Anekdot

ROMO SYUKRI

Seorang calon penghuni Asrama Realino menghadap Romo Beek untuk pertama kalinya.
“Siapa namamu,” tanya Romo Beek. “Syukri,” jawabnya singkat dan tegas “Pakai Romo, begitu!” kata Romo Beek “Oh, ya! Romo Syukri!,” jawab sang calon tetap dengan singkat dan tegas.

.

PERGI DENGAN ORANG LAIN

Mas Soepartomo bertanya kepada Bambang Rahardjo Sukarmadji, itu jago voli Realino, di kala duduk-duduk di emperan Blok I.
“Dik Bambang, kok sekarang aku tidak pernah lihat Dik Bambang bersama Elsye, yangmu itu?”
“Oh, dia lagi pergi dengan orang lain, Mas.”
“Heh, orang lain? Siapa?”
“Ya, suaminya!”

.

TIDAK ADA RAMBUTNYA

Dalam suatu liburan akhir tahun, Anton Lake dari Blok I mudik ke Kupang. Suatu malam waktu makan bersama, ia bercerita kepada ibunya.
“Mah, Romo Beek, pemimpin Asrama Realino, kalau mau pergi ke gereja selalu rapi. Jubahnya putih bersih. Tapi hanya satu yang tidak pernah ia lakukan, menyisir rambut.”
“Lho, kenapa begitu?”
“Yah, apa yang mau disisir? Kepala beliau botak.”
.

DI KAMAR

Setiap malam jam 23.00 Romo Beek keliling memeriksa kamar-kamar untuk mengetahui apakah lampu sudah dipadamkan dan apakah penghuninya lengkap semua. Suatu malam, sewaktu masuk ke kamar Soedarmadji, ternyata tempat tidur Soedarmadji kosong. Paginya Soedarmadji dipanggil.
“Tadi malam kamu pergi ke mana, Falcon?”
“Ada di kamar, Romo.”
“Semalam aku ke kamarmu, kamu tidak ada.”
“Saya ada di kamar Marthin, Romo.”
.

YA, … SAYA INI YANGNYA!

“Dik Tarti,” kata seorang gadis Sala kepada temannya, “kamu saya kasih tahu rahasia ya. Jangan bilang siapa-siapa ya! Ternyata Mas Senthir yang tiap sore lewat di depan rumah kita itu diam-diam sudah punya yang.”
“mBak, saya kasih tahu juga ya. Tapi ini juga rahasia, lho! Jangan bilang siapa-siapa juga! Ya saya ini yangnya Mas Senthir.”
(Yang = pacar; istilah tahun 50-an).

.

POTRET

Dengan bangga mBah Darto tiba di asrama dengan membawa sebuah pasfoto, yang segera ditunjukkannya kepada Hasan Rachman.
“San, lihat ini! Bagaimana pendapatmu tentang potret ini?”
“Waduh, kau kelihatan lebih tua tiga tahun dari pada yang sebenarnya.”
“Syukur, syukur…!”
“Kenapa?”
“Selama tiga tahun aku tidak perlu potret lagi. Potretku nanti toh sama dengan ini kan?”
.

DOA SYUKUR

Melihat Mas Darmono bangkit dari kursi makannya setelah makan siang, Broeder van Zon mendekati sambil berkata:

“Nek mentas makan, sampeyan seharusnya baca doa syukur kepada Tuhan.”
“Oh ya, Broeder,” jawab Mas Darmono sambil duduk kembali dan berdoa “Terima kasih ya, Tuhan.”
“Lho, kok cendhak banget?”
“Saya tadi makannya juga cuma sedikit kok, Broeder,” jawab Mas Darmono.
.

TANPA CELANA

Pacar Daud Sembiring, Blok II, datang jauh-jauh dari Medan khusus untuk menengok Daud di asrama Realino. la diajak “sight seeing”, melihat ruangan-ruangan di Blok I dan II. Akhirnya mereka sampai di tempat cuci pakaian. Sang pacar bertanya:
“Coba bayangkan, andaikata di dunia ini tidak ada wanita, siapa yang akan mencuci dan nyetrika celana abang?”
“Lho, andaikata di dunia ini tidak ada wanita, pria ya tidak perlu pakai celana, dong! Seperti di Realino ini, karena penghuninya laki-laki semua, ya lantas tidak ada keharusan pakai celana.”

.

BALENANA!

Tahun 50-an keju masih merupakan barang sangat langka. Apalagi di Yogya. Bahkan di toko-toko P&D yang besar-besar pun susah diperoleh. Kalau pun ada, harganya tidak akan terjangkau oleh orang kebanyakan. Tetapi di refter para Romo di Realino selalu tersedia keju murni, kiriman langsung dari Negeri Belanda.

