In Memoriam Sismadi Partodimulyo

Oleh: Bambang Ismawan

Usai memahami apa yang kami kerjakan di Bina Swadaya, membantu rakyat miskin dengan cara yang mendidik dan berkelanjutan, komentar Mas Sismadi mengejutkan. “Kowe ki kok pinter men to Mbang, kowe sinau ueng ngendi? Mbok aku diajari, pomo uripku ki wis ro ono gunane, wis ben tak tekek wae guluku,” (kamu kok pandai sekali Mbang, kamu belajar dimana? Tolong saya dikasih tahu, kalau hidupku sudah tak berguna, biar saja saya cekik leher saya sendiri).

Mas Sis sebenarnya bukan orang yang begitu saya akrabi di Realiuo, Beliau senior 4 tahun dan termasuk yang memlonco waktu saya masuk Realino tahun 1957, meski demikian, berbagai perilakunya yang unik dan “nyeleneh”, membuat ia sering menjadi sorotan. Tak lepas, saya pun ikut memperhatikan.

Tahun 1957, Mas Sis membuat “heboh”. Dalam Realino Discussion Club (RDC), beliau menyampaikan hasil penelitian sosialnya tentang pelacuran di Kali Code. Pada masa itu, pelacuran merupakan hal yang masih sangat tabu dan jarang dibicarakan. Tentu saja, penelitiannya yang bersifat “voluntary” itu membuat kaget banyak orang.

Usai diwisuda, Mas Sis juga membuat kaget. Saat sedang ramai dengan anak-anak Realino kumpul dekat kapel, tiba-tiba ia datang dan membanting ijazahnya, sambil berseru “selamat tinggal mahasiswa”. Dan tak lama kemudian, bukan Sismadi kalau tak membuat heboh, sebagai dokter muda ia pergi ke Irian sambil membawa dokar (kuda dan bendinya).

Tiga tahun setelah dari Irian, saya mulai akrab dengan Mas Sis. Dalam macam-macam resepsi dan rapat, kami sering bertemu. Dan akibat begitu seringnya kami bertemu, akhirnya Mas Sis penasaran dan ingin tahu apa yang saya lakukan. Dari situlah, Mas Sis lalu saya perkenalkan tentang LSM. Dan sebagai seorang yang lama menggumuli dunia bisnis, ia kemudian tertarik dengan dunia LSM dan meminta masukan cara membuat LSM.

Dari berbagai interaksi tersebut, saya juga makin mengenal aktivitas Mas Sis. Beliau adalah seorang dokter yang kemudian mendirikan rumah sakit, serta berbagai usaha lain. Mas Sis adalah seorang wirausahawan yang sukses. Namun di tengah kesibukannya itu, ia juga belajar bisnis di Prasetya Mulya sampai selesai. Lalu Mas Sis mendirikan perusahaan konsultan dan menjadi konsultan pula.

Jiwa wirausaha Mas Sis ini tertempa sejak kecil, terutama dibangun dari kebiasaan menjaga toko keluarga. Beliau memang agak berbeda dengan saudaranya (Siswanto) yang sering konflik dengan Bapaknya dan bila berkomunikasi lewat papan tulis. Keluarga itu memang unik.

Keberhasilan Mas Sis dalam usahanya, tak lepas dari dukungan Mbak Zaenab Sismadi. Kedua sejoli itu memang seakan tak pernah terpisah. Dimana ada Mas Sis, disitu ada Mbak Sis. Kedua-duanya saling mendukung dalam berbagai aktifitas. Terns terang saya juga mengenal baik Mbak Sis, terutama akibat menjadi “perantara” surat-menyurat keduanya waktu masih mahasiswa.

sismadi dan istri
"Aku minta maaf tidak bisa mendampingi sampai 50 tahun," kata-kata terakhir mas Sismadi kepada mbakyu Hj. Zaenab.

Semangat untuk sungguh-sungguh memahami dan mempelajari apa yang dilakukan, betul-betul selalu menjiwai Mas Sis. Bukan hanya di dunia bisnis, dalam pemberdayaan rakyat miskin (LSM), Mas Sis juga belajar sungguh-sungguh. Terbukti, beliau berdua bersama istrinya mengikuti workshop yang kami selenggarakan di Solo mengenai keuangan mikro dan pengembangan ekonomi rakyat (pertanian) secara serius.

Belum puas dengan hal tersebut, beliau juga mengikuti training yang diselenggarakan untuk staf baru yang akan menjadi petugas lapangan keuangan mikro (model ASA dari Bangladesh). Kemudian, dengan biaya sendiri beliau berangkat seorang diri mengikuti Microcredit Summit Meeting di New York tahun 2002 (pertemuan tahunan setelah 1997).

