[Respon 1] Perlu dukungan…

Tanggapan terhadap tulisan mas Eko Raharjo panjang dan bagus-bagus, jadi akan menyulitkan pembaca kalau artikelnya saya letakkan di comment. Alhasil, comment terhadap artikel saya tata sebagai artikel juga.

.

Bung Eko,

Tulisan dan sharing yang sangat menarik dan bernas. Kalau dikirim dalam bentuk paper akan saya berikan kepada menteri pendidikan, Sekjen diknas dan beberapa anggota DPR Komisi X yang membidangi pendidikan agar merangsang mereka untuk menghasilkan suatu sistem pendidikan yang kondusif bagi tumbuhnya tunas-tunas muda bangsa.

Saya sangat sependapat dengan tulisan bung, tetapi dalam konteks Indonesia yang kaya budaya “local wisdom” perlu diinject ke dalam pembenahan sistem ini. Saya percaya dengan pendekatan dimana perubahan mulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga dstnya maka perubahan mendasar akan kelihatan.Kalau setiap Individu Forsino sudah mulai, niscaya hasilnya akan luar biasa, jadi proses dari bawah ke atas, kesadaran kemudian akan timbul.  Tidak revolusioner, tetapi evolusioner, mungkin ini yang tepat buat bangsa Indonesia.

Kalau soal romo Lukas, bahkan sampai sekarangpun masih begitu gayanya… Beberapa Waktu yang lalu saya terima sms dari beliau, katanya “kecik you djau jadi wakil dubes di Belanda, kenapa tidak di Washington”. Panas juga kuping saya, wah wakil Dubes di Belanda kok dibilang kecik, banyak yang ingin pos ini… pokoknya sudah ingin membalas smsnya dengan argumen-argumen yang substantif… lalu saya sadar ‘kan ini gaya beliau, jadi saya jawab… “Lumayanlah romo alumni Realino jadi  wakil dubes di Belanda.”

Jawaban panjangnya akan saya berikan kalau ketemu beliau dengan argumen tambahan kalau tidak jadi wakil dubes Belanda belum tentu saya jadi Dirjen sekarang, wong banyak Dubes yang pengen jadi Dirjen kok,  ASEAN lagi, sokogurunya Polugri kita (ha..ha.. sekali sekali sok sama romo satu ini)… tapi saya yakin pasti dia akan kasih pernyataan provokatif lagi, kok cuma Dirjen… kenapa nggak Menteri sekalian??? Nah saya akan jawab ke beliau, apa orang Padang sudah siap punya Menlu orang Maluku????.. tetapi itulah beliau, selalu merangsang kita dengan pertanyaan-pertanyaan provokatif dan kritis.

Selanjutnya, saya mau sharing cerita mengenai anak-anak saya, sarinya pasti ke sistem Pendidikan.

Cerita anak Sulung saya Lebit, seperti ini: Pemilu tahun 2004 anak saya tepat berusia 17 tahun sehingga punya hak pilih. Dia masih High School di Forest Hills New York. Sejak usia 15 dia sudah tinggal sendiri di New York, dengan Guardian seorang Amerika keturunan China, tetangga apartemen saya sejak 1986. Saya SMS dan sampaikan, “Nak harus melapor ke Konsulat untuk daftar dan selanjutnya ikut milih.” Anjuran saya yang sangat singkat ini, menghasilkan lebih dari 50 sms agar dia mau ikut milih. SMS jawaban dia singkat saja, “why should I, pak?” ..

Saya bilang, karena dengan ikut milih, Lebit sebagai WNI ikut terlibat dalam menentukan masa depan negara. Debat kemudian berlangsung terus melalui SMS, sehingga akhirnya dia sampaikan, ok, kalau saya vote, then both of you (saya dan isteri) dapat 1 vote extra dari saya karena, dia berasumsi kami menganjurkan dia untuk cast his vote pada partai tertentu, atau kandidat presiden tertentu. Saya jawab, bukan seperti itu, tetapi Lebit punya hak untuk menentukan masa depan bangsa melalui suara Lebit, jadi bapak hanya anjurkan untuk mengconsider beberapa partai dan calon presiden/wapres. Lebit bisa lihat di web site mereka, cari informasi, mana yang Lebit anggap terbaik, itu yang dipilih.

