Realino and Its Atmosperic to Me

Drs. P.J. Wisjnusudigbio, MM, MBA.

.

Masuk Realino tanpa rencana

wisjnu1Semula saya bercita-cita kuliah di Pertambangan ITB atau Kedokteran UI selepas SMA. Kuliah di UGM Yogya, justru tidak terpikir. Meskipun cerita atau promosi mengenai kuliah di UGM dan asrama mahasiswa Realino telah saya dengar dari teman dekat keluarga yang notabene alumni Realino (Bp. Gunarto dan Bp. alm. PC. Suryanto).

Namun, rencana tinggal rencana, karena Tuhan rupanya punya rencana lain. Saya tidak lulus tes ITB dan UI, karenanya saya kernbali ke Semarang dan kuliah di Fakultas Farmasi Unika Atmajaya (sekarang Universitas Sugiyopranoto).

Tahun 1972, diterima di Fakultas Geografi-UGM. Kedua orang tua ternyata mendukung, karena berpikir saya dapat numpang di rumah Bulik di Jl Gayam. Namun, ketika mendaftar kembali ke UGM, Ibu saya yang kebetulan mengantar bertemu dengan Mas Deni alm yang tinggal di asrama Realino. Setelah ngobrol dan mendapat informasi tentang asrama Realino maka kami langsung melihat ke lokasi. Begitu melihat ada fasilitas basket dan tennis, saya langsung memutuskan untuk tinggal di situ. Apalagi, kolam renang Colombo juga dekat dengan asrama.

Waktu itu, romonya adalah Romo Depotre SJ. Saya langsung mendaftar dan disuruh datang lagi untuk interview. Celakanya, pada saat interview saya lagi-lagi diantar Ibu (maklum anak mami), sehingga muncul celetukan dari pengurus yang menginterview, “Dik Bapaknya kok nggak sekalian nganterin?”. Para penginterview itu antara lain, Mas Adhi Prabawa, Mas Mulyono, dan Mas Sipri Talin (dalam hati saya misuh-misuh). Setelah dinyatakan lulus interview maka resmilah saya jadi penghuni Realino.

.

Jadi Cah Anyar

Waktu jadi cah anyar, Bapak Buah saya adalah Mas Blasius Bengo Teku dan Kakak Buah Jongguran Hutagaol Panahatan. Banyak nasehat dan kiat-kiat yang saya terima dari mereka sebagai pembekalan. Maklum di luar kamar semua cah lawas tampak bengis atau sengaja dibengis-bengiskan kalau ketemu cah anyar. Saya juga terpaksa nurut ketika Jongguran minta tidur di atas yang seharus jadi jatah cah anyar, padahal saya terganggu dengan pola tidurnya yang banyak polah. Namun, lamalama saya jadi terbiasa.

Saya diajak bergabung dengan Blasi yang petinju dengan pelatih seorang jebolan KKO yang juga mahasiswa STO (Lilik Supriyanto). Petinju lainnya adalah Hariman, Tunggul Siahaan, Santo Saru, Gempur Siregar, Wiwoho, dan beberapa eks Realino, di antaranya Mas Ibnu. Hasilnya, saya juara I kelas bulu (54-57 kg) pada waktu Dies Natalis Realino tahun 1972, dan sejak saat itu masuk seeded dalam setiap pertandingan tinju intern. Hampir semua kegiatan saya ikuti secara aktif, dari Realino Discussion Club, English Club, basket, tennis, renang hingga band. Saya bergabung dengan band Junior yang anggotanya terdiri dari Gunadi (lead guitar), Bambang Sulistiyono (bass guitar), Nurcahyo (keyboard), Joko Pitoyo (drummer) dan saya (rhythm guitar).

.

Dipercaya Jadi Pengurus

Mungkin karena semua kegiatan aktif saya ikuti, selesai masa perkenalan saya dipercaya oleh ketua KOGOR menjadi koordinator renang, tahun kedua oleh Romo dan pengurus diminta jadi tim pembimbing cah anyar, kemudian disuruh jadi ketua KOGOR. Tahun ketiga dipercaya jadi pengurus hingga tahun ke-4. Waktu itu ketuanya Agus Subekti (sekarang dosen Fakultas Psikologi UNAIR), Ramlan Surbakti (sekarang dosen Unair / ketua KPU), dan Petrus Syariman (sekarang Litabang Pengairan Bandung). Saya tetap aktif ikut olah raga meski sudah jadi pengurus, termasuk dalam tim inti basket dan pernah mengundang klub basket se-Yogya pada dies natalis tahun 1974. Saya juga ikut cross country.

.

Silent Mission di Kampus Biru

Suasana Realino memacu saya aktif di kampus, saya menjadi anggota Kodema dan setiap tahun selalu ditunjuk jadi ketua Posma. Ketika pada tahun 1974, pihak rektorat tidak mau diajak kompromi perihal kenaikan SPP maka saya menggerakkan para mahasiswa di asrama bah cah anyar maupun cah lawas untuk beraksi. Namun, karena saya pengurus asrama maka beberapa teman menyarankan untuk tidak memakai atribut Realino atau fakultas, kami harus bertindak atas nama pribadi. Setelah mempertimbangkannya, maka saran inipun kami ikuti.

