Dibutuhkan tenaga inti yang tangguh dan prima

Dari Buletin Kabar No. 7 Tahun II, Januari 1993

Pengalaman menunjukkan bahwa suatu reuni biasanya selalu menggebu-gebu. Namun kemudian semangat yang menggebu itu memudar secara perlahan­-lahan disebabkan ikatannya memang ‘udar’ (longgar). Untuk me­macunya kembali peranan tenaga inti mutlak diperlukan dan harus benar-benar tangguh dan prima.”

Hal tersebut diungkapkan Mas Titus Kurniadi, Ketua II Forsino, dalam suatu kesempatan berbincang-bincang di ruang kerjanya beberapa waktu yang lalu, setelah Indone­sia sukses meraih medali emas yang pertama dalam sejarah olimpiade lewat cabang olahraga bulutangkis di arena Oli­mpiade Barcelona.


Saat itu Mas Titus benar-benar dalam keadaan ceria. Maklum, sebagai Ketua Bidang Luar Negeri PB PBSI se­dikit banyak dia mempunyai andil dalam keberhasilan itu. lni diakuinya sendiri: “Saya benar-benar merasa bangga dan plong!”

Berikut wawancara Kabar (K) dengan Titus Kurniadi (TK)

K

Apa dan bagaimana tenaga inti Forsino yang anda maksudkan?”

TK

Mereka itu terdiri atas para ci­kal bakal Reuni Akbar April 1991. Ditambah anggota pe­ngurus Yayasan Forsino yang terbentuk Desember 1991. Kemudian termasuk juga mereka yang rajin menghadiri Wa­rung Kopi Selasa Kapindo yang diadakan setiap bulan. Me­reka ini bolehlah dikatakan sebagai motor penggerak organisasi. Untuk itu mereka harus selalu siap mental baik untuk dipuji maupun untuk dicaci. Dan satu hal lagi: me­reka harus. solid, teguh dan ikhlas berkorban baik moril maupun materiil.

K

“Menurut Anda apakah semua tenaga inti yang ada se­karang ini bisa diandalkan?”

TK

Sebagian terbesar ya. Karena terbukti saat ini, ketika organisasi kita hampir memasuki tahun kedua, orang-orang ini mampu menggerakkan dan memacu Forsino kita.

K

Melihat kesibukan Anda di perusahaan, kemudian di PBSI dan juga di IBF, apakah motivasi Anda untuk menyibukkan diri lagi di Forsino?

TK

Saya ini memang sejak kecil sudah senang berorgani­sasi. Waktu di SD, SMP, SMA sampai di Asrama Realino “tiada hari tanpa organisasi” bagi saya. Di Realino saya me­mimpin RBC (Realino Badminton Club) dan juga ikut ak­tif di RDC (Realino Discussion Club) serta REC (Realino English Club). Harus saya akui bahwa Realino banyak me­moles bakat saya untuk berorganisasi. Jadi sangatlah rele­van buat saya di kala memasuki usia senja sekarang ini, kembali lagi aktif di Forsino sambil sekaligus bernostalgia dengan kawan-kawan lama. Disamping ikut mengem­bangkan kepedulian terhadap masyarakat sesuai prinsip For­sino, di Forsino saya bisa terus “ngasah bendo” (pinjam istilah Mas Sismadi) agar tidak menjadi statis atau mandeg.

K

Sekarang Anda termasuk yang berkecukupan. Apakah Anda masih ingat waktu makan di asrama dulu, jatah te­lurnya selalu hanya separoh saja?

TK

Ha …ha…ha! Saya selalu ingat itu. Memang masa itu kita semua prihatin. Situasi politik dan perekonomian kita payah. Beda jauh dengan sekarang. Ingat telur, saya jadi ingat teman kita Oei Soen Lam (dr. R.B. Wirawan). Dia tiap makan siang atau malam selalu dapat satu telur rebus dari Broeder van Zon. Soalnya dia memang mual kalau makan daging, perutnya jadi nek. Konon, setiap lihat daging ia se­lalu ingat mayat yang diodol-odolnya waktu praktikum. (Terbalik dengan Mas Pardjono: kalau lihat mayat atau “bathang” apa saja, ia selalu ingat “steak” yang “half done” kegemarannya. Red.).

