Perlu Dukungan Budaya untuk Kesuksesan Pendidikan Anak

Oleh Eko Raharjo

Bagian Pertama

Poro sederek alumni Realino semua yang saya cintai, saya setuju dengan pendapat dari Bang Djauhari Oratmangun, Pak Gufron Sumariyono, dan Mas Iskandar Wanagiri bahwa budaya masyarakat setempat berperan besar dalam menentukan kesuksesan maupun kegagalan pendidikan anak.

Saya pernah mendaftarkan keponakan perempuan saya yang di Kudus yang waktu itu masih SMP untuk kursus ‘ngedrum’, namun setahun kemudian ketika saya kembali ke Indonesia dia sudah drop-out. Rupanya lingkungan sekitar keponakan saya memberikan pengaruh-pengaruh negatif, seperti mengatakan bahwa ngedrum bukan untuk perempuan melainkan keyboard. Kemudian dia pindah kursus keyboard namun drop-out lagi.

Andaikata keponakan saya tsb tinggal di Calgary bersama saya, saya yakin saat ini dia sudah menjadi drummer yang mumpuni. Ini karena, pertama, budaya “mencampuri urusan orang” tidaklah lazim disini. Kedua, lingkungan komunitas di Calgary menyediakan berbagai resources yang mendukung segala macam kegiatan untuk pengembangan bakat anak. Oleh karena itu tidak perlu heran kalau anak saya kendati sibuk dengan menjaga prestasi di sekolahan, namun di luar sekolah masih bisa menjadi pemain piano dan anggar yang piawai.

Masyarakat Indonesia banyak yang masih belum menyadari mengenai hal ini, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mengadopsi kebiasaan-kebiasaan baru yang kondusif terhadap pengembangan bakat anak-anak. Menyedihkannya, attitude seperti ini tidak cuma ada dalam lingkungan keluarga dengan pendidikan dan status sosial ekonomi rendah saja, melainkan juga dapat ditemui dalam keluarga-keluarga the Haves dan terpelajar (dan yang tinggal di luar negeri lagi!). Suatu kali saya mengundang beberapa keluarga di Calgary dan menampilkan anak kami untuk bermain piano recital, namun mereka malah menanggapi dengan negatif dan di belakang mereka mencap kami sebagai sombong, sok pamer.

Sungguh amat disayangkan bahwa banyak orang Indonesia generasi saya yang menjadi terpelajar dan dengan status sosial ekonomi yang meningkat, namun dalam hal pendidikan anak masih menganut cara kuno, yakni sekedar mengumbar anak-anak bak ayam atau anjing kampung. Tidak ada suatu perencanaan yang terorganisir dan dengan menumbuhkan lingkungan yang kondusif. Barack Obama pernah tinggal di Jakarta pada tahun 60-an dengan lingkungan budaya pendidikan macam ini. Yes! it gives a lot of fun and leisure time to the kids. Namun perlu direnungkan, andaikata Obama tetap berada dalam lingkungan macam ini, mungkinkah ia akan bisa menjadi presiden USA? I don’t think so.

Menurut hasil penelitian dari Annete Lareau, keluarga menengah di USA yang sukses dalam mendidik anak menerapkan konsep Concerted Cultivation, yakni menggabungkan dan memanfaatkan segala kesempatan, resources dan fasilitas pendidikan yang tersedia dalam masyarakat. Orang tua atau guardian merencanakan, mengorganisir dan ikut aktif terlibat dalam proses pendidikan anak-anaknya. Anak dilatih untuk berani berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan orang dewasa, authority figures, seperti Mayor, city councils, police officers, professionals, etc. Sehingga anak-anak merasa menjadi bagian dari dunia sekelilingnya dan mempunyai sense of entitlement.

