Gelar Kesarjanaan

Oleh C. Atiek Soepardjono

Teristimewa untuk adik-adik anggota-anggota Forsino yang sebentar lagi akan menyelesaikan studi Sl mereka.
.
Dicari isteri-isteri sarjana untuk memasarkan batik dan barang-barang kerajinan”, demikian bunyi sebuah iklan. Sebuah iklan lain menawarkan kesempatan membeli kendaraan bermotor secara kredit “khusus untuk sarjana”.

wisudaTidak jelas apa hubungan antara kedudukan seseorang sebagai isteri sarjana dan kemampuannya untuk menyalurkan batik dan barang-barang kerajinan. Tidak jelas pula, apakah gelar kesarjanaan dapat menjamin bahwa penyandangnya pasti mampu dan mau membayar angsuran mobil dengan tepat dan cermat.

Ada iklan lain yang terasa agak aneh juga: sebuah bank memerlukan tenaga “manager sistem dan operasi” (tidak jelas maksudnya!). Syaratnya: berijasah sarjana. Titik. Tidak dirinci sarjana dari bidang ilmu apa: musik, seni rupa, olah raga, ilmu kepolisian, nuklir atau apa? Mungkin ini hanya akibat dari kealpaan penyusun naskah iklan, yang lupa mencantumkan bidang kesarjanaan dari tenaga yang diperlukan. Tetapi mungkin juga, seperti pemasang iklan pertama dan kedua, bank pemasang iklan itu beranggapan bahwa seorang sarjana adalah “superman”, mahluk yang serba bisa.

Ketiga iklan tersebut di atas, setidak-tidaknya yang pertama dan kedua, mencerminkan pandangan masyarakat pada umumnya terhadap status sosial sarjana: ijasah dan gelar sarjana merupakan jaminan dan satu-satunya kunci pintu menuju masa depan yang mapan. Tanpa itu orang jangan berharap dapat mencapai sesuatu. Mulai dari memasarkan batik, membeli mobil secara kredit, mencari pekerjaan sampai mengetuk pintu calon mertua!

Gelar kesarjanaan tidak sekedar dinilai tinggi, tetapi sudah didewa-dewakan. Sudah menjadi obsesi. Semua orang ingin menjadi sarjana. Karena gelar sarjana hanya dapat diraih lewat perguruan tinggi, maka semua orang berebut tempat di perguruan tinggi. Dan karena hanya lulusan SMA yang dapat diterima di perguruan tinggi, maka semua lulusan SMP berbondong-bondong, berdesak-desak berusaha masuk SMA. Tidak sudi masuk sekolah kejuruan, kalau tidak terpaksa sekali. Mereka lupa atau bahkan tidak tahu sama sekali bahwa di Departemen Tenaga Kerja dewasa ini terdaftar lebih dari 30.000 sarjana penganggur. Belum terhitung mereka yang tidak mendaftarkan diri.

Terus terang, mabuk gelar kesarjanaan pernah pula menghinggapi diri saya sendiri. Dua puluh dua tahun yang lalu, begitu upacara wisuda sarjana usai, yang pertama-tama saya lakukan bersama-sama kawan-kawan seangkatan adalah mencetakkan kartu nama. Tak tertahan rasanya keinginan hati waktu itu untuk cepat-cepat mencantumkan gelar kesarjanaan di depan nama. Begitu kartu nama selesai dicetak, ingin sekali rasanya kami cepat-cepat membagi-bagikannya kepada siapa saja yang kami jumpai, agar mereka semua tahu bahwa kami sekarang sudah bergelar sarjana.

Sekarang apabila kami berkumpul kembali dan mengingat peristiwa itu, kami semua tertawa geli. Malu sendiri! Lalu untuk menghibur diri, kami hanya bilang: Ah, orang lain mungkin berbuat begitu juga!

