[Respon 2] Perlu dukungan…

Tanggapan terhadap tulisan mas Eko Raharjo panjang dan bagus-bagus, jadi akan menyulitkan pembaca kalau artikelnya saya letakkan di comment. Alhasil, comment terhadap artikel saya tata sebagai artikel juga.

.

Mas Eko, Mas Gufron, Mas Djauhari, Mas Iskandar dan yang lainnya,

Saya mengikuti tulisan kalian mengenai pendidikan dengan penuh perhatian.  Topik ini sangat penting, bukan hanya buat Indonesia saja, juga buat Amerika dan negara-negara lain.  Tanpa pendidkan yang baik, suatu negara akan hancur dan tidak bisa bertahan dalam persaingan global sekarang ini.

Saya sependapat sekali dengan ulasan kalian. Memang benar, seperti kata Mas Eko, Amerika Serikat (AS) sedang mengalami kemunduran dalam pendidikan. Ini bisa saya lihat dari lulusan baru yang kita interview dan kita terima. Karena masalah ini, saya hanya menerima minimum Master Degree qualifications untuk melamar kerja di Department saya. Rupanya, karena masalah anggaran yang di potong di universitas2 disini, banyak sekali subject yang dihapus untuk Bachelor Degree.  Misalnya, di Teknik Sipil, subject “Prestressed Concrete Design” dihapus di Bachelor (Under Graduate) dan hanya diajar di Graduate School (Master dan Ph.D). Kami terpaksa harus melakukan training buat lulusan baru ini. Tapi, masalah seperti ini tidak terjadi pada semua university.

Saya ingin juga sharing pengalaman saya dalam pendidikan ini. Saya sudah mengalami sendiri sistim pendidikan di Indonesia dan di Amerika. Saya ambil S2 dalam bidang Structural Engineering and Mechanics” di University of Washington, Seattle dan S1 dari UGM. Di Jakarta dulu saya sempat ngajar di UNTAR and UKI beberapa tahun. Anak-anak saya ada dua orang, yang pertama wanita, dia sudah lulus Bachelor Degree tahun 2006 dari Purdue University dalam bidang Material Science Engineering dan sekarang sudah tahun kedua Graduate School di University of Minnesota, St.Paul -Minneapolis, dengan major yang sama.Anak saya yang kedua, laki-laki baru kelas 1 SMA.  Dia sekarang juga anggota Drum Band / Marching Band dari sekolahnya. Dia adalah pemain drumnya.

Menurut observasi saya, selain lingkungan dan fasilitas yang tidak mendukung pendidikan kita di Indonesia, seperti yang diutarakan Mas Eko, ada lagi yang tidak kalah pentingnya adalah cara mendorong anak-anak berpikir secara kritis dan kreatif.  Di Indonesia anak-anak kita takut kepada guru atau dosen, dalam arti tidak berani bertanya dikelas dan berdebat dengan guru atau dosennya. Disini anak-anaknya berani mengeluarkan apa yang dipikirnya tanpa malu-malu atau takut, bahkan berdebat dengan guru atau dosennya. Inilah yang mereka dorong sejak kecil disekolah sini.  Mereka yang lulusan dari sini, pidatonya juga hebat-hebat, apa lagi membuat presentation. Obama tidak mungkin bisa terpilih kalau tidak jago pidato dan berdebat. Tidak berarti mereka tidak sopan kalau berdebat dengan gurunya. Inilah yang gurunya mau, supaya anak-anak dilatih berpikir secara kritis. Menulis karangan juga sangat ditekankan disini. saya lihat kita agak kurang dalam bidang mengarang atau menulis paper di Indonesia.  Disini kalau tidak bisa menulis report atau proposal di perusahaan swasta, academic atau pemerintah, kita tidak bisa maju, walaupun jago matematik.

Mengapa anak-anak kita di Indonesia takut kepada guru atau dosennya? menurut saya, ini mungkin kita di bawah sistim jajahan Belanda terlalu lama. Memang Belanda maunya begitu, supaya tidak melawan. Ini adalah hasil pendidikan dulu yang sudah menjadi kebudayaan kita, secara tidak kita sadari. Saya juga ingat bagaimana saya dididik oleh orang tua saya. One way street, tidak boleh ngelawan, sehingga tidak banyak komunikasi yang melatih berpikir secara kritis. Padahal ini penting sekali waktu anak-anak masih kecil, sebelum dewasa.

Mengenai system pendidikannya juga beda. Kalau di Indonesia kita terlalu banyak menghafal. Kebalikan dengan disini, yang lebih mementingkan logic dan cara mendapat hasilnya, bukan hasilnya. Kalau hasilnya salah, tetapi caranya benar juga masih dapat penghargaan.
Di sekolah pemerintah / Public school program pendidikannya juga berbeda, tergantung dari kemampuan anak-anaknya. Ada yang namamya Gifted Program. Anak-anak dengan minimum IQ tertentu baru bisa masuk ke gifted Program. Walaupun sekolahnya sama, levelnya lain-lain. Kebetulan kedua anak-anak saya masuk Gifted Program dari Public School sejak elementary (SD). Dengan demikian anak-anak yang lebih mampu tidak terhambat dengan yang kurang mampu academicnya. Anak saya yang pertama juga lulus dari IB (International Baccalaureate) program dari SMAnya.  Sedang yang kedua sekarang di CAD (Center for Advance Technology). Ada juga SMA yang punya program menjurus ke Medical School, ekonomi dan lain-lain. Mereka sudah mulai diarahkan ke major tertentu, tetapi curiculumnya tetap flexible. Misalnya, kalau lulus dari CAD, masih bisa juga pergi ke Kedokteran.

