Kesalahan pada yang mewarisi

Judul lengkap artikel Dr. R.Darmanto Djojohadibroto ini adalah “Pendidikan di Negara Kita: Kesalahan Pada yang Mewarisi” yang masih merupakan rangkaian RDC virtual mengenai pendidikan di Indonesia.

.

Saya tidak sependapat dengan pernyataan yang apabila ada keburukan dalam pendidikan di saat ini disangkutkan dengan sistem pendidikan warisan penjajah. Sedangkan yang dimaksud dengan warisan penjajah berkonotasi pendidikan yang membodohkan bangsa yang dijajah. Bung Karno, Bung Hatta, Prof Sardjito, Prof. Yohanes, Prof Bahder Djohan semuanya hasil pendidikan di jaman Hindia Belanda, mereka semua sangat pandainya.

Yang mengekang bangsa kita adalah penjajahan, sedangkan sistem dan kurikulum pendidikan jaman penjajahan yang ditujukan untuk bangsa terjajah sama dengan yang diberikan kepada murid-murid anak-anak penjajah (sinyo dan noni Belanda), tidak membodohkan murid-murid bangsa terjajah. Adalah memang betul penjajah Belanda tidak menyediakan pendidikan untuk semua anak usia belajar, sedangkan jumlah yang bisa bersekolah hanya sedikit sekali.

Materi pelajaran di HIS, MULO dan AMS sama dengan materi pelajaran yang diberikan di ELS, HBS/Lyceum/Gymnasium. HIS, MULO dan AMS adalah sekolah untuk bumiputera, sedangkan ELS, HBS untuk kulit putih atau orang bumiputera yang disamakan hak-haknya dengan kulit putih (gelijkgestelt). Malahan materi pelajaran sekolah di tanah jajahan sama dengan yang diberikan di negeri Belanda (Holland) untuk sekolah yang sederajat.

Di tahun 1973 professor saya di Universiteit van Amsterdam (Prof. Dr. C van de Meer) bisa dengan lancar mengurutkan dari barat sampai ke timur pulau Sumatera, Java, Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa, Flores, Timor, Rote, kemudian Borneo, Celebes, Mollucas dan Niew Guinea. Prof van de Meer lulusan sekolah rendah tahun 1938 di Holland, setelah 35 tahun beliau masih bisa mengingat ilmu bumi yang dipelajarinya. Saya menarik kesimpulan bahwa pelajaran ilmu bumi di Holland jaman sebelum PD II sama dengan pelajaran ilmu bumi di Hindia Belanda, jadi sistem dan kurikulum tidak membodohkan anak didik walau diberikan oleh penjajah.

(HIS: Hollandsch Inlandsche School = sekolah rendah 7 tahun: MULO: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs = SMP; AMS: Algemene Middlebare School = SMA; ELS: Eropeesche Lager School = sekolah rendah untuk orang Belanda; HBS: Hogere Boergere School = SMA untuk orang Belanda).

Kesalahan dalam pendidikan saat ini bukan pada yang mewarisi tetapi kepada yang menerima warisan. Sampai tahun 1963 untuk mempersiapkan agar bisa lulus SMA, murid-murid SMA memecahkan soal-soal ujian AMS, HBS/Gymnasium/Lyceum; jadi mempelajari soal-soal yang telah lebih dari 20 tahun berlalu. Sekolah kejuruan STM di jaman merdeka masih saja seperti di jaman sebelum perang. Mosok di jaman di mana lokomotif uap sudah digantikan lokomotif diesel, materi pelajaran masih saja menitikberatkan pelajaran mesin uap. Sampailah pada kira-kira tahun 1968 di dekat asrama Realino, di utara Gereja Katholik Mrican dibangun suatu Sekolah Teknik Menengah yang kala itu disebut STM Pembangunan. Peralatan untuk pelajaran praktek sungguh berbeda dengan STM yang di Jetis. Saat itu kita penghuni Realino yang sering melihat persiapan STM Pembangunan sependapat bahwa seharusnya semua STM di Indonesia itu STM Pembangunan.