Berbagai upaya tersebut dilakukan, terutama setelah Mas Sis sebelumnya mencoba membantu masyarakat secara tidak karitatif, namun sering gagal. Sampai akhirnya telontar pertanyaan, mbok apusi piye to Mbang pegawaimu, kok manut karo kowe? (kamu bohongi bagaimana sih Mbang, kok pegawai kamu menurut pada kamu?). Meski beberapa kali mengalami kegagalan, namun Mas Sis tak pernah menyerah, semua tetap dilakukan dengan rasa percaya diri. Beliau memang tak pernah mempersoalkan hasil.

Obsesi Mas Sis membantu rakyat kecil begitu kuat. Demikian pula keinginan membantu desa asalnya Jatinom. Dan akhirnya, saya mendengar bahwa apa yang dilakukan Mas Sis dengan LSM-nya, akhirnya menunjukkan keberhasilan.

Penutup

Bercermin dari perjalanan hidup Mas Sismadi, ada beberapa hal yang bisa ditarik benang merah dari perjalanan hidupnya. Pertama, Mas Sis adalah seorang yang senang dengan tantangan. Bahkan menghadapi tantangan tersebut, justru dinikmatinya. Kedua, gampang bosan dengan sesuatu yang bussiness as usual dan selalu tak puas dengan apa yang telah dicapai. Ketiga, selalu ingin menyeberang dan mengalami keterlibatan di luar yang mapan. Berbagai hal tersebut merupakan karakter dasar yang tumbuh dan berkembang, ditempa dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Disamping karakter tersebut, menurut hemat saya, roh penghayatan hidup Mas Sis juga diwarnai oleh spirit dari Realino. Dalam kehidupan Asrama Realino yang sangat plural, beliau menghayati sebagai seorang manusia apa adanya, tanpa membeda-bedakan latar belakangnya (suku, agama, ras, dll). Akibat penghayatan yang sedemikian rupa, dalam perjalanan hidupnya relasi Mas Sis sangatlah luas dan menjadi mustahil untuk menjadi seorang yang fanatik.

Spirit kebajikan dan kebijakan (sapientia et virtus), rasa-rasanya juga tertanam sebegitu dalam ke sanubari Mas Sis. Meski telah memiliki kehidupan yang mapan dan berhasil, menurut katagori masyarakat umum, namun semangat kebijakan (pengabdian) ingin terus-menerus diaktualisasikannya. Kemapanan dalam bisnis tak membuatnya terlena, pengabdian dan ingin melayani rakyat kecil justru kemudian menjadi semangat hidupnya.

Semangat yang menggebu-gebu melayani rakyat kecil menjelang akhir hidupnya, ternyata membuat Mas Sis melupakan kesehatan dirinya sendiri, meski beliau seorang dokter dan memiliki beberapa rumah sakit. Umur manusia memang sebuah misteri. Sang Pemberi Kehidupan telah meminta Mas Sis untuk menghadapNya.

Merefleksikan perjalanan hidup Mas Sis, agaknya beliau telah menggapai ketuntasan pengabdian dan kepenuhan hidup. Dan perjalanan hidupnya, patut menjadi teladan bagi kita semua, khususnya bagi yang telah mencicipi kehidupan Asrama Realino. Akhirnya selamat jalan Mas Sis, doa kami turut bersamamu.***

  • H. Sismadi Partodimulyo (1929-2004), alumni Realino angkatan pertama (1952). Wafat tanggal 28 Januari 2004.
  • Hj. Zaenab Sismadi wafat dalam kecelakaan pesawat terbang 7 Maret 2007 di Yogyakarta.
Iklan

One Reply to “In Memoriam Sismadi Partodimulyo”

  1. Terima kasih mas Dwi telah menayangkan kembali tulisan pak Bambang Ismawan mengenai pak Sismadi Partodimulyo. Pak Sismadi bener-bener pribadi yang sangat menarik untuk dikenang dan ditiru. Beliau tidak pernah puas dengan keberhasilannya. Selalu bergumul untuk bisa hidup dengan lebih baik, lebih berguna bagi sesamanya. Pak Sismadi tidak segan-segan untuk mengoreksi diri sendiri dan mendengarkan serta belajar dari orang lain.

    Saya tidak pernah bertemu secara pribadi dengan beliau namun berkesempatan ketemu dengan keluarganya (putrinya) dalam acara penghargaan dari FORSINO atas jasa dan karya pak Sismadi yang diprakarsai oleh pak Hardanto. Hubungan pak Bambang dan pak Sismadi yang dipertemukan di asrama Realino benar-benar suatu contoh suatu persahabatan yang dalam dan yang membuahkan antara dua insan meskipun berbeda latar belakang pendidikan maupun kepercayaan.

    SeV
    Eko Raharjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s