Akhirnya, dia bersedia untuk ikut milih dan sampai sekarang tidak pernah infokan ke kami partai apa dan calon mana yang dia pilih sebagai Presiden. Sewaktu bertemu dan saya bilang, “What do you think about our new President,  SBY”, dia hanya senyum. Sewaktu SMS tersebut, saya sempat ngedumel kepada isteri, saya bilang mau bilang anak agar milih saja kok susah banget, argumennya panjang.

Sang isteri dengan kalemnya menjawab, apa pengen punya anak yang dimintakan A akan juga A, kan ngak pengen??? kan ini resiko nyekolahin anak di New York, terimalah…ha…ha… saya hanya senyum simpul… ternyata Isteri lebih bijak….. Oh ya anak saya ini sekolah akutansi di Baruch College New York, ikut band, main gitar, lead vocal dan sering show di new york sewaktu masih high school dan dapat bayaran lagi.

Penampilan Rockernya pernah membuat saya ragu, apakah dia cocok di Akutansi. Kalau semua lancar, pertengahan tahun depan dia sudah dapat CPA, dan bisa 5 bahasa plus bahasa Indonesia. Dia akan libur sampai akhir januari, tidak mau ke Indonesia, tetapi mau kerja, katanya mau cari uang tambahan.Dulu sewaktu kecil saya kasih kebebasan dia untuk bemain, berolah raga, renang, main musik (agak aktif), jadinya mungkin syarafnya bereaksi positif terus merangsang pertumbuhan, jadinya tinggi 186 cm dan padat berisi.

Cerita kedua mengenai puteri saya, Karina, dia dapat IB dari International School di Den Haag, dan sangat berminat ambil International Relations. Saya bilang kok International Relations, kenapa tidak International Bussiness atau Manajemen dll.

Jawabannya, saya ikut pindah ke beberapa tempat, saya lihat bapak kerja, saya punya banyak teman dari berbagai bangsa, saya lihat banyak tempat, beradaptasi dengan banyak budaya, bukankah International relationbs cocok buat saya, dan saya suka. Isteri nyeletuk, “Nah lu, rasain.” Saya terdiam. Lalu saya anjurkan  ke Amerika ya, kan lahir disana (mungkin dapat dispensasi biaya), ada mas disana, jadi bisa berdua, dari segi biaya bapak agak ok lah.

Jawabanya yang buat saya tercengang, no, saya sudah lama di Amerika, bahkan lahir disana, saya cukup tahu Amerika. Saya bilang kalau begitu di Eropah biar sama adik disini, kembali dia bilang no, kan pernah 5 tahun di Jenewa dan sekarang di Den Haag (bayangan saya kalau bisa di Leiden atau Erasmus kan bangga juga… ini ego orang tua). Dia kemudian bilang  saya pengen sekolah ke China, Jepang, India, Singapura atau Australia karena saya ingin mengenal bangsa ini. Nah makin bingung kan saya.

Dia kemudian cari informasi mengenai universitas-universitas di negara-negara tersebut, dan putuskan untuk mendaftar ke New South Wales University Sydney dan Monash University, Melboune dan kemudian diterima di kedua Universitas tersebut. Dia akhirnya memilih NSWU Sydney. Dia bilang. saya usahakan selesai dalam waktu 2,5 tahun, dan kan bisa kerja disana dengan visa student jadi bapak ngak usah terlalu worry (uang maksudnya). Dalam hati saya bilang sok banget you….

Isteri hanya senyum simpul sambil nyeletuk rasain lu, kenapa sering ajak anak cewek diskusi dan beli buku-buku berat untuk dia baca. Saya bilang, gimana kalau punya pacar nanti??? (ini saya sampaikan dengan rasa senang karena dapat compliment dari isteri)). Anak saya yang kedua ini sewaktu kecil saya ikutkan kursus piano dan senam. Hobynya motret, baca, sekarang sedang liburan musim panas (australia) dan kerja sampingan.