Sewaktu menjadi volunteer di permukiman liar nan kumuh di lembah sungai Code seusai tinggal di asrama Realino, saya mengamati anak-anak di sana kalau melihat polisi akan spontan bereaksi: “awas-awas ada polisi!”. Bagaimana mungkin mempunyai sense of entitlement bila anak-anak merasa uncomfortable, ketakutan, distrust terhadap figur-figur penguasa?. Ternyata takut dengan figur penguasa memang merupakan budaya umum masyarakat di seantero Nusantara. Berbicara dengan merunduk, menghindari tatapan mata dan tanpa membantah merupakan sikap yang dianjurkan bila berkomunikasi dan berintaksi dengan figure penguasa.

Mentalitas dan lingkungan budaya pendidikan orang-orang Indonesia meskipun kelas menengah dan kelas atas terkadang masih serupa dengan lingkungan budaya dan mentalitas kelas bawah atau kaum rednecks di negara Barat. Masih banyak orang tua yang tak mengusahakan dengan serius pengembangan bakat anak-anak. Dunia anak diletakkan di bawah atau dipisahkan sama sekali dari dunia orang dewasa, sehingga anak-anak tidak banyak berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang yang mempunyai peran dan fungsi kehidupan nyata. Malahan ada yang memasrahkan anak-anak ke tangan orang-orang yang sama sekali tidak kompeten seperti Pembantu Rumah Tangga. Masyarakat Indonesia tidak banyak pula menyediakan resources dan fasilitas pendidikan seperti public library, playground, science centre, museums, etc (lihat tulisan saya “Tempat Ibadah Vs Playground [di milis apa di blog, mas? Red]).

Saya salut dengan orang tua yang mengirim anak-anaknya untuk bersekolah ke luar negeri dengan kesadaran untuk memperoleh pendidikan dari orang-orang/guardians atau institusi yang kompeten dalam lingkungan masyarkat yang kondusif terhadap pengembangan bakat anak, seperti mas Gufron yang mengirim anak-anaknya ke Rossal, England, juga Bang Djauhari, Mas Mardiasmo, Mas Bunadi, dst. Tentu saja ini menuntut pengorbanan yang amat besar baik dari segi financial maupun hubungan kekeluargaan. Dengan kesadaran yang sama, saya juga jarang sekali mengajak anak saya untuk berlibur Summer ke Indonesia, sebab menurut saya masa summer justru kesempatan emas bagi anak saya untuk mengecap pendidikan yang seluas-luasnya dalam masyarakat maju Barat seperti di Kanada.

Sejak kecil anak saya selalu memanfaatkan masa Summer di Kanada dengan berbagai kegiatan pendidikan. Kepiawaian anak saya dalam bermain anggar adalah dimulai dengan mengikuti Summer Camp di lingkungan komunitas kami tinggal. Pendidikan mini-university dan training dalam bidang research seperti teknologi cloning di Molecular Biology Lab juga di peroleh pada masa Summer. Masih banyak lagi kegiatan pendidikan di Kanada yang bisa saya sebutkan seperti mengunjungi museums, science centres, sampai mengeksplorasi daerah rural pedesaan, hamlets, tempat-tempat bersejarah suku-suku native Indians, pegunungan Rockies, glaciers, danau-danau, bendungan, pantai-pantai di laut atlantik dan pasifik. Perlu dicatat bahwa hampir semua daerah wisata di Kanada dilengkapi dengan fasilitas/resources untuk pendidikan.

Adalah benar sebagai konsekuensinya anak saya tidak punya banyak kesempatan untuk berinteraksi secara physical dengan sanak saudaranya yang di Indonesia. Namun hal ini bisa di kompensasi dengan komunikasi menggunakan teknologi telekomunikasi dan internet. Saya percaya bukan interaksi atau pendampingan fisikal yang mutlak diperlukan melainkan yang lebih penting adalah adanya komunikasi yang treus menerus, perhatian, kepedulian, keterlibatan, tanggung jawab dan kontrol dari orang tua terhadap anak-anaknya. Keakraban antara sanak saudara dapat diciptakan secara instan dan tanpa kesulitan justru bila anak-anak berkembang dan meraih kematangan mental, intelektual dan sosial yang optimal.