K

Omong-omong tentang perolehan medali emas yang te­Iah berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa kita di dunia internasional, apakah hai itu mempunyai arti tersendiri?

TK

Tentu! Sukses tersebut adalah suatu karunia Tuhan. Te­tapi memang memerlukan perjuangan yang makan waktu lama dan saya ikut terlibat di dalamnya. Saya benar-benar terharu dan bangga.

K

Bagaimana perasaan Anda sekarang?

TK

Bagaimana ya….. ! Yang pasti saat ini saya benar-benar merasa plong!

K

Plong dalam arti sebagai pengurus Anda puas karena PBSI berhasil melampaui target yang dibebankan?

TK

Ya, salah satunya itu. Tapi yang lebih utama ialah bahwa dedikasi saya dalam perbulutangkisan kita rasanya kok tidak sia-sia. Kenyataan ini mengingatkan kembali ba­gaimana dulu saya dipercaya oleh rekan-rekan di Realino untuk memimpin RBC (Realino Badminton Club). Di si­nilah saya mulai belajar dan diasah untuk mengembangkan organisasi perbulutangkisan. Walaupun ruang lingkupnya terbatas, saya bercita-cita untuk menggairahkan bulutangkis di asrama dan sekaligus meningkatkan RBC. Ternyata ak­tivitas saya di RBC memberikan dampak yang positif. Ke­mudian saya mendapat kepercayaan sebagai ketua PB GAMA. Di sini saya merasakan tambahan polesan yang lebih melicinkan jalan untuk memimpin organisasi bulu­tangkis yang lebih besar. Latar belakang keterkaitan inilah yang sesungguhnya membuat saya benar-benar……. plong.

K

Anda masih ingat siapa teman-teman yang bermain bu­lutangkis di Realino?

TK

Tentu! Yang paling jago Thio Tiong Ging. Siapa saja yang berpasangan dengan dia pasti menang kalau main do­bel. Juga Penthul (Ari Sudarsono), yang sekarang Sekdit­jen PHPA, merupakan pemain yang gigih dan ulet. Marthin Sumual, Mas Wurjanto, Mas Jack Palance (Tjahjono), yang selalu bertindak sebagai team manager dengan ciri khasnya pakai jaket kulit, karena di Realino kebetulan hanya dia sen­diri yang punya. Dan banyak lagi lainnya. Juga rekan Ha­san Rahman yang paling hobi jadi “umpire” Dan kalau jadi umpire Hasan ini selalu pakai jas, meskipun harus gemro­byos karena udara yang panas dan kering.

K

Adakah kesan mendalam yang Anda rasakan selama bermukim di Realino?

TK

Jelas ada dan banyak! Yang paling menonjol ialah ke­bersamaan. Mahasiswa yang berasal dari kota, dari desa, anak pejabat, anak petani atau anak pedagang, semua mem­peroleh tempat tidur yang spreinya….. klasa. Yang punya kain panjang, ya boleh menyingkirkan “klasa”nya yang me­mang waktu itu merupakan tempat hunian paling ideal bagi “tinggi” atau kutu busuk. Mandi bareng, makan bareng. lsti­rahat juga bareng-bareng di aula. Mereka yang kurang se­mangat kebersamaannya otomatis tersisih dari pergaulan. Dan orang-orang semacam itu biasanya tidak betah lama-­lama tinggal di asrama. Kemudian kebhinnekaannya. lni memang paling istimewa. Barangkali tidak salah kalau di­katakan bahwa asrama seperti Realino yang menghimpun orang-orang dari segala macam suku, agama, adat istiadat tanpa pembedaan, hanya ada di Mrican atau Gejayan, Yogyakarta, sekalipun asrama itu kepunyaan Misi Katolik.

K

Apa pengaruhnya bagi Anda ketika Anda terjun ke da­lam masyarakat?

TK

Pergaulan yang luas dengan teman-teman yang berasal dari seluruh Nusantara dengan segala macam adat istiadat dan temperamen, otomatis menambah nuansa-nuansa baru bagi persepsi kita. Manfaatnya terasa benar, saya tidak per­nah merasa canggung bergaul dan bercanda dengan orang Ambon, Batak, Padang, Bugis, Flores, Aceh, Bali, Menado, Sunda, Jawa dan lain sebagainya. Seolah-olah saya sudah tahu kiatnya bagaimana harus bergaul dengan mereka itu, sehingga mudah dicapai saling pengertian.

