Bisnis Pondokan di Yogya

C. Atiek Soepardjono

Ketika Asrama Realino didirikan di Yogya tahun 1952, di kota itu belum banyak pondokan yang menampung jumlah pelajar atau mahasiswa pendatang. Mungkin tidak sampai 10 jumlahnya di setiap RK (Rukun Kampung). Sekarang keadaannya terbalik. Mungkin di setiap RK tidak sampai 10 jumlah rumah tangga, yang tidak menerima anak pondokan.

Mcnguntungkankah bisnis pondokan di Yogya? Tergantung! Kalau mendirikannya sepenuhnya dengan investasi baru, jelas sulit mencapai keuntungan.

Kita hitung saja secara kasar dan “bodhon”. Untuk mengadakan pondokan bagi 20 orang dengan 10 kamar, diperlukan tanah paling sedikit 300 m2. Harga tanah di kampung-kampung di Yogya sekarang ini berkisar antara Rp. 50 ribu dan Rp 100 ribu/m2. Kita ambil saja yang paling murah : Rp 50 ribu/m2. Jadi untuk tanah saja diperlukan dana Rp 15 juta.

Sekarang untuk bangunan. Di Yogya biaya membangun rumah sekarang ini sekitar Rp. 150 ribu/m2. Jadi untuk bangunan 10 kamar @ 3×4 m2 dipcrlukan biaya Rp 18 juta. Untuk bangunan fasilitas-fasilitas lainnya (kamar tamu, kamar pengurus; penjaga, kamar mandi, dapur dan scbagainya) scluas 60 m2, biayanva 60 x Rp.150 rihu = Rp 9 juta. Untuk pagar, instalasi listrik, air dan lain-lain kira-kira Rp 2 juta. Perlengkapan untuk 10 kamar (tempat tidur, meja belajar, lemari) menelan biaya Rp 2 juta. Perabot kamar tamu 1 juta. Jadi seluruhnya sudah mencapai jumlah Rp 15 juta (tanah)+ Rp 27 juta (bangunan) + 2 juta (fasilitas-fasilitas) + Rp 2 juta (pcrlcngkapan kamar) + Rp 1 juta (perabot kamar tamu) = Rp 47 juta. Plus thethek-bengek, kita bulatkan menjadi Rp 50 juta.

Barapa uang masuk yang kita harapkan? Kalau tiap pemondok kita bebani uang pondokan Rp 25 ribu/bulan tanpa makan (sudah tergolong mahal di Yogya) makan uang masuk paling banyak Rp 500 ribu/bulan atau Rp 6 juta/tahun atau hanva 12 % dari modal.

Kalau uang Rp 50 juta itu keluar dari kocek kita sendiri, jelas uang itu lebih menguntungl;an kalau kita taruh di bank dengan bunga 24%/tahun (dua kali lipat), kalau modal itu berupa kredit dari bank lebih berabe lagi. Untuk bayar bunganya saja (30 %/tahun), pemasukan kita masih jauh dari mencukupi. Belum angsurannya. Belum dihitung lagi biaya operasi (listrik. air, pembantu) dan penyusutannva. Jelas tidak “cucuk.”

.

Mengapa, menjamur?

Mengapa bisnis pondokan dapat tumbuh subur menjamur di Yogya? Karena pengadaan pondokan itu pada umumnya atau malah hampir seluruhnya tidak dengan investasi barn, Melainkan biasanya sekedar memanfaatkan ruang-ruang yang sudah lama ada, dengan perbaikan sekedarnva.

Keluarga-keluarga lanjut usia atau berusia menjelang senja di Yogya pada umumnya mempunyai anak lebih dari 5, bahkan tidak jarang lebih dari 10. Tentu rumah mereka punya beberapa buah kamar. Setelah anak-anak mereka dewasa dan menyebar, kamar-kamar itu kosong, tidak pernah terpakai. Ruang-ruang semacam inilah yang kebanyakan sekarang ini jadi kamar pondokan. Tarifnya tergantung pada kondisi masing-masing dan juga pada jauh dekatnya dari tempat pendidikan pemondok yang bersangkutan. Tarif itu berkisar antara Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu/bulan tanpa makan.