“Penyakit sarjana baru” juga saya alami, yakni merasa sudah menjadi orang paling pandai di dunia. Baru kemudian, setelah terbentur-bentur dan terantuk-antuk kenyataan-kenyataan pahit dalam perjalanan hidup, saya sadar bahwa setelah jadi sarjana pun orang masih harus tetap belajar: dari pengalaman, lewat pendidikan lanjutan atau penataran, dan yang tidak pernah boleh ditinggalkan adalah membaca dan terus membaca!

Sarjana, yang begitu lulus lalu berhenti memperdalam dan memperluas ilmunya, adalah ibarat peragawati yang belum mengenakan busana. Kalau ia langsung berlenggang-lenggok, bergaya di atas catwalk dalam keadaan bugil atau “nglegena” begitu, maka malulah yang akan diperolehnya. Atau ibarat pesawat terbang yang mau mengudara, tetapi masih nongkrong di apron. Masih ada beberapa prosedur yang harus ditempuh, sebelum pesawat itu dapat mengudara: engine on, taxi menuju runway, kemudian melaju menyusur runway, mencapai kecepatan V1, kemudian V2 atau VR, handle ditarik, baru lepas landas. Jika pesawat belum mencapai kecepatan VR dipaksa airborne, malapetakalah yang terjadi! Pokoknya: seterima ijasah sarjana, masih banyak yang harus dilakukan oleh seorang sarjana baru. Masih panjang jalan yang harus ditempuh, sebelum ia boleh merasa telah “jadi orang”.

Pengagung-agungan terhadap gelar kesarjanaan juga tercermin pada kebiasaan masyarakat menyebut gelar kesarjanaan seseorang pada kesempatan-kesempatan yang sebenarnya tidak memerlukannya. Misalnya, ada orang yang memperkenalkan diri: “Saya Paimin Sarjana Hukum”. Atau seseorang memperkenalkan kawannya “Ini Insinyur Polan”. Padahal hanya perkenalan biasa saja. Bahkan sering pula terjadi, seorang wanita diperkenalkan dengan gelar kesarjanaan suaminya “Ini Ibu Insinyur Polan”.

Hal ini mengingatkan saya kepada masa kanak-kanak, akhir tahun 40-an dan awal 50-an, ketika saya biasa memanggil kenalan-kenalan orang tua saya dengan Bu Dokter (suaminya dokter), Bu Hoop (suaminya pensiunan hoofdklerk kantor pos), Bu Siner (suaminya pensiunan schoolopziener atau penilik sekolah), Bu Kanjeng (suaminya bergelar KRT atau Kanjeng Raden Tumenggung) dan banyak lagi semacam itu.

Memang dalam hal ini tidak ada sesuatu yang dilanggar: peraturan, adat atau pun hak seseorang. Tetapi sering hal semacam itu dapat menimbulkan kesan kurang enak dan rasa risih pada orang sekeliling yang mungkin lalu berkata di dalam hati atau “rasan-rasan” di antara mereka “Punya gelar begitu saja kok diitonjol-tonjolkan!” Atau “Yang punya gelar suaminya, isteri kok ikut-ikut mbonceng!”

Memang ada kalanya pencantuman gelar kesarjanaan seseorang diperlukan, misalnya dalam forum-forum ilmiah, untuk keperluan kedinasan, untuk kartu pengenal dan sebagainya. Tetapi penggunaan gelar kesarjanaan di luar kedinasan atau hubungan resmi, dalam suasana dan waktu yang tidak memerlukan, sering hanya menimbulkan rasa risi pada orang sekeliling.

Suatu kali, waktu saya lagi pulang mudik, kebetulan saya mendengarkan RRI yang tengah menyiarkan siaran pandangan mata pertandingan sepak bola antara kesebelasan kota kelahiran saya dan kesebelasan dari kota lain. (mBak Atiek ini selain pemain tim voli GAMA, dulu juga pendukung setia PS GAMA dan sampai sekarang masih penggemar sepak bola. Kalau tidak percaya, tanya kepada Mas Tjuk Parwoto ’57, Red.). Empat pemain dari kesebelasan kota kelahiran saya bergelar sarjana: penjaga gawangnya dokter, dua pemain depan dan seorang “back”nya bergelar doktorandus.