.

Bagian Kedua

Ketika masih di asrama Realino, Rm Lukas Alamsyah kadang bergaul dengan warga dengan membawa sebungkus kacang dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut kerja keras otak. “Sutopo, coba terangkan apa itu Theodolit?; Eko, apa itu Virus?”, dst. Kemudian beliau membuat para warga bengong dengan melemparkan issue bagaimana Indonesia bisa menyusul kemajuan USA. Lanjutnya: “kalau Indonesia memajukan diri bukankah USA juga akan bertambah maju terus?”.

Sekarang, setelah 30 tahun pernyataan Rm Lukas terbukti benar belaka, Indonesia tidak pernah bisa menyusul USA. Bahkan pada masa 8 tahun terakhir ini dimana USA mengalami kemunduran tajam, tidak ada tanda-tanda sedikitpun Indonesia bisa mendekati USA, malahan situasi di Indonesia sendiri justru semakin terpuruk. Namun, kalau sekarang saya ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh beliau, maka dengan yakin saya akan menjawab: “Melalui Pendidikan Anak!”. Sebab ini sudah dibuktikan sendiri oleh sekarang presiden terpilih Barack Obama.

Barack Obama jelas merupakan warga USA, namun ia bisa pula disebut sebagai anak Indonesia, anak Kenya, anak Hawaii, dst. Namun, lebih dari itu semua, yang menjadikan dia sebagai seorang pribadi yang istimewa seperti sekarang ini adalah bukan karena warga negaranya, atau bapaknya yang Kenya, atau kulitnya yang hitam, atau karena pernah punya KTP Menteng, melainkan karena pendidikannya. Harap dimengerti bahwa yang saya maksudkan pendidikan adalah bukan soal sekolah formal saja.

Dalam buku Dreams From My Father, Obama menceritakan bahwa ketika kecil di Jakarta, setiap hari, ibunya, Ann Dunham, membangunkannya jam 4 pagi untuk diberi pelajaran bahasa Inggris. Ibunya juga membawakan buku-buku dari perpustakaan di kedutaan USA untuk memberikan rangsangan terhadap perkembangan kecerdasannya. Dan pada akhirnya Ann Durham membawa Barack kembali ke USA (Hawaii) sebab ia berpendapat pendidikan dan lingkungan budaya di Indonesia tidak cukup bagus untuk menunjang perkembangan bakat-bakat anaknya.

Di Hawaii, Barack tidak tinggal bersama ayah ibunya melainkan dengan kakek neneknya. Namun, inilah kuncinya, kakek dan nenek Dunham sangat peduli dengan pendidikan dari cucunya. Barack dikirim ke sekolahan yang terbaik, dan memperoleh segala dukungan dari lingkungan yang memungkinkan bakat dan karakternya berkembang sepenuhnya. Masyarakat Hawaii adalah masyarakat yang plural yang tidak mengenal racism ataupun diskriminasi seperti misalnya yang ada di Chichago South Site. Tak kalah signifikannya adalah meskipun ibu (dan ayahnya) tidak tinggal bersama dia namun memberi gambaran jelas kepada Barack bahwa kedua orang tuanya sangat mementingkan pendidikan.

Saat ini telah lewat 40 tahun semenjak Barack meninggalkan daerah Menteng. Apa sulitnya memberi anak-anak Menteng atau anak-anak di seantero Indonesia pelajaran bahasa Inggris dan buku-buku yang sekualitas atau yang lebih baik dari yang diberikan kepada Barack Obama sewaktu kecil? Sulit dipercaya bahwa situasi anak-anak sekolah saat ini di Indonesia secara umum mengesankan jauh dari menggembirakan. Tentu saja ada satu dua sekolahan TOP seperti sekolah Global Jaya yang di Bintaro, disana anak saya ketika di Jakarta diundang untuk memberikan ceramah. Namun, ini tidak akan berdampak banyak bila pendidikan yang berkualitas hanya terbatas di dalam tembok sekolah saja.