Kalau pandai-pandai mengelolanya, asset itu dapat berkembang. Jumlah kamar bertambah terus. Dua tahun 1 kamar misalnya. Kalau masih ada tanah tersisa tentu saja! Pondokan jenis inilah yang menguntungkan. Setidak-tidaknya dapat menumpu hidup sehari-hari. Merugi hampir tidak mungkin.

Memang ada satu-dua pondokan yang didirikan dengan investasi baru sepenuhnya. Ada yang didirikan pada tahun 70-an oleh orang Yogya, yang sudah lama bermukin di Jakarta. Orang ini kebetulan “kebanyakan” duit. Ketika itu mendopositokan uang di bank belum populer dan bunga deposito pun belum semenarik sekarang ini. Karena orang itu tidak tahu mau dikemanakan uangnya yang “kebanyakan” itu (uang panas, istilah waktu itu), maka ia menginvestasikannya di bidang usaha pondokan di Yogya, “Sambil memberi kesibukan kepada orang tua yang sudah memasuki usia senja,” katanya. Memang, pondokan yang dapat menampung 40 orang itu dikelola oleh kedua orang tuanya yang tinggal di Yogya. Tarifnya Rp 20 ribu/orang. Entah, bagaimana cara pembagian keuntungan antara si penanam modal dan pengurus pondokan.

Pada umumnya para pemilik pondokan tidak bersedia menyelenggarakan pondokan berikut makannya. (Biasanya hanya kamar. Kadang-kadang plus cucian). “Tidak sumbut dengan repotnya. Belum lagi mesti nuruti selera anak-anak. Ada yang suka pedes, asin, manis dan sebagainya,” kata seorang ibu berusia 77 tahun, yang sudah lebih dari 40 tahun menyelenggarakan pondokan. “Paling-paling untungnya kalau kita menyediakan makan 4 orang, kita bisa nunut 1 orang. Kalau yang mondok 8 orang, yang 2 orang kita bisa nunut makan,” jelasnya. (Tarif pondokan berikut makan dan cuci di Yogya sekarang ini berkisar antara Rp 45 ribu sampai Rp 75 ribu).

.

Hubungan pemondok dan induk semang

Hubungan antara pemondok dan induk semang (lebih populer dengan sebutan ibu kos) beraneka ragam. Ada yang “zakelijk”. Artinya, asal sudah bayar uang pondokan, pemondok mau “jengkelitan” kaya apa, ibu kos tak akan ambil peduli. Pulang malam, pulang pagi, tidak pulang beberapa hari, tidak peduli! Ini juga berlaku bagi pemondok puteri.

Tetapi masih ada juga pemilik pondokan yang hanya bersedia menerima pemondok berdasarkan hubungan kekeluargaan. Artinya setiap pemondok direngkuh seperti anggota keluarga sendiri. Kedatangannya harus diserahkan sendiri oleh orang tua atau walinya. Tingkah lakunya sehari-hari diawasi. Selalu diingatkan kapan harus ujian, kapan harus mulai menulis skripsi dan sebagainya. Pondokan jenis ini agak kurang populer. Banyak mahasiswa sekarang yang menghendaki kebebasan lebih besar. Mungkin Asrama Realino oleh para mahasiswa pemondok dikategorikan ke dalam pondokan yang “ketat dan usil” ini,sehingga peminatnya berkurang.

Cara pembayarannya pun bermacam-macam. Pada umumnya induk semang menghendaki pembayaran di muka. Ada yang untuk 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun.

Itulah sedikit gambaran tentang bisnis pondokan di Yogya, yang mungkin sedikit banyak berpengaruh atas “tidak relevannya lagi menyelenggarakan asrama seperti Asrama Realino untuk waktu sekarang”.

.

  • C. Atiek Soepardjono, istri Bapak Soepardjono, Alumni Realino 1956
  • Artikel dikutip dari Buletin Kabar No.1  Th.1, Juni 1991


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s