No Child Left Behind

Mas Yanto Salim, Mas Eko, Mas Budhy Mitra, Mas Dharmanto, Mas Sinaga dan rekan Realinowan lainnya,

Saya senang sekali melihat banyak tanggapan mengenai Pendidikan anak. Diskusi seperti inilah yang akan membuahkan ide yang positive yang mungkin bisa berguna sebagai input, walaupun tidak semudah yang kita bayangkan seperti komentar Mas Budhy Mitra.

Maaf, kalau saya terlalu mengexpose keluarga saya and pengalaman saya sendiri mengenai pendidikan ini. Tidak ada tujuan negative, selain ingin memberikan perspective pendidikan di Amerika Serikat sebagai orang tua murid. Setelah meningggalkan Indonesia 25 tahun yang lalu, tentu sudah banyak perubahan Program Pendidikan di Indonesia yang saya tidak tahu.

Saya ingin menjelaskan lagi mengenai Giftted Program di Amerika, supaya tidak salah tangkap. Saya juga setuju, tidak benar mengkotak-kotakkan anak-anak berdasarkan IQ nya di Public School di Amerika.  AS juga punya sistim pendidikan yang bobrok, terutama di Public Schoolnya. Bagaimana tidak, AS tidak lagi berada di ranking atas di dunia dalam bidang basic sciences dan matematika, ini sudah saya ketahui kira-kira 10 tahun yang lalu. Tetapi anehnya masih banyak juga orang-orang asing yang datang ke AS untuk belajar, mungkin mereka tidak tahu. Public School di AS dikecam dan dikritik keras oleh penduduk disini.  Setelah itu, banyak sekali program-program dan inisiatif baru muncul di public school seperti Gifted program, Magnit Program dll.  Pemerintah disini tidak mengharuskan IQ test.

Program-program seperti Gifted Program, Magnit Program dll adalah program yang didesign untuk menampung anak-anak high achiever yang merasa bosan dan tidak challenging di tradisional school class. Program ini juga sama tujuannya seperti program buat anak-anak cacat/special need. Kalau anak-anak yang ingin masuk Gifted Program/Magnit program mereka di haruskan untuk di test IQ nya.  Diterima atau tidak tergantung hasil IQ nya. Tidak berarti anak-anak yang di Tradisional program IQ nya rendah, mungkin juga banyak yang tinggi, tetapi mereka lebih suka dengan tradisional program supaya tidak terlalu banyak pressure. Jadi tidak berarti program tradisional di terlantarkan atau kurang diperhatikan.

Tentu saya program ini tidak ada di sekolah swasta. Program in sangat menarik banyak orang tua murid dan tetap menyekolah anaknya di Public school.  kalau tidak, banyak yang lari ke Swasta. Tentu saja program seperti ini belum tentu cocok untuk negara lain.  IB program yang saya sebut sebelumnya adalah program international dengan international curiculum yang berpusat di Switzerland. Hasil ujian anak-anak program ini harus diperiksa dan dinilai dari luar negeri. Misalnya anak-anak Amerika, ujiannya kemingkinan dinilai di Jerman dll. Tujuannya supaya ada keseragaman curriculum dari seluruh dunia. Kalau punyak diploma IB mereka bisa diterima dimana saja di seluruh dunia yang mendukung program ini.  Programnya memang berat sekali, anak saya rata-rata baru tiduk lewat jam 12 malam, selama 4 tahun, karena banyak sekali pekerjaan rumahnya.  Saya rasa di Indonesia juga punya IB program.

Untuk meningkatkan, mutuh pendidikan di Amerika, pemerintah AS menjalankan program yang namanya “No Child Left Behind”. Pokoknya program in memberi tanggung jawab yang besar kepada setiap sekolah supaya meningkatkan quality pendidikannya (accountability).

Untuk melaksanakan program tersebut anak-anak dari Grade 3 sampai 11 di Florida, setiap tahun di test melalui FCAT (Florida Comprehensive Assesment Test) oleh independent consultant, bukan dari sekolahnya.  Subject yang di test adalah matematik, membaca, menulis dan science.

Setiap sekolah dinilai dari hasil test ini. kalau hasil testnya jelek, berarti sekolahnya gagal. Pertama diberi peringatan, kalau tidak ada kemajuan, sekolahnya ditutup. Anak-anaknya dipindahkan kesekolah lain atau swasta dan dibayar pemerintah uang sekolahnya.

Demikian dulu. Kita sambung lagi.

Salam SeV
Teddy S. Theryo,P.E.

Iklan

One Reply to “No Child Left Behind”

  1. Teddy dan teman teman forsinowan semua,

    Semua sharing cerita dalam milis ini menurut saya adalah sangat positif, disamping tambah pengetahuan, bagi saya juga merupakan kebanggaan terselubung dimana di kantor sering saya kemas dan ceritakan kembali dengan mengatakan anak si Anu atau keluarga si Anu atau si Anu adalah teman-teman yang pernah tinggal di Asrama Realino. So Teddy and teman teman lain please proceed.

    Kata kata yang disitir Teddy “Nochild left behind” sebetulnya adalah satu kalimat yang mencakup semua aspect pendidikan yang dibicarakan dalam diskusi ini. Dan juga bahwa saat ini semua sistem pendidikan dunia mendapat kecaman dari mayarakatnya sendiri juga benar termasuk Indonesia.

    Hal ini juga akan terus berlangsung karena dinamika dunia akan bergeser terus dari waktu kewaktu dan sistim pendidikan akan selalu ketinggalan langkah. Wah sorry saya bukan ahli pendidikan, untuk itu mohon pencerahan dari Dr. Kastorius Sinaga atau rekan rekan lain yang lebih kompeten.

    Menyimak cerita mas Prasetyo di Cirebon, dan ulasan-ulasan lainnya memang kelihatannya harus dilaksanakan revolusi cara belajar dan ini tak selalu harus bergantung dari negara atau biaya yang sangat besar, setiap individu atau kelompok kecil bisa memulainya sendiri seperti yang ditulis oleh Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos dalam bukunya “Learning Revolution”.

    Di dalam bukunya itu ditulis bahwa sistim pengajaran di SMU dan Universitas masih diberlakukan gaya belajar yang seragam-akademis, absrak dan teoritis, sementara penelitian menunjukkan gaya belajar setiap orang adalah unik dan tidak seragam.

    SeV
    Yanto Salim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s