Kegiatan-kegiatan extra curicular sudah dimulai dari SMP. Banyak sekali kegiatan-kegiatan ini dibentuk oleh sekolahnya masing-masing, seperti Matematic Club, Economic Club, Volley, Basket ball, Chest , robot, band, orchestra, bridge, renang, football dan banyak lagi.  Satu hal lagi yang menarik, banyak juga pekerjana rumah yang harus diselesaikan dengan groupnya, bukan sendiri-sendiri. Nah, ini untuk melatih mereka bekerja sebagai team-work. Club-club tersebut ada pertandingan antara sekolah sepanjang tahun. Sebagai orang tuanya, kita juga harus ikut aktif berpartisipasi mendorong dan membantu mereka.

Yang paling saya khawatirkan sekarang adalah Internet access buat anak-anak sekolah. Tanpa internet mereka tidak bisa bikin  pekerjaan rumah, karena bahannya harus dicari dari internet. Saya lihat sekarang mereka terlalu banyak main games dan lain-lainnya, kalau mereka punya waktu luang. Mereka bisa access ke macam-macam pornography dll, yang tidak kita ingini.  Sulit juga menjaganya. Tentu saja technology ini bisa membantu pendididkan dan juga merusak pendidikan, kalau tidak di kontrol.

Saya harap diskusi-diskusi seperti yang kita lakukan, paling tidak bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk membantu memperbaiki pendidikan di Indonesia. Pendidikan adalah kunci keberhasilan suatu negara untuk berkembang, seperti Korea Selatan, Jepang dan Singapore.  Perlu juga dicatat, sekolah pemerintah di AS adalah free dari taman kanak-kanak sampai High Schcool.  Ini adalah step pertama yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia, karena masih banyak yang tidak mampu mengirim anak-anaknya pergi ke sekolah. Di AS buat yang tidak mampu, bahkan makan pagi dan siang juga free disekolahnya.

Demikianlah sedikit sumbangan ulasan saya mengenai pendidikan.  Kita sambung lagi.

Salam SeV
Teddy  S. Theryo,P.E.

Iklan

One Reply to “[Respon 2] Perlu dukungan…”

  1. Bung Eko dan Realinowan lainnya,

    Saya merasa tercerahkan dengan pendapat anda dan komentar lainnya dari para sahabat Realinowan.

    Pengalaman saya dan saya kira juga secara umum generasi saya yang lahir di tahun 40-an dan remaja di tahun 50/60-an. Secara berseloroh kami selalu menyebut diri generasi kurang gizi dan penuh penderitaan sebagai gambaran dari kemiskinan yang merata di masa itu di seluruh wilayah Indonesia.

    Bayangkan saja, di Asrama Realino yang megah bangunannya dari luar kami menyantap bulgur dan jangan gori sbg menu sehari-hari di awal 60-an. Kok rasanya dengan asupan gizi seperti itu mencengangkan bahwa generasi saya yang dengan bebas merdeka menikmati pendidikan tinggi (hampir tanpa biaya) di semua universitas negeri zaman itu mampu berkarya dan “excell” di bidangnya masing2.

    Pembangunan berencana zaman keemasan Orde Baru (70-an dan awal 80-an)adalah buah karya generasi ini. Meskipun kami adalah produk “diskriminasi.” Anak cerdas (masuk golongan “B”, mirip IPA), anak dengan kemampuan intelektual sedang (golongan “C” mirip SOS, dan kurang cerdas, gol. A, mirip Budaya dan Bahasa).

    Ternyata semua bentuk paradigma pengkotakan itu dijungkir balikkan sesudah melewati Universitas dan terbukti lagi kalau sudah berkiprah di professi masing-masing. Kata kuncinya adalah kesempatan pendidikan yang handal.

    Apakah Penjajah Belanda memang sengaja membuat pengkotakan B, C, dan A untk mengerdilkan serta menghambat perkembangan kemampuan intelektualitas? Perlu pembuktian. Namun sayangnya “pendewaan” anak cerdas “B” yang diteruskan ke masa kemerdekaan dan sekarang dalam berbagai bentuk sungguh ironis dan dianggap sebagai “kebenaran”.

    Paradigma ini harus dirobah apabila Indonesia ingin menempatkan diri sejajar dengan bangsa lain. Gambaran nyata adalah bentuk kedisiplinan yang dipertontonkan para pengendara motor di Jakarta dan kota besar lainnya yang menunjukkan betapa orang Indonesia tidak peduli akan orang lain. Apakah mereka produk dari sistim pendidikan yang amburadul? So what, gitu lho.

    Kalau mimpinya Bung Maryono, Djauhari dan rekan lainnya termasuk Bung Eko bisa diwujudkan, harus dilakukan pembongkaran dan penemuan kembali sistim pendidikan Indonesia, tentu dengan dukungan semua pihak yang secara sadar terobsessi untuk memajukan Indonesia yang pluralis inklusif (bukan pluralis eksklusif) sekaligus sejahtera.

    Sekedar wacana, meramaikan milis ini.

    Salam SeV,
    Normin Pakpahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s