Selama siaran pandangan mata, sang penyiar kalau menyebut nama keempat pemain itu tidak pernah lupa menyebutkan gelar kesarjanaan mereka. Kedengaran sangat lucu! Dan terasa tidak perlu! Untung, keempat pemain itu tidak bergelar tambahan MA, MSc, MCL, MBA, MPH atau semacamnya. Pasti akan lebih repot dan sewot lagi sang penyiar!

Dalam film kampanye Keluarga Berencana pun, keluarga yang sukses dilukiskan dengan sepasang suami-isteri yang tengah menyaksikan wisuda sarjana anak laki-lakinya. Seolah-olah gelar kesarjanaan merupakan satu-satunya lambang atau malahan bukti keberhasilan dalam masyarakat kita.

Seorang kawan, orang Jepang, mengatakan, di negerinya kalau ada orang melamar pekerjaan, hal yang pertama-tama ditanyakan oleh fihak (calon) majikan adalah apa kebisaan atau kemampuan pelamar yang bersangkutan. Dari situ perusahaan dapat menilai keuntungan apa yang akan dapat diperoleh dari calon pegawai itu dan kemudian menentukan kedudukan dan gaji bagi si pelamar. Dan dalam hal kedudukan dan penggajian, mungkin saja seorang sarjana berada di bawah seorang bukan sarjana. Suatu hal yang hampir tak mungkin terjadi di Indonesia. “Di sini (Indonesia) sebaliknya,” katanya. “Kalau orang malamar pekerjaan, selalu lebih dulu ditanya ijasah terakhirnya apa, bukannya ia mampu mengerjakan apa untuk keuntungan perusahaan,” tambahnya.

Mungkin kawan dari Negeri Sakura itu kurang memahami bahwa pada anggapan kebanyakan orang Indonesia ijasah seseorang merupakan jaminan kemampuannya di bidangnya. Meski kenyataannya tidaklah selalu demikian.

Memang, kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kita bertemu dengan sarjana ekonomi misalnya, yang dalam pembicaraan mengenai masalah ekonomi yang paling elementer pun, tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia pernah belajar ilmu ekonomi. Tidak jarang kita menemui tulisan dalam bahasa Inggris yang “amburadul”, pada hal tulisan itu dibuat oleh seorang sarjana sastra Inggris. Banyak lagi contohnya! Dan kita semua pasti kenal istilah sarjana diktat, sarjana palsu, atau sarjana aspal dan sebagainya.

Tetapi penalaran orang Indonesia, yang selalu mendahulukan pertanyaan mengenai ijasah seorang pelamar dari pada kebisaan atau kemampuannya, sebenarnya dapat dimengerti juga. Kalau yang berijasah sarjana saja tidak dapat dijamin kemampuannya, apa lagi yang bukan sarjana (meskipun tidak jarang kenyataan menunjukkan sebaliknya).

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mencela budaya gelar atau budaya ijasah. Saya hanya ingin menunjukkan, teristimewa kepada adik-adik anggota Forsino yang sebentar lagi menamatkan, studi mereka, fenomena yang berkembang dalam masyarakat kita sekarang. Ijasah atau gelar kesarjanaan dianggap sebagai satu-satunya kunci untuk memperoleh tempat layak, baik dalam pergaulan maupun dalam pekerjaan. Seakan-akan tanpa itu, orang tak mungkin berharap dapat maju.

Semua orang ingin jadi sarjana. Semua cara ditempuh. Baik yang terpuji maupun yang patut dicaci.

  • Sumber: Buletin Kabar No. 3 Th. 1, November 1991
Iklan

One Reply to “Gelar Kesarjanaan”

  1. Saya sempat mengalami shock sewaktu kerja pertama kali, setelah lulus kuliah. Saya merasa bangku kuliah tidak mempersiapkan orang untuk fight di dunia nyata. Perguruan Tinggi sekelas UGM menurut saya masih bersifat menara gading.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s