Sekarang cerita si bungsu, Resiyaman. Dia juga punya logika sendiri dalam memilih sekolah. Awalnya ingin sekolah untuk menjadi juru masak atau kerja di hotel, jadi sekolah perhotelan. Saya kaget juga…. loh…loh …loh, sudah di International School, kok kesitu??. Isteri yang jawab kali ini… memang dia bakatnya kesana, jadi diiyakan saja sambil kasih penjelasan alternatif lainnya.

Menurut dia, kan enak, sekolahnya cepat, dapat kerjanya gampang dan bisa kemana-mana dengan bekerja di hotel. Pendek cerita, akhirnya keputusannya berubah dan ambil International Bussiness atau Public Relations… wow pilihan yang bagus, tetapi pernyataan kedua yang buat saya terperanjat. Tetapi maunya di Indonesia, tidak di Amerika, Eropah atau Australia. Saya bilang sama dia, kalau dia khawatir bapaknya sudah kehabisan simpanan untuk kedua kakaknya. Bapak masih punya uang sedikit, kalau masih kurang juga, kan abang sulungnya sudah mau selesai dan akan kerja, kita juga masih punya rumah, bisa dijual untuk sekolah Resi. (prinsip saya sejak dulu, kalau memang rezeki sudah mapet benar, rumah di jual, yang penting anak-anak sekolah, saya bilang isteri, kita berdua kost lagi… pasti tambah mesra)..he…he… Jawabanya sangat simpel… nanti saja S2nya di luar negeri. Banyak anak kan sekolah di luar negeri agar bisa berbahasa Inggris, Resi sudah bisa, dan resi pengen punya teman-teman di Indonesia, dan pengen tinggal dan hidup di Indonesia. Saya dan isteri terharu, ok kalau begitu, sekarang pulang dan ikut test di Indonesia.

Walhasil dia diterima di FE UGM program Internasional ambil International Bussiness. Diterima juga di beberapa Universitas di jakarta tetapi kemudian memilih Jogja.  Sekarang sudah 5 bulan di Jogja, dan dari monitor ke facebooknya saya lihat teman-temannya banyak sekali. Ada satu celoteh dia yang saya masih ingat pada saat saya bertanya “apa sudah punya teman di Jogja?” jawabnya, temannya sudah banyak karena sewaktu masa orientasi paling sering dihukum, sekarang jadi teman mereka.

So far, kalau ditanya testnya bagaimana, jawabannya, i am doing ok… Tadi baru smsan dengan dia dan beberapa smsnya saya save karena sangat khas jawaban mahasiswa jogja. Anak saya ini senang motret, buat ppuisis, main drama, nabuh drum, suka ngamen kalau lagi di Jakarta, bahkan sekarang bersama-sama Stanis, ngamen di Jogja untuk cari dana buat malam natal bersama mereka (yang mau nyumbang boleh juga tuh!!!!!)

Ps: Sahabat kita Prof. Edward Tandelilin dan putranya Stanis punya peran besar, kenapa kemudian Resi memutuskan untuk sekolah di Jogja.

Nah bung Eko dan rekan-rekan Forsino, saya memang senang menanggapi dengan bercerita….Kalau soal pendidikan, yang paling dekat adalah dilingkungan keluarga kita.Jadi mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dengan logika ini. Saya memang bersyukur bahwa anak-anak saya diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan  dari suatu sistem yang sudah mapan. Awal kembali ke Indonesia dulu, karena saya tahu waktunya hanya singkat jadi anak saya yang sulung saya masukan ke SD Inpres di Cijantung. Dua adiknya juga paling tidak menikmati masa sekolah di SD  (1 sd 2 tahun) di sekolah Cenderawasih Pondok Aren (mirip SD Inpres lah, pada saat itu), biar mereka tetap membumi. Mudah-mudahan bekal yang kami berikan cukup buat mereka merangkai hidupnya kelak.

Saya percaya Indonesia sedang berbenah diri, banyak muncul tokoh-tokoh baru dan muda yang punya visi luar biasa mengenai Indonesia mendatang. Saya kira di tangan mereka dan anak-anak kitalah Indonesia akan hidup sejajar dengan bangsa lainnya di dunia.

salam hangat,
djauhari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s