Spirit Realino: Solusi Warga Bangsa

Djoko Wahju Winarno

.
Manusia dapat dikata sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk hidup lainnya. Ini ditandai kemampuan manusia untuk mengenali simbol-simbol yang membuatnya dapat melakukan adaptasi dan berbudaya. Pada sisi lain manusia dapat dikategorikan sebagai makhluk yang “monodualistik” dalam arti memiliki dua sifat yang bertolak belakang namun menyatu pada diri manusia itu sendiri. Satu diantaranya adalah makhluk sosial dan individualis.

Individualis dalam arti mereka akan selalu memfokuskan kepada kepentingan dirinya sendiri. Tapa sebagai makhluk, mereka untuk dapat berkembang secara sempurna harus menjalani relasi dengan yang lain. Ibarat beras, putihnya akan terbentuk karena gesekannya dengan beras yang lain. Proses penyempurnaan diri manusia itu antara lain dijalani lewat pendidikan.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa Yogyakarta adalah adalah kota pendidikan. Dengan julukan itu Yogyakarta menjadi magnit bagi para pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru wilayah negara, bahkan juga dari berbagai negara tinggal di Yogyakarta untuk mencecap ilmu pengetahuan. Selama di kota ini mereka memerlukan tempat tinggal, dan berbagai fasilitas lain serta melakukan alkivitas sosialisasi dengan lingkungan yang baru. Karena itu, di Yogyakarta muncul penyedia jasa tempat tinggal sementara pendatang muda usia ini. Asrama Realino adalah satu di antaranya.

Sebagai “organisasi sosial nir laba” Realino telah mencanangkan semboyan sapientia et virtus yang berarti “Kebijakan dan Kebajikan.” Dari semboyan inilah Realino membentuk nilai-nilai dasar dalam kehidupan bersama yang berupa sifat-sifat religius, manusia, persatuan, demokrasi, dan keadilan.

Nilai-nilai dasar tadi sesungguhnya tidak lain adalah intisari dari Pancasila dasar negara Republik Indonesia. Sebagai nilai dasar tak ada artinya manakala tidak diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari. Karena itulah sebagai warga asrama dapat merasakan sekaligus melaksanakan baik secara sadar atau tidak atas nilai-nilai tersebut.

Dalam kehidupan religi, warga, memiliki keleluasaan untuk mengimani dan melaksanakan kehidupan agama dalam lingkungan yang beragam. Dari segi nilai kemanusiaan terwujud sikap penghargaan terhadap harka martabat sesama warga dan para stokeholder-nya. Ini dapat dikemukakan sebagai illustrasi warga, yang sakit dapat makan di kamar tanpa harus makan bersama dengan warga lainnya di ruang makan.

Nilai persatuan pelaksanaannya mendapat tempat yang dominan yaitu dalam seleksi penerimaan warga yang mendasarkan pada keberagaman etnis, daerah, agama, lembaga pendidikan dan sebagainya. Kecuali soal jenis kelamin. Sehingga bisa dikatakan Realino sebagai replika Indonesia yang memiliki pluralitas budaya.

Nilai-nilai demokrasi tercermin dari pengangkatan pengurus yang didasarkan hasil pemilihan dengan sistem “one man one vote”. Meskipun diakui diterapkannya hubungan senioritas antar warga, dapat mendistorsi makna demokrasi ini. Sedangkan keadilan di sini dapat disaksikan bagaimana kewajiban dan hak-hak warga, dapat terlaksana wajar.

Kini Asrama Realino sudah tidak ada. Secara fisik bangunan asrama masih berdiri kokoh dan beralih fungsi. Sudah tidak ada lagi regenerasi pimpinan asrama, warga, dan karyawannya. Bahkan yang terjadi adalah berkurangnya secara perlahan tetapi pasti atas mereka ini. Nah kalau begitu apa yang masih tersisa? Jawabnya adalah roh, spirit yang bersifat abadi.

Kalau kita meyakini bahwa roh/spirit Realino masih ada, bermanfaatkah spirit tadi untuk kehidupan masa kini, khususnya dalam kehidupan berbangsa?

Seperti diketahui bersama bahwa bangsa Indonesia sedang dilanda krisis multi dimensi, utamanya makin maraknya kerusuhan, kekerasan yang menjurus terjadinya disintegrasi bangsa. Fenomena ini lazim dinamakan sebagai konflik. Menurut pengamat teori konflik menganggap masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai pertentangan terus menerus di antara unsur-unsurnya. Adapun keteraturan terjadi karena pemaksaan dari pihak penguasa.

Konflik di atas berdampak sangat luas terhadap bangsa kita. Menimbulkan luka baik secara fisik maupun pskis oleh karena itu sebagai warga bangsa tidak bijak kalau hanya berperan sebagai penonton saja, tapi harus mencari solusi bagaimana konflik dan ancaman terhadap integrasi bangsa dapat diatasi.

Beberapa analisis terhadap konflik sudah dilakukan oleh berbagai pihak dengan berbagai teori (dugaan) apa itu teori kesenjangan, teori konspirasi, teori provokasi ataupun pluralitas budaya. Akan tetapi disadari semuanya tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Ada suatu tawaran teori yang menarik dari berbagai teori yang mengemuka yaitu teori kondisi aosial atau teori rumput kering. Kondisi sosial ini maksudnya adalah ciri, sifat dari relasi antar individu, komunitas, kelompok, golongan serta relasi mereka berkenaan dengan sumberdaya tertentu dan kurun waktu tertentu. Teori kondisi sosial ini dibangun atas dasar sejumiah asumsi sebagai berikut.

  1. Berbagai macam peristiwa pada dasarnya tidak lahir dari kekosongan sosial budaya tetapi dari kondisi-kondisi tertentu yang ada dalam masyarakat;
  2. Kondisi dalam masyarakat merupakan hasil dari sebuah proses sejarah yang bersifat khusus yang tak dialami secara persis oleh masyarakat lain;
  3. Tidak semua kondisi mempunyai andil yang sama atas munculnya suatu peristiwa.

Kondisi sosial budaya yang memunculkan konflik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu kondisi primer yang secara langsung menyumbang terjadinya konflik. Kondisi primer ini meliputi :

  1. Terdesaknya akses kelompok tertentu dari kekuasaan dan sumb°r daya secara tidak adil.
  2. Penguasa baru atas sumber daya adalah para pendatang apalagi dengan ciri asal-usul (SARA) yang berbeda.
  3. Terbentuknya etnosentrisme atau ekslusivisme.

Adapun kondisi sekunder yakni yang secara tidak langsung berperan dalam memunculkan konflik terdiri atas :

  1. Rasa keadilan yang tidak terpenuhi,
  2. Ketidakpekaan dan ketidaknetralan aparatur pemerintah dan aparatur negara,
  3. Menurunnya kesadaran kebangsaan,
  4. Pemahaman budaya lokal yang rendah.

Sesungguhnya kondisi sosial budaya yang mengkistral dan mengarah terbentuknya ancaman konflik dan disintegrasi bangsa akan mencair manakala kita menyegarkan kembali semboyan sapientia et virtus dan nilai-nilai dasar yang diimplementasikan di Realino ke dalam kesadaran kita sebagai warga bangsa, sehingga krisis kebangsaan yang menimbulkan trauma dan luka mendalam dapat sembuh kembali.
.

Surakarta, 24 Juli 2004

.

  • Djoko Wahju Winarno adalah Warga & Pengurus Asrama Realino Tahun 1974-1978
  • Naskah disampaikan pada Reuni 24-25 Juli 2004 di Bandungan, Semarang.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s