Pukul 22.00 kami mulai bergerak, menyebarkan pamplet yang intinya memprotes kenaikan SPP. Aksi ini dibatasi waktunya, hanya 30 menit dan harus dilakukan dengan cara silent movement dengan titik pertemuan seluruh kelompok di Realino.

Keesokan paginya kampus heboh hingga masuk berita halaman pertama Kompas dengan foto yang berisi tulisan “Ganti Sukaji”, saya dan teman-teman yang ikut aksi itupun pura-pura terkejut dan heran.

Upaya kami membawa hasil, SPP akhirnya diturunkan untuk mereka yang kakak-adik di UGM. Sampai hari ini aksi silent movement itu tidak pernah terungkap dan saya sangat salut dengan teman-teman yang telah membantu saya, antara lain Sumarno (1973), I Made Suwarta (1973), Kusyanto (1973), Domi Basuki, Brahmosektiono (1974) Rully Sitorus, Cong Siong Gie, Suryoso, Totok Muharto (1975). Terima kasih teman-teman kalian adalah pahlawan yang tak dikenal.

.

Realino dalam Kesan dan Pesan

Saat diterima di Realino rasanya bangga sekali. Saat itu bayangan saya asrama yang dipimpin Romo pasti punya kelebihan khusus. Gizi terjaga dan disiplin.

Setelah masuk ternyata bayangan saya tidak seluruhnya benar. Tahun kedua saya menderita kurang gizi dan banyak penghuni asrama yang melanggar aturan, misal soal bangun pagi, jam tidur, jam malam, jam makan, kehilangan, dan masuk refter Romo.

Realino adalah asrama yang dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan, olah raga dan musik. Penghuni juga diajari berorganisasi, negosiasi, diskusi, dansa dengan mengundang asrama puteri agar nantinya tidak canggung bergaul dengan lawan jenis.

Kelebihan yang dimiliki Realino adalah sifat komunitas yang inklusif (tidak ada pembatasan) bagi warganya. Hidup bersama dalam kebhinnekaan (living in harmony).

Bapak Buah saya yang terakhir adalah Jamjam Purjaman (kini dr gigi di Bogor), seorang muslim yang taat ibadah, sementara Anak Buah saya I Made Suartha (kini wiraswasta di Jakarta) pemeluk Hindu yang kuat, sedangkan saya Khatolik yang hampir tiap pagi ikut misanya Romo Dross SJ di kapel Realino. Belajar, beraktivitas dan tidur dalam kamar berukuran 4×5 m dalam suasana rukun dan damai.

.

Sekilas Diri Saya Sekarang

Lulus Geografi UGM tahun 1978, lalu diterima dipascasarjana PUSPICS (Pusat Pendidikan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh dan Survey Terpadu) sebagai peserta ikatan dinas. Setelah lulus masuk Bakosurtanal dengan ikatan kerja 5 tahun. Selama di sini sempat dikirim belajar ke AIT (Asean Institute of Technology) di Thailand.

Tahun 1983 saya keluar dari Bakosurtanal dan bekerja pada PT Fincode International yang berasosiasi dengan Fenco Engineer-Canada, ditempatkan di Irian Jaya untuk mengerjakan proyek-proyek transmigrasi (Proek Tran III, Trans V dan SSDP).

Seminggu sebelum berangkat ke Irian, nyaris nyawa saya melayang karena terseret truk pasir ketika menyebrang jalan. Akibatnya, saya harus dirawat di rumah sakit selama dua bulan dan kaki kiri menjadi cacat.

Delapan bulan di Fincode, kemudian ditarik ke PT Tribina Matra Cahya Cipta (salah satu perusahaan Mbak Tutut) karena saya pernah diperbantukan di situ di samping alasan agar tidak lagi dikirim ke Irian Jaya. Sewaktu ditugaskan di proyek Micro Hydro Power (partner dengan Fitchner Jerman dan Inypsa – Spanyol, saya sempat kuliah S-2 Business Administration di ISM Amsterdam University dan manajemen di universitas Satya Gama. Di sini ketemu teman-teman yang mengajak partner usaha dan terkumpullah modal untuk membeli dua buah perusahaan (konsultan dan kontraktor) yang tentu saja sulit maju dengan kondisi saya dan temanteman yang masih terikat dengan perusahaan lain. Akhirnya, saya mengalah dan keluar dari perusahaan dan konsentrasi sepenuhnya pada pengembangan usaha kami dari tahun 1997 sampai sekarang.

Last but not least, saya menikah bulan Desember 1975 dengan C. Isc Dwi Artini, dikaruniai tiga orang anak. Sulung (Viena) sudah lulus sarjana dan bekerja di J.W Merriot Hotel, adiknya, Efan kuliah di NHI-Bandung semester empat, sedang si bungsu Hermien sedang ujian akhir SMU Regina Pacis Bogor. Kami berdomisili di Jl. Teladan 5-Perumahan Kedung Badak Baru, Bogor 16710.
.

Wisjnu Sudigbio adalah alumni Realino 1972
Artikel dikutip dari buku “50 Tahun Realino”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s