K

Lahirnya Forsino sebagai akibat ditutupnya Asrama Re­alino Juni 1991, apakah menurut Anda semata-mata ber­fungsi sebagai wadah nostalgia saja?

TK

Kalau ada yang berpendapat demikian ya bolah-boleh saja. Tapi jangan lupa bahwa Forsino itu didirikan atas da­sar kesepakatan bersama dilandasi cita-cita untuk mengem­bangkan rasa kepedulian terhadap masyarakat. Sebab kalau cuma sebagai wadah nostalgia thok, Forsino itu tidak lebih dari wadah untuk kangen-kangenan. Nostalgia itu indah. Te­tapi tidak cukup kuat untuk mengikat semua alumni. Paling-paling yang bernostalgia hanya terdiri atas mereka yang dulunya sering berkelompok dan sekarang ingin atau rindu untuk berkumpul lagi. Jika demikian, jelas wawasan Forsino akan menjadi sempit dan bisa menjurus ke arah pengkotakan para alumni itu sendiri.

K

Jika demikian apakah Forsino mampu berkiprah secara lebih luas?

TK

Lahirnya Forsino 26 April 1991, yang kemudian diku­kuhkan melalui akta notaris Desember 1991, dalam muka­dimahnya jelas menekankan bahwa “semangat Sapientia et Virtus telah memberikan motivasi yang tinggi kepada para alumni Realino untuk tetap berkiprah melanjutkan pengab­dian kepada nusa dan bangsa”. Jadi jelas motivasinya.

K

Menjelang umurnya yang hampir memasuki tahun ke­dua, bagaimana kira-kira tanggapan alumni terhadap Forsino?

TK

Sebagai anggota pengurus Forsino saya melihat bera­gam motivasi dari para alumni. Ada yang datang karena nos­talgia thok dan ini yang terbesar. Mereka pada umumnya muncul hanya saat reuni akbar saja. Kemudian muncul me­reka yang memiliki solidaritas tinggi dan idealisme murni. Kelompok ini tanpa pamrih melibatkan diri, bergabung de­ngan para “cikal bakal” yang menyulut api reuni itu. Dari waktu ke waktu bermunculan wajah-wajah baru dalam se­tiap pertemuan Selasa Kapindo, sehingga bermunculan pula beraneka ragam gagasan-gagasan baru. Ini membuktikan bahwa ide Forsino itu mendapat tanggapan positif walau­pun secara nggremet. Namun tidak bisa pula dipungkiri bahwa di antaranya mungkin ada sementara alumni yarig muncul karena diajak, karena ingin tahu atau mungkin ka­rena ada interest. Maklum, gebrakan Forsino memang ti­dak tanggung-tanggung. Ingat saja proyek “Blue Lagoon” yang sampai dijuluki oleh Mas Pardjono sebagai “Mega pro­yek Forsino”.

K

Langkah apa saja yang kiranya menurut pemikiran Anda perlu dikembangkan agar semangat Forsino itu tetap menyala?

TK

Wah, sebagai pengurus saya tidak berani gegabah men­dahului kebijaksanaan yang digariskan oleh ketua umum. Namun langkah-langkah yang selama ini telah ditempuh oleh Forsino cukup menggembirakan hasilnya. Terutama pro­yek yang insidentil, seperti seminar, tiwok, presentasi pada tiap Selasa Kapindo, cukup menggairahkan alumni untuk turut berperan serta. Selain itu Forsino memerlukan “DANA ABADI”. Maksudnya sejumlah dana yang didepositokan dan bunganya cukup untuk membiayai kegiatan rutin For­sino, termasuk KABAR. Dana tersebut dipinjam dari para anggota tanpa bunga dan suatu hari nanti dikembalikan. Da­lam pada itu harus kita sadari bahwa ikatan Forsino me­mang masih belum mapan sehingga apabila terlalu dipacu bisa berakibat lepas ikatannya. Marilah kita melangkah ber­sama secara wajar-wajar saja. Sakeparenge wae!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s