Rumah Baru dan Acara Perpisahan dengan Romo Stolk

Oleh Bimo Nugroho*

Realino pasca Asrama saat ini sungguh sepi. Ada renovasi di sana-sini. Meja kursi yang biasa digunakan warga untuk belajar, kini disimpan di ruang TV. Pintu dan jendela kamar kembali dicat kuning hijau. Harus diakui, gedung bernomor 111 itu sekarang tampak berseri. Sayang, tak ada suara bel yang membangunkan, lonceng tanda waktu makan, “gedebag-gedebug” bola basket, diskusi di kamar serta “kasak-kusuk” diperpustakaan. Sungguh, Realino sekarang lengang bagai perawan kesepian. (Perawan kesepian bisa juga genit, berisik dan banyak ulah. Tergantung pada perawannya dong! Red.).

Alhamdulillah, “perawan cantik” itu kembali tersenyum (mesra atau sinis? Red.)., meski cuma sebentar. Pukul 19.00 tanggal 5 Agustus, para mantan warga “terakhir” pada berdatangan. Ada acara perpisahan dengan Romo Stolk yang bakal alih tugas ke Jakarta. Begini jalan ceritanya:

Senin Kliwon malam itu (orang Jawa bilang malem Selasa Legi. Red.), bulan bak sepotong semangka, biji-bijinya bertaburan menjelma menjadi bintang. Gerbang Realino, yang biasanya tertutup rapat, kembali terbuka sebagai layaknya Asrama. “Generasi terakhir” yang beberapa minggu tak bertemu saat itu berkumpul lagi. Suaranya riuh-rendah, gayanya macam-macam. Ada yang tambah trendy, ada yang kepalanya digundul sebagai protes atas ditutupnya Asrama…… Ah, ada pula yang sudah berhasil menggandeng gadis, anak dari ibu kosnya. Oh Allah, “Cah Realino” memang edan-edan. Malam itu hadir pula dara-dara manis utusan dari Asrama Syantikara.

Oh ya, warga tahun-tahun terakhir tentu masih ingat dengan Bagong, anjing besar yang malas. Dia juga masih ingat kepada kami. Ekornya yang berjumbai selalu berkibas-kibar. la masih patuh pula bila disuruh duduk lalu mengangkat satu kaki depannya untuk bersalaman.

Usai ramah-tamah informal, acara dimulai. Rekan-rekan undangan mengira bakal ada acara makan malam. Ternyata bau lezat yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Yang muncul hanya kotak iuran konsumsi buat dibelikan pisang dan singkong goreng. Aih, aih, potus kenangan.

Seperti biasa, acara dibuka dengan doa nasional, sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dilanjutkan dengan Mars Realino yang masih kedengaran mantap gemanya. Baru kemudian bincang-bincang. Kesempatan pertama tentu diberikan kepada “doktor” pakar “sapientia et virtus”, Romo Harry C. Stolk.

Kembali beliau mengupas semboyan sakti kita. Ada pembaruan pada pengertian “virtus”. Titik beratnya bukan pada kesalehan manusia, tetapi inti kebajikan adalah “sikap jantan” seorang Rcalino dalam berjuang, berani bersikap dan mengambil keputusan, serta sanggup menanggung akihat dari segala tindakannya, termasuk bersedia dihukum bila bersalah.

Acara, yang diprakarsai David Sukardi Kodrat dan Wianto Himawan ini, seterusnya berlangsung penuh gerrr karena tukar pengalaman masing-masing cabang Realino. Patut diketahui, Asrama Realino tak pernah tutup. Kalaupun tanggal 30 Juni lalu ada “Malam Tirakatan Tutup Asrama”, yang ditutup itu cuma gedung di Jalan Gejayan. Sebab tanggal 1 Juli 1991 telah dibuka Asrama Realino Cabang Mrican, Cabang Kuningan, Cabang UII dan lain-lain. Ya, REALINO TAK KAN PERNAH MATI! Bahkan bila semua Asrama itu nanti sudah hilang karena semua warganya sudah diwisuda, beberapa rekan sepakat memberi nama anak mereka: REALINO.

djoko-realinoPenulis usul, kalau perlu kita mendirikan marga REALINO (lengkap dengan “Dalian na tolu” segala? Wah, mesti belajar dari tulang-tulang dari tapian Danau Toba sana. Red.). Setuju???

Wah, kok ngelantur pada romantisme ya! Sampai di mana tadi ceritanya? Oh ya, sampai pada saling tukar cerita antar Realino cabang. Dimulai oleh Sulistyo dari Cabang Brojomusti. la berterima kasih kepada Realino karena telah dididik hidup bersih…… Mendengar itu, semua hadirin tertawa, sebab (maaf ya, Soel!) kamarnya di Asrama dulu tak lebih bersih dari kapal pecah. Dulu dia bilang “the clean desk descript a sick soul” (bener nih bahasa Inggrisnya? Redaksi sudah telpon Ratu Elizabeth II, sang ratu menjawab belum pernah mendengar kata “descript”. Red.).

Yang paling gila adalah cerita Wicky dan Jhony Celeng. Sewa kamar mereka paling murah, setahun cuma Rp. 75 ribu. Kamar mandinya tak berpintu (model G), air mesti menimba sendiri dari sumur. Kalau pagi mereka harus menanak nasi, lauknya sambel terasi. Pernah suatu ketika karena kebanyakan air, nasi jadi bubur. Mungkin karena mangkel, mereka lalu menggoreng bubur tersebut. Jadinya ya….. bubur goreng. Semua hadirin terpingkal-pingkal.

Aneh-aneh memang pengalaman rumah baru. Penulis sendiri sekarang kost di Karang Malang. Maksud hati mau cari tempat tenang agar dapat bangun agak siang. Tak tahunya di belakang rumah ada masjid. Walhasil, bel pagi Asrama jam 05.30 sekarang diganti adzan subuh jam 04.00.

Begitulah tukar cerita. Malam itu, Asrama Realino Gejayan seolah hidup lagi. Tak terasa waktu cepat berlalu. Sebelum mendapat salam perpisahan dari hadirin, Romo Stolk mendapat persembahan lagu dari Yakob Matheus dan pembacaan puisi oleh Blasius Agus. Sebagai balasannya, Romo Stolk membagi warisan berupa vandel-vandel Realino lama dan kaos olah raga. Sedangkan kaos team basket dan sepakbola Realino dititipkan kepada Basuki Wibowo.

Wah, terima kasih Romo! Selamat jalan ke Jakarta! Mengulang ucapan Romo waktu menutup acara malam itu “Kita berpisah untuk bertemu lagi, lho!”

.

  • Bimo Nugroho Sekundatmo, Alumni Realino 1989
  • Saat menulis artikel ini Bimo masih tercatat sebagai mahasiswa FE UGM
  • Sumber: Buletin Kabar, No. 3 Th. 1, November 1991
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s