Sekolah umum ditujukan untuk mereka yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi khususnya universitas. Sekolah kejuruan untuk mereka yang berniat langsung kerja setelah menamatkan sekolah menengah. Seorang lulusan SMA akan bergaji lebih rendah bila dibandingkan dengan temannya yang lulusan sekolah kejuruan (STM atau SGA). Pembagian sekolah menengah umum menjadi jurusan A, B dan C bukan didasari niat mendiskriminasi. Agar tidak memboroskan biaya ketika di perguruan tinggi, maka perguruan tinggi mengambil masukan murid SMA yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.Seorang yang pandai dalam ilmu aljabar, ilmu ukur, ilmu fisika belum tentu bisa melebihi kemampuan mereka yang berbakat menggoreskan kuas di kanvas, belum tentu bisa membuat puisi, belum tentu bisa dengan cepat mengasah rasa seninya.

(STM: Sekolah Teknik Menengah; SGA: Sekolah Guru A)

Perguruan tinggi didirikan bukan dengan tujuan agar semua orang memasukinya. Perguruan tinggi mempunyai obsesi penghematan biaya atau bisa mencapai tujuan dengan biaya yang sekecil-kecilnya. Saya baru tahu hal ini ketika mengunjungi Karolinska Institutet di Stockholm; mahasiswa-mahasiswa tahun ketiga di fakultas kedokteran menurut pengamatan saya sungguh sangat pandai, jauh lebih pandai dibandingkan saya ketika di tingkat yang sama.

Prof. Borje Uvnas ketika itu menjelaskan bahwa yang bisa masuk fakultas kedokteran Karolinska Institutet adalah murid SMA dengan nilai kelulusan 45/50. Pantesan pinter banget oleh karena seleksinya begitu ketat. Dengan seleksi sedemikian, mahasiswa diharapkan tidak ada yang mengulang kelas. Sekolah dokter di Karolinska Institutet tidak ditarik biaya, hanya syaratnya harus sangat pinter.

Di Malaysia juga untuk masuk fakultas kedokteran universitas negeri melalui seleksi ketat. Dibandingkan dengan fakultas kedokteran universitas swasta biaya di fakultas kedokteran universitas negeri Malaysia sangatlah rendahnya. Ada loan dari pemerintah yang memungkinkan lulusan SMA dapat terus melanjutkan sekolah walau tidak dibiayai oleh orang tuanya. Mahasiswa Malaysia yang sekolah di fakultas kedokteran di universitas di Indonesia adalah saringan kedua, yang paling baik sekolah di dalam negeri. Yang sekolah di UK dan negeri western hanya yang kaya saja (yang mampu bayar sendiri), kecuali untuk postgraduate pemerintah membiayai.

Di tahun 1960-an yang bisa masuk sekolah guru (negeri) di Indonesia adalah yang pandai saja. Yang sedang-sedang saja pandainya tidak bisa menjadi guru. Yang masuk Sekolah Guru B (SGB) nilai ijazahnya harus di atas 7 (tujuh). Tidak mudah saat itu mencapai nilai tujuh. SGB memerlukan masa empat tahun. Lulusan SGB ditugaskan  mengajar di Sekolah Rendah. Semua murid SGB diberi ikatan dinas. Walau hanya sekolah rendah ditambah empat tahun mereka mampu mengajar dengan baik dan menghasilkan lulusan yang baik. Biasanya guru tamatan SGB kemudian mengikuti kursus KGA (kursus guru A) yang ekivalen dengan SGA (Sekolah Guru A).

Guru SMA di tahun 1960-an dan sebelumnya banyak yang bukan sarjana (SMA ditambah lima tahun di PT). Banyak yang hanya tamatan kursus B1 atau sarjana muda. Pernah suatu masa ada PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa), suatu program pemerintah untuk mengirim mahasiswa yang telah lulus tingkat pertama (propaedeuse) mengajar sekolah lanjutan di luar Jawa. Program ini dipelopori oleh mahasiswa (pak) Kusnadi Hardjasumantri, hasilnya memungkinkan pemuda-pemuda di luar Jawa untuk mendapatkan pendidikan SMA untuk selanjutnya meneruskan ke PT.  Walau bukan sarjana, guru SMA kala itu banyak yang mutunya unggulan. Sering saya dan kawan-kawan ketika telah lulus dari PT merenung mengapa guru kita saat SMA koq pinter-pinter walau bukan sarjana.

