Panduan Wisata ala 1990-an

Keterangan serba singkat di bawah ini mungkin ada manfaatnya bagi alumni Asrama Realino, yang sudah lama tidak menginjakkan kaki mereka di bumi Daerah IstimewaYogyakarta.

Universitas baru. Di Yogya telah berdiri sebuah universitas yang terbilang masih baru. Universitas Perjuangan Hidup namanya. Baru 2 fakultasnya : Fakultas Baksologi dan Fakultas Sotonomi. Kampusnya terletak di Jl. Terban Taman (sekarang Cik Ditiro). Ada alumni Realino yang berminat melamar menjadi dosen? Pokoknya : baksonya lezat, sotonya nikmat dan sambelnya menyengat!.

Rumah Makan Padang : pada tahun 50-an dan 60-an Yogya baru ada sebuah rumah makan Padang, yang terletak di Jl. Tugu (sekarang JI. Mangkubumi), di depan Bioskop Rex (sekarang Ratih). Mas Yoyok Ratam (56) pasti ingat, karena anak gadis dari pemilik rumah makan itu cantik sekali. Rambutnya hitam kelam, ikal dan dikepang panjang sampai ke paha. (Jangan khawatir mBak Henny, pahanya sendiri, bukan pahanya mas Yoyok!). Tetapi dewasa ini jumlah rumah makan Padang di Yogya sudah “mbiyayah”, ada di setiap sudut kota. Bahkan juga di luar kota. Dan salah satunya bernama Rumah Makan Padang “nJINGGLANG.”

S.G.T.K : Satu-satunya SGTK yang ada di Yogya pada tahun 50-an yang terletak di Jl. Bintaran Tengah, sekarang sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya ada SGTK baru di Jl. Suryobrantan, dekat setasiun Ngabean. Tetapi Anda jangan mengharap di sana berjumpa dengan gadis-gadis manis seperti di Bintaran dulu. Karena SGTK baru ini kepanjangannya bukan Sekolah Guru Taman Kanak-kanak, melainkan Sate-Gule-Tongseng-Kambing. Satenya terkenal besar-besar, Gandem marem!

S.G.P.C : Warung pecel wetan Asrama Panti Rapih, tempat “rendezvous” penghuni-penghuni Asrama Realino dan Asrama Panti Rapih dulu, sekarang juga sudah tidak ada. Pindah ke Kompleks Bulak Sumur. Terkenal dengan nama warung SGPC. Singkatan dari sego pecel. Tahu dan tempe bacemnya tetap masih enak, meskipun yang jual sekarang anak dari penjual yang dulu.

Buffet : Di Yogya makan model buffet (dengan tarif tertentu, tamu mengambil sendiri makanan yang tersedia sepuasnya) tidak hanya dapat dinikmati di hotel-hotel besar saja. Sebuah warung kecil sederhana di desa Jetis, kirakira 8 km sebelah selatan Yogya di pinggir jalan menuju Parang Tritis, juga menyediakan pelayanan makan model buffet semacam itu. Tarifnya Rp. 1.750,- per orang. Menunva ajeg : lele dan kuthuk (sejenis ikan air tawar) dimasak mangut (masak santan), lele dan kuthuk goreng, wader goreng. udang (kali) goreng, gudangan mentah (daun singkong, daun pepaya, daun luntas dan sedikit daun jeruk nipis plus bumbu kelapa). Buahnya : seasonal fruits. Artinya : buah apa saja yang kebetulan sedang dihasilkan pohon di pekarangan warung itu (jambu air, jambu kluthuk, blimbing, sirsak, dan kadang-kadang ya cuma ceplukan).

Isaku Iki : Di Jl. Kaliurang terdapat rumah makan semacam “kuring-kuring” di Jakarta atau Jawa Barat. Namanya “Isaku Iki”. Ka!au ditegur karena ada masakannya yang terasa kurang pas, petugasnya hanya menunjuk kepada papan yang bertuliskan “Isaku Iki” (bisa saya ya memang cuma ini). Tetapi masakannya pada umumnya memang nikmat!

Lesehan : Di sepanjang Malioboro dan Jl. Sala sekarang ini bertebaran puluhan warung lesehan . Jualannva : Gudeg, opor, sambel goreng krecek, ayam dan burung dara goreng. Penjual gudeg di dekat patung Pak Dirman, yang dulu sering disambangi para penghuni Realino, sekarang sudah tidak jualan lagi. Sebenarnya gudegnya istimewa sih tidak. Cuma penjualnya memang manis dan “mbody”. Dan lebih menarik lagi : lapnya selalu ditaruh di atas pahanya, sehingga pembeli yang mengelap tangan ya “terpaksa” nyenggol pahanya.’Tetapi seorang teman “kebangetan”. Masa, setiap satu “emplokan” mesti cuci tangan dan ngelap tangan.

Sengsu : Warung sengsu atau tongseng asu sekarang ini banyak terdapat di Yogya, bahkan masuk sampai ke daerahdaerah pedesaan. Memang belum secara blak-blakan. Kalau Anda ingin mengunjungi warung semacam itu, memerlukan pemandu yang sudah berpengalaman.

Pethakan : Banyak penjual bakmi Jawa di Yogya sekarang yang mencampuri masakannya dengan daging babi. Tetapi calon pembelinya selalu ditanya lebih dulu : “Ngagem pethakan punapa boten?”. Yang dimaksud dengan “pethakan” ya daging babi itu. Atau : “Ulamipun campur punapa boten?” Kalau Anda bilang “campur”, berarti Anda minta dagingnya daging ayam dan daging babi. Makanya hati-hati!

.

  • Dari Buletin Kabar No. 1 Tahun I, Juni 1991. Nama penulis tidak disebutkan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s