Di luar tembok sekolahan, kita tidak melihat perpustakaan umum sama sekali. Kita tidak melihat keluarga-keluarga dengan becak penuh dengan tumpukan buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan setempat. Kita tidak melihat playground, tempat bermain anak tersebar di setiap sudut RT/RW dimana anak-anak bisa menggerakkan otot-ototnya memompa darah segar ke otaknya dan berkomunikasi, berinteraksi, bermain dengan kreatif, riang dan gembira. Bahkan lapangan-lapangan olah raga, yang dulu pernah ada, yang dipakai oleh anak-anak seangkatan saya atau lebih tua untuk bertanding sepak bola, kasti atau atletik, bak disulap oleh siluman sekarang telah berubah menjadi kompleks super market, mall, hotel dan sejenisnya.

Kendati de facto semakin sulit memperoleh pendidikan baik untuk anak-anak di Indonesia, masyarakat Indonesia tidak seharusnya give up atau membiarkan diri mereka untuk tersesatkan dengan misalnya arah hidup lain yang dangkal seperti konsumerisme, leisurisme, dst. Saat ini mengutamakan kesuksesan pendidikan anak di Indonesia tidak lagi berkonotasi untuk bersaing dengan negara maju seperti USA melainkan lebih untuk survival dari eksistensi Indonesia. Bila hal ini tidak menjadi prioritas maka slowly but surely negara besar Indonesia akan menjadi kolaps tanpa bentuk.

Kalau kita melihat indikator internal saja ada bahayanya kita akan menjadi bias dan terbutakan sebab di Indonesia selalu saja muncul sekian Jendral baru, sekian Konglomerat baru, sekian Rohaniwan, sekian Doktor, sekian Profesor baru, dst. Tapi kalau kita melihat keluar maka kita akan segera insyaf bahwa dari segala indikator yang ada apakah ekonomi, keuangan, iptek, pertanian, hukum, kedisiplinan, integrity, pertanian, olah raga, pencemaran racun, kerusakan alam, kebersihan WC umum, keberadaan asrama mahasiswa, koperasi (kecuali sewaktu mas Himawan dan mas Rudy masih menjadi seksi Koperasi) dst kita ini berada dalam tataran yang sangat rendah sekali.

Merupakan hal yang salah kaprah bila orang mengira bahwa anak-anak yang pendidikannya diusahakan dengan cara concerted cultivation akan menjad less happier. Ini tidak terjadi pada Barack Obama, tidak terjadi pada anak-anak lain yang pendidkannya sukses dan tidak terjadi pula pada anak kami. Pendidikan yang baik adalah tidak sinonim dengan anak yang sudah sekolah seharian masih lagi harus mengikuti les (extra lesson) untuk subyek yang sama, atau yang memperloleh PR segudang untuk hal yang serupa dan monoton, atau yang harus menghapal hal-hal yang akan lebih gampang dan mudah untuk dialami misalnya rasa manggis, rasa dondong, rasa salak, dst. Pendidikan yang sukses mebuat anak lebih kreatif, inovatif, knowledgable, kompetitif, sehat dan kuat mental dan jasmani, happier, funnier dan mudah dapat pacar (yang terakhir ini mesti dikonfirmasikan kepada bang Uung).

Perbaikan pendidikan nasional hemat saya tidak mesti menciptakan sekolah unggulan dengan fasilitas luar biasa sehingga mahal dan eksklusif, melainkan dari perubahan sikap, pemikiran dan kebiasaan atau cara hidup masyarkat dimana ini akan memberikan lingkungan budaya yang bisa mendukung kesuksesan pendidikan anak. Kelebihan asrama Realino dari asrama Dharma Putra adalah bukan karena lantainya terbuat dari proselain atau kasurnya dari sponge orthopedic yang mahal (anyway, mas Bambang Kojak tidak mau tidur pakai kasur), melainkan kita punya a set of rules yang melatih kita untuk mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung kesuksesan tidak saja dalam study melainkan dalam pendidikan dalam arti yang lebih fundamental.