Rupanya Mas Soepardjono tidak mau kalah oleh para Romo itu. Ia ingin juga ikut menikmati kelezatan makanan khas Negeri Kincir Angin itu. Setiap kali ada kesempatan ia menyelinap masuk ke refter para Romo dan “ngemploki” keju yang terhidang. Berbulan-bulan hal itu ia lakukan tanpa pernah ketahuan. Sekali waktu ia kena batunya. Tertangkap basah oleh Broeder van Zon, persis ketika ia sedang “ngemplok” sepotong keju. Bukan main marahnya Broeder van Zon.

“Balenana!” bentak Broeder. Mas Pardjono ngemplok lagi sepotong.
“Balenana!” bentak Broeder lagi semakin garang. Mas Pardjono ngemplok lagi sepotong. Begitu sampai berulang-ulang.

Rupanya akhirnya Broeder van Zon menyadari kesalahannya dalam penggunaan bahasa Jawanya. Segera ia memperbaikinya, tetapi dengan menahan ketawa. “Kajeng kula: balekna!” katanya. (Maksud saya: balekna).

Perkara itu sampai juga tangan ke Romo Beek. Alhasil Mas Pardjono harus push up 20 kali. “Kamu itu pura-pura bodho, apa bodho tenan?” tanya Romo Beek dengan wajah angker sekali.

Kapokmu kapan! (Balenana = ulangi!; balekna = kembalikan!).
.

KEPERCAYAAN

Mengutip ucapan salah seorang anggota yang tidak disebutkan namanya, Mas Bambang Ismawan dalam suatu rapat anggota angkat bicara: “Kita memang berada dalam satu wadah: Forsino. Tetapi harus diakui pula bahwa banyak di antara kita yang baru saja saling mengenal. Nah, untuk menumbuhkan sikap saling percaya mempercayai mungkin kita masih memerlukan waktu. Makin lama kita saling mengenal, makin mudah kita saling mempercayai…. ”
“Wah, kalau saya terbalik,” potong Mas Pardjono. “Orang makin lama kenal saya, makin menipis kepercayaannya!”
.

Anekdot-anekdot khas Realino ini dikumpulkan oleh pak IM Santosa (Angkatan 63), dan dihimpun dalam Buletin Kabar Edisi Khusus Agustus 1991.


BALENANA!
Tahun 50-an keju masih merupakan barang sangat langka. Apalagi di Yogya. Bahkan di toko-toko P&D yang besar-besar pun susah diperoleh. Kalau pun ada, harganya tidak akan terjangkau oleh orang kebanyakan. Tetapi di refter rama-rama di Realino selalu tersedia keju murni, kiriman langsung dari Negeri Belanda.
Rupanya Mas Soepardjono tidak mau kalah oleh ramarama itu. Ia ingin juga ikut menikmati kelezatan makanan khas Negeri Kincir Angin itu. Setiap kali ada kesempatan ia menyelinap masuk ke refter rama-rama dan “ngemploki” keju yang terhidang. Berbulan-bulan hal itu ia lakukan tanpa pernah ketahuan. Sekali waktu ia kena batunya. Tertangkap basah oleh Broeder van Zon, persis ketika ia sedang “ngemplok” sepotong keju. Bukan main marahnya Broeder van Zon.
“Balenana!” bentak Broeder. Mas Pardjono ngemplok lagi sepotong.
“Balenana”! bentak Broeder lagi semakin garang. Mas Pardjono ngemplok lagi sepotong. Begitu sampai berulangulang.
Rupanya akhirnya Broeder van Zon menyadari kesalahannya dalam penggunaan bahasa Jawanya. Segera ia memperbaikinya, tetapi dengan menahan ketawa. “Kajeng kula: balekna!” katanya. (Maksud saya: balekna).
Perkara itu sampai juga tangan ke Rama Beek. Alhasil Mas Pardjono harus push up 20 kali. “Kamu itu pura-pura bodo, apa bodo tenan?” tanya Rama Beek dengan wajah angker sekali. Kapokmu kapan! (Balenana = ulangi!; balekna = kembalikan!).
KEPERCAYAAN
Mengutip ucapan salah seorang anggota yang tidak disebutkan namanya, Mas Bambang Ismawan dalam suat u rapat anggota angkat bicara: “Kita memang berada dalam satu wadah: Forsino. Tetapi harus diakui pula bahwa banyak di antara kita yang baru saja saling mengenal. Hla, untuk menumbuhkan sikap saling percaya mempercayai mungkin kita masih memerlukan waktu. Makin lama kita saling mengenal, makin mudah kita saling mempercayai…. ”
“Wah, kalau saya terbalik,” potong Mas Pardjono. “Orang makin lama ke nal saya, makin menipis kepercayaannya!”
.

Anek

Iklan

One Reply to “Anekdot”

  1. Walau ada jarak yang jauh terrentang di dimensi waktu antara saya dengan (alm) Mas Pardjono, dan saya cuma kebetulan bertemu dengan beliau sekilas lintas saja (1991-1992), tapi kesan saya koq enak bergaul dengan beliau. Santai dan penuh humor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s