Seandainya…

Oleh: F. Wignjoprasetya 0. Carm.

Seandainya empat dinding dalam mana saya selama bertugas sebagai Pemimpin Asrama Mahasiswa Realino (1959-1961) dapat dan boleh bicara…… betapa asyiknya mendengarkan tutur katanya! Tetapi seturut kode etik tidak semua yang benar dapat dikatakan, tergantung pada sikonnya (situasi dan kondisi). Inilah yang sesuai dengan jiwa dan semangat Realino: “SAPIENTIA ET VIRTUS!” – “BIJAK DAN PERWIRA (BERANI)!” Tegas, jujur memang, namun bijak!

Sayang seribu sayang, bahwa waktu diadakan Reuni Akbar tanggal 28 April 1991 dan Penutupan “sementara” Asrama Realino saya tidak dapat hadir, karena harus menunaikan tugas yang tak dapat saya tinggalkan.
Setelah membolak-balik dan membaca mulai A sampai dengan Z: KABAR No. 1 Tahun 1, Juni 1991, APA & SIAPA REALINO dan lebih-lebih KABAR Edisi Khusus No. 2, Tahun 1, Agustus 1991, halaman 3, saya merasa tergerak untuk sekadar mengungkapkan rasa perasaan saya.

Selama bertugas di Asrama Realino saya mengalami waktu pra G30-S PKI. Aksi-aksi di bawah tanah menyelinap di mana-mana. Berapa pamflet-pamflet gelap yang disebar luaskan di Kampus UGM. Pemuda Rakyat menyebar kekacauan di mana-mana. Berapa tilpun gelap yang saya terima? Sebagai moderator PMKRI Yogya waktu itu saya antara lain pernah menerima tilpun tengah malam: “Rama, ada anggota PMKRI putri diperkosa oleh Pemuda Rakyat di lapangan Terban Taman.” (Lahan kosong dan gelap waktu itu di sebelah utara Rumah Sakit Panti Rapih).

disekap-gerombolanWaktu “perploncoan” (penerimaan mahasiswa baru) selalu ada saja peristiwa yang mengganggu. Sering terjadi hal-hal yang mencengkam urat syarafl Kalau tidak keliru, pernah Hanjilin malam-malam lapor melalui tilpun bahwa cewek-cewek kita disekap oleh gerombolan Pemuda Rakyat dan ditahan di sebuah ruang (waktu itu belum ada istilah “cewek”, Rama! Di Yogya istilahnya waktu itu kalau tidak salah “kotrik”. Red.).

Juga pernah tengah malam saya terbangun, karena jendela sebelah utara kamar saya diketuk-ketuk – maklum, waktu itu tanah di sebelah utara Asrama Realino masih berupa lahan terbuka – dan terdengar suara agak berbisik-bisik dan ketakutan: “Romo, minta bantuan. Rumah kost kami didatangi sekelompok pemuda minta uang; kalau tidak diberi, tahu sendiri, kata mereka. Kami semua takut dan untung saya bisa lolos kemari tanpa mereka ketahui.”

Bayangkan, apa yang harus saya lakukan…… ??? Yang datang itu anak Tionghwa dan yang di rumah kostnya juga semua Tionghwa. Malam-malam saya juga pernah menerima tilpun dari seorang dosen UGM yang tinggal di Bulak Sumur. Dengan sangat ia minta agar saya datang ke rumahnya waktu itu juga. la juga memperingatkan saya agar saya hati-hati, karena di sekitar rumahnya tidak aman. la sendiri tidak berani ke luar. Saya harus membawa pengawal pribadi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dosen itu betul-betul dalam keadaan gawat.

Waktu itu yang sanggup mengantar saya -kalau saya tidak salah ingat — adalah A.K. Syukri Hadjat. Saya dibonceng sepeda motor dan la membawa rencong Aceh (Mas Syukri memang berasal dari sana. Red.). Coba tanya dia, masih ingat atau tidak. (Masih Romo! Bahkan rencongnya sampai sekarang masih disimpan baik-baik, tetapi tidak pernah dibawa-bawa lagi. Red.). Peristiwa itu masih menggores dalam diri saya. Pokoknya kami berdua kembali lagi ke Realino dengan selamat. (dan Mas Syukri kini menjadi tulang punggung penerbitan KABAR. Red.).

Pernah pula saya menyembunyikan seorang penghuni Realino di bawah tempat tidur saya, karena ia dikejar seseorang yang akan membunuhnya. Dia kini masih selamat dan waktu saya bertemu dengan dia lebih dua puluh tahun kemudian, ia masih ingat betul peristiwa itu.

Inilah antara lain peristiwa-peristiwa yang saya alami waktu saya menjadi Pemimpin Asrama Realino. Konon, waktu saya di Rawaseneng ada beberapa mahasiswa dari Realino yang datang ingin mengunjungi saya, tetapi tidak diizinkan. Apa betul? Memang aturan di Rawaseneng waktu itu ketat sekali. Sekarang saya tidak tahu.

Meskipun sepanjang ingatan saya, saya tidak lagi mengalami Bapak Drs. Imam Santosa Ratam, namun sejak pertemuan saya pertama dengan keluarga Bapak I.S. Ratam di Putri Duyung Cottage waktu Reuni Realino di sana, telah terjalin ikatan batin dengan keluarga Ratam–sekurang-kurangnya dari fihak saya — yang tak akan terhapus lagi. Lebih-lebih kalau saya melihat lukisan-lukisannya. Saya heran, kenapa lukisan F.X. Suhardjo Wignjodarsono, MPH. hingga kini belum pernah muncul? (Sudah ada satu atau dua, Romo, di KABAR No. 1. Red.). Saya masih menyimpan lukisan-lukisannya, terutama lukisannya yang saya temukan di kabin kapal Sibayak waktu saya bertolak dari Tanjung Priok ke Negeri Belanda tahun 1952, penuh tanda tangan siswa-siswa SMAK dan SGAK Johanes de Britto, Bintaran, Yogya.

Kapan alumni Realino mengadakan reuni di kota sejuk Malang? Akan saya jamu sebaik mungkin. Namun maklum, saya tidak punya rumah yang mampu menampungnya. Saya usul “camping” bersama saja. Ke mana? Boleh pilih: Bromo (dingin); Cangar (meskipun dingin, jauh di atas Selecta di lereng Gunung Arjuno, tetapi ada sumber air panasnya); Coban Talun; Coban Rondo, Coban Glothak (coban = air terjun, bahasa Jawa Timur); atau di pantai: Ngliyep; Sendang Biru, Balekambang; atau dekat Waduk Selorejo; Karangkates, sekaligus mancing? lnilah antara lain tempat-tempat di mana saya sudah pernah “camping”. Pokoknya: BE WELCOME! DOMESTIC TOURISM!

.

Salam kompak & mesra dari:
F. Wignjoprasetya O. Carm.
Mantan S.J.

.

  • Dari Buletin Kabar, no. 3 tahun I, November 1991
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s