembali siklus kebencian dan permusuhan.

Saya kira kita semua tak pernah lupa pada saat September 11, 2001, ketika Twin Tower di New York, lambang dominasi ekonomi USA, di hajar serangan teror. Saat itu saya sedang bekerja di Lab Imunologi, dan memutuskan untuk pulang untuk mengikuti peristiwa tsb secara privat melalui pesawat TV di kamar tidur. Saya dipenuhi emosi sedih menyadari sedemikian dahsyatnya manifestasi “evil” dari bangsa manusia. Seperti orang umumnya, saya juga menaruh simpati besar terhadap para korban. Anak saya yang waktu itu masih SD kelas VI punya inisiatif untuk mengumpulkan sumbangan di sekolahan untuk membantu pihak korban.

Tak kurang bikin shock adalah reaksi dari Bush administration. Mereka tidak hanya memerangi Afganistan untuk memburu OBL dan al-Qaidanya tetapi juga, by choice, menyerang Irak kendati tak ada bukti-bukti apapun yang menghubungkan Irak dengan teror 911 maupun al-qaida. Saya mengirimkan tulisan ke mailing list kecil komuniti Indonesia di Calgary (dan mungkin ke beberapa mailing list lainnya) mengenai betapa idiotnya presiden USA ini dan pemimpin bangsa-bangsa lain hendaknya menentangnya. Pada tgl 20 Maret tahun 2003, kekuatan militer USA dan Inggris dan disertai oleh Australia, Polandia dan Denmark menyerbu Irak meski tanpa memperoleh persetujuan dari PBB.

Lebih mengerikan lagi adalah intensi yang tersirat dari pidato-pidato George W Bush, bahwa rupanya perang tsb tidak sekedar untuk menangkap pelaku teror saja, melainkan untuk membangun kembali imperialisme Amerika – Inggris, lebih buruk lagi adalah merupakan manifestasi dari Clash of Civilization yang berdasar pada thesis Huntington. Tulisan saya mengenai “Crusade (Perang Salib) abad 21” tidak pernah saya selesaikan, sebagai gantinya saya menulis mengenai “The Emperor and The Assasin” yang berdasar pada filem “Jing Ke Ci Qin Wang” buatan Chen Keige, dimana dalam usaha menjadikan China sebagai satu imperium,kaisar Qin merancang suatu plot politik dengan membiarkan seorang assasin (teroris) dari negara musuh untuk masuk ke istana sebagai justifikasi untuk memulai perang.

Berbagai misteri menyelimuti serangan teror 911, diantaranya adalah ketidaktahuan CIA mengenai rencana tsb. Padahal, baru setahun sebelumnya, Ahmed Ressam, anggota Cell al-Qaida di Kanada, tertangkap di perbatasan USA ketika mengangkut bomb untuk meledakkan LA airport. Hanya dengan “permisi” dari kaisar Qin sendiri, seorang assasin dari negara musuh bisa masuk ke dalam istana. Dengan justifikasi tsb, sang kaisar menggulung negara-negara musuh satu persatu. Sama persis,tampaknya Bush, Cheney, Rumsfeld telah membuat suatu doktrin danmerancangkan suatu plot untuk menggulung Afganistan, Irak, dan dilanjutkan Iran, Syria, dst. Namun seperti yang dialami kaisar Qin, penyerbuan yang diperkirakan berjalan dengan mulus dengan semangat heroisme tsb ternyata berjalan runyam dan mengerikan.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa tekat manusia, lepas dari baik ataupun buruk, tak gampang luruh hanya karena diancam oleh rudal Tomahawk. Serangan USA dan sekutu terhadap Irak hanya semakin membangkitkan gerakan teror global. Sungguh tragis dan menyedihkan bahwa Indonesia, khususnya Bali, juga menjadi korban dari kekacauan ini. Amrozi Cs sebagai pelakunya telah menjalani hukuman yang setimpal. Namun sangsi apa yang telah dikenakan terhadap Bush, Cheney dan Rumsfeld bila terbukti sebagai pemicu dari semua kekacauan ini? Tidak hanya interpretasi keadilan yang konsisten yang diperlukan, melainkan diperlukan juga suatu perubahan paradigma atau re-interpretasi dari Clash of Civilization yang memitoskan seolah-olah dunia Barat/Kristen tidak pernah bisa berbaur dengan dunia Arab/Timur/Islam.

Seperti munculnya kekuatan “evil” yang memecah-belah, kekuatan pemersatu juga muncul secara misterius dan tak terduga. Gerakan kampanye Barack Obama menarik perhatian saya pada awal 2008 ketika di Youtube muncul lagu “Yes We Can” dari Will-I-am dimana sebelumya seperti kebanyakan orang saya tak tahu menahu mengenai dia. Kendati background yang sedemikian improbable, pesan-pesan Obama mampu membangkitkan harapan dari jutaan warga Amerika, dan mampu menembus batas-batas SARA dan meluas ke semua benua. Pesan utama dari Obama adalah untuk meninggalkan sistem politik yang memecah belah dan menggantikan dengan sistem politik yang mempersatu yang barakar dan berorientasi kepada kehidupan rakyat seluruhnya dan yang menjunjung decency dan dignity kemanusiaan.

Tentu saja gerakan persatuan yang dirintis oleh Obama tidak akan otomatis berjalan mulus. Kebijakan luar negerinya untuk menarik pasukan dari Irak dan untuk berunding dengan Iran banyak memperoleh tentangan. Tidak sedikit warga Amerika yang masih mensinonimkan Islam dan Arab sebagai buruk dan jahat. Bahkan belum sampai ia dilantik menjadi president, saat ini tantangan berat sudah muncul di Timur Tengah. Kalaupun presiden Obama seperti halnya presiden Kennedy menjadi korban dari pembunuhan, jutaan orang di Amerika dan seluruh dunia sudah terlanjur teryakinkan bahwa harapan itu tetap ada, bahwa umat manusia hanya akan mungkin survive di dunia ini bila mereka mau bekerja sama dan meninggalkan kesombongan atas superioritas masing-masing.

SeV
Selamat Tahun Baru 2009

Iklan

2 Replies to “The Audacity of Hope”

  1. bung Eko,

    Suatu tulisan, ulasan dan apapun namanya yang berbobot, penuh gambaran potret kondisi sekarang, trenyuh membacanya. Lebih2 waktu membaca musibah di Bali, karena Bali mendapatkan musibah dari pengikut ‘Islam yang bodoh’ yang menginterpretasikan Al Quran cuma secuil. Islam bukan penjahat, Islam bukan Evil. Sejak 1984, saya nyantri di pesantren Husnayain, pengetahuan tentang Islam lumayan bertambah. Islam cinta damai.

    Bali adalah saudara kita setanah air, saudara kita di NKRI, saudara kita yang selalu menonjolkan damai dan damai dan damai.
    Saya senang membaca tulisan bung Eko. Bagus sekali.

  2. Bung Eko,

    Tulisan yang menarik. Banyak harapan sebenarnya tertumpu pada pemimpin-pemimpin dunia baru termasuk Obama. Sayangnya serangan Israel di Gaza semakin menyulitkan Obama kelak dalam proses perdamaian di Timur Tengah dan dalam mendekati kaum muslim (setahu saya ini masuk dalam program 100 harinya).

    Membaca peta ekonomi dan politik global saat ini cukup memusingkan, kearah mana dunia bergerak tahun 2009 ini.Sementara itu terdapat desakan untuk bagaimana mendudukan Indonesia secara tepat mulai dari tataran regional dulu, bukan untuk sok gagah gagahan, tetapi kalau peletakan posisi tersebut tepat maka dapat dimanfaatkan untuk kepentingan nasional kita. Buat saya sederhana saja, kepentingan nasional indonesia adalah rakyat Indonesia yang maju dan sejahtera dan tetap dalam bingkai NKRI.

    Apakah bisa??? saya kira slogan Yes we can bukan hanya untuk Amerika tetapi sangat universal, termasuk untuk Indonesia. Bush salah kaprah 8 tahun terakhir, mudah-mudahan Obama dapat memperbaikinya. Khusus untuk Indonesia, kita sedang dalam proses berubah untuk maju, banyak pemimpin muda yang mulai menunjukan giginya. Tempo akhir tahun telah mencoba mengedepankan 10 pemimpin Indonesia saat ini yang diambil dari bupati dan walikota se indonesia. Gatra juga mengulas pemimpin-pemimpin, atau lebih tepatnya, mereka yang paling berpengaruh di bidangnya selama tahun 2008. Dibidang industri kreatif, khususnya entertainment, kompas 28 Maret coba mengekplore pemikiran kritis beberapa seniman muda.

    Di forum kita ini, muncul pemikiran-pemikiran baru dan segar di bidang pendidikan, globalisasi, kewiraswastaan (belajar dari pak Sismadi), membangun dari akar rumput (Pak Bambang, pak Titus), membagi pengalaman dengan advice yang cantik (pak Gufron), pengembangan SDM, (mas Ferry), dan tulisan-tulisan kritis generasi yang lebih muda (bung Eko dan teman-teman). Melihat ini semua, saya kok optimis, ke depan akan lebih baik, tentunya harus dengan kerja keras (baca pesan moral AA Navis 1956 yang diposting Budhy), luar biasa sangat kontekstual dengan masa kini, seakan AA Navis bisa melihat ke depan, sebelum Fukuyama dan Hutington berkiprah.

    Saya selalu menikmati tulisan-tulisan Bung Eko, so please keep writing, karena akan dibaca di milis ini, dimana masing-masing punya bapak buah dan anak buah (pakai istilah Mas Ferry), elemen-elemen penting dan positif akan direkam dan disarankan/diajarkan/dilaksanakan ke bapak buah dan anak buah tersebut.

    Kita hidup dalam dunia yang memang tidak adil, tadi saya nyeletuk saja waktu lihat caption berita di BBC, “4 Israelis were killed” karena serangan rudal hamas, caption berikutnya”acoording to the news released, 400 people were killed for the last 7 days”. Warga Israel yang meninggal disebutkan, warga Palestina hanya disebutkan people, bukan Palestinian. Saya jadi teringat berita CNN mengenai perang Iraq, selalu disebutkan lebih dari 4000 prajurit AS yang meninggal selama ini, sangat jarang disebutkan bahwa sudah lebih dari 3 ratus ribu orang Iraq yang meninggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s