Kebiasaan-kebiasaan baru mulai dari simple sampai suatu kesadaran bermasyarkat yang lebih kompleks bisa berkembang menjadi a set of cultural repertoires. Budaya yang kondusif terhadap kesuksesan pendidikan bukan sekolahan yang akan memastikan pengembangan bakat dari anak-anak. Di Calgary bila pemukiman baru dibangun bukan sekolahan yang pertama-tama dibuat melainkan playground dan public library. Suatu masyarakat tak akan kolaps tanpa sekolahan, namun akan dipastikan akan mandeg dan menjadi dekadens bila tak ada transfer pengetahuan, transfer skill, kreatifitas, dan anak-anak tumbuh tanpa kesadaran akan dirinya dan lingkungannya, tanpa tahu asal-usulnya dan tujuan hidupnya.

Kembali kepada issue yang dilontarkan oleh Rm Lukas, bila sukses dalam program pendidikan anak maka tidak sulit bagi anak-anak Indonesia untuk menyamai anak-anak dari bangsa manapun. Ini sudah dibuktikan oleh anak-anak dari para imigran Asia di Amerika Utara. Ini juga sudah dibuktikan oleh anak-anak Singapura di negaranya sendiri, anak-anak Korea di Korea, anak-anak Jepang, anak-anak China, mungkin nantinya anak-anak Vietnam dan tentunya merupakan hal yang sama sekali tak mustahil oelh anak-anak Indonesia di Indonesia.

Eko Raharjo, Alumni Realino 1978

Iklan

3 Replies to “Perlu Dukungan Budaya untuk Kesuksesan Pendidikan Anak”

  1. Mas Eko…. senang sekali kalau sudah membaca ulasan-ulasan dari Mas Eko mengenai segala macam topik di mailing list ini… jadi ngangeni….

    Saya merasa iri dengan segala fasilitas yang dapat diperoleh anak-anak kita selama dalam tahap pencarian jati dirinya.. dimana fasilitas tersebut dengan mudah dapat diperoleh dan digunakan oleh anak-anak kita sesuai keinginan dan dunia mereka. Lain lagi di tanah air kita. Akan sangat kesulitan bila tidak didukung dengan finansial yang memadai untuk mengembangkan bakat-bakat mereka yang terpendam. Belum lagi tuntutan dunia pendidikan formal yang saya rasakan bebannya sangat berat, membuat mereka sangat terbelenggu dengan tugas-tugasnya.

    Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi memang mungkin kultur dan kondisi di tanah air kita yang membuat dunia pendidikan begitu parah. Perlu diingat mungkin dengan dijajahnya selama sekian tahun membuat kultur kita ke arah feodalisme…

    Nah bagaimana selanjutnya generasi kita akan mewariskan kultur ini? Mungkin generasi kita ini yang harus memberikan perubahan sesuai uraian Mas Eko yang sangat menarik ini….

    Mungkin sedikit sharing. Teman saya yang mempunyai seorang anak laki-laki harus menentukan untuk memberikan pilihan bagi anaknya untuk mengembangkan bakatnya dari pada pendidikan formalnya. Dia setiap 3x seminggu harus mengantarkan anaknya untuk berlatih sepak bola. Dan sekarang, di usia yang relatif masih muda, anaknya ini telah menentukan akan menekuni sepak bola dan dengan sadar dianya akan melanjutkan pendidikan formalnya setelah cita-citanya di sepak bola tecapai. Jadi pendidikan formalnya saat ini diikuti hanya formalitas saja, tidak mengejar prestasi di pendidikan. Ini kelihatan suatu pilihan yang sangat sulit bagi anak-anak yang masih memerlukan pendampingan dari orang tuanya.