Untuk bisa masuk sekolah negeri harus melalui persaingan. Persaingan didasarkan pada nilai ijazah. Nilai yang paling tinggi didulukan untuk diterima. Sekolah SMA masih sedikit, kebanyakan hanya di kota karesidenan. Kota kabupaten belum tentu ada SMA. Murid-murid yang “nglaju” (commuter) dengan kereta api banyak, mereka anak desa yang tidak mampu untuk mondok di kota. Kereta api saat itu selalu tepat keberangkatannya, bisa dijadikan untuk penunjuk waktu. Kalau ada KA lewat di sawah menuju ke arah timur pada tengah hari maka bisa diperkirakan jam saat itu misalnya jam 14.06. Atau kalau ada suara peluit lokomotif berbunyi di kejauhan di tengah malam bisa dipastikan “oh jam 22.08”. Murid-murid yang “nglaju” ini tidak bisa diremehkan mutu otaknya, tidak kalah dengan anak-anak kota. Mereka berangkat sekolah seusai salat Subuh, pulang sampai rumah pukul 15.00, lalu merumput untuk kambing atau sapinya, magrib ke langgar/surau, belajarnya setelah Isya’ dan ketika di KA. Mereka banyak yang kemudian jadi jendral, laksamana maupun professor.

Teman-teman Realinowan yang tidak mengalami jaman ini, kisah ini menceritakan bahwa Republik Indonesia kita ini pernah mengalami jaman yang adil dan tertata Orang yang punya tekad kuat, tanpa harus curang ataupun  menipu dapat meraih cita-citanya. Masuk pegawai negeri / Tentara/Polisi tidak perlu bayar. Jaman menjadi rusak ketika tatanan yang baik dilanggar. Pimpinan SMA dulu disebut Direktur SMA, tugasnya hanya mengurusi murid sekolah. Setelah pimpinan SMA disebut Kepala Sekolah SMA mereka ditugasi juga menambah ruang kelas kalau jumlah penerimaan murid harus ditambah. Untuk itu mereka menarik uang gedung, uang bangku, uang “sumbangan wajib”.

Sebelumnya gedung sekolah adalah menjadi tanggungan Jawatan Gedung-Gedung di bawah PU. Gedung bekas sekolah saya di Malang ditambah-tambah kelasnya hingga bentuk sekolahnya tidak memenuhi syarat sebagai gedung sekolah, asal membangun kelas tanpa menghitung keselamatan dan arsitektur. Sekarang PT menjadi BHMN dan institusi sekolah menjadi BHP. Saya pikir pemerintahan di negara kita tidak menganut sistem manajemen yang lumrah, tidak membedakan pos biaya dan pos revenue. Institusi Pendidikan, Rumah Sakit, Pertahanan/ Tentara, Keamanan/Polisi, Kehakiman jangan sampai ditugasi mengumpulkan dana dengan cara membentuk Badan Hukum Milik Negara.

Demikian renungan saya.

Salam
RDD

Iklan

One Reply to “Kesalahan pada yang mewarisi”

  1. Bapak saya lulusan HIS tapi dia bisa ngetik 10 jari tampa melihat mesin tiknya shg dia jadi jurutulis kawedanan. Saat pindah ke Banyumas tinggal di Kulon Kawedanan saat itu saya masih Sekolah Dasar (S.R). Didepan kawedanan ada SGB (Sekolah Guru B) dan Asramanya. Saat itu saya lihat murid yang di asrama, fisiknya bagus2 atlitis, sepertinya semuanya serba terjamin baik pakaian maupun sarana olah raga, sampai2 saya ingin masuk SGB. Tapi untuk masuk memang anak2 terpilih terutama dengan nilai ujian rata-rata 7 (tujuh). Pada saat saya duduk di S.R perasaan saya waktu itu guru2nya sangat pandai dan mumpuni dalam mengajar sampai main musik. Tahun 1954, oom saya ikut program pemerintah mengajar di SMA Bukitinggi setelah tingkat 1 di Fakultas Teknik Sipil UGM selama 2 tahun. Gaji sepertinya cukup karena setelah dia pulang bisa beli motor Ducati pada saat itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s