Mengenang Sismadi Partodimulyo

Oleh: Titus Kurniadi

Sosok mas Sismadi memang unik dan menarik untuk disimak. Sejak kecil, tahun 1937 – 1942 ia sekolah di HIS Muntilan, dan tinggal di asrama Convict Muntilan, sebuah paroki pendidikan karya Romo Van Lith, SJ. Tidak hanya itu, sejak 1952 ia memilih tinggal di Asrama Mahasiswa Realino pimpinan Romo J. Beek SJ., sampai ia lulus dari Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.

la seorang muslim yang taat dan setia, hidup di tengah-tengah suasana Katholik, yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya. Bahkan Asrama Realino kemudian menjadi Asrama Mahasiswa Pancasila, dengan menciptakan sarana dan ketentuan-ketentuan yang membaurkan para penghuninya dari berbagai agama, suku bangsa, etnis, latar belakang keluarga, dan disiplin ilmu.

Dengan berbagai pengaturan asrama, sosialisasi, seperti sekamar bertiga, kegiatan-kegiatan olah raga, diskusi, bakti sosial, jadilah satu kehidupan bersama yang indah dalam perbedaan. Itulah Bhinneka Tunggal Ika dalam bentuknya yang sangat nyata. Dan mas Sismadi adalah salah satu tokoh senior, tokoh panutan, serta keteladanan di asrama.

Pria yang lahir di desa Jatinom Klaten 19 Agustus 1929 itu, pada tahun 1957 (saat saya masuk asrama Realino), sudah mengendarai sepeda motor. Sehingga mas Sismadi sering dianggap berasal dari keluarga cukup mampu. Adiknya Siswanto Partodimulyo, yang sudah mendahului beberapa tahun yang lalu, juga tinggal di asrama Realino. Asrama ini, dengan sistem kamar-kamarnya yang tanpa kunci, sejak awal mengajarkan bagaimana kita hidup bersama dengan jujur, tak layak mengambil milik orang lain.

Untuk snack pagi dan sore, masing-masing mendapat sepotong pisang goreng dan singkong goreng. Sebagai anak muda, kita begitu tergoda untuk mengambil lebih dari satu, tetapi selalu diingatkan bahwa itu hak orang lain, teman sendiri, tetapi teman itu tidak sedang di tempat, lagi kuliah, namun haknya harus tetap dihargai. Itu kewajiban kita. Kalau akhirnya mengambil juga, maka kemudian timbul rasa bersalah, karena telah mengambil hak orang lain.

Nah, ketika Asrama Realino harus ditutup pada tahun 1991, para alumni yang berjumlah sekitar 1400 orang (dari 1952 – 1989), merasa sangat terkejut dan kemudian bersepakat membentuk wadah bagi para alumninya. Kemudian terbentuklah Yayasan FORSINO (Forum Studi Realino) dengan para pendirinya termasuk mas Sis (begitu ia dipanggil secara akrab). Bahkan forum memutuskan untuk mengangkat mas Sis sebagai ketua yang pertama sejak tahun 1991. Begitulah, wadah baru ini menggelinding di bawah kepemimpinannya.

Mas Sis terakhir menghadiri Rapat Pengurus Forsino tanggal 12 Agustus 2003, dalam kapasitasnya sebagai Penasehat. Pada saat itu ia sempat bercerita tentang kunjungannya ke Malaysia dan Brunei Darussalam dan pertemuannya dengan para pemimpin agama di sana. Tentang agama, mas Sis berpendapat bahwa iman itu jauh lebih penting dari pada ritus-ritus agama buatan manusia. Pandangannya selalu menjaugkau semesta dan umat manusia. la tidak pernah berpikiran sempit, apalagi primordial. Pada waktu rapat tersebut, ia sempat terbatuk-batuk agak lama yang terasa agak aneh, tetapi kita hanya mengambilkan air putih untuk meredakan batuknya.

Kita semua menjadi sangat terkejut, ketika di akhir November 2003 mendengar tentang kanker paru-paru yang diidapnya. Pada tanggal 9 Desember 2003, beberapa Pengurus datang menjenguk di rumahnya Jl. Persahabatan Timur Rawamangun. Dalam keadaan masih sangat segar, ketika bersalaman dengan saya, mas Sismadi berseloroh (memang itu kebiasaannya) begini: “Sing lara kok yo aku, kudune kowe, aku kan ora nate ngrokok”. Saya tertegun dan hanya tersenyum saja. Dalam percakapan selanjutnya ia memberikan pengakuan diri, yang sangat menyentuh hati, katanya; “Aku iki sombong, watuk-watuk ora gelem perikso…”

Mas Sis memang seorang yang suka bicara terbuka, terus terang, tanpa basa-basi, tetapi sering mempunyai arti yang dalam. Sombong itu seperti pakaian baru, kita cenderung suka memakainya. Tetapi jangan kau pakai. Itulah pelajaran berharga dari mas Sis. Pada tanggal 30 Desember 2003, kita sempat mengunjunginya lagi dan bercakap-cakap serta bercanda, duduk bersama di teras depan rumahnya, kita berdoa bersama.

Mas Sis menyadari betul, hanya keajaiban Tuhan yang dapat menolongnya. Pada tanggal 23 Januari 2004 sore hari, kita bersama-sama melihat mas Sis terbaring di ruang ICU tanpa daya. Kita berdoa di luar jendela ruang ICU. Tak tahan kita melihatnya. Seorang yang begitu gagah perkasa, cerdik, serta tulus, menjadi begitu tak berdaya, hati kita masing-masing terasa teriris, pedih. Dan akhirnya beberapa hari kemudian mas Sis pun pergi menghadap panggilan Sang Maha Pencipta.

Tanggal 28 Januari 2004, dr. Sismadi Partodimulyo meninggalkan kita semua, dan ketika saya diminta menyampaikan pidato sebelum jenazahnya diberangkatkan malam itu juga ke desa Jatinom Klaten, tempat kelahirannya, saya menyatakan dengan sungguh-sungguh kesedihan kami, sahabat-sahabatnya, sesama mantan penghuni Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, bersama dengan keluarga yang ditinggalkannya. Di tengah-tengah persiapan akhir silaturahmi Forum Komunikasi Realino yang akan digelar tiga hari lagi, untuk mempersiapkan buku tentang “Indonesia yang Bhinneka, Bersatu, dan Bertanggungjawab – Spirit Realino, Solusi Masalah Bangsa”, kami kehilangan salah satu nara sumber terpenting, yaitu mas Sismadi.

Mas Sis sering bicara sepotong-sepotong. Tidak utuh. Seolah-olah ingin agar lawan bicaranya memikirkan sendiri kelanjutannya. Tetapi pada tanggal 25 April 1992, ketika Forsino menyelenggarakan seminar tentang “Investasi Bijaksana untuk Menyongsong Usia Lanjut”, mas Sis sebagai salah seorang pembicara, tentang “Investasi di Bidang Wiraswasta”, ia berbicara secara sangat utuh dan lugas. Kita semua menjadi jelas, siapa mas Sis, yang telah berhasil mengembangkan diri sebagai pengusaha (wiraswasta) serta meninggalkan profesinya sebagai dokter. la berbicara tentang sistem nilai di bidang usaha.
.
Jakarta, April 2004

.

  • Dr. Sismadi Partodimulyo, SpB, MBA (1929- 2004) adalah alumni Realino angkatan pertama (1952)
  • Naskah dikutip dari Buletin Kabar edisi Mei 2004.
Iklan

One Reply to “Mengenang Sismadi Partodimulyo”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s