    Salam SeV
    Ronny 79

  2. Mas Eko yang saya kasihi,

    Sangat menarik pengamatan anda tentang topik pendidikan. Presmis dasar anda sangat benar dan argumentasi yang disajikan bagi saya sederhana namun menyentuh pokok persoalan.

    Namun, bila kita melihat secara makro sistem pendidikan di Indonesia, dan apalagi menjadikan sistem ini sebagai jendela untuk menatap masa depan bangsa ke depan, saya sangat berkeyakinan bahwa memang kita semua harus turut berupaya keras, entah dalam peran/posisi/ kapasitas apapun, untuk turut membangun sistem pendidikan di Indonesia yang lebih baik. Hanya mengandalkan kemampuan birokrasi Pemerintah untuk membenahi sistem ini, saya kira tidak cukup.

    Tanpa bermaksud apa-apa, saya mengirimkan sebuah artikel singkat saya (karena redaksinya membatasi panjang kolomnya) yang pernah dimuat di sebuah harian nasional dalam rangka peringatan Hardiknas Mei tahun ini. Semoga bisa bermanfaat dan merangsang lebih lanjut diskusi kita tentang topik yang sangat penting ini.

    SeV,

    Kastorius Sinaga alias Ucok A’ 80

    ====================
    Red : artikel yang dimaksud bang ucok adalah https://forsino.wordpress.com/2008/12/06/potret-pendidikan-tak-bertepi/

  3. Rekan-rekan Realino,

    Menarik juga membaca tanggapan teman-teman tentang dunia pendidikan, entah teman-teman sebagai orang tua, pendidik/dosen, pengamat pendidikan dll.

    Selama 23 tahun saya jadi guru di pesisir kota Cirebon terlalu banyak faktor yang mempengaruhi dunia pendidikan kita, tuntutan orang tua dan masyarakat yang ingin anaknya ” berkemampuan luar negri”, Dinas pendidikan dengan otoritasnya sebagai penguasa, dunia usaha dan dunia kerja yang tidak nyambung dengan kurikulum, dan segudang persoalan lain.

    Belum lagi semangat mendidik dan mengajar yang mulai luntur dikalangan sebagian pendidik.
    Mau seperti apapun pendidikan, ingatlah bahwa yang dibentuk adalah seorang anak yang sedang berkembang dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.

    Kita tidak bisa mengukur keberhasilan seorang anak hanya dari nilai yang dia peroleh atau lulusan sekolah apa dia, apa pekerjaannya atau sederet tuntutan lainnya. Bila semua mau jadi Doktor, MBA, Phd dll lalu siapa yang menjadi perawat, petani, seniman, nelayan.

    Saya hanya menekankan satu hal buat anak didik saya : jadi apapun diri anda syukurilah pekerjaan itu sebagai anugrah dari Allah, layanilah semua orang secara sama. Banyak murid saya waktu SMA nilainya luar biasa kecil. Setelah sekian tahun mereka jadi orang yang berhasil. Sebaliknya, yang saat di SMA pandai, aktif belum tentu setelah dewasa mereka sesukses teman-temannya yang tadinya biasa-biasa saja..

    Buat saya sebagai seorang guru, pendidikan yang bagus adalah bila saya melihat seorang alumni yang dapat menerapkan nilai-nilai sapientia et virtus karena itulah nilai yang saya berikan pada mereka. Saya telah mengalaminya selama 3 tahun di asrama, tidak ada perbedaan status sosial, suku, agama dll dan tetap menjaga kebersamaan dan solidaritas dan sampai sekarang saya masih merasakan semangat tersebut.

    Kewajiban saya sebagai seorang guru adalah menanamkan Sapientia et Virtus terserah mau kurikulumnya seperti apa, tuntutan orang tua dan masyarakatnya seperti apa, bila mereka bisa menerapkan kebersamaan yang ada seperti kita dulu di asrama sebagai Indonesia kecil maka saya berharap ada satu dua orang yang tetap meneruskan nilai Realino di